NovelToon NovelToon
Nana Si Pelindung Tuan Terbuang

Nana Si Pelindung Tuan Terbuang

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Iris Kartika

Nana bukan siapa-siapa — seorang gadis yatim piatu yang tumbuh besar di jalanan Surabaya, mencuri untuk bertahan hidup. Sampai suatu hari, hidupnya berubah ketika dia masuk ke dunia keluarga Sie, salah satu dinasti konglomerat paling berkuasa di Indonesia.

Di sana, dia bertemu Steven Sie — putra ketiga yang dibuang keluarganya sendiri, dingin dan penuh misteri. Semua orang bilang dia pengkhianat. Semua orang ingin dia hancur.

Tapi Nana tahu yang sebenarnya.

Ketika Steven dikorbankan demi kepentingan yang lebih besar — dihancurkan di mata publik, dinyatakan bersalah atas kejahatan yang tidak pernah dia lakukan — hanya Nana yang berdiri melawannya. Sendirian. Tanpa bukti. Tanpa dukungan. Hanya dengan keyakinan bahwa cinta sejati layak diperjuangkan sampai mati.

Perjalanannya membawanya dari ruang sidang Jakarta hingga ke lorong-lorong gelap Singapura, dari pengkhianatan keluarga hingga pengorbanan yang tak terbayangkan. Di sepanjang jalan, ada Daniel Tjang — pengusaha paling berbahaya dan paling mempesona di Jakarta — yang diam-diam mempertaruhkan segalanya untuknya.

*Satu wanita. Dua pria. Dan satu pertanyaan yang mengubah segalanya:*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32

Bab 32

Latihan pertama tidak dimulai dengan senjata.

Latihan itu dimulai dengan Steven melemparkan handuk kecil ke wajah Nana.

Nana menangkapnya refleks. "Apa ini?"

"Kau melihat benda datang ke wajahmu, tanganmu naik. Bagus. Tapi kalau itu pisau, tanganmu robek."

Mereka berdiri di ruang latihan kecil di bawah garasi, ruangan yang kemarin Nana kira hanya gudang. Lantainya dilapisi matras tipis. Di dinding ada rak berisi tongkat pendek, tali, sarung tangan, dan beberapa pisau karet. Udara berbau karet, debu, dan obat gosok dari lengan Steven yang masih diperban.

Irwan duduk di sudut dengan tablet, pura-pura tidak memperhatikan. Itu berarti ia memperhatikan semuanya.

Steven mengambil pisau karet dan melemparkannya ke Nana. "Serang."

"Begitu saja?"

"Musuh tidak memberi pembukaan sopan."

Nana maju. Ia cepat untuk ukuran orang rumah, tapi Steven bukan orang rumah saat bergerak. Ia menggeser badan sedikit, menangkap pergelangan Nana, lalu pisau karet sudah berada di lantai. Punggung Nana menyentuh matras sebelum ia sempat marah.

Napasnya keluar pendek.

"Lagi," kata Steven.

"Kau bahkan belum mengajari."

"Aku sedang mengajari. Pertama, kau tahu bahwa cepat saja tidak cukup."

Nana bangkit sambil menahan nyeri di siku. "Menyebalkan."

"Kata itu tidak menghentikan pisau."

Irwan mengangkat mata dari tablet. "Betul."

Nana menatapnya. "Pak Irwan di pihak siapa?"

"Pihak orang yang ingin kau hidup."

Steven mengambil pisau karet, lalu kali ini menggenggam pergelangan Nana perlahan. "Kalau orang menarikmu, jangan langsung mundur. Kemarin kau sudah melakukannya benar di ruang arsip. Masuk setengah langkah, rusak sudutnya, baru lepas."

Ia menunjukkan gerakan itu. Tidak kasar. Justru karena tidak kasar, Nana bisa merasakan perbedaan kecil pada tekanan jari dan arah siku.

"Sekali lagi."

Nana mengikuti. Gagal. Lagi. Gagal. Keempat kali, cengkeraman Steven lepas.

Ia tersenyum sebelum sadar.

Steven melihatnya. "Jangan senang. Itu baru dari orang yang tidak benar-benar ingin mematahkan tanganmu."

Senyum Nana hilang. "Kau memang tidak bisa membiarkan orang bernapas sebentar?"

"Bisa. Setelah latihan."

Satu jam kemudian, tubuh Nana terasa seperti diperas. Ia belajar jatuh tanpa menahan dengan telapak tangan, memutar bahu saat ditarik, dan menggunakan lutut bukan kuku saat lawan terlalu dekat. Tidak ada gerakan indah. Semua pendek, kasar, dan membuatnya merasa kurang kuat.

Lalu Steven meletakkan pisau karet kembali ke rak.

"Sekarang latihan kedua."

Nana duduk di matras. "Masih ada?"

"Yang pertama cuma supaya kau tidak mati terlalu cepat."

"Menghibur sekali."

Steven mengambil kursi dan duduk di depannya. "Latihan kedua, kau harus mendengar kata yang menyakitkan tanpa membiarkan wajahmu menjawab."

Nana tahu ke mana arahnya.

"Aset kecil," katanya lebih dulu, kering.

Steven tidak berkedip. "Kau masih marah."

"Tentu."

"Bagus. Simpan. Jangan berikan pada orang yang menelepon kemarin."

Nana menatapnya.

Steven mengambil ponsel khusus dari meja. Layarnya mati. "Kalau aku menyebutmu Nana di depan kanal Wan, itu berarti situasi tidak terlalu buruk. Kalau aku menyebutmu anak itu, kau harus mengecilkan diri. Dengarkan, amati, jangan terlihat pintar. Kalau aku menyebutmu aset, itu berarti mereka sedang mengukur nilaimu. Wajahmu harus kosong."

"Kalau kau menyebutku kelemahan?"

"Aku tidak akan."

"Mereka bisa."

"Kalau mereka menyebutmu kelemahan, jangan membuktikan mereka benar dengan bereaksi."

Nana memeluk lututnya sebentar, lalu melepas karena posisi itu membuatnya terlihat lebih kecil dari yang ia inginkan.

Steven menatapnya tanpa peringatan. Wajahnya berubah lagi, menjadi wajah panggilan kemarin. Malas, ringan, hampir menghina.

"Aset kecil seperti kau tidak perlu memahami meja orang dewasa."

Nana sudah tahu ini latihan. Tetap saja bahunya menegang.

"Itu," kata Steven, kembali dengan suara biasa. "Mereka akan melihat itu."

"Aku bukan batu."

"Aku tidak minta kau jadi batu. Aku minta kau memilih kapan orang lain boleh melihat darah."

Kalimat itu membuat Nana diam.

"Lagi," katanya sendiri.

Steven mengulang kalimat itu. Sekali. Dua kali. Pada kali ketiga, Nana berhasil menjaga wajahnya tetap datar, walau telapak tangannya menekan lutut sampai sakit.

Steven melihat tekanan jarinya, tapi tidak mengoreksi.

"Cukup untuk hari pertama."

"Bagaimana dengan namaku lengkap?"

Steven diam sesaat. "Kalau aku mengatakan Nana Widjaja, kau cari Irwan atau Stella dan keluar dari tempat itu. Tidak debat."

"Itu tanda bahaya?"

"Itu tanda aku tidak bisa menjangkau."

Kalimat itu tidak keras. Namun Nana merasa ruangan mendadak lebih sunyi.

Irwan tiba-tiba berdiri. "Aku ambil air."

Ia pergi terlalu cepat untuk orang yang hanya ingin mengambil air.

Nana menatap Steven. "Kau sudah memikirkan semua cara kau tidak bisa menjangkau orang?"

"Harus."

"Capek?"

Steven tertawa tanpa suara. "Pertanyaanmu makin buruk."

"Itu bukan jawaban."

"Ya."

Jawaban itu pendek, tapi cukup.

Steven membuka laci meja latihan dan mengeluarkan buku kecil bersampul hitam. Ia meletakkannya di antara mereka, tidak membukanya sepenuhnya. Nana hanya sempat melihat beberapa baris tulisan.

Yang kukatakan.

Yang benar.

Yang harus dibayar.

Steven menutup buku itu kembali. "Setelah setiap kontak, aku menulis. Bukan untuk laporan. Untuk mengingat bagian mana yang bukan diriku."

Nana merasa tenggorokannya mengetat.

"Kalau tidak ditulis?"

"Kebohongan yang dipakai terlalu lama mulai terdengar seperti suara sendiri."

Nana tidak tahu harus berkata apa.

Selama ini ia mengira orang yang menyamar hanya perlu pintar berbohong. Ia tidak pernah berpikir bahwa masalah terbesarnya justru pulang setelah berbohong dan masih tahu bagian mana dari mulutnya yang miliknya.

Steven berdiri, mengambil pisau karet lagi, lalu melemparkannya kepada Nana.

"Lagi."

Nana menangkapnya, kali ini tidak mengangkat tangan terlalu tinggi.

Steven mengangguk kecil. "Lebih baik."

Itu pujian paling pelit yang pernah ia dengar.

Anehnya, Nana menyimpannya.

Saat latihan selesai, Irwan memberi Nana sebotol air dan berkata, "Mulai hari ini kau catat juga."

"Apa?"

"Kesalahanmu. Reaksimu. Kata yang membuatmu terpancing."

Nana meminta kertas. Irwan memberinya satu lembar kosong tanpa komentar. Dengan tangan yang masih pegal, ia menulis baris pertama.

Aset kecil: bahu menegang.

Tulisan itu jelek. Namun melihatnya di kertas membuat rasa sakitnya lebih mudah dipegang, seperti benda kecil yang bisa disimpan, bukan duri yang harus terus tertanam di dada.

Steven berjalan menuju pintu. "Dan satu hal lagi."

Nana menoleh.

"Kalau suatu hari aku menyuruhmu membenciku di depan orang lain, lakukan."

Nana menggenggam botol air lebih erat. "Kenapa?"

Steven tidak memandangnya.

"Karena kadang itu satu-satunya cara agar mereka percaya kau bukan milikku."

Ia keluar lebih dulu.

Nana berdiri di ruang latihan, dengan tubuh sakit dan kepala penuh kode baru.

Hari itu ia belajar cara jatuh.

Ia juga belajar bahwa dalam dunia Steven, bahkan kebencian bisa menjadi bentuk perlindungan yang harus dipakai tanpa terlihat seperti perlindungan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!