NovelToon NovelToon
I Love You, Kak

I Love You, Kak

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Basket / Cintamanis / Teen
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Anggun Kartika Mundikasih

Dahayu Nayanika Arutala (Naya), siswi baru yang tidak pernah terkesan pada popularitas, harus berulang kali berhadapan dengan Narain Shankara Naradhipta (Nara) — bintang basket sekolah sekaligus seniornya di SMA yang ia anggap sombong dan menyebalkan. Namun, di balik pertengkaran dan saling ejek, Naya menemukan sosok Nara yang sebenarnya, seorang pemuda yang tertekan oleh tuntutan keluarga dan hanya dapat menjadi dirinya sendiri ketika bersamanya. Saat kedekatan mereka memicu penolakan Reksa - Kakak lelaki Naya dan kemarahan para penggemar Nara. Naya harus memilih tetap menyangkal perasaannya atau memperjuangkan cinta kepada orang yang dahulu paling ia benci, sebelum pertandingan terakhir dan kelulusan memisahkan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggun Kartika Mundikasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KETIKA RAHASIA TIDAK LAGI MENJADI RAHASIA (1)

Tiga hari setelah pertandingan final, Nara kembali ke sekolah menggunakan penyangga kaki dan sepasang tongkat penopang. Pemandangan itu langsung menarik perhatian hampir seluruh siswa yang berada di halaman depan.

Sebagian menyambutnya dengan tepuk tangan. Beberapa anggota tim basket meneriakkan namanya dari kejauhan. Ada pula siswa yang bergegas mendekat untuk menanyakan keadaan kakinya, meminta foto bersama, atau sekadar mengucapkan selamat atas kemenangan tim sekolah.

Nara menanggapi semuanya dengan cukup sabar. Namun, ia tidak benar-benar memperhatikan wajah-wajah yang mengelilinginya. Sejak turun dari mobil, matanya terus bergerak mencari seseorang.

Naya belum terlihat datang ke sekolah.

Padahal malam sebelumnya, gadis itu sudah mengingatkannya agar tidak datang terlalu pagi karena kelas baru akan dimulai satu jam kemudian. Nara tentu saja mengabaikan nasihat itu. Ia merasa bosan berada di rumah selama tiga hari dan ingin segera kembali ke sekolah.

Lebih tepatnya, ia ingin segera bertemu Naya setelah tiga hari hanya bisa saling bertukar pesan melalui ponsel. Bagaimanapun bertemu dengan Naya secara fisik lebih terasa menyenangkan dibandingkan hanya bertukar pesan atau video call.

Ekky berdiri di sampingnya sambil membawa tas sekolah Nara. “Aku baru tahu selain cedera membuatku menjadi kerepotan karena harus mengurusimu, cidera juga membuatmu semakin terkenal,” katanya.

Nara menggeser salah satu tongkat penopangnya agar tidak menginjak sepatu seseorang yang berdiri terlalu dekat.

“Aku sudah terkenal sejak sebelum cedera.”

“Benar. Tapi sekarang semua orang melihatmu seperti pahlawan yang kembali dari medan perang.”

“Aku memang membawa sekolah menjadi juara.”

Ekky mengangkat alis seolah menyindir. “Kamu hanya bermain kurang dari dua kuarter.”

“Aku menyusun strategi dari luar lapangan.”

“Pelatih juga menyusun strategi.”

“Tapi aku lebih menarik untuk difoto.”

Ekky menggelengkan kepala. “Naya harus diberi penghargaan karena bersedia menyukaimu dan menjadi kekasih manusia sepertimu.”

Nara menoleh tajam. “Jangan bicara terlalu keras.”

Ekky tertawa. “Kenapa? Bukankah jawabannya sudah tidak sementara dan kalian telah resmi menjadi sepasang kekasih serta telah mendapat restu dari kakaknya yang sangar itu?”

“Bukan berarti seluruh sekolah harus tahu.”

“Kurasa sudah terlambat.”

Nara mengerutkan kening. “Apa maksudmu?”

Alih-alih menjawab, Ekky mengangkat dagu ke arah sisi halaman sekolah. Naya baru saja melewati gerbang. Gadis itu mengenakan seragam lengkap dengan tas tergantung di bahu kanan. Begitu melihat kerumunan di sekitar Nara, langkahnya melambat. Nara langsung tersenyum.

“Naya!”

Beberapa siswa menoleh mengikuti arah pandangnya. Naya yang awalnya hendak menghampiri mereka mendadak berhenti. Terlalu banyak mata memandang. Terutama mata para siswi yang selama ini dikenal sebagai penggemar Nara. Nara tidak menyadari kegugupan tersebut. Ia malah melambaikan tangan dan kembali memanggilnya.

“Naya, ke sini!”

Ekky menutup wajah dengan satu tangan. “Kau benar-benar tidak memiliki kemampuan membaca situasi.”

“Kenapa memangnya?”

“Katamu tadi jangan sampai seluruh sekolah tahu hubunganmu dengan Naya. Tapi dengan seenaknya kamu melakukan hal yang kontra dengan ucapanmu sendiri.”

Naya akhirnya berjalan mendekat, meskipun langkahnya terlihat sedikit kaku.

“Selamat pagi Kak Nara, Kak Ekky.” Ucap Naya.

Nara memperhatikan wajahnya. “Kenapa kamu datang terlambat?”

“Belum terlambat. Masih ada empat puluh menit sebelum kelas dimulai.”

“Aku sudah menunggumu dari tadi.”

“Kakak yang datangnya terlalu pagi.”

“Aku bosan di rumah.”

Naya melirik kaki Nara yang dibalut dan ditopang penyangga. “Kakak seharusnya masih beristirahat.”

“Dokter bilang aku sudah boleh masuk sekolah.”

“Dengan syarat tidak banyak bergerak.” Lanjut Naya.

“Aku tidak banyak bergerak.”

Ekky berdeham. “Dia sudah hampir berkeliling halaman karena mencari seseorang.”

Nara menatapnya tajam.Naya menahan senyum.

“Benarkah?”

“Tidak.”

“Dia bertanya tiga kali seperti minum obat apakah kamu sudah datang atau belum,” lanjut Ekky.

“Ekky!”

“Baiklah, aku pergi.” Ekky menyerahkan tas Nara kepadanya, tetapi Nara tidak segera menerimanya. Dengan tongkat penopang di kedua tangan, ia jelas kesulitan membawa tas sendiri.

Naya dengan sigap langsung mengulurkan tangan, “Biar aku saja yang membawakannya.”

Nara langsung menyerahkannya. Gerakan itu begitu alami sehingga mereka tidak menyadari banyak orang sedang memperhatikan kedekatan mereka berdua. Naya membawa dua tas sekaligus, sementara Nara berjalan di sampingnya menuju gedung kelas.

Ekky yang mengikuti beberapa langkah di belakang hanya tersenyum kecil. Tidak ada yang perlu diumumkan secara resmi. Cara Nara memandang Naya sudah cukup untuk membuat siapa pun yang melihatnya mengerti bahwa mereka berdua memiliki hubungan lebih dari pertemanan.

***

Sepanjang perjalanan menuju kelas, Naya dapat merasakan tatapan siswa lain mengikuti mereka. Beberapa berbisik. Ada yang terlihat terkejut. Ada pula yang langsung membuka ponsel, seolah ingin mengirimkan kabar kepada teman-temannya.

“Kak,” panggil Naya pelan.

“Hm?”

“Semua orang melihat kita.” Bisiknya.

Nara menoleh ke sekeliling. “Biarkan saja.”

“Kakak tidak merasa aneh?”

“Kenapa harus merasa aneh?”

“Karena aku membawakan tas Kakak.”

“Kakiku cedera.”

“Bukan hanya itu.”

Nara berhenti berjalan. Naya pun spontan ikut menghentikan langkah kakinya

“Apa yang membuatmu tidak nyaman?” tanyanya.

Nada suaranya tidak lagi bercanda. Naya tidak langsung menjawab. Ia melirik beberapa siswi yang berdiri dekat tangga. Mereka segera berpura-pura sibuk ketika sadar sedang diperhatikan.

“Aku tidak terbiasa menjadi pusat perhatian seperti Kak Nara,” kata Naya akhirnya.

Nara terlihat seolah baru memahami sesuatu. Baginya, perhatian orang lain sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Ia tidak lagi memikirkan tatapan, bisikan, atau komentar. Namun, Naya berbeda. Gadis itu selalu memilih duduk di sudut perpustakaan. Ia tidak suka berdiri terlalu lama di tengah keramaian. Ia bahkan sering menghindari Nara pada awal perkenalan mereka karena tidak ingin terseret ke dalam sorotan yang selalu mengelilingi lelaki itu.

Nara mengambil tasnya dari tangan Naya.

“Aku bisa membawanya.”

“Dengan apa?”

“Aku akan menyampirkannya di bahu.”

“Kakak bisa kehilangan keseimbangan dan kembali cidera.”

“Tidak apa-apa.”

Naya menahan tas itu. “Tapi bukan berarti aku seegois itu tidak mau membantu membawakan tas Kak Nara.”

“Lalu?” Naya menunduk sedikit.

“Aku hanya belum tahu harus bersikap bagaimana.”

Nara memperhatikannya cukup lama. Kemudian ia mengangguk.

“Kita tidak harus memberi penjelasan kepada siapa pun.”

“Kalau mereka bertanya?”

“Katakan saja aku memaksamu membawakan tasku.”

“Itu akan membuat Kakak terlihat menyebalkan.”

“Aku memang menyebalkan.”

Naya tersenyum kecil. Nara melanjutkan berjalan dengan langkah lebih pelan.

“Kalau ada sesuatu yang membuatmu tidak nyaman, katakan kepadaku.”

Naya menatapnya dari samping. “Kakak tidak akan marah?”

“Kenapa aku harus marah?”

“Karena mungkin aku akan meminta Kakak tidak terlalu terang-terangan mengenai hubungan kita.”

Nara berhenti lagi. Kali ini, ekspresinya sedikit berubah. Bukan marah, melainkan kecewa yang berusaha disembunyikan. Naya segera merasa bersalah melihat bersit kekecewaan yang berusaha disembunyikan oleh Nara.

“Aku bukan malu berjalan bersama Kakak,” katanya cepat. “Aku hanya belum siap kalau semua orang mulai membicarakan kita.”

Nara menatapnya. “Kita?”

Wajah Naya langsung memanas. “Itu bukan bagian pentingnya.”

“Bagiku itu bagian paling penting.”

“Kak Nara.”

“Baiklah.” Nara menahan senyum. “Aku mengerti.”

Ia melanjutkan langkahnya.

“Kita akan berjalan seperti biasa. Tidak perlu melakukan sesuatu yang membuatmu tidak nyaman.”

Naya mengangguk. Namun, beberapa langkah kemudian, Nara menambahkan, “Tapi aku tetap akan datang ke perpustakaan.”

“Aku tidak melarang.”

“Dan menunggumu selesai latihan renang.”

“Itu juga tidak masalah.”

“Dan mengirim pesan setiap malam.”

Naya menggelengkan kepala, tetapi senyumnya kembali muncul. Mereka hampir mencapai tangga ketika seorang siswi berdiri menghalangi jalan. Namanya Keira. Ia merupakan salah satu siswa yang paling sering terlihat di pertandingan basket. Keira cukup dikenal karena aktif di media sosial sekolah dan kerap mengunggah foto-foto Nara selama pertandingan. Di tangannya terdapat sebuah kotak kecil.

“Kak Nara,” katanya.

Nara berhenti. “Ya?”

“Aku membuatkan ini untuk Kakak.” Keira menyerahkan kotak tersebut.

Nara tidak langsung menerimanya. “Apa isinya?”

“Kue. Untuk merayakan kemenangan dan semoga Kakak cepat sembuh.” Beberapa siswi lain berdiri tidak jauh dari sana, memperhatikan dengan penuh rasa ingin tahu.

Naya menurunkan pandangan. Situasi seperti inilah yang sejak awal membuatnya kehilangan respek kepada Nara. Dulu, lelaki itu akan menerima hadiah dengan senyum lebar, mengucapkan kalimat manis, lalu membiarkan para penggemarnya menafsirkan perhatian tersebut sesuka hati.

Nara melirik Naya sebentar. Kemudian ia kembali menatap Keira.

“Terima kasih sudah membuatnya,” katanya. “Tapi lain kali kau tidak perlu repot membuatkan kue untukku.”

Keira tersenyum. “Tidak apa-apa Kak, aku senang melakukannya.”

“Aku tetap menghargainya.”

Nara menerima kotak itu menggunakan satu tangan sambil menjaga keseimbangan. Keira terlihat senang.

“Kak Nara, nanti setelah sekolah boleh foto bersama?”

Nara terdiam sesaat. “Kalau bersama tim basket, boleh.”

Ekspresi Keira sedikit berubah.

“Hanya dengan tim?”

“Aku sedang mengurangi foto pribadi.”

“Kenapa?”

Pertanyaan itu terdengar terlalu cepat, seolah Keira merasa memiliki hak atas penjelasan. Nara tetap tenang menoleh kearah Naya. “Karena aku tidak ingin orang salah memahami sikapku.”

Keira melirik Naya. Tatapan itu hanya berlangsung sesaat, tetapi cukup untuk membuat suasana menjadi canggung.

“Aku mengerti,” katanya akhirnya. Ia berjalan pergi bersama teman-temannya.

Naya tetap diam. Nara memandang kotak kue di tangannya, kemudian menyodorkannya kepada Naya. “Kamu mau?”

“Dia memberikannya untuk Kakak.”

“Aku tidak bisa memakannya sendirian.”

“Berikan saja kepada teman satu tim Kak Nara.”

“Aku ingin membaginya denganmu.”

Naya menatap kotak tersebut. “Kenapa?”

“Karena wajahmu terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.”

“Kakak berubah.” Naya mengembuskan napas.

“Itu pujian?”

“Iya.”

Nara tersenyum. “Bagus. Aku akan mengingatnya selama seminggu.”

“Hanya seminggu?”

“Setelah itu kau harus memujiku lagi.” Naya tertawa kecil. Ketegangan yang sempat muncul perlahan menghilang. Namun, tanpa mereka sadari, percakapan singkat dengan Keira menjadi awal dari sesuatu yang lebih besar.

***

1
Wawan
Salam kenal untuk Naya 💪✍️
Ayunda Permata
Sukses Selalu Thor 🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!