Alex Christopher Nozer, CEO muda sekaligus pemimpin mafia paling ditakuti di London, tak pernah percaya pada cinta. Hidupnya hanya dipenuhi darah, kekuasaan, dan pengkhianatan. Namun segalanya berubah sejak seorang wanita asing berulang kali menolongnya tanpa mengetahui siapa dirinya. Lauren Valencia Varles, gadis sederhana yang berhati lembut, tanpa sadar menjadi satu-satunya cahaya di dunia kelam Alex. Ketika takdir kembali mempertemukan mereka di perusahaan milik Alex, obsesi mulai tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Di balik status tunangan hasil perjodohan dan musuh yang mengincar kekuasaannya, Alex bertekad memiliki Lauren dengan caranya sendiri. Di dunia mafia, cinta bukan tentang kebebasan, melainkan kepemilikan. Mampukah Lauren bertahan di sisi pria yang rela menghancurkan siapa pun demi melindunginya, atau justru ia akan terjebak menjadi Wanita Simpanan Sang Mafia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lidya Ribka pandiangan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17. Permintaan maaf
"Yang penting, aku tahu apa yang dikatakannya kepadamu."
Lauren terdiam, tidak yakin harus merasa lega atau justru semakin waspada mendengar itu.
Alex menghela napas, sesuatu yang jarang sekali Lauren lihat darinya, lalu melangkah mengelilingi mejanya, berhenti tepat di depan Lauren. "Aku minta maaf," katanya, suaranya lebih rendah dari biasanya, "atas semua yang dikatakan Zara kepadamu tadi siang."
Lauren mengerjap, tidak menyangka mendengar kalimat itu keluar dari mulut Alex. "Kau tidak perlu minta maaf. Itu bukan salahmu."
"Tetap saja," lanjut Alex, rahangnya sedikit mengeras. "Kau berada dalam posisi itu karena aku. Kalau aku tidak mengundangmu malam itu, Zara tidak akan punya alasan untuk bersikap seperti itu padamu."
"Tidak apa-apa," kata Lauren, mencoba tersenyum meski masih ada sisa kepahitan dari percakapan siang tadi yang belum sepenuhnya hilang. "Lagi pula, untungnya aku tidak memberitahunya alasan sebenarnya kenapa kau mengundangku malam itu."
Alis Alex terangkat sedikit. "Maksudmu?"
"Kalau aku bilang malam itu kau merayakan penerimaan kerjaku," jelas Lauren, "aku rasa reaksinya akan jauh lebih buruk dari yang tadi. Untung aku hanya bilang itu sekadar ucapan terima kasih karena aku pernah menolongmu."
Sudut bibir Alex tertarik tipis, nyaris berupa senyum, meski tidak pernah benar-benar sampai ke sana. "Kau lebih pintar dari yang kukira."
"Aku hanya tidak ingin memperkeruh keadaan," kata Lauren, mengangkat bahu kecil. "Sudah cukup rumit tanpa harus ditambah alasan lain yang mungkin terdengar lebih personal."
Alex menatapnya lama, sesuatu di matanya melunak, jauh dari ketegangan yang biasa menyertai setiap percakapan mereka yang menyentuh topik berat. "Aku akan lebih berhati-hati ke depannya," katanya akhirnya. "Aku tidak ingin kau harus menanggung akibat dari keputusan-keputusanku sendiri."
Lauren menatap Alex sejenak, mengumpulkan keberanian sebelum akhirnya berbicara. "Sebenarnya, aku rasa kau tidak perlu mengundangku makan malam waktu itu."
Alex mengerutkan kening, tidak menyangka arah pembicaraan akan berbelok ke sana. "Kenapa tiba-tiba bilang begitu?"
"Kau sudah punya tunangan," lanjut Lauren, memilih kata-katanya dengan hati-hati, meski dadanya terasa berat mengucapkannya. "Sebentar lagi kau akan menikah. Jadi menurutku wajar saja kalau Zara marah melihat kita sedekat itu, duduk berdua di rumahmu sampai malam. Kalau aku jadi dia, aku mungkin akan merasa sama."
Rahang Alex mengeras mendengar itu. "Kau membelanya?"
"Bukan membela," kata Lauren cepat, menggeleng pelan. "Aku cuma mencoba melihat dari sudut pandangnya. Dia akan menjadi istrimu. Wajar kalau dia tidak nyaman dengan kehadiranku."
Alex terdiam sejenak, matanya menatap Lauren dengan sorot yang sulit diartikan, campuran antara kesal dan sesuatu yang lebih dalam yang ia coba tahan. "Kau pikir aku melakukan semua ini, mengundangmu, meminta maaf, karena sekadar rasa bersalah?"
Lauren tidak menjawab segera, tidak yakin bagaimana harus menanggapi pertanyaan itu.
"Kalau memang begitu," lanjut Alex, suaranya lebih tajam, "maka kau salah besar."
Kalimat itu menggantung di udara, terlalu berat untuk segera dicerna. Lauren menahan napas, tidak berani bertanya lebih jauh apa maksud sebenarnya di balik kata-kata itu, sebagian dari dirinya terlalu takut mendengar jawabannya, sebagian lagi terlalu takut kalau jawabannya justru sesuai dengan apa yang mulai ia rasakan sendiri.
"Tapi kau benar soal satu hal," kata Alex akhirnya, nadanya melunak, meski jelas dengan berat hati. "Aku harus lebih menjaga jarak. Setidaknya di depan orang lain."
Kata-kata itu terasa seperti pisau kecil yang menyayat, meski itu adalah permintaan Lauren sendiri, meski ia tahu betul itulah jawaban yang paling masuk akal, paling aman untuk mereka berdua. "Itu... yang terbaik," katanya, berusaha menjaga suaranya tetap tenang.
"Ya," jawab Alex singkat, melangkah kembali ke sisi lain mejanya, menciptakan jarak fisik yang seolah menjadi simbol dari apa yang baru saja mereka sepakati. "Yang terbaik."
Suasana di ruangan itu berubah berat, canggung, jauh dari kehangatan yang sempat muncul beberapa menit sebelumnya. Lauren berdiri dari kursinya, merasa sesak yang aneh di dadanya, sesuatu yang tidak seharusnya ia rasakan atas keputusan yang ia ajukan sendiri.
"Kalau begitu, aku permisi dulu," kata Lauren, suaranya nyaris berbisik.
Alex hanya mengangguk, tidak mengucapkan apa pun lagi, matanya mengikuti setiap langkah Lauren menuju pintu, seolah menyimpan sesuatu yang ingin ia katakan tapi memilih untuk menahannya, demi kesepakatan yang baru saja mereka buat bersama.
Ketika pintu tertutup di belakang Lauren, Alex berdiri sendirian di ruangannya yang kembali sunyi, menatap jarak kosong yang baru saja tercipta di antara mereka, bertanya-tanya dalam hati apakah jarak itu benar-benar bisa ia jaga, atau hanya akan menjadi janji lain yang sulit ia tepati.
*****
Beberapa jam kemudian, malam sudah turun sepenuhnya di London. Alex masih berada di ruang kerjanya, lampu meja kecil menjadi satu-satunya sumber cahaya di ruangan yang sudah sepi ditinggal sebagian besar karyawan.
Ia menatap layar laptopnya tanpa benar-benar membaca isinya, pikirannya masih dipenuhi percakapan tegang dengan Lauren beberapa jam sebelumnya.
Pintu diketuk pelan, lalu terbuka. Damian melangkah masuk, map tipis di tangannya.
"Sudah dapat namanya?" tanya Alex, tanpa mendongak dari layar laptopnya.
"Sudah, Pak." Damian meletakkan map itu di atas meja, membukanya, menyodorkan selembar kertas berisi foto dan data singkat seorang wanita paruh baya. "Namanya Margaret. Sudah bekerja sebagai kepala pelayan di kediaman Anda selama dua belas tahun, sejak sebelum Anda mengambil alih rumah itu dari ayah Anda."
Alex akhirnya mendongak, matanya menyapu kertas itu dengan sorot dingin. "Dua belas tahun."
"Dia bagian dari staf lama, Pak. Direkrut lewat kesepakatan keluarga Whitmore sejak awal, sebelum pertunangan Anda dan Nona Zara bahkan dirancang," jelas Damian. "Loyalitasnya memang lebih condong ke pihak sana, meski selama ini tidak pernah menimbulkan masalah berarti."
"Sampai sekarang," kata Alex datar, menutup map itu dengan gerakan pelan yang justru terasa lebih mengancam dibanding kalau ia membantingnya.
"Bagaimana Anda ingin saya menanganinya, Pak?"
Alex terdiam sejenak, mempertimbangkan pilihannya. Bagian dari dirinya, bagian yang sudah terbiasa menyelesaikan pengkhianatan dengan cara yang jauh lebih kejam, ingin segera menyingkirkan Margaret dari rumahnya, memastikan tidak ada lagi celah bagi Zara untuk mengintai kehidupan pribadinya.
Tapi bagian lain, bagian yang lebih tenang, mengingatkannya bahwa tindakan terburu-buru justru bisa memperkeruh hubungan yang sudah rapuh dengan keluarga Whitmore, hubungan yang masih ia butuhkan setidaknya untuk sementara waktu.
"Jangan pecat dia," kata Alex akhirnya, mengejutkan Damian yang sudah menduga perintah yang jauh lebih keras. "Tapi batasi aksesnya. Pindahkan dia ke bagian yang tidak lagi berhubungan langsung dengan ruang pribadi atau jadwal harianku. Dan pastikan tidak ada staf lain yang tahu alasan sebenarnya."
"Baik, Pak." Damian mencatat instruksi itu, meski raut wajahnya menunjukkan sedikit keheranan atas keputusan yang lebih terkendali dari yang biasa diambil atasannya.
"Aku tidak ingin memberi Zara alasan untuk curiga lebih jauh," lanjut Alex, menjelaskan tanpa diminta, sesuatu yang jarang sekali ia lakukan. "Untuk sekarang, biarkan dia berpikir dia masih menang."
Damian mengangguk paham, menyimpan map itu kembali ke dalam tasnya. "Ada hal lain, Pak?"
Alex menatap ke luar jendela, ke kota yang berkelip di kegelapan malam, pikirannya kembali melayang ke Lauren, ke jarak yang baru saja mereka sepakati beberapa jam lalu, jarak yang terasa jauh lebih berat untuk dijaga dibanding yang pernah ia bayangkan.
"Awasi Lauren tetap seperti biasa," katanya akhirnya, suaranya lebih pelan. "Tapi jangan sampai dia sadar."
"Baik, Pak." Damian membungkuk singkat, lalu melangkah keluar, meninggalkan Alex sendirian dengan pikirannya yang semakin berat, terjebak di antara dunia gelap yang harus ia kendalikan dengan tangan besi, dan satu-satunya cahaya kecil yang baru saja ia putuskan untuk jaga jaraknya sendiri.
******
Malam itu, suasana apartemen terasa jauh lebih tenang dari biasanya. Lampu ruang tamu yang berwarna hangat menerangi ruangan sederhana itu, menciptakan suasana nyaman setelah hari yang cukup melelahkan.
Hari keduanya di tempat kerja baru ternyata cukup menguras tenaga. Banyak hal yang harus ia pelajari, banyak wajah baru yang harus ia kenali, dan terlalu banyak hal kecil yang terus berputar di kepalanya bahkan setelah ia sampai di rumah.
Karena itu, malam ini Lauren memilih untuk tidak memikirkan pekerjaannya. Setidaknya untuk beberapa jam ke depan.
Ia hanya ingin duduk santai, makan sesuatu, dan menghabiskan waktu bersama Ivy seperti biasanya. Tidak ada pekerjaan, tidak ada urusan yang harus diselesaikan, dan tidak ada alasan untuk terburu-buru.
Lauren duduk bersila di sofa kecil ruang tamu apartemennya, mangkuk mi instan hangat di pangkuannya, sementara Ivy duduk di ujung sofa lain sambil menggulir ponselnya, sesekali menunjukkan video lucu yang baru ia temukan.
"Coba lihat ini," kata Ivy, menyodorkan layar ponselnya, tertawa lebih dulu sebelum videonya selesai diputar. "Kucing ini benar-benar pikir dia bisa membuka pintu kulkas sendirian."
Lauren tertawa kecil, menyendok mi-nya. "Kau selalu punya video aneh begini dari mana sih?"
"Rahasia dapur," jawab Ivy, mengedipkan mata. "Ngomong-ngomong, kau ingat tidak, akhir pekan depan itu ulang tahun Marcus?"
"Marcus yang kerja di toko buku dekat sini?" Lauren mengangkat alis. "Kau masih berhubungan dengannya?"
"Sesekali," kata Ivy, tersenyum jahil. "Dia mengundang beberapa orang untuk kumpul kecil di apartemennya. Kau mau ikut?"
"Aku belum tahu jadwalku minggu depan," jawab Lauren, meski dalam hati ia cukup tertarik dengan ide keluar sejenak, melepas penat dari rutinitas kerja yang belakangan terasa jauh lebih rumit dari yang ia bayangkan.
"Ayolah, kau butuh bersosialisasi. Sejak kerja di tempat baru itu, kau jarang sekali keluar bersamaku lagi," protes Ivy, cemberut manja.
"Baru dua hari, Ivy," Lauren tertawa, melempar bantal kecil ke arah temannya itu. "Beri aku waktu menyesuaikan diri dulu."
"Baiklah, baiklah," Ivy mengangkat tangan menyerah, tertawa. "Tapi aku serius soal pesta itu. Aku dengar akan ada band kecil main juga."
Mereka melanjutkan obrolan ringan, berpindah dari topik satu ke topik lain, mulai dari serial televisi yang sedang Ivy tonton, resep masakan baru yang ingin dicoba akhir pekan, sampai rencana membeli sofa baru karena yang sekarang sudah mulai kempes di beberapa bagian.
"Aku pikir kita perlu ganti gorden juga," kata Ivy, menatap jendela ruang tamu mereka yang tirainya sudah agak pudar warnanya. "Yang ini sudah terlalu lama, warnanya jadi kusam begini."
"Aku setuju," jawab Lauren, ikut menatap jendela itu. "Mungkin bisa cari yang warna biru muda, biar ruangannya terasa lebih cerah."
"Atau kuning," usul Ivy. "Biar seperti musim panas terus di sini, meski di luar sedang hujan."
Mereka berdua tertawa, melanjutkan obrolan hingga larut, membahas hal-hal kecil yang sama sekali tidak berat, sekadar dua teman sekamar menikmati waktu santai di penghujung hari yang panjang, jauh dari segala kerumitan yang menunggu di luar sana.