NovelToon NovelToon
Setelah Mati, Aku Hidup Kembali Untuk Balas Dendam

Setelah Mati, Aku Hidup Kembali Untuk Balas Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Dia meninggal dalam kesengsaraan, dikhianati oleh suami dan sahabatnya sendiri. Tapi takdir memberinya tiket pulang ke masa lalu. Siren terbangun kembali di tubuh mudanya, lima tahun sebelum tragedi itu menghancurkan hidupnya. Kali ini, dia bukan lagi istri penurut yang naif. Dengan ingatan utuh tentang setiap kebohongan Fadli dan setiap rencana jahat Nia, Siren bersiap memainkan skenario baru. "Kalian pikir aku lemah? Tunggu saja sampai kalian melihat siapa yang sebenarnya memegang kendali." Di kehidupan barunya, Siren tidak hanya fokus menghancurkan karir dan rumah tangga Fadli, tetapi juga membangun imperiumnya sendiri. Di tengah permainan kucing-kucingan yang penuh sarkasme dan ketegangan ini, hadir Arya Wijaya—konglomerat dingin yang di kehidupan sebelumnya ia abaikan. Arya bukan sekadar pelarian. Dia adalah sekutu cerdas yang menyadari perubahan drastis pada Siren. Bersama Arya, Siren mengubah air mata menjadi senjata, dan rasa sakit menjadi bahan bakar untuk bangkit. Siap-siap m

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TAMU TAK DI UNDANG

Hujan deras mengguyur kaca jendela apartemenku. Suara gemuruh petir sesekali menyela keheningan malam. Aku duduk di sofa, laptop terbuka di pangkuan, memeriksa draf kontrak kerja sama dengan supplier baru PT Surya Global.

Ponsel berdering keras. Nama Pengacara Fadli muncul di layar.

Aku mengangkatnya, menekan tombol speaker agar Arya yang sedang berdiri di dekat jendela bisa mendengar.

"Selamat malam, Pak Hendra," sapaku datar.

"Nyonya Siren," suara pengacara itu terdengar tegang, tidak seperti biasanya yang arogan.

"Saya mewakili Klien saya, Tuan Fadli Pratama. Kami menerima surat somasi dari tim hukum Wijaya Group terkait klaim aset tambahan."

"Benar," jawabku singkat.

"apa Ada masalah?"

"Klien saya mengklaim bahwa tanda tangan pada perjanjian pra-cerai tidak sah karena adanya unsur paksaan psikologis," ucap Pak Hendra cepat, seolah membaca naskah yang sudah dihafal.

"Dia menyatakan bahwa Nyonya Siren mengancam akan melaporkan kasus pidana jika tidak menandatangani. Itu melanggar asas kebebasan berkontrak."

Aku tertawa kecil. Tawa dingin yang renyah.

"Pak Hendra, apakah Tuan Fadli lupa bahwa dia menandatangani dokumen itu di kantor notaris resmi, dihadapan saksi, dan direkam CCTV? Atau dia pikir kamera CCTV itu hiasan?"

"Itu... itu hanya rekaman visual, Nyonya. Tidak ada audio yang jelas menunjukkan ancaman verbal," bantah Pak Hendra, suaranya mulai goyah.

"Arya," panggilku tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel.

"Apakah kita punya rekaman audio?"

Arya berjalan mendekat, mengambil ponsel dari tanganku. Ia menekan beberapa tombol, lalu sebuah file audio diputar. Suara Fadli terdengar jelas, gemetar tapi sadar:

"Saya mengerti konsekuensinya. Saya tanda tangan ini secara sukarela untuk menghindari proses pidana yang lebih panjang. Saya tidak dipaksa fisik maupun mental oleh Nyonya Siren."

Suara Pak Hendra di seberang sana terhenti mendadak. Hening mencekam selama lima detik.

"Di mana... di mana Anda mendapatkan rekaman itu?" tanya Pak Hendra akhirnya, suaranya parau.

"Dari mikrofon tersembunyi di pulpen notaris," jawab Arya tenang melalui speaker. "Standar prosedur kami untuk transaksi bernilai tinggi. Rekaman ini sudah diverifikasi forensik digital dan siap diajukan ke pengadilan sebagai bantahan atas klaim paksaan."

Pak Hendra menghela napas berat. Terdengar suara kertas dikacak-acak di latar belakang.

"Baiklah," gumamnya, kalah.

"Saya akan sampaikan pada klien saya. Kemungkinan besar kami akan menarik gugatan banding tersebut. Tapi... ada satu hal lagi."

"Apa?" tanyaku.

"Ibu mertua Nyonya Siren. Ibu Ratna. Dia datang ke kantor kami tadi pagi Membawa sekelompok orang dari 'Komunitas Istri Saleh'. Mereka berencana mengadakan demo damai di depan kantor Wijaya Group besok pagi. Mengklaim Nyonya Siren adalah istri durhaka yang menceraikan suami saat sakit."

Mataku membelalak. "Demo? Di depan kantor Arya?"

"Ya. Mereka sudah menyebarkan undangan di media sosial. Hashtag #SirenDurhaka sudah mulai trending lokal di Jakarta Selatan."

Aku menutup mata sejenak, merasakan amarah mendidih di dada. "Mereka benar-benar tidak punya malu."

"Kami bisa mengurusnya dengan keamanan," tawar Arya, matanya menatapku khawatir.

"Tapi itu akan terlihat buruk di media. Seperti perusahaan besar menindas ibu-ibu rumah tangga."

"Tidak," potongku tegas, membuka mata kembali. "Jangan gunakan keamanan. Biarkan mereka datang. Biarkan mereka berteriak. Karena setiap teriakan kebencian mereka akan menjadi bahan bakar bagi kebenaran kita."

"Pakar strategi apa yang kamu miliki?" tanya Arya, alisnya terangkat penasaran.

"Aku akan menghadapi mereka," jawabku dingin.

"Secara langsung. Di depan kamera mereka. Di depan publik. Dan aku akan membongkar kepura-puraan 'istri saleh' itu dengan fakta-fakta yang tidak bisa mereka bantah."

"itu berisiko, Siren," peringatan Arya.

"Mereka bisa melempar sesuatu. Atau memfitnahmu secara live."

"Aku punya kamu," jawabku, menatap matanya dalam-dalam.

"Dan aku punya bukti. Bukti transfer uang haram yang digunakan Ibu Ratna untuk membeli tas branded. Bukti chat dia yang merestui perselingkuhan Fadli demi harta. Dan aku punya keberanian yang tidak dimiliki wanita yang hidup dari belas kasihan pria korup."

Arya menatapku lama. Lalu, perlahan, senyum bangga terbentuk di bibirnya.

"Baiklah," ucapnya.

"Jika itu keinginanmu, saya akan siapkan tim dokumentasi independen. Bukan untuk menyerang mereka. Tapi untuk merekam kejujuranmu. Dan saya akan berdiri di sampingmu. Bukan sebagai pelindung. Tapi sebagai saksi."

"Terima kasih, Arya," bisikku.

"Sekarang," ucap Arya, suaranya melunak.

"Tutup laptopmu. Kamu butuh tidur. Besok hari yang panjang. Dan kamu perlu wajah segar untuk menghancurkan mereka dengan senyuman."

Aku tersenyum, mematikan laptop. "Kamu selalu tahu cara membuat perintah terdengar seperti perawatan."

"Karena bagi saya, kesejahteraanmu adalah prioritas strategis tertinggi," balasnya sambil mengedipkan sebelah mata.

Kami berdiri, berjalan menuju kamar tidur. Di luar, hujan masih deras. Tapi di dalam hati kami, badai telah reda, digantikan oleh ketenangan keyakinan bahwa besok, cahaya kebenaran akan finally menerobos awan kebohongan yang tebal.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!