Selama tiga tahun, Ye Chen hidup sebagai menantu benalu di keluarga Su. Dia mencuci pakaian, memasak, dan menerima setiap hinaan tanpa melawan demi melindungi istrinya yang dingin namun cantik jelita, Su Yuhan. Semua orang memanggilnya anjing pecundang, tanpa tahu bahwa di dalam nadinya mengalir darah keluarga paling berkuasa di ibu kota.
Ketika sebuah konspirasi mengancam nyawa istrinya dan mertuanya memaksanya untuk bercerai demi menikahkan Yuhan dengan tuan muda kaya, sebuah liontin giok peninggalan ibunya menyerap darah Ye Chen dan membangkitkan Warisan Tabib Naga Sakti. Di saat yang sama, iring-iringan Rolls-Royce hitam dari ibu kota tiba di depan rumahnya.
Mulai hari ini, sang naga telah membuka matanya. Mereka yang pernah menghinanya harus berlutut!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: Tangan Dewa Penakluk Maut
Kehadiran Ye Chen dengan sebuah kotak bekal berwarna biru muda di tangannya menciptakan kontras yang sangat absurd di tengah ketegangan ruang rapat eksekutif itu.
Su Ming, yang sedari tadi menahan rasa malu dan amarah yang nyaris meledakkan pembuluh darahnya, akhirnya menemukan pelampiasan.
"Ye Chen! Dasar anjing penjilat!" Su Ming menggebrak meja, menunjuk tepat ke wajah Ye Chen. "Kau pikir ini dapur rumahmu?! Ini ruang rapat dewan direksi! Beraninya seorang pembantu sepertimu masuk ke sini membawa kotak makanan murahan itu!"
Namun, sebelum Ye Chen sempat membuka mulut, sebuah suara dingin yang mengiris udara mendahuluinya.
"Su Ming. Jaga ucapanmu."
Su Yuhan menatap sepupunya dengan tatapan setajam belati es. "Dia adalah suamiku. Dan dia memiliki hak penuh untuk masuk ke ruanganku. Sebaliknya, jika kau masih berani menghina suamiku, aku akan menggunakan hak veto-ku sebagai CEO untuk mendepakmu dari kursi direksi hari ini juga!"
Mendengar pembelaan itu, Su Ming terbelalak. Selama tiga tahun pernikahan mereka, Su Yuhan tidak pernah sekalipun membela Ye Chen di depan umum. Tapi hari ini, wanita es itu melindunginya seperti induk harimau!
Su Jian buru-buru menarik lengan putranya. Pria paruh baya itu tahu bahwa hari ini mereka telah kalah telak. Dengan masuknya suntikan dana lima ratus juta yuan dari Bank Jiangcheng, posisi Su Yuhan di perusahaan kini mustahil digoyahkan.
"Ayo pergi, Ming," desis Su Jian dengan wajah suram. Ia melirik Ye Chen sejenak, menyimpan dendam yang membara di matanya, lalu membawa putranya keluar ruangan, diikuti oleh para pemegang saham lain yang menunduk malu.
Dalam hitungan detik, ruang rapat yang besar itu kembali sepi. Hanya tersisa Presiden Li yang masih berdiri canggung di sudut.
"N-Nona Su... T-Tuan Ye... jika tidak ada hal lain lagi, s-saya mohon undur diri," pamit Presiden Li sambil membungkuk dalam-dalam. Begitu mendapat anggukan dari Yuhan, pria buncit itu melarikan diri dari ruangan seolah dikejar setan.
Kini, hanya tersisa sepasang suami istri itu.
Ye Chen berjalan mendekat, meletakkan kotak bekal di atas meja, dan membukanya. Aroma harum iga babi asam manis, tumis sayuran, dan nasi hangat mengepul di udara.
"Kau belum sarapan, kan? Makanlah selagi hangat," ucap Ye Chen lembut, menarik sebuah kursi dan duduk di samping Yuhan.
Su Yuhan menatap makanan rumahan itu, lalu menatap wajah suaminya. Tidak ada lagi sisa aura menakutkan yang membuat Presiden Li bersujud, atau aura pembunuh yang mematahkan tulang Wang Hao semalam. Pria di depannya ini hanyalah Ye Chen-nya yang biasa. Suaminya yang selalu memasak untuknya dengan penuh perhatian.
Tiba-tiba, mata Yuhan berkaca-kaca. Pertahanannya sebagai CEO yang dingin akhirnya runtuh.
"Ye Chen..." Yuhan mengambil sumpit, suaranya bergetar. "Apakah semuanya akan baik-baik saja? Keluarga Wang... Ibu tiri di Ibu Kota... apakah mereka akan melepaskan kita?"
Ye Chen mengulurkan tangannya, menyelipkan helaian rambut Yuhan ke belakang telinga wanita itu.
"Selama langit belum runtuh, aku yang akan menopangnya untukmu. Dan kalaupun langit runtuh, aku akan menghancurkan langit itu," bisik Ye Chen dengan keyakinan absolut. "Makanlah. Setelah ini, aku harus pergi ke pasar obat herbal tradisional."
Yuhan mengangguk pelan, mulai memakan bekalnya dengan perasaan hangat yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Satu jam kemudian, di Jalan Antik Lin'an, Kota Jiangcheng.
Jalanan ini terkenal sebagai pusat penjualan barang antik dan obat herbal tradisional terbaik di seluruh provinsi. Ye Chen berjalan santai, mengamati kios-kios yang menjajakan ginseng, jamur lingzhi, dan berbagai akar berkhasiat.
Sejak Teknik Bela Diri Penakluk Naga terbangkitkan di tubuhnya, Ye Chen menyadari bahwa ia membutuhkan energi spiritual dalam jumlah besar. Karena udara di kota modern sangat tercemar, satu-satunya cara untuk meningkatkan level kultivasinya adalah dengan menyerap esensi dari tanaman herbal berusia puluhan tahun.
Tiba-tiba, langkah Ye Chen terhenti oleh kerumunan orang di depan sebuah toko obat besar bernama 'Klinik Seratus Tahun'.
"Kakek! Kakek, bertahanlah! Panggil ambulans! Cepat!"
Suara jeritan panik seorang gadis terdengar dari tengah kerumunan. Ye Chen menyela masuk dan melihat seorang pria tua berambut putih mengenakan pakaian Tai Chi terkapar di tanah. Wajah pria tua itu membiru kemerahan, napasnya terputus-putus, dan tangannya mencengkeram dada kirinya dengan kuat.
Di sampingnya, seorang gadis muda yang luar biasa cantik—dengan rambut diikat ekor kuda dan mengenakan pakaian olahraga ketat—sedang menangis histeris. Di sekeliling mereka, empat pengawal berbadan kekar berpakaian hitam tampak kewalahan menahan kerumunan.
"Minggir! Biarkan saya periksa!"
Seorang pria paruh baya berkacamata, mengenakan jas dokter putih, bergegas keluar dari dalam 'Klinik Seratus Tahun'. Ia adalah Dokter Zhao, tabib terkenal di jalan antik itu.
Dokter Zhao memeriksa denyut nadi pria tua itu, lalu wajahnya berubah drastis. "Ini serangan jantung akut! Pembuluh darah di jantungnya tersumbat total. Nona Tang, saya akan melakukan CPR dan memberikan pil penyekat denyut untuk menstabilkannya!"
Gadis itu, Tang Ruoxue, mengangguk panik. "Lakukan apa saja, Dokter Zhao! Tolong selamatkan kakekku! Jika beliau selamat, Keluarga Tang akan memberimu imbalan berapapun!"
Dokter Zhao mengeluarkan sebuah pil hitam dari botolnya dan bersiap memasukkannya ke mulut lelaki tua itu, sambil bersiap menekan dadanya untuk CPR.
Namun, sebelum tangan Dokter Zhao menyentuh dada pasien...
"Jika kau melakukan CPR dan memberinya pil itu, dia akan mati dalam tiga menit."
Suara yang tenang namun tegas itu menembus keributan. Semua orang menoleh, menatap Ye Chen yang kini berdiri melipat tangan di barisan depan.
Dokter Zhao menghentikan gerakannya, menatap Ye Chen dari atas ke bawah. Melihat pakaian Ye Chen yang murah dan lusuh, wajahnya seketika dipenuhi rasa jijik.
"Bocah, apa yang kau tahu soal medis?! Pria tua ini adalah Master Tang, purnawirawan Jenderal dan pendiri Asosiasi Harimau Putih! Jangan bicara sembarangan atau nyawamu tidak akan selamat!" bentak Dokter Zhao.
Tang Ruoxue menatap Ye Chen dengan mata memerah dan penuh amarah. "Penjaga! Usir orang gila ini!"
"Tunggu," kata Ye Chen, tidak bergeming sedikitpun meski dua pengawal berbadan besar mendekatinya. "Lihat leher kakekmu. Ada garis hitam tipis yang merambat ke atas, kan? Itu bukan serangan jantung biasa. Itu racun Bunga Es Hitam yang memicu kegagalan organ jantung secara prematur."
Tang Ruoxue terkesiap. Ia segera melihat leher kakeknya dan benar saja, ada garis hitam samar yang perlahan naik menuju rahang!
"Jantungnya saat ini sangat rapuh karena racun," lanjut Ye Chen dengan nada datar. "Jika kau menekannya dengan CPR, jantungnya akan langsung pecah berkeping-keping di dalam dadanya."
Dokter Zhao mendengus keras. "Omong kosong! Racun apa? Ini jelas infark miokard! Nona Tang, jangan dengarkan gembel ini. Waktu Master Tang hampir habis!"
Melihat kakeknya semakin membiru dan mulai kejang-kejang, Tang Ruoxue kehilangan akal sehatnya. "Dokter Zhao, cepat lakukan!"
Dokter Zhao menyeringai penuh kemenangan. Ia menjejalkan pil itu ke mulut Master Tang, lalu menempelkan kedua tangannya di dada pria tua itu dan menekan dengan keras.
Satu tekanan.
Dua tekanan.
Pfft!
Tiba-tiba, Master Tang membuka matanya lebar-lebar. Mulutnya menyemburkan darah hitam kental tepat ke wajah Dokter Zhao! Tubuh pria tua itu bergetar hebat, garis hitam di lehernya langsung melesat ke wajah, dan denyut nadinya... berhenti berdetak!
"Kakek!!" Tang Ruoxue menjerit, suaranya menyayat hati.
Dokter Zhao jatuh terduduk, wajahnya pucat pasi. Tangannya gemetar berlumuran darah. "T-tidak mungkin... d-denyut jantungnya hilang... d-dia... sudah meninggal..."
"KAU MEMBUNUH KAKEKKU!" Tang Ruoxue meraung, aura membunuh yang mengerikan memancar dari tubuh gadis itu. Keempat pengawalnya langsung mencabut pistol dari balik jas mereka, mengarahkannya tepat ke kepala Dokter Zhao.
Tepat saat Dokter Zhao mengira nyawanya akan tamat hari itu, bayangan Ye Chen berkelebat.
Dalam sekejap mata, Ye Chen sudah berlutut di samping tubuh Master Tang.
"Dia belum mati. Masih ada sisa napas di dalam paru-parunya," ucap Ye Chen cepat. Ia mengulurkan tangannya, dan entah dari mana, selusin jarum perak telah berada di sela-sela jarinya.
"Apa yang kau lakukan?! Jangan sentuh kakekku!" teriak Tang Ruoxue, hendak menghentikan Ye Chen.
"Diam jika kau ingin kakekmu hidup!" bentak Ye Chen. Tatapan matanya yang memancarkan aura naga emas membuat Tang Ruoxue membeku di tempat, tubuhnya seketika kaku oleh tekanan spiritual yang luar biasa.
Tangan Ye Chen bergerak secepat kilat.
Sret! Sret! Sret!
Sembilan jarum perak menancap di sembilan titik akupunktur utama di dada dan kepala Master Tang. Ini bukan teknik akupunktur biasa. Ini adalah teknik legendaris yang hanya ada dalam Kitab Medis Kehidupan dan Kematian.
"Sembilan Jarum Penakluk Maut. Jarum pertama membelah Yin dan Yang. Jarum kesembilan merebut nyawa dari tangan Raja Neraka!" gumam Ye Chen.
Di ujung jarinya, aliran Qi (energi kehidupan) berwarna emas tak kasat mata mengalir masuk melalui jarum-jarum tersebut. Jarum-jarum perak itu mulai bergetar dengan sendirinya, mengeluarkan suara dengungan pelan seperti nyanyian pedang.
Hanya dalam waktu sepuluh detik, keajaiban terjadi.
Garis hitam di wajah Master Tang perlahan memudar mundur. Darah hitam yang tadinya menyumbat pori-porinya menguap. Dadanya yang diam, kembali naik turun.
"Uhuk! Uhuk!"
Master Tang memiringkan kepalanya, membatukkan gumpalan darah hitam sebesar kelereng ke tanah, lalu menarik napas panjang. Matanya terbuka perlahan, wajahnya kembali merona merah seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
"K-kakek!" Tang Ruoxue langsung memeluk pria tua itu, menangis tersedu-sedu.
Seluruh kerumunan terbelalak tak percaya. Dokter Zhao nyaris pingsan. Pria tua yang secara medis sudah mati semenit yang lalu, kini hidup kembali?!
Master Tang, yang menyadari kondisinya, menepuk punggung cucunya pelan. Ia menatap pemuda berpakaian sederhana yang sedang mencabut kembali jarum-jarum peraknya dengan tenang.
Pria tua yang pernah memimpin ribuan pasukan di medan perang dan menaklukkan dunia bawah Jiangcheng itu, dengan gemetar bangkit dan membungkukkan badannya dalam-dalam kepada Ye Chen.
"Tangan Dewa merebut nyawa dari maut... Master Muda, terima kasih atas anugerah kehidupan ini. Saya, Tang Zhenhai, berutang nyawa padamu!"