NovelToon NovelToon
Dalam Pengawasan Kakak Tiri

Dalam Pengawasan Kakak Tiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Teen / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Fatimah Azzahra Al-aini Sarabiti

Sejak ibunya menikah lagi, Aria terpaksa tinggal serumah dengan kakak tirinya, Lucien Ashford, pria yang nyaris sempurna di mata semua orang. Tampan, sopan, dan selalu hadir saat Aria membutuhkan bantuan.

Awalnya, Aria mengira Lucien hanya menjalankan perannya sebagai seorang kakak.
Sampai ia menyadari satu hal.
Lucien selalu tahu ke mana ia pergi.
Selalu muncul di waktu yang tepat.

Dan perlahan, semua orang yang mencoba mendekatinya mulai menghilang dari hidupnya.
Saat Aria berusaha mencari jawaban, ia justru menemukan rahasia yang jauh lebih mengerikan.
Lucien ternyata telah mengenalnya jauh sebelum mereka menjadi keluarga.

Kini Aria harus memilih, tetap tinggal di rumah yang perlahan berubah menjadi sangkar, atau melarikan diri dari seseorang yang tidak pernah berniat melepaskannya.

"Di rumah ini, tidak ada yang lebih berbahaya daripada seseorang yang mengaku ingin melindungimu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fatimah Azzahra Al-aini Sarabiti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Jari-jari Clara gemetar halus saat memoleskan lip gloss tipis di depan cermin. Gaun hitam kasual berpotongan di atas lutut yang mengenakan tubuhnya terasa agak ketat, namun itu adalah satu-satunya pakaian terbagus yang ia miliki untuk menghadiri pesta ulang tahun rekan kampusnya malam ini.

Ia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul tujuh malam. Ini adalah kesempatan langka. Orang tua mereka, ayah kandung Kenzo dan ibu kandung Clara sedang berada di luar negeri untuk urusan bisnis selama dua minggu. Rumah megah bergaya modern minimalis itu seharusnya menjadi tempat yang aman bagi Clara.

Namun, kenyataannya justru sebaliknya. Tanpa kehadiran orang tua mereka, rumah ini sepenuhnya berada di bawah kendali Kenzo.

Clara menyambar tas kecilnya, menyusupkan ponsel ke dalam sana, lalu meraih gagang pintu kamar. Setiap kali ia hendak melangkah keluar dari zona nyamannya, jantungnya selalu berdetak dua kali lebih cepat. Ia hanya perlu berjalan melewati koridor lantai dua, menuruni tangga utama, dan menghambur ke luar pintu depan di mana taksi pesanannya sudah menunggu.

Ia berhasil menuruni anak tangga terakhir.

Keheningan lantai dasar menyambutnya. Clara menghela napas lega, meyakini bahwa Kenzo masih tertahan di perusahaannya hingga larut malam seperti biasa.

Saat jemarinya baru saja menyentuh dinginnya gagang pintu utama, sebuah suara menghentikan pergerakannya seketika.

"Mau ke mana, Clara?"

Suara itu rendah, berat, dan dipenuhi oleh nada otoritas yang sangat dikenal Clara.

Darah Clara seolah berhenti mengalir. Ia membalikkan badan perlahan, menatap sosok pria tinggi yang berdiri di dekat remang cahaya ruang tengah. Kenzo. Pria berusia dua puluh empat tahun itu masih mengenakan kemeja kerja berwarna abu-abu gelap dengan lengan yang dilipat hingga siku. Dasinya sudah melonggar, dan ekspresi wajahnya sangat datar, begitu dingin hingga mampu membekukan udara di sekitarnya.

"Kenzo?"

suara Clara tercekat. Ia berusaha menetralkan raut wajahnya agar tidak tampak bersalah.

"Aku mau keluar sebentar. Ada acara ulang tahun teman kampus di tempat makan dekat universitas."

Kenzo tidak langsung menjawab. Pria itu melangkah maju, meletakkan kunci mobilnya di atas meja konsol kayu mahoni. Setiap langkah sepatu kulitnya yang beradu dengan lantai marmer terdengar seperti hitungan mundur bagi kebebasan Clara.

"Acara ulang tahun?"

tanya Kenzo seraya menghentikan langkahnya tepat dua jengkal di depan Clara. Tinggi badan Kenzo yang mencapai seratus sembilan puluh lima sentimeter membuat Clara terpaksa mendongak, merasa makin kerdil di bawah naungan bayang-bayang pria itu.

"Iya. Hanya dua atau tiga jam. Aku janji akan pulang sebelum jam sepuluh,"

bisik Clara, mencoba menawar.

Jemari Kenzo yang kokoh terangkat. Tanpa meminta izin, ibu jarinya menyapu bibir bawah Clara, menghapus lapisan lip gloss yang baru saja dipoleskan gadis itu. Sentuhan itu tidak kasar, namun kehangatan kulit Kenzo terasa membakar permukaan kulit Clara, mengirimkan getaran aneh yang membuat bulu kuduknya berdiri.

"Aku tidak ingat pernah memberimu izin untuk pergi malam ini,"

ujar Kenzo pelan, tatapan matanya yang tajam meneliti setiap detail penampilan Clara, mulai dari rambut cokelat terurai, gaun yang mengekspos bahunya, hingga kaki jenjang yang tak tertutup.

"Aku sudah dua puluh tahun, Kenzo!"

protes Clara, mencoba mengumpulkan keberanian yang tersisa.

"Aku bukan anak kecil lagi yang harus meminta izin untuk sekadar keluar minum kopi bersama teman-temanku. Lagipula, Ibu dan Ayah sedang tidak ada di rumah."

Mendengar kata 'Ayah', sudut bibir Kenzo terangkat tipis, membentuk senyuman miring yang terkesan menyindir.

"Justru karena Ayah dan ibumu sedang tidak ada, tanggung jawabmu sepenuhnya berada di tanganku,"

kata Kenzo dingin. Matanya menyipit saat menatap gaun yang dikenakan Clara.

"Dan pakaian ini terlalu pendek. Kamu ingin siapa yang melihatmu dengan penampilan seperti ini?"

"Ini pakaian biasa!"

tegas Clara, melangkah mundur untuk menciptakan jarak di antara mereka.

"Kenapa kamu selalu seperti ini? Setiap kali aku punya acara di luar, kamu selalu mencari alasan untuk melarangku. Kamu bukan pemilik hidupku, Kenzo!"

Kenzo tidak marah. Pria itu tidak pernah berteriak. Namun, keheningan yang ia tunjukkan jauh lebih menakutkan daripada amukan paling hebat sekalipun. Ia kembali melangkah mendekat, mengunci posisi Clara hingga punggung gadis itu membentur permukaan dingin pintu kayu di belakangnya.

Kenzo menyandarkan satu tangannya di samping kepala Clara, mengurung gadis itu sepenuhnya. Aroma parfum bernuansa woody dari tubuh Kenzo langsung menginvasi indra penciuman Clara.

"Kamu benar, aku bukan pemilik hidupmu,"

bisik Kenzo tepat di samping telinga Clara. Suaranya begitu halus, namun sarat akan ancaman.

"Tapi aku adalah orang yang menanggung seluruh biaya pengobatan ibumu sebelum ia menikah dengan ayahku. Aku juga orang yang memastikan bisnis keluarga ibumu yang bangkrut bisa bernapas kembali. Apakah kamu lupa akan hal itu?"

Hati Clara mencelos. Setiap kali ia mencoba melatih kemandiriannya, Kenzo selalu menarik rantai tak terlihat itu, mengingatkannya pada utang budi dan posisi rentan keluarganya. Ibu Clara memang sangat bergantung pada keluarga Kenzo, dan Kenzo memanfaatkan fakta tersebut secara sempurna untuk memanipulasi Clara.

"Itu tidak ada hubungannya dengan keinginanku untuk keluar malam ini,"

cicit Clara. Matanya mulai berkaca-kaca karena kombinasi antara rasa marah dan ketakutan.

"Ini ada hubungannya dengan segalanya,"

balas Kenzo tegas. Ia mengulurkan tangan ke balik punggung Clara, meraba tas kecil milik gadis itu, lalu mengambil ponsel dari dalamnya dengan gerakan santai.

"Apa yang kamu lakukan? Kembalikan ponselku!" seru Clara sambil berusaha meraih benda tersebut.

Dengan mudah, Kenzo mengangkat ponsel itu tinggi-tinggi melebihi jangkauan Clara. Tanpa mengalihkan pandangannya dari mata Clara, Kenzo menekan tombol daya di samping ponsel hingga layarnya meredup dan mati total. Pria itu kemudian memasukkan ponsel Clara ke dalam saku celananya sendiri.

"Pesta dibatalkan. Lepas gaun ini, masuk ke kamarmu, dan selesaikan tugas kuliahmu," perintah Kenzo tanpa bantahan.

"Aku tidak mau!"

bentak Clara, kehabisan kesabaran.

"Kamu tidak bisa terus-menerus mengurungku di rumah ini seperti tahanan!"

Clara mendorong dada Kenzo dengan seluruh tenaga yang ia miliki. Pria itu hanya bergeser sedikit, namun celah kecil itu cukup bagi Clara untuk mencoba menerobos ke samping. Tanpa berpikir panjang, Clara memutar kunci pintu utama dan membukanya lebar-lebar.

Sinar lampu jalanan dan udara luar yang segar langsung menyapa wajahnya. Taksi pesanannya masih menunggu di pinggir jalan. Hati Clara membuncah oleh harapan. Ia berlari keluar melewati teras rumah.

"Clara, berhenti,"

suara Kenzo bergema dari balik punggungnya, tidak lagi terdengar santai.

Clara menghiraukan panggilan itu. Ia terus berlari menyeberangi halaman depan, membuka gerbang kecil, dan langsung membuka pintu belakang taksi.

"Pak, jalan! Cepat jalan!"

seru Clara terengah-engah begitu ia berhasil duduk di kursi belakang.

Sopir taksi yang tampak bingung meliriknya dari kaca spion tengah.

"Mau ke mana?"

"Ke alamat yang ada di aplikasi, Pak! Tolong cepat jalan sekarang!"

desak Clara panik sambil menoleh ke belakang melalui kaca mobil.

Kenzo berjalan keluar dari gerbang dengan langkah lebar dan tenang. Tidak ada raut kepanikan di wajah pria itu, hanya ada tatapan dingin yang menjanjikan hukuman.

Sopir taksi baru saja hendak menginjak pedal gas ketika tiba-tiba pintu pengemudi diketuk dengan keras dari luar. Sopir itu terkejut dan menurunkan kaca jendelanya sedikit.

Kenzo membungkuk, menatap sang sopir dengan pandangan intimidatif yang membuat pria paruh baya itu langsung tertegun.

"Batalkan pesanannya,"

ucap Kenzo singkat, lalu menyodorkan dua lembar uang melalui celah jendela.

"Adik saya sedang kurang sehat dan melarikan diri dari rumah. Ini uang ganti rugi waktu Anda."

"Eh, tidak, Pak! Saya tidak sakit! Jangan dengarkan dia!"

jerit Clara dari belakang, mencoba memajukan tubuhnya.

"Pak, tolong saya, bawa saya pergi dari sini!"

Sopir taksi itu melihat uang kertas di tangannya, lalu melirik Kenzo yang bertubuh tegap dan berpakaian mahal, kemudian menatap Clara yang tampak histeris. Takut terlibat dalam masalah keluarga kaya yang rumit, sopir itu mengangguk pelan, mengambil uang tersebut, dan mematikan mesinnya.

"Maaf Nona, Kalau masalah keluarga, sebaiknya diselesaikan baik-baik,"

kata sopir itu canggung.

"Pak! Tolong!"

teriak Clara.

Sebelum Clara sempat membuka pintu sisi sebelah kiri untuk melarikan diri lagi, pintu di sampingnya sudah dibanting terbuka dari luar.

Cengkeraman tangan Kenzo yang kuat menyambar pergelangan tangan Clara. Tanpa usaha lebih, Kenzo menarik gadis itu keluar dari dalam taksi. Clara mencoba memberontak, memukul dada dan lengan Kenzo, namun pria itu menahan kedua pergelangan tangan Clara hanya dengan satu genggaman tangannya yang besar.

"Lepaskan aku, Kenzo! Lepas!"

jerit Clara.

Mata Kenzo menggelap sepenuhnya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia mengangkat tubuh Clara ke dalam dekapannya, menggendong gadis itu di atas bahunya seolah berat badannya tidak berarti apa-apa. Taksi itu segera menancap gas dan berlalu pergi, meninggalkan mereka dalam kegelapan malam.

Kenzo membawa Clara kembali memasuki rumah dan menendang pintu depan hingga tertutup rapat dengan dentuman keras yang menggema ke seluruh sudut ruangan. Bunyi engsel pintu yang terkunci otomatis menandai berakhirnya kebebasan singkat Clara.

Kenzo menurunkan Clara di lantai marmer foyer. Belum sempat Clara berdiri tegak untuk berlari menuju tangga, Kenzo sudah memblokir jalannya, menatapnya dengan raut wajah yang sama sekali belum pernah dilihat Clara sebelumnya, sebuah kombinasi antara amarah yang tertahan dan obsesi yang murni.

"Kau baru saja melanggar aturan terpenting di rumah ini, Clara,"

bisik Kenzo dengan suara yang sangat rendah, hampir menyerupai geraman.

Clara mundur hingga punggungnya kembali membentur dinding.

"A-apa..."

Kenzo merogoh saku celananya, namun bukannya mengeluarkan ponsel Clara, pria itu mengeluarkan sebuah kunci kuningan kecil bermotif kuno yang asing bagi Clara.

"Mulai malam ini,"

kata Kenzo sambil mengangkat kunci itu tepat di depan mata Clara yang membelalak,

"kau tidak akan pernah tidur di kamarmu lagi."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!