Tak memiliki apa pun selain namanya, Kenzo bertahan hidup di dunia yang kejam. Bagi orang lain, mimpi adalah sesuatu yang bisa dikejar. Baginya, mimpi hanyalah kemewahan yang selalu direnggut oleh kenyataan.
Hingga suatu hari, sebuah antarmuka emas muncul di hadapannya.
Sistem Gacha.
Jaminan 100%.
Setiap putaran selalu menghadiahkan sesuatu yang nyata. Kemampuan, artefak, teknik, bahkan kekuatan yang sanggup mengubah takdir. Dengan sistem itu, Kenzo tak lagi sekadar bermimpi. Ia akan menapaki jalan menuju puncak dan menyingkirkan siapa pun yang berani menghalangi langkahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
Darah menetes dari sudut bibir Gideon.
Cairan merah itu jatuh lambat, menodai karpet tebal di lantai 40.
Di atasnya, moncong dingin Pistol Taktis Phantom menempel pas di dahi. Rasa dingin itu terasa bagaikan vonis mati yang tak terelakkan.
Tatapan Kenzo begitu sunyi. Tidak ada getaran keraguan sedikit pun di sana.
"A-aku buka ... aku buka semuanya!" bisik Gideon dengan suara tercekat.
Kedua tangannya yang gemetar terangkat pasrah. "Jangan biarkan mereka ... menguraiku!"
Ia merangkak payah menuju konsol terminal utama di balik meja marmer.
Dengan jari-jari yang bergetar hebat, ia memasukkan serangkaian kunci enkripsi biometrik dan kode otorisasi tingkat direksi.
Layar hologram konsol seketika menyala hijau. Menampilkan akses tanpa batas ke komputer induk Nexus Corp.
"Mystrul," panggil Kenzo tanpa mengalihkan pandangan.
Sang Penyihir Agung melangkah maju. Ia meletakkan tangannya di atas panel komputer tersebut.
Pendaran aksara emas mengalir dari telapak tangan Mystrul. Cahaya itu menyusup langsung ke dalam kabel serat optik dan jaringan peladen gedung.
"Sirkuit transfer data telah distabilkan, Tuan," lapor Mystrul tenang.
"Seluruh arsip transaksi, aliran dana suap pejabat kota, rekaman perdagangan Manusia Super, hingga jalur logistik kargo sedang dipindahkan ke perangkatmu."
Kenzo segera menghubungkan ponsel pintarnya ke terminal.
Dalam hitungan detik, gigabit data rahasia yang telah membungkam hukum kota ini selama bertahun-tahun berpindah tangan.
Namun, saat Kenzo membedah bagan struktur organisasi di layar monitor, alisnya bertaut.
Nexus Corp ternyata bukanlah puncak dari rantai makanan. Gedung pencakar langit megah, pasukan taktis pribadi, dan senjata biologis pemburu Pelayan ini hanyalah cabang kecil.
Di bagan teratas, mereka hanya terdaftar sebagai salah satu dari tujuh Fasilitas Pengadaan Regional.
Semua itu berada di bawah naungan sebuah sindikat konglomerat global. Nama yang tertulis di sana adalah Sinode Obsidian.
"Kargo X yang kalian kirim ..." gumam Kenzo dingin, membaca rincian manifes lelang. "Bukan untuk konsumsi kota ini."
"K-kota ini terlalu kecil untuk ambisi mereka," rintih Gideon dari lantai.
Ia mencoba mengatur napasnya yang memburu. "Nexus Corp hanyalah pos transit untuk mengumpulkan manusia berkekuatan dan relik kuno."
"Tuan-tuan di Sinode... merekalah yang mengendalikan pasar dunia supernatural dari benua seberang. Kau telah menyentuh sarang lebah yang jauh lebih besar dari yang bisa kau bayangkan, Nak!"
"Bagus," jawab Kenzo datar.
Ia mencabut ponselnya yang telah selesai menyalin seluruh data. "Itu artinya akan ada lebih banyak variabel yang harus kuhancurkan nanti."
Kenzo menatap layar terminal untuk terakhir kalinya. Jari-jarinya bergerak cepat mengetikkan perintah eksekusi protokol penghapusan total.
"Mystrul, Azzy. Bersihkan fasilitas ini."
"Asyik! Hancur-hancuran!" seru Azzy riang.
Mystrul mengayunkan tangannya, memicu korsleting magis masif.
Seluruh unit peladen fisik di ruangan itu terbakar hingga meleleh menjadi cairan silikon hitam.
Di saat yang sama, Azzy merentangkan tangan. Ia mengirimkan puluhan gelombang kehampaan mikro ke pilar-pilar penyangga internal lantai 40 dan fasilitas riset di bawah tanah.
Semua dokumen fisik, prototipe senjata biologis, dan jejak operasional lenyap ke dalam ketiadaan.
Gideon menjerit histeris. Ia menyaksikan imperium bisnis bernilai triliunan rupiah yang dibangunnya hancur berkeping-keping dalam hitungan menit.
Kenzo tidak membunuhnya.
Ia membiarkan eksekutif itu hidup di tengah abu kejatuhannya. Menjadi seorang pria cacat tanpa kekuatan dan tanpa perusahaan.
Sebentar lagi, ia pasti akan diburu oleh para investor Sinode karena kegagalannya.
Kenzo melangkah pergi meninggalkan reruntuhan lantai 40, melebur ke dalam kegelapan malam kota metropolitan.
Sementara itu, suasana berbanding terbalik 180 derajat di Aula Utama Hotel Grand Aster.
Di bagian tengah kota yang paling gemerlap, alunan musik klasik mengalun sangat lembut.
Lampu kristal raksasa memancarkan cahaya keemasan ke atas ratusan tamu elite. Para konglomerat, jaksa agung, politisi ternama, dan sosialita kelas atas berkumpul dengan busana bernilai ratusan juta rupiah.
Di dekat air mancur sampanye, Siska berdiri dengan senyum merekah. Ia sangat menikmati tatapan kagum dan iri dari wanita-wanita di sekitarnya.
Gaun sutra merah marun yang ia kenakan berkilau indah di bawah cahaya lampu. Di jari manisnya, melingkar cincin berlian baru pemberian Adrian.
Malam ini adalah pesta amal tahunan para pemegang saham. Siska merasa dirinya telah berhasil mencapai puncak hierarki sosial yang selalu ia impikan.
"Kau beruntung sekali, Siska," bisik salah seorang temannya sesama sosialita.
"Adrian masih sangat muda, tapi sudah memegang posisi direktur operasional di firma yang berafiliasi langsung dengan Nexus Corp. Masa depanmu sudah terjamin seumur hidup."
Siska menyesap anggur merahnya dengan anggun. Ia mengangkat dagunya sedikit, tampak begitu tinggi hati.
"Tentu saja. Dalam hidup ini, kita harus tahu memilih siapa yang layak berdiri di samping kita."
Ia tersenyum tipis. "Ada orang-orang yang memang ditakdirkan untuk berkuasa, dan ada yang ditakdirkan hanya menjadi debu jalanan."
Pikirannya sekilas melayang pada Kenzo yang ia temui beberapa waktu lalu.
Mengingat bagaimana pemuda itu mengenakan pakaian kasual tanpa masa depan membuatnya ingin tertawa geli. Betapa jauhnya perbedaan dunia mereka sekarang.
Di sisi lain aula, Adrian sedang tertawa lepas bersama seorang pejabat kementerian dan dua pengusaha properti terkemuka.
"Tenang saja, Pak Heru," ucap Adrian jumawa sambil memutar gelas kristal di tangannya.
"Firma kami memiliki sokongan mutlak dari Nexus Corp. Kasus-kasus kecil di distrik selatan sudah dibereskan."
Ia tersenyum lebar. "Hukum kota ini berjalan sesuai dengan apa yang kami bayar."
Tepat saat para pengusaha itu hendak bersulang, ponsel pintar di saku jas Adrian bergetar hebat.
Getaran itu tidak berhenti. Beruntun, seperti rentetan tembakan yang panik.
Adrian mengerutkan kening. Ia merogoh ponselnya untuk mematikan daya, namun matanya seketika membelalak lebar.
Beberapa baris pesan darurat berformat enkripsi muncul di layar emas antarmukanya.
[PERINGATAN: Komputer Induk Nexus Corp Dihancurkan Total.]
[Data Transaksi Kargo X dan Buku Kas Hitam Bocor ke Publik dan Divisi Khusus Pusat.]
[Tuan Gideon Dinyatakan Tumbang. Seluruh Rekening Operasional Dibekukan.]
[EVAKUASI SEGERA. UNIT EKSEKUTOR SINODE DAN APARAT SEDANG MENUJU LOKASIMU.]
PRANG!
Gelas kristal di tangan Adrian terlepas. Benda itu menghantam lantai marmer dan pecah berkeping-keping.
Cairan merah anggur tumpah membasahi sepatu mahalnya.
Wajah Adrian yang tadi penuh keangkuhan mendadak pucat pasi bagai mayat. Napasnya tercekat, dengan pupil mata yang bergetar hebat dalam kepanikan murni.
"Adrian? Sayang, ada apa?" Siska bergegas mendekat dengan raut wajah cemas. Ia langsung memegang lengan pria itu.
Namun, bukan hanya ponsel Adrian yang berisik.
Dalam hitungan detik, ponsel milik para pejabat, jaksa, dan pengusaha di seluruh aula pesta mulai berdering serentak.
Suasana pesta yang tenang seketika pecah menjadi kegaduhan massal.
Wajah-wajah para elite kota berubah drastis saat membaca dokumen korupsi yang mendadak tersebar luas di internet. Nama-nama mereka terpampang jelas di sana.
"Nexus Corp... runtuh?" bisik salah satu pengusaha dengan suara bergetar.
"Nama kita ada di dalam manifes aliran dana gelap itu!" teriak seorang anggota dewan.
Ia langsung berlari keluar aula, meninggalkan istrinya begitu saja dalam kebingungan.
Dalam sekejap, orang-orang yang sebelumnya mengerumuni Adrian langsung mundur menjauh. Mereka memandang pria itu dengan tatapan jijik dan ketakutan, seolah ia membawa wabah mematikan.
"Adrian! Apa yang terjadi?! Kenapa semua orang panik?!" seru Siska dengan suara melengking ketakutan.
Ia semakin cemas melihat pria yang dipujanya kini gemetar hebat tanpa kendali.
"H-habis... semuanya habis..." racau Adrian sambil mencengkeram kepalanya sendiri.
"Gedung pusat dihancurkan... uangku... penyokongku... mereka tahu segalanya!"
Tanpa memedulikan keadaan, Adrian menyentak tangan Siska dengan kasar.
Ia berbalik, lalu berlari sekencang mungkin menuju pintu keluar darurat hotel.
"Adrian! Tunggu aku!" jerit Siska.
Ia terpaksa mengangkat gaun mewahnya tinggi-tinggi. Dengan sepatu hak tinggi yang goyah, ia berusaha mengejar langkah pria itu yang kian menjauh.
Dunia mimpi penuh kemewahan yang dibanggakannya baru saja runtuh dalam satu kedipan mata.
Namun, teror sesungguhnya bagi mereka berdua belum benar-benar dimulai.
Di luar sana, sosok yang telah meruntuhkan seluruh imperium tersebut sedang melangkah mendekat. Ia bersiap untuk mengambil kepingan teka-teki terakhir.