Demi Rp 288 juta untuk pengobatan adiknya, Senja menikah kontrak dengan Damar Adiwangsa, konglomerat dingin yang sepuluh tahun lebih tua dan memiliki seorang putri kecil. Mereka sepakat tidak melibatkan perasaan. Namun ketika Bintang mulai memanggil Senja Mama, rumah yang semula dingin berubah menjadi keluarga. Damar yang dahulu menganggap Senja matre perlahan menjadi suami posesif yang tak sanggup melepaskannya. Saat kontrak berakhir dan Senja bersiap pergi, Damar justru menagih satu hal yang tidak pernah tertulis dalam perjanjian: cintanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aura Rizki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Bab 28
Di Matamu Aku Bukan Suami
Noda lipstik itu tidak hilang dengan sekali cuci.
Senja merendam bagian kerah, menggosoknya pelan dengan sabun, lalu membilas sampai warna merah muda memudar. Ia juga mencuci pakaian dalam Damar karena semuanya sudah telanjur berada dalam keranjang yang sama.
Seharusnya ia menyerahkannya kepada Bik Inah. Namun setelah berjanji tetap menjalankan tugas, Senja tidak ingin terlihat memilih pekerjaan yang nyaman saja.
Lengan kirinya mulai pegal setelah beberapa menit. Bekas cedera di bahu terasa tertarik. Ia berhenti, menarik napas, lalu kembali memeras kain dengan satu tangan.
"Siapa yang menyuruhmu mencuci manual?"
Senja menoleh. Damar berdiri di pintu ruang cuci, dasinya sudah dilepas.
"Nodanya susah hilang kalau langsung masuk mesin."
"Aku bilang buang kalau sulit."
"Sudah hampir bersih."
Damar mengambil pakaian dari tangannya. "Bahu kamu belum pulih penuh."
"Saya enggak selemah itu."
"Kamu selalu bilang begitu sebelum tubuhmu menyerah."
Ia memanggil Bik Inah dan menyuruhnya menyelesaikan cucian. Setelah itu Damar membatalkan dua pertemuan sore dan bekerja dari rumah. Ia mengaku ada dokumen yang harus dibaca, tetapi laptopnya dibawa ke ruang keluarga agar dapat melihat Senja tanpa terlalu jelas mengawasi.
Bayu menelepon dua kali untuk memastikan jadwal. Pada panggilan kedua, suaranya terdengar melalui pengeras kecil laptop.
"Rapat dengan tim legal bisa dipindah daring, Pak. Tapi makan malam dengan mitra Singapura sudah dikonfirmasi."
"Batalkan."
"Alasannya apa, Pak?"
Damar melirik Senja yang sedang memutar bahu pelan. "Ada urusan keluarga."
Senja ikut menoleh. Damar segera mematikan pengeras suara dan melanjutkan panggilan melalui earphone. Ia tidak menjelaskan urusan keluarga macam apa yang membutuhkan seorang direktur duduk di ruang keluarga sambil mengawasi perempuan membaca rambu lalu lintas.
Setelah telepon selesai, Senja berkata, "Mas enggak perlu batal kerja karena saya."
"Aku tidak membatalkan kerja. Aku memindahkan tempatnya."
"Makan malamnya juga dipindah ke sini?"
Damar menatap tajam. "Kamu terlalu banyak mendengar."
"Pengeras suaranya menyala."
"Belajar SIM-mu."
Senja menunduk pada buku, tetapi sudut bibirnya naik. Rasa hangat yang muncul justru membuatnya gelisah. Setiap perhatian Damar mengikis batas yang ia bangun, sementara ia tidak tahu apakah lelaki itu akan kembali ke sikap semula besok pagi.
Senja duduk di sofa dengan buku latihan SIM. Setiap kali ia menggerakkan bahu, tatapan Damar terangkat dari layar.
"Saya baik-baik saja," katanya untuk ketiga kali.
"Aku tidak bertanya."
"Mata Mas bertanya."
Damar kembali mengetik. "Buatkan kopi."
Senja masuk ke pantry. Ia biasa membuat kopi untuk perawat jaga, tetapi mesin mahal di rumah itu memiliki terlalu banyak tombol. Ketika kembali, cangkir mengepulkan uap lebih tebal dari biasanya.
Damar baru menyesap sedikit lalu mengernyit. "Panas."
"Kopi memang panas."
"Ini bisa mengelupas lidah."
Senja hendak mengambil cangkir. Ujung jarinya tersenggol tangan Damar, kopi tumpah ke meja, mengenai tepi laptop dan celana lelaki itu.
"Ya Allah!"
Ia cepat mengambil tisu. Tanpa berpikir, Senja berjongkok dan menepuk bagian paha Damar yang basah. Tangannya bergerak dua kali sebelum menyadari lokasi yang sedang ia sentuh.
Keduanya membeku.
Damar meraih pergelangan tangannya. "Cukup."
Senja berdiri begitu cepat hingga kepalanya hampir menghantam dagu Damar. "Maaf. Saya cuma takut kulit Mas kena."
"Kopinya sudah tidak terlalu panas."
"Tadi katanya bisa mengelupas lidah."
"Lidah dan paha berbeda."
Senja menggigit bibir agar tidak tertawa. Damar membawa laptop ke meja lain. Mesinnya masih menyala, hanya bagian luar yang basah.
Bik Inah datang membawa lap kering, melihat posisi mereka, lalu mundur lagi dengan senyum yang gagal disembunyikan.
"Bik, tolong bantu," panggil Senja.
"Laptopnya masih hidup, Bu. Bik takut salah pegang."
"Celananya juga kena."
"Yang itu lebih bukan keahlian Bik."
Damar memijat pelipis. "Kalian berdua keluar dari sini."
Senja mengambil laptop lebih dulu dan mengeringkan sela tombol dengan hati-hati. Ia meminta Damar mematikannya agar tidak terjadi korsleting, lalu menaruh perangkat miring di atas kain.
"Kalau ada cairan masuk, jangan dinyalakan dulu. Bawa ke teknisi," katanya.
"Kamu paham laptop?"
"Enggak. Tapi aturan alat elektronik di ruang perawat juga begitu. Cabut sumber listrik, keringkan, jangan sok tahu."
"Bagian terakhir cocok untukmu."
"Saya sedang menyelamatkan barang Mas."
"Dengan lebih dulu menumpahkan kopi ke atasnya."
Pertengkaran kecil itu seharusnya lucu. Namun ketika Senja menyebut akan mengganti kerugian, bayangan semua pembayaran di antara mereka kembali muncul.
"Kalau rusak, saya ganti," kata Senja.
"Dengan gajimu berapa tahun?"
"Dicicil."
"Kamu suka sekali mencicil utang padaku."
Nada itu membuat senyum Senja hilang. "Karena saya tidak mau Mas berpikir saya sengaja merusak barang supaya bisa minta lebih."
Damar menutup laptop. "Aku tidak mengatakan itu."
"Tapi Mas selalu mengira saya punya rencana mengambil uang atau harta."
"Kamu masuk rumah ini karena Rp 288 juta."
"Saya tidak menyangkal. Tapi saya tidak pernah meminta rumah, saham, atau nama Adiwangsa."
Damar berdiri. "Lalu apa yang kamu mau?"
Senja mengambil buku catatan dari tas. Di dalamnya ada daftar cicilan yang belum sempat dimulai lagi karena cuti.
"Saya akan kembalikan Rp 288 juta. Setelah lunas, kita ke notaris. Saya tanda tangan tidak mengambil aset apa pun, lalu mengurus cerai sesuai hukum."
Ruang keluarga mendadak terasa kosong.
"Kamu sudah merencanakannya sampai sedetail itu?"
"Sejak awal. Mas juga tahu."
"Jadi semua yang terjadi di rumah ini tidak mengubah apa-apa?"
Senja menatapnya, tidak memahami pertanyaan tersembunyi. "Bintang tetap akan saya sayangi. Mas tetap orang yang pernah menolong keluarga saya. Tapi saya tahu posisi saya."
"Posisimu apa?"
"Pengasuh yang kebetulan sah di atas kertas."
Wajah Damar mengeras. "Di matamu aku bukan suami."
"Mas sendiri berkali-kali bilang kita tidak benar-benar seperti suami istri."
Damar ingin menyangkal, tetapi semua kalimat kejamnya berdiri di antara mereka sebagai saksi. Ia meraih jas yang disampirkan di kursi.
"Pergi jemput Bintang."
"Sekarang masih terlalu cepat."
"Tunggu di sekolah kalau perlu. Aku ingin sendiri."
Senja memasukkan buku catatan ke tas. Sebelum pergi, ia melihat celana Damar yang masih bernoda kopi dan ingin menawarkan bantuan. Tatapan lelaki itu menghentikannya.
Ia keluar tanpa menoleh.
Damar berdiri di tengah ruang keluarga, menatap pintu yang tertutup. Laptopnya selamat. Celananya bisa diganti. Namun dua kalimat Senja terus tinggal di kepalanya: tidak mengambil aset apa pun, lalu cerai.
Untuk pertama kalinya, rencana yang sejak awal ia inginkan terdengar seperti ancaman.
Ia menyentuh bekas kopi di pahanya, mengingat tangan Senja yang panik menyeka tadi. Kehangatan singkat itu hilang, digantikan dingin yang jauh lebih sulit dibersihkan dari ruang keluarga itu sendirian.