Kurosawa Kaito adalah pria paling sial di seluruh Jepang bukan kiasan, itu fakta yang bisa dibuktikan lewat statistik. Payung selalu ketinggalan pas hujan deras, promosi kerja direbut orang lain di detik terakhir, bahkan mesin ATM pernah menelan kartunya di hari gajian.
Semua berubah saat sahabatnya memaksanya mencoba Aeon Requiem, VRMMORPG full-dive terbaru yang sedang jadi fenomena dunia. Saat membuat karakter, Kaito yang selama ini terlalu sial untuk berharap apa pun asal memasukkan seluruh poin stat awal ke satu parameter yang paling sering diabaikan pemain lain: Luck (Keberuntungan).
Yang tidak ia sangka: sistem game ini menghitung keberuntungan bukan sebagai angka kosmetik, tapi sebagai variabel nyata yang memengaruhi drop rate, critical hit, event tersembunyi, bahkan takdir NPC. Seorang pemain yang di dunia nyata tidak pernah menang undian apa pun, kini menjadi satu-satunya orang yang ditakdirkan untuk selalu beruntung di dunia yang bukan dunia nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon webnakama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 26 — Wawancara
Malam yang ditentukan akhirnya tiba. Kaito login lebih awal dari biasanya, duduk gugup di sofanya sambil nunggu waktu yang udah disepakati. Di grup guild, semua orang udah standby Rin, Souma, Mei, dan Amagi semuanya online, siap-siap kalo dia butuh bantuan mendadak.
Rin: Inget kode darurat kita. Kalo lo bilang "sinyal jelek", kita langsung gerak.
Kaito: Noted.
Souma: Semangat bro, kita di sini.
Mei: Aku juga siap sedia potion darurat kalo perlu
Kaito senyum kecil natap pesan-pesan itu, ngerasa sedikit lebih tenang walau jantungnya masih berdegup kenceng. Dia ngecek jam, masih lima menit lagi. Lima menit yang kerasa jauh lebih lama dari yang seharusnya.
Tepat jam yang ditentukan, sebuah notifikasi muncul di layarnya:
Sesi wawancara akan dimulai. Anda akan dipindahkan ke ruang privat sementara.
Dunia di sekitarnya berubah gelap sebentar, dan begitu terang lagi, Kaito udah berdiri di ruangan yang mirip banget sama tempat dia bikin karakter pertama kali, putih, kosong, luas tanpa batas yang keliatan, sunyi total tanpa suara angin atau apa pun yang biasa dia denger di area lain. Bedanya, kali ini ada satu meja kecil dan dua kursi di tengah ruangan, dan di salah satu kursi itu, duduk sesosok pria.
Pria itu keliatan tenang banget, mengenakan setelan formal sederhana yang nggak biasa buat avatar game, lebih mirip pakaian kantor daripada kostum fantasy. Rambutnya rapi, kacamata tipis bertengger di hidungnya, dan senyumnya sopan tapi entah kenapa nggak sepenuhnya nyampe ke matanya.
"Selamat malam Kaito, terima kasih sudah bersedia datang. Saya Kirishima." katanya dengan suara tenang dan terukur.
Kaito duduk di kursi yang tersedia, ngerasa jantungnya berdegup kenceng walau dia coba tampil setenang mungkin, tangannya diem-diem ngepal di bawah meja biar nggak keliatan gemeteran. "Selamat malam."
"Saya akan langsung ke intinya, biar tidak membuang waktu Anda," kata Kirishima, ngeluarin semacam panel data yang cuma bisa dia lihat sendiri, ngescrollnya sebentar sebelum natap Kaito lagi, tatapannya tajam tapi nggak mengintimidasi, lebih ke tatapan orang yang terbiasa nganalisis segala sesuatu secara detail. "Saya adalah salah satu perancang sistem inti Aeon Requiem, termasuk sistem atribut dasar seperti LUK yang Anda gunakan."
Kaito diem sambil nyerna informasi itu. "Jadi Bapak yang bikin sistem LUK?"
"Salah satu dari beberapa orang yang terlibat, ya walau terus terang saya tidak pernah menyangka sistem itu akan bereaksi sejauh ini terhadap satu pemain." jawab Kirishima.
"Reaksi... maksudnya gimana?"
Kirishima natap dia lama, kayak lagi nimbang seberapa banyak yang mau dia bagi. "LUK dalam desain aslinya memang dirancang punya kompleksitas tersembunyi, bukan sekadar angka kosmetik seperti yang tertulis di deskripsi resmi. Tapi kompleksitas itu seharusnya terdistribusi merata, kecil-kecil di banyak pemain. Bukan terpusat sepenuhnya di satu akun." jawab Kirishima.
"Jadi... saya emang bikin masalah?" tanya Kaito, suaranya agak gemeteran.
"Saya tidak akan menyebutnya masalah, tapi anomali ya... Data kami menunjukkan sejak akun Anda aktif, terjadi penurunan variabel keberuntungan yang signifikan di beberapa ratus akun lain, sebagian besar tidak terlalu terasa, tapi ada beberapa kasus yang cukup ekstrem." jawab Kirishima.
Kaito ngerasa perutnya mules banget denger itu, inget lagi soal Kazenagi. "Kasus ekstrem... kayak gimana?"
Kirishima diem sebentar, kayak mempertimbangkan apa dia mau jawab jujur atau enggak. "Beberapa pemain mengalami penurunan drastis di seluruh aspek probabilitas dalam game seperti drop rate, critical hit, bahkan tingkat keberhasilan crafting. Dalam kasus tertentu, efeknya dilaporkan meluas ke luar game, meski kami tidak punya data resmi untuk itu karena berada di luar cakupan sistem kami."
"Berapa banyak orang yang... kena efek separah itu?" tanya Kaito, suaranya makin pelan.
"Tercatat resmi tiga, tapi saya menduga jumlah sebenarnya lebih banyak. Tidak semua orang melaporkan hal semacam ini, terutama kalau mereka sendiri tidak menyadari ada hubungan sebab-akibatnya." jawab Kirishima.
Kaito ngerasa dadanya sesak. Tiga orang. Mungkin lebih. Semua gara-gara dia?
"Saya bisa lihat dari ekspresi Anda, Anda merasa bertanggung jawab." kata Kirishima sambil natap dia dengan tatapan yang kerasa lebih lembut dari sebelumnya.
"Gimana enggak," gumam Kaito.
"Saya tidak akan mengatakan itu sepenuhnya salah untuk dirasakan, tapi juga tidak sepenuhnya benar untuk dijadikan beban tunggal Anda. Sistem ini jauh lebih tua dan lebih rumit daripada yang bisa dipahami satu orang, termasuk saya." kata Kirishima.
"Itu... itu Kazenagi," gumam Kaito, lebih ke diri sendiri.
Kirishima ngangkat alis dikit. "Anda mengenal nama itu?"
Kaito buru-buru mikir cepet, inget kata-kata Rin soal jaga info sensitif. "Cuma... denger dari cerita," katanya agak keder.
Kirishima natap dia lama, ekspresinya nggak berubah, tapi Kaito ngerasa kayak lagi diteliti sampe ke lapisan terdalam. "Baiklah. Saya tidak akan memaksa Anda membuka lebih dari yang Anda mau. Tapi saya ingin Anda paham satu hal penting."
"Apa itu?"
"Sistem yang Anda gunakan bukan sekadar bug atau fitur tersembunyi biasa. Ini terhubung ke lapisan kode yang terus terang, bahkan tim kami sendiri tidak sepenuhnya pahami asal-usulnya. Kami menemukannya sudah ada di sana, tertanam jauh di inti sistem sejak sebelum game ini pertama kali dirilis."
Kaito ngerasa bulu kuduknya berdiri. "Maksudnya... itu bukan buatan tim developer?"
"Kami tidak tahu pasti, tapi kemungkinan besar tidak. Dan itu yang membuat saya secara pribadi, bukan sebagai perwakilan perusahaan, tertarik mempelajari kasus Anda lebih jauh." kata Kirishima.
Ruangan itu diem sejenak, dan Kaito ngerasa ada sesuatu yang berat banget di balik ketenangan Kirishima, sesuatu yang nggak sepenuhnya cocok sama posisinya sebagai "perancang sistem" biasa.
"Bapak tau soal... suara yang kadang muncul? Yang ngomong langsung ke saya?" tanya Kaito dengan hati-hati.
Untuk pertama kalinya sepanjang percakapan itu, ekspresi Kirishima berubah cuma sedikit, tapi cukup keliatan. Sesuatu yang mirip kekagetan, cepat-cepat dia tutupi lagi dengan ketenangannya yang biasa.
"Anda mendengar suara?" tanya Kirishima, nadanya masih terkontrol, tapi Kaito bisa nangkep ada ketertarikan yang lebih intens di baliknya.
Kaito ragu sebentar, mikir apa dia udah kebanyakan cerita. "...Kadang. Cuma sekilas."
"Menarik," gumam Kirishima sambil natap panel datanya lagi walau keliatan pikirannya melayang ke tempat lain. "Baiklah. Saya rasa untuk sesi hari ini cukup sampai di sini. Terima kasih atas waktunya, Kaito."
"Itu doang?" tanya Kaito agak kaget interaksinya berakhir secepat itu, padahal dia udah nyiapin diri buat percakapan yang jauh lebih panjang dan berat.
"Untuk sekarang, tapi saya rasa kita akan bertemu lagi. Data yang Anda berikan hari ini sangat berharga." kata Kirishima sambil berdiri dari kursinya.
Dia mulai berjalan menjauh, tapi sebelum bener-bener ninggalin ruangan, dia berhenti sebentar, natap Kaito dengan ekspresi yang buat pertama kalinya, kerasa lebih personal daripada profesional.
"Satu saran kalau boleh, berhati-hatilah dengan seberapa jauh Anda membiarkan resonansi itu tumbuh. Keseimbangan yang terlalu condong ke satu sisi, cepat atau lambat, selalu menuntut sesuatu sebagai balasannya. Saya sudah melihatnya terjadi sebelumnya." katanya.
Sebelum Kaito sempet nanya lebih lanjut soal kalimat terakhir itu, ruangan itu berkedip, dan dia udah balik lagi ke Plaza Kota Awal, sendirian, dengan kepala penuh sama pertanyaan yang jauh lebih banyak dari sebelum dia masuk ke wawancara itu.
Dia berdiri diem sebentar di tengah plaza yang rame kayak biasa, ngerasa aneh liat pemain-pemain lain lalu-lalang santai, ketawa-ketawa, sama sekali nggak tau betapa beratnya percakapan yang baru aja dia alamin beberapa menit lalu. Dunia di sekitarnya keliatan sama persis kayak sebelumnya, tapi dia ngerasa dirinya sendiri udah berubah dikit, kayak abis denger sesuatu yang nggak bisa lagi dia lupain begitu aja.
HP-nya langsung bergetar, notifikasi numpuk dari grup guild.
Rin: Gimana?? Lo oke??
Kaito natap layar itu lama, mikirin cara terbaik buat ngejelasin semua yang baru aja dia denger.
Kaito: Gue oke. Tapi kita perlu ngobrol. Ini... lebih besar dari yang kita kira.
Dia nutup panel chat itu sebentar, natap langit malam virtual di atas plaza, bintang-bintang buatan yang berkelip pelan seolah nggak peduli sama semua beban yang baru aja ditambahin ke pundaknya. Kalimat terakhir Kirishima terus muter-muter di kepalanya..."keseimbangan yang terlalu condong ke satu sisi, cepat atau lambat, selalu menuntut sesuatu sebagai balasannya."
Dia mikir, apa maksud sebenernya di balik kalimat itu. Peringatan biasa? Atau ancaman yang dibungkus rapi lewat nada sopan? Dan yang lebih bikin dia nggak tenang adalah kalimat "saya sudah melihatnya terjadi sebelumnya"...seolah Kirishima bukan cuma ngomongin teori, tapi pengalaman langsung.
Kaito narik napas panjang, mutusin buat logout dan langsung telepon Rin, ngerasa dia butuh denger suara orang yang dia percaya sebelum kepalanya kepenuhan mikirin semua kemungkinan yang belum tentu bener.