Bagi Raina, sekolah adalah tempat untuk belajar dan mengukir prestasi, bukan untuk berurusan dengan makhluk ajaib bernama Devan Adhitama. Devan adalah definisi hidup dari kata "NYEBELIN". Dia berisik, pamer, sering melanggar aturan, dan entah kenapa, selalu punya cara untuk mengacaukan hari Raina yang tertata rapi.
Raina bersumpah akan menjaga jarak radius satu kilometer dari Devan. Namun, takdir berkata lain ketika mereka dipaksa bekerja sama dalam proyek besar sekolah yang mempertaruhkan reputasi mereka berdua. Di antara prank konyol Devan, hukuman bersama di perpustakaan, dan rahasia-rahasia keluarga yang perlahan terkuak, Raina mulai melihat sisi lain dari si raja nyebelin.
Apakah Raina bisa mempertahankan hatinya, atau justru dia akan melakukan hal paling konyol sedunia: Jatuh cinta sama cowok yang paling ingin dia tenggelamkan ke laut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon silasepentin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: TRAGEDI BASKET DAN KACAMATA
"Kamu tuh... benar-benar pembawa sial, ya?" suara Raina gemetar, bercampur antara rasa sakit di hidungnya dan kekesalan yang sudah mencapai puncak.
"Gw beneran gak sengaja, tadi bolanya meleset dari tangan!" Devan berlutut di sebelah Raina, wajahnya diwarnai rasa bersalah yang teramat sangat. "Ayo gw antar ke UKS dulu, hidung kamu merah banget itu."
"Gak usah! Aku bisa sendiri!" Raina mencoba berdiri, tapi karena pandangannya kabur, ia hampir saja tersandung kakinya sendiri kalau Devan tidak cepat-cepat menahan lengannya.
"Jangan keras kepala, napa! Kamu gak bisa ngeliat apa-apa sekarang!" seru Devan, kali ini nadanya tegas namun ada kecemasan murni di dalamnya. Tanpa meminta izin, Devan merangkul bahu Raina dan menuntunnya pelan-pelan menuju ruang UKS.
Keesokan harinya, suasana kelas 11 IPA 2 mendadak riuh saat Raina melangkah masuk.
Raina tidak memakai kacamata bingkai tipis berkesan elegan yang biasa ia kenakan. Sebagai gantinya, ia terpaksa memakai kacamata cadangan dari SMP—berbingkai hitam tebal, berbentuk bulat besar, dan membuat matanya terlihat dua kali lebih kecil.
Devan yang sedang duduk di atas meja di pojok kelas langsung terdiam saat melihat Raina.
Raina berjalan lurus menuju bangkunya tanpa menengok ke kanan atau ke kiri, mencoba mengabaikan tatapan heran teman-temannya. Saat ia baru saja meletakkan tasnya, Devan sudah berdiri di samping mejanya.
"Raina..." Devan berdeham pelan, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Itu... kacamata baru?"
Raina menatap Devan dingin dari balik kacamata tebalnya. "Ini kacamata darurat. Karena kacamata utamaku hancur gara-gara kamu."
Devan menggigit bibir bawahnya. Bukannya melontarkan ejekan seperti biasanya, Devan malah menarik kursi di sebelah Raina dan duduk. Ia menatap kacamata bulat tebal Raina beberapa detik, lalu mengukir senyum kecil yang anehnya tidak terasa mengejek.
"Bagus kok," gumam Devan pelan.
"Apa?" Raina memicingkan mata.
"Kacamata kamu. Bagus," ulang Devan, kini menatap mata Raina langsung. "Bikin kamu kelihatan kayak burung hantu hobi membaca. Lucu."
Pipi Raina mendadak terasa panas. Ia cepat-cepat memalingkan wajahnya dan membuka buku pelajaran dengan kasar. "Pergi sana, Devan. Jangan bikin aku nambah poin pelanggaranmu lagi pagi ini."
Devan terkekeh, lalu bangkit berdiri. Sebelum melangkah pergi, ia menepuk pelan puncak kepala Raina. "Nanti sore ikutan gw keluar sekolah. Gw mau ganti kacamata kamu yang rusak."
BAB 5: TEMAN TAPI MUSUH
Semesta sepertinya sedang senang-senangnya berkonspirasi untuk menguji ketahanan mental Raina. Setelah insiden kacamata tebal, Raina berharap bisa menghabiskan waktu istirahat dengan tenang. Namun, harapannya pupus saat Feby, sahabat karibnya sejak kelas sepuluh, menarik lengannya menuju meja kantin paling tengah.
Di sana, duduk Rio—pacar Feby—yang merupakan anggota tim basket sekaligus sahabat dekat Devan. Dan tebakan Raina sama sekali tidak meleset: Devan sudah duduk manis di sana, memutar-mutar kunci motor di jarinya.
"Na, duduk sini aja! Rio yang nyaritin meja buat kita," ujar Feby polos tanpa berdosa.
Raina membeku. "Feb, kita kan bisa duduk di meja pojok—"
"Meja pojok penuh, Raina. Udah, duduk aja, gak usah canggung gitu kayak sama siapa aja," potong Devan santai. Ia menggeser sedikit posisi duduknya dan menepuk kursi kosong di sebelahnya.
Dengan berat hati dan napas terhela pelan, Raina akhirnya duduk di sebelah Feby, berseberangan langsung dengan Devan. Ia sengaja menggeser kursinya beberapa sentimeter menjauh dari posisi Devan.
"Gimana hidung lu, Na? Udah gak memar gara-gara kena bola Devan kemarin?" tanya Rio membuka percakapan sambil menyantap baksonya.
"Udah gak apa-apa," jawab Raina singkat, tangannya sibuk mengaduk jus alpukat tanpa minat.
"Lagian si Devan parah banget, operan kagak akurat malah kena Ratu Disiplin. Untung lu gak langsung diseret ke ruang BK, Dev," goda Rio sambil tertawa.