NovelToon NovelToon
Dari Benci Menjadi Bucin

Dari Benci Menjadi Bucin

Status: tamat
Genre:Idola sekolah / Tamat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖

Kenzo yang keras dan Anisa yang berani selalu tak akur, saling berselisih setiap hari. Namun saat terpaksa bekerja sama, benci perlahan berubah menjadi cinta manis yang tak disadari keduanya. Dari yang saling menentang, kini berubah menjadi tak bisa berpaling satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9.Ejekan Teman-Teman Sekitar

Pagi itu, suasana kelas XI-2 tampak lebih riuh dari biasanya. Kabar bahwa Kenzo dan Anisa kini satu kelompok telah menyebar bak semut memakan gula—cepat sekali hingga ke seluruh penjuru ruangan. Bagi teman-teman sekelas yang selama ini menyaksikan bagaimana keduanya selalu bersitegang bagai air dan api, kerja sama mereka bagaikan kejadian yang nyaris mustahil terjadi. Tak heran jika sejak pagi itu, tatapan penuh selidik dan senyum-senyum tersembunyi tak lepas dari perhatian mereka berdua setiap kali duduk berdampingan untuk berdiskusi.

Suasana semakin memanas saat jam istirahat tiba. Anisa baru saja kembali dari kantin dengan dua bungkus makanan di tangannya—satu untuknya, satu lagi sengaja ia belikan untuk Kenzo sebagai tanda sedikit menjalin kerja sama yang baik. Namun baru saja ia melangkah mendekati meja, suara ledakan tawa terdengar dari kerumunan teman-teman yang berkumpul di dekat meja Kenzo.

"Wah, lihat deh! Sudah saling membelikan makanan saja nih!" seru salah seorang teman laki-laki sambil tersenyum menggoda, matanya berkedip-kedip penuh makna ke arah Kenzo lalu beralih ke Anisa. "Cocok banget nih, yang biasa berantakan terus, sekarang malah saling perhatian. Jangan-jangan di luar jam sekolah sering bertemu ya?"

"Benar-benar aneh tapi nyata!" timpal teman lainnya ikut menimpali sambil menahan tawa. "Siapa sangka pasangan yang selalu berselisih ternyata begitu akrabnya kalau sudah satu kelompok. Jangan-jangan benci yang selama ini ditampakkan itu hanya kedok saja ya? Sebenarnya saling suka nih pasti!"

Kata-kata ejekan yang disertai senyum-senyum penuh arti itu seketika membuat wajah Anisa memerah padam. Panas menjalar dari leher hingga ke kedua pipinya. Ia berdiri terpaku di tempatnya, kedua tangannya memeluk bungkus makanan itu lebih erat. Jantungnya berdegup kencang bukan karena senang, melainkan karena canggung dan bingung harus menanggapi bagaimana. Matanya tanpa sengaja melirik ke arah Kenzo, dan ternyata lelaki itu pun sedang menatapnya. Wajah Kenzo tampak tegang, rahangnya mengeras kuat menahan sesuatu yang tak diketahui—entah amarah atau pun rasa malu yang mendalam.

"Jangan berlebihan," ucap Kenzo tiba-tiba, suaranya terdengar dingin dan tegas, seketika membuat tawa teman-teman perlahan mereda. Ia berdiri dari kursinya, menatap tajam ke arah teman-teman yang tadi berbicara. "Kami bekerja sama hanya karena tugas sekolah. Jangan menambah-nambahkan hal yang tidak perlu dan membuat suasana menjadi tidak nyaman."

Meskipun nada bicaranya terdengar ketus dan menolak keras tuduhan tersebut, namun Anisa menangkap sesuatu yang berbeda dari sorot matanya. Saat Kenzo kembali menoleh padanya, tatapan itu bukan lagi kemarahan, melainkan seakan meminta maaf secara diam-diam atas perkataan teman-teman yang kurang berkenan itu. Namun bagi Anisa, rasa canggung dan malu itu tetap membekas. Ia merasa seakan semua mata di ruangan itu tertuju padanya, menilai, dan menyimpulkan hal-hal yang sama sekali belum pernah terlintas di benaknya.

Anisa meletakkan bungkus makanan di ujung meja dengan gerakan sedikit kasar, lalu menatap tajam ke arah teman-teman yang masih diam menyaksikan pemandangan itu. "Benar kata Kenzo. Kami hanya bekerja sama demi tugas. Kalian ini memang suka sekali melebih-lebihkan hal yang sepele," ucap Anisa berusaha terdengar tenang dan tegas, meskipun suaranya sedikit bergetar. "Jangan sampai candaan kalian justru membuat orang lain merasa tidak nyaman."

Suasana menjadi hening seketika. Teman-teman yang tadi bersorak kini saling berpandangan, merasa sedikit bersalah karena mungkin candaan mereka memang telah melampaui batas. Perlahan mereka pun bubar kembali ke tempat duduk masing-masing, menyisakan Anisa dan Kenzo yang masih berdiri berhadapan di meja itu.

Kini hanya tersisa mereka berdua saja, dan keheningan kembali menyelimuti seperti biasanya. Namun kali ini keheningan itu terasa lebih berat dan penuh makna. Anisa mengalihkan pandangannya ke jendela, berusaha menyembunyikan wajahnya yang masih terasa panas. Sementara Kenzo kembali duduk di kursinya, menatap bungkus makanan yang diletakkan Anisa, lalu perlahan melirik ke arah gadis di sampingnya.

"Jangan dipikirkan ucapan mereka," ucap Kenzo tiba-tiba dengan suara yang hanya bisa didengar berdua saja. Nada bicaranya jauh lebih lembut dan tidak setajam biasanya. "Mereka hanya bercanda tanpa berpikir panjang. Jangan dimasukkan ke hati."

Anisa menoleh perlahan, menatap wajah Kenzo yang tampak tulus. Di balik sikap dinginnya, ternyata lelaki itu tetap memiliki perhatian yang halus. "Aku tahu," jawab Anisa pelan sambil menarik napas panjang berusaha menenangkan diri. "Tapi tetap saja... rasanya canggung sekali. Seakan setiap gerak-gerik kita selalu menjadi tontonan dan bahan pembicaraan mereka."

Kenzo terdiam sejenak, jemarinya mengetuk pelan permukaan meja seakan sedang menyusun kalimat yang tepat untuk diucapkan. "Biarlah mereka berbicara apa saja. Yang penting kita tahu niat kita sebenarnya. Selama kita tetap tenang dan fokus pada tugas, lama-kelamaan mereka pasti akan berhenti sendiri."

Anisa mengangguk perlahan. Nasihat sederhana itu entah mengapa mampu menenangkan hatinya yang sedang bergejolak. Namun jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ada sesuatu yang berdebar-debar pelan dan tak dapat dijelaskan. Sejak kejadian itu, setiap kali tatapan mata mereka saling bertemu, atau saat suara tawa kecil terdengar dari arah teman-teman, pipi Anisa tak bisa menahan rona merah yang muncul. Dan ia sadar... entah mengapa, ejekan teman-teman itu perlahan-lahan membuatnya mulai menyadari satu hal yang sebelumnya tak pernah ingin ia akui—bahwa keberadaan Kenzo di sisinya ternyata mulai menyisakan rasa yang lebih dari sekadar teman satu kelompok biasa.

BERSAMBUNG...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!