NovelToon NovelToon
Koh, Ini Salah

Koh, Ini Salah

Status: tamat
Genre:Berondong / Tamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Zara Melati

Erlyn tidak pernah memilih untuk jatuh cinta pada kakak tirinya.

Saat ibunya menikah lagi dan membawanya pindah dari Pulau Belitung ke rumah kolonial tua di Surabaya, Erlyn bertemu Yu Chisen — pewaris keluarga Yu yang dingin, tampan, dan tidak banyak bicara. Dia pelukis. Dia lebih tua dua tahun. Dan mulai hari itu, mereka tinggal satu atap sebagai "kakak-adik."

Tapi Chisen bukan kakak yang biasa. Dia diam-diam melindunginya dari gosip sekolah, mengajarinya bahasa Inggris setiap malam, dan memasak untuknya saat tidak ada orang. Di balik pintu loteng yang selalu terkunci, dia menyimpan ratusan lukisan — semuanya adalah wajah Erlyn.

Saat ibunya meninggal, Chisen menjadi satu-satunya tempatnya bersandar. Saat ayahnya masuk penjara, Erlyn menjadi satu-satunya alasannya bertahan. Perasaan yang seharusnya tidak ada perlahan tumbuh di antara mereka — terlalu dalam untuk diabaikan, terlalu terlarang untuk diakui.

Pada malam badai itu, Erlyn memakai sepatu kristal pemberian Chisen dan mengetuk pintu kamarnya.

Dia yang duluan jatuh cinta. Dan dia yang duluan melangkah.

Empat tahun kemudian, badai datang lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31

Bab 31

Email dari London

Kesadaran di depan cermin tidak membuat Erlyn menjadi lebih pintar.

Ia justru menjadi lebih mudah panik.

Keesokan paginya, saat Chisen menurunkan gelas di meja makan, Erlyn menatap tangannya terlalu lama. Ketika Chisen bertanya, "Kenapa?", ia menjawab, "Tidak," terlalu cepat. Saat les malam, Chisen membungkuk sedikit untuk melihat langkah hitungannya, dan Erlyn langsung duduk lebih tegak seperti seseorang baru saja menyalakan alarm di tubuhnya.

"Kursimu panas?" tanya Chisen.

"Tidak."

"Kamu aneh."

"Koh juga."

"Aku selalu begini."

Itu masalahnya, pikir Erlyn.

Chisen selalu begitu. Datar. Pendek. Menyebalkan. Terlalu perhatian di waktu yang tidak ia minta. Terlalu diam ketika ia menunggu jawaban. Seharusnya semua itu sudah biasa. Tetapi setelah malam di kamar mandi, semua hal biasa itu berubah posisi, seperti barang-barang di kamar yang digeser beberapa sentimeter. Masih sama, tetapi membuat orang tersandung.

Erlyn mencoba bersikap normal selama tiga hari.

Gagal.

Angie menyadarinya lebih dulu.

"Kamu sekarang kalau dengar nama Chisen, kupingmu bergerak."

"Kuping manusia tidak bergerak."

"Punyamu hampir."

Erlyn menutup buku. "Aku menyesal kamu tidak ikut Jessica ke Jakarta."

"Tidak bisa. Siapa yang akan mengawasi hatimu?"

"Angie."

"Apa? Aku menjalankan amanah."

Erlyn tidak menjawab. Ia takut kalau membalas terlalu banyak, Angie akan melihat sesuatu yang bahkan Erlyn sendiri belum berani memberi nama.

Di rumah, perubahan yang lebih besar datang bukan dari Erlyn, melainkan dari sebuah email.

Malam itu, Om Changli pulang lebih awal. Jing menyiapkan makan malam lengkap, kepiting saus padang, tumis kangkung, dan udang mayones. Meja makan terlihat seperti ada tamu penting, tetapi tidak ada orang lain yang datang.

Erlyn menyadari sesuatu akan dibicarakan.

Chisen juga sepertinya tahu. Ia turun dari loteng tepat waktu, duduk di kursinya, dan tidak menyentuh ponsel sama sekali.

Om Changli menunggu sampai semua orang makan beberapa suap.

"Email dari London sudah masuk," katanya.

Sendok Erlyn berhenti.

Chisen tidak bereaksi.

Jing menatap Om Changli. "Hasilnya?"

Om Changli melihat putranya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, wajahnya menunjukkan bangga yang tidak sepenuhnya ia sembunyikan.

"Diterima."

Ruang makan hening sebentar.

Lalu Jing tersenyum. "Chisen, selamat."

Erlyn menatap Chisen.

Diterima.

London.

Kata itu selama ini terdengar seperti cerita jauh, tempat pameran, portofolio, bunga mawar rambat yang belum pernah ia lihat. Tiba-tiba kata itu menjadi tiket sungguhan, jarak sungguhan, waktu sungguhan.

Chisen hanya mengangguk. "Terima kasih, Tante."

Om Changli melanjutkan, "Program persiapannya mulai akhir tahun. Kalau semua dokumen selesai, kamu bisa berangkat setelah semester ini."

Akhir tahun.

Erlyn menghitung tanpa sadar. Beberapa bulan. Tidak lama. Terlalu cepat.

"Secepat itu?" tanya Jing.

"Lebih cepat lebih baik untuk portofolionya," jawab Om Changli. "Royal College of Art tidak mudah. Dia harus siap."

Erlyn menurunkan pandangan ke piring. Kepiting saus padang yang tadi terlihat menarik tiba-tiba terlalu merah.

Chisen akan pergi.

Seharusnya ia senang. Semua orang di meja ini senang. Om Changli bangga. Jing tulus memberi selamat. Chisen sendiri, meski wajahnya datar, pasti ingin pergi. London adalah dunianya. Seni. Pameran. Semua bagian yang tidak bisa Erlyn buka dengan kunci tua.

Ia seharusnya senang.

"Erlyn?"

Chisen memanggil namanya.

Ia mengangkat kepala. "Apa?"

"Kamu menjatuhkan sendok."

Erlyn melihat ke bawah. Sendoknya memang jatuh ke pangkuan. Ia mengambilnya cepat-cepat. "Oh."

Jing menatapnya khawatir. "Kamu tidak enak badan?"

"Tidak, Ma. Cuma kaget."

Om Changli tersenyum lembut. "Nanti kalau Chisen sudah di London, kamu bisa minta dia cerita. Siapa tahu suatu hari kamu juga sekolah di sana."

Kalimat itu seharusnya menjadi harapan.

Namun bagi Erlyn, itu terdengar seperti seseorang sedang menata jarak dengan kertas hadiah.

Chisen menatapnya dari seberang meja.

Erlyn tidak tahu apa yang terlihat di wajahnya, tetapi Chisen tiba-tiba berkata, "Masih lama."

"Akhir tahun tidak lama," jawab Erlyn, terlalu cepat.

Semua orang menoleh.

Panas naik ke wajahnya.

Ia memaksa tersenyum. "Maksudku, dokumennya pasti banyak. Koh harus siap-siap."

Chisen tetap menatapnya.

"Iya," katanya pelan. "Harus."

Setelah itu, pembicaraan berubah menjadi daftar. Paspor. Visa pelajar. Portofolio tambahan. Surat rekomendasi. Tempat tinggal sementara. Om Changli menyebut semuanya dengan nada yang rapi, seperti sedang mengatur jadwal rapat, bukan memindahkan putranya ke negara lain.

Jing beberapa kali bertanya hal praktis.

"Nanti makan bagaimana? Kamu bisa masak, tapi di sana bahannya beda."

"Bisa belajar," jawab Chisen.

"Cuacanya dingin."

"Aku tahu."

"Bawa jaket yang tebal."

"Iya, Tante."

Erlyn duduk di sana, mendengarkan London berubah menjadi daftar barang yang bisa dimasukkan koper. Semakin konkret pembicaraan itu, semakin sulit ia berpura-pura bahwa akhir tahun masih jauh.

Om Changli akhirnya menoleh padanya. "Erlyn, nanti bantu Mama ingatkan barang-barang Chisen. Kamu lebih teliti."

"Iya, Om."

Chisen melihatnya. "Kamu tidak perlu."

"Kenapa?"

"Nanti belajarmu terganggu."

"Aku bisa bantu menulis daftar."

"Tidak perlu."

Penolakan itu kecil, tetapi menusuk. Seolah bahkan untuk persiapan kepergiannya pun Chisen tidak ingin Erlyn terlalu dekat.

Jing cepat menyela, "Nanti kita lihat. Sekarang makan dulu."

Makan malam berlanjut, tetapi rasa makanannya sudah berubah. Setelah semua selesai, Erlyn membantu membawa piring ke dapur. Di depan wastafel, Jing menyentuh bahunya.

"Kamu belum bilang selamat pada Koh Chisen."

Erlyn berhenti.

"Mama."

"Dia mungkin terlihat tidak butuh, tapi tetap akan senang mendengarnya."

Erlyn menatap ruang makan. Chisen berdiri di dekat meja, sedang berbicara dengan Om Changli. Wajahnya tetap tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja mendapatkan sesuatu yang ia tunggu lama.

Erlyn mengeringkan tangan, berjalan keluar, lalu berhenti di samping kursinya.

"Koh."

Chisen menoleh.

"Selamat."

Satu kata itu keluar lebih pelan daripada yang ia inginkan.

Chisen menatapnya. Ada jeda pendek, cukup pendek untuk diabaikan orang lain, cukup panjang untuk membuat Erlyn menahan napas.

"Terima kasih."

Tidak ada senyum. Tidak ada tambahan.

Namun suaranya lebih lembut dari biasanya, dan itu justru membuat dada Erlyn makin sesak.

Malam itu, les privat tetap berjalan.

Setidaknya seharusnya.

Erlyn membaca soal yang sama tiga kali dan tetap tidak tahu apa yang ditanyakan. Chisen duduk di seberangnya, tidak mengetuk kertas, tidak menyindir. Diamnya justru membuat Erlyn semakin tidak bisa bernapas.

Akhirnya ia meletakkan pensil.

"Koh senang?"

Chisen mengangkat mata.

"Diterima di London," tambah Erlyn. "Koh senang?"

Pertanyaan itu sangat normal. Siapa pun bisa menanyakannya. Adik tiri bisa menanyakan itu pada kakak tiri yang baru diterima sekolah impian.

Tetapi dada Erlyn tetap berdebar.

Chisen menatapnya lama sebelum menjawab.

"Aku sudah menunggu cukup lama."

Jawaban itu berarti iya.

Entah kenapa, Erlyn merasa seperti baru saja ditinggalkan bahkan sebelum Chisen benar-benar pergi.

1
May Maya
baru mampir Thor semoga cerita nya bgus n GK berhenti d tngh jln
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!