NovelToon NovelToon
PLAYING WITH FIRE

PLAYING WITH FIRE

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Balas Dendam / Diam-Diam Cinta
Popularitas:118.3k
Nilai: 5
Nama Author: Itha Sulfiana

Jordan Carlton mengira Vanessa adalah wanita lemah yang tak akan pernah berani meninggalkannya.

Yessika mengira ia berhasil merebut segalanya dari Vanessa, termasuk calon suaminya.

Namun Vanessa memegang kunci takhta sejati keluarga Carlton dan ia memilih untuk menyerahkannya pada pria yang paling dibenci Jordan.
Alessio Carlton mungkin terlihat menakutkan, dingin, dan licik. Namun saat Vanessa menawarkan pernikahan sebagai senjata balas dendam, Alessio tersenyum gelap. Sebab, jauh sebelum Vanessa memasuki kamarnya malam itu, Alessio sudah menyiapkan panggung untuk menjadikannya sang Ratu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Setelah Arthur pergi, suasana langsung berubah mencekam.

Jordan menyunggingkan senyum kejam, melangkah mendekat dan mencengkeram pergelangan tangan Vanessa dengan sangat kuat hingga memerah.

"Ikut aku ke rumah sakit!" gertak Jordan kasar, menyeret Vanessa berdiri dari kursinya. "Kau harus minta maaf pada Yessika!"

"Lepaskan aku, Jordan!" bentak Vanessa, berusaha menarik tangannya walau rasa sakit di lututnya membuat langkahnya tertahan.

"Kau dengar sendiri apa yang dikatakan Paman Arthur tadi! Jangan pernah bertindak macam-macam padaku kalau tidak ingin fasilitasmu dicabut!"

Jordan tertawa renyah, sebuah tawa angkuh tanpa rasa takut.

"Ancaman Ayah? Kau pikir aku takut?" Jordan mendekatkan wajahnya, berbisik dingin di samping telinga Vanessa.

"Coba saja mengadu pada Ayah. Kalau kau berani melaporkan ini, aku pastikan pernikahan kita batal detik ini juga! Kau tahu betul, kau tidak akan punya arti apa-apa tanpa status sebagai calon istriku!"

Vanessa tidak merintih. Ia justru menatap lurus ke dalam manik mata Jordan dengan tatapan yang sangat tajam dan tenang.

"Kenapa kau begitu perhatian pada Yessika, Jordan?" tanya Vanessa datar, nada suaranya terdengar menginterogasi.

"Apa karena kalian sebenarnya punya hubungan terlarang di belakangku?"

Tubuh Jordan mendadak kaku sejenak. Namun, keangkuhannya dengan cepat menutupi kegugupannya.

"Jaga mulutmu, Vanessa! Yessika itu calon adik iparku! Dia calon istri Alessio! Sangat wajar kalau aku memperlakukannya dengan baik sebagai anggota keluarga!"

"Wajar?" Vanessa terkekeh sinis, menyunggingkan senyum miring yang mengejek.

"Setahuku, hubunganmu dengan adikmu sendiri, Alessio, sangat buruk. Kau bahkan membencinya setengah mati. Jadi, atas dasar apa kau bisa sebegitu perhatiannya pada calon istri dari adik yang kau benci?"

Mata Jordan memerah karena murka. Kata-kata Vanessa menghantam logika dangkalnya.

"Aku kasihan padanya, tahu!" gertak Jordan beralasan, suaranya meninggi untuk menutupi rasa terdesak.

"Yessika itu sejak kecil tubuhnya lemah dan sakit-sakitan! Dan setelah dewasa, dia malah harus ditindas oleh wanita kejam sepertimu!"

Tawa Vanessa menyembur pelan, sebuah tawa tanpa rasa humor yang memotong ucapan Jordan.

"Aku? Menindas Yessika? Kapan aku pernah menindasnya, Jordan? Bukankah justru sebaliknya? Dia yang merebut kasih sayang Ayahku, dia yang merebut gaun-gaunku, dan dia yang menguras uangku. Dan yang paling parah... kau ikut membantunya merebut semua milikku."

"Cukup! Aku tidak sudi membahas itu!" potong Jordan kasar, enggan mendengarkan kenyataan.

Tanpa memedulikan rasa sakit di lutut Vanessa, ia menyeret wanita itu keluar menuju mobil.

"Kau tetap harus ikut ke rumah sakit!"

****

Lobi Carlton Hospital dipenuhi oleh kilatan lampu kilat kamera. Vanessa terpaku di tempatnya saat melangkah masuk.

Jordan ternyata tidak hanya membawanya untuk menjenguk, tetapi sudah mengatur skenario besar dengan memanggil puluhan wartawan dari berbagai media papan atas.

"Vanessa!"

Sebuah suara membentak keras dari arah ruang perawatan VIP. Seorang pria paruh baya melangkah lebar menghampirinya dengan wajah merah padam. Dia Benny Grey, ayah kandung Vanessa.

Plak!

Tanpa bertanya atau meminta penjelasan, sebuah tamparan keras mendarat tepat di pipi kiri Vanessa.

Pukulan itu begitu bertenaga hingga wajah Vanessa terlempar ke samping, meninggalkan rasa panas dan asin darah di sudut bibirnya.

"Dasar anak tidak tahu di untung!" amuk Benny, menunjuk wajah putrinya dengan jari bergetar.

Di samping Benny, Rika Grey, ibu tiri Vanessa sekaligus ibu kandung Yessika langsung maju dengan wajah penuh air mata buatan, memaki Vanessa di hadapan puluhan kamera wartawan yang terus mengambil gambar.

"Kau benar-benar perempuan kejam! Tidak punya hati!" jerit Rika histeris, menyapu air matanya dengan saputangan.

"Yessika itu adikmu sendiri, Vanessa! Kau tega mendorongnya dari tangga sampai dia terbaring lemas di dalam! Kau ini sama saja seperti mendiang ibumu... perempuan kejam yang tidak punya belas kasihan!"

Para wartawan mulai berbisik-bisik, memotret momen dramatis tersebut. Vanessa perlahan merapikan rambutnya yang berantakan, menatap Rika dengan mata dingin bagai es.

"Memvonis moral orang lain memang mudah ya, Bibi Rika?" sahut Vanessa, suaranya terdengar sangat jernih dan tenang di tengah hiruk-pikuk media.

"Tapi bagaimanapun, Yessika itu memang sangat mirip dengan Anda, Bibi. Sama-sama perempuan gatal yang sangat suka mengganggu dan merebut pria milik wanita lain."

Brak!

Suara bisikan wartawan makin keras. Wajah Rika seketika pucat pasi, memerah karena malu luar biasa di depan media.

"Kau... kau kurang ajar!" amuk Benny Grey.

Pria itu kembali mengangkat tangannya tinggi-tinggi, melayang di udara, hendak mendaratkan tamparan kedua ke wajah putri kandungnya.

"Anak tidak tahu diri! Berani-beraninya kau membangkang?!"

Namun kali ini, Vanessa tidak menunduk atau menghindar. Ia justru menegakkan dadanya, mengangkat dagunya, dan menatap lurus ke mata ayahnya dengan tantangan mematikan.

"Pukul lagi, Ayah," tantang Vanessa dengan suara rendah yang amat dingin.

"Pukul aku sekali lagi di depan seluruh kamera media! Tapi kuperingatkan... jika tanganmu mendarat di wajahku sekali lagi, aku akan memastikan Ayah menyesali perbuatan itu seumur hidup Ayah."

Kilatan di mata Vanessa begitu kelam dan berbahaya hingga tangan Benny membeku di udara.

Keberanian aneh yang terpancar dari diri Vanessa membuat ketegasan Benny menciut. Pria tua itu pelan-pelan menurunkan tangannya, mundur satu langkah dengan napas memburu.

Jordan yang melihat situasi mulai tak terkendali segera mengambil alih. Ia melangkah ke depan para wartawan, memasang wajah tegas nan penuh keadilan.

"Para rekan media sekalian," ujar Jordan dengan suara lantang.

"Hari ini, saya membawa Vanessa ke sini bukan untuk memperkeruh suasana, melainkan untuk menuntut pertanggungjawaban. Vanessa harus meminta maaf secara terbuka kepada Yessika atas tindakannya yang berbahaya!"

Jordan lalu menoleh pada Vanessa, menatapnya penuh ancaman mutlak.

"Minta maaf sekarang, Vanessa! Jika kau menolak dan tidak mau memohon ampun pada Yessika di depan publik, maka detik ini juga aku pastikan pertunangan kita batal dan acara pernikahan kita juga otomatis tidak akan pernah terlaksana!"

Dari balik pintu kamar VIP yang sedikit terbuka, Yessika mendorong kursi rodanya keluar dengan selang infus yang terpasang di tangan. Wajahnya dipoles pucat, matanya berkaca-kaca.

"Jordan..." bisik Yessika dengan suara gemetar, pura-pura ketakutan sambil merengkuh lengan Jordan dengan erat.

"Jangan paksa Kak Vanessa... aku takut. Kak Vanessa masih sangat membenciku... biarlah aku yang menanggung rasa sakit ini..."

Drama Yessika sukses menyulut emosi Jordan hingga ke puncak. Jordan menunjuk wajah Vanessa dengan tatapan membunuh.

"Kau lihat sendiri betapa trauma dirinya karena perbuatanmu?!" bentak Jordan.

"Minta maaf sekarang, atau aku sendiri yang akan memanggil polisi untuk menyeretmu ke penjara atas tuduhan penganiayaan!"

Di tengah kepungan desakan Jordan, kemarahan ayahnya, Isakan ibu tirinya, dan sorot kamera yang tak henti-hentinya memotret, Vanessa menggeram kesal di dalam hati.

Namun, ia menarik napas dalam-dalam dan tetap mempertahankan raut wajahnya yang sangat tenang.

Sebuah senyuman tipis dan misterius perlahan terukir di bibirnya.

"Baiklah," ucap Vanessa halus. Suaranya membuat suasana di koridor rumah sakit mendadak hening.

"Aku bersedia meminta maaf."

Jordan dan Yessika tersenyum puas, merasa telah memenangkan pertempuran.

Namun sebelum melangkah maju, Vanessa mengangkat tangannya, menatap para wartawan dan orang-orang di sekitarnya.

"Tapi sebelum itu, aku ingin bertanya satu hal pada semua orang di sini. Apakah orang yang melakukan kesalahan... memang wajib untuk dihukum?"

"Tentu saja!" sahut Jordan cepat dengan suara tinggi.

"Orang yang salah harus menerima hukumannya!"

"Ya! Kau yang salah, Vanessa!" timpal Benny Grey tegas, disusul anggukan setuju dari Rika dan para wartawan yang merekam.

"Bagus kalau begitu," kata Vanessa pelan.

Ia merogoh tas tangannya, mengeluarkan sebuah ponsel pintar berlayar jernih. Vanessa menekan layar ponselnya beberapa kali, lalu memutar volume ke tingkat maksimal dan mengarahkan layar itu tepat ke arah para wartawan.

"Kalau begitu, mari kita lihat siapa yang sebenarnya salah di sini."

Sebuah video berkualitas tinggi mendadak terputar di layar.

Dalam video tersebut, yang terekam dari sudut pandang koridor semalam, terlihat jelas Yessika berdiri tegak di atas tangga. Tidak ada dorongan, tidak ada sentuhan dari Vanessa. Justru terlihat jelas Yessika yang tersenyum mengejek, lalu dengan kesadaran penuh malah melemparkan tubuhnya sendiri ke belakang menyusuri anak tangga sambil berteriak histeris pura-pura memohon ampun.

Bukan hanya itu, rekaman suara di dalam video sebelum Yessika jatuh juga terdengar sangat jernih:

"Kau sengaja melakukan ini, Yessika?" suara Vanessa di rekaman.

"Tentu saja, Kak..."*balas suara Yessika yang renyah dan penuh kelicikan sebelum menjatuhkan diri. "Jordan hanya milikku, dan kau akan hancur malam ini!"

Gasp!

Suara pekikan tertahan dari puluhan wartawan menggema di seluruh koridor lobi! Lampu kilat kamera langsung meledak secara brutal, memotret layar ponsel Vanessa dan berganti menembak wajah Yessika yang seketika pucat bagai mayat!

"Itu... itu palsu! Video itu rekayasa!" jerit Yessika histeris, tubuhnya gemetar hebat hingga hampir jatuh dari kursi roda.

Wajah Jordan membeku total. Bibirnya terkatup rapat, matanya terbelalak tak percaya menatap layar ponsel itu.

Benny dan Rika Grey hanya bisa berdiri mematung dengan mulut ternganga, tak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun di bawah serbuan puluhan kamera yang kini memburu mereka.

Vanessa perlahan menurunkan ponselnya, menyunggingkan senyum kemenangan yang paling dingin.

"Nah, Jordan... Ayah... Bibi Rika..." bisik Vanessa dengan nada suara yang sangat lembut namun mematikan. "Sekarang, siapa yang harus meminta maaf dan dihukum?"

1
Muft Smoker
si Jordan emnk dasar otak udang rebon mah susah ,,
cuma dengar uang 2.5 ember ,, lngsung otak2 menggap2 kayak ikan kurang air ,,
ketipeng anda woooy Jordan ,, /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Muft Smoker
Aduuh aq gx liat ap2 yx ,, sumpah ,, 🫣🫣🫣🫣🫣😂😂😂😂😂
Umi Zein
diiih playing victim 😏😏
mery harwati
Jordan Jordan 😜
mery harwati
Otak udang vs otak kancil 😜
Muft Smoker
masa aktif mu tinggal 3 harii Jordan ,, 🤫🤫🤫🤫😂😂😂😂
Muft Smoker
masuk laa si macan ompong ke perangkap alessio/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Fathan Fahri efendi
65545
rurry Irianty
sandiwara d mulai😄
ryuka
jordan jordan.. mampus kamu bener2 mampus 3 hari lgi
Umi Zein
sebenernya benci Gedeg banget sma Arthur bapak sekaligus suami durjana, menelantarkan anak dan istrinya demi gundik dan anak haramnya yg gak tau diri. tpi drah daging tetep lah darah daging yg gak bisa dirubah oleh apapun. sebesar apapun kesalahan yg udh di perbuat ayahmu di masa lalu biar Tuhan yg bales, kita sbgai manusia gak berhak membalas dendam itu. jangnlah terlalu kejam Ale sma ayahmu, dia sdh merasakan penderitaan itu kamu sbgai anak hrs ttp menolong nya, klo gak bs sebagai anak seenggaknya sebagai kemanusiaan. walaupun dlm kenegaraan kamu sudah putus hubungan tpi ikatan darah gak bisa putus gtu aja🥺🥺
rurry Irianty
ohh selamat toh,ku kira meninggoy kena serangan jantung🤭
ryuka
allesio kamu kuat.. kamu hebat
Umi Zein
dahlah menyesal pun tiada guna, sekarang nikmat apa yg sudah kamu perbuat di masa lalu ke ibu Alesio, skrng dpet karma nya
Umi Zein
kasiaan kamu chatur hanya di manfaatkan oleh gundik dan anak kandung palsumu. yg kandung kamu sia2in, justru yg anak gundik mu kamu jaga sayangi sepenuh hati😏😏😬
ryuka
abis kamu jordan di hempaskan ke jurang berkali kali sma allesia 🤣🤣🤣🤭🤭🤭🤭
rurry Irianty
sangat mudah alessio,..Jordan kan bodoh cuma bisa sodok² jalang🤭
rurry Irianty
haa kan benar tebakan ku,...lgan pelacur d percaya,..udh byk perkutut yg masuk🤣🤣🤣
Umi Zein
kira2 apa ya kejutan yg di terima chatur?! bikin penasaran aja kak othor /Shy//Shy//Chuckle/
Umi Zein
pas baca di siksa sampe luka parah tulang patah. aku kasiaan liat penderitaan hidup nya. tpi gak sadar2 juga, ilfil jdinya sma si Jordan 😏😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!