NovelToon NovelToon
Kapten Hatiku

Kapten Hatiku

Status: tamat
Genre:Asmara / Cinta setelah menikah / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: Olivia Renata

Keira Liem cuma mau hidup tenang.
Setelah dikhianati mantan pacar dan dijebak rekan kerja, pilot muda ini nyaris kehilangan segalanya—karier, reputasi, bahkan harga diri. Satu-satunya jalan keluar? Nikah siri dengan pria asing yang ditemuinya di parkiran bawah tanah SCBD di malam terburuk hidupnya.
Pria itu bilang namanya Kai. Katanya pengangguran. Senyumnya menyebalkan, mulutnya pedas, tapi entah kenapa... Keira merasa aman di dekatnya.
Yang tidak Keira tahu: "Kai" adalah Kaizan Tanujaya—CEO Nusantara Airlines, pewaris konglomerat Tanujaya, dan legenda penerbangan yang fotonya sudah ditempel Keira di dinding kamar sejak SMA.
Setiap hari, Keira memuja Kapten Kaizan Tanujaya di kantor.
Setiap malam, Keira memarahi "suami kontrak pengangguran"-nya di rumah.
Mereka adalah orang yang sama.
Dan Kaizan? Dia menikmati setiap detiknya.
Tapi rahasia tidak bisa bertahan selamanya. Ketika topeng terbuka, ketika masa lalu yang kelam menyerang, ketika satu-satunya orang yang pernah membuatnya jatuh cinta berbalik pergi—Kaizan harus membuktikan bahwa cinta yang dimulai dari kebohongan bisa menjadi hal paling nyata di hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Bab 4

Idola

Miniatur pesawat di rak paling atas jatuh tepat ketika Kai melewati pintu kamar Keira.

Dia menangkapnya sebelum menyentuh lantai.

Model itu kecil, cat putihnya sudah menguning, tetapi lambang NusAir di ekornya masih jelas. Di bagian bawah sayap ada tulisan tangan dengan tinta biru yang mulai pudar.

Suatu hari aku akan terbang setinggi dia.

"Jangan masuk!"

Keira muncul dari balik pintu kamar mandi dengan rambut basah dan wajah panik. Dia merebut miniatur itu, lalu mendorong dada Kai sampai pria itu mundur ke lorong.

"Aku tidak masuk. Pesawatmu menyerangku lebih dulu."

"Kamu tidak boleh melihat-lihat."

"Aku cuma melihat satu pesawat dan sekitar seratus lembar koran di dinding. Sulit untuk tidak melihat."

Keira menutup pintu di depan wajahnya.

Hari itu merupakan hari keempat mereka tinggal bersama. Kaki Keira sudah tidak perlu diperban tebal, tetapi NusAir belum memberi kepastian tentang evaluasi restrukturisasi. Keira menghabiskan pagi dengan mengirim dokumen keberatan dan sore dengan merapikan kamar agar tidak terus memeriksa surel.

Lima menit kemudian suara Vera terdengar dari panggilan video.

"Akhirnya kamu menunjukkan kamar rahasia itu lagi! Putar kameranya, Keira. Aku mau lihat apakah koleksimu bertambah."

Kai yang sedang membuat teh di dapur berhenti mengaduk.

Pintu kamar Keira tidak tertutup sempurna. Dari ruang tamu kecil, setiap kata terdengar jelas.

"Jangan keras-keras," kata Keira. "Ada orang di luar."

"Pria jagung bakar itu? Suruh dia masuk. Biar aku periksa wajahnya."

"Dia bukan tersangka."

"Kamu membawa pria asing pulang dua hari setelah hampir diculik. Dia tersangka sampai aku bilang bukan."

Kai menahan senyum. Setidaknya sahabat Keira punya naluri bertahan hidup yang lebih baik.

"Nanti saja." Keira mengubah kamera. "Lihat ini."

Satu sisi dinding kamar dipenuhi potongan koran, cetakan artikel daring, tiket pameran penerbangan, dan foto-foto lama. Sebagian besar sudah dimasukkan ke kantong bening agar tidak rusak. Benang biru menghubungkan beberapa tanggal seperti peta perjalanan.

Di tengahnya ada judul besar dari hampir sepuluh tahun lalu.

KAIZAN TANUJAYA, ELANG MUDA YANG MENAKLUKKAN LANGIT NUSANTARA.

Foto di bawah judul hanya memperlihatkan seorang pilot dari samping. Helm, kacamata hitam, dan bayangan kokpit menyamarkan sebagian besar wajahnya.

"Ini artikel pertamaku," kata Keira. Suaranya berubah cerah. "Mama membelikan korannya setelah aku gagal ujian masuk sekolah penerbangan pertama kali. Aku membaca wawancaranya sampai hafal."

Vera mengerang. "Aku juga hafal. Kamu membacakannya setiap kali sedang putus asa."

Keira tidak peduli. Dia menunjuk potongan berikutnya, sebuah foto Kaizan dalam seragam pilot dengan wajah tertutup masker penerbangan.

"Dia menjadi kapten lebih muda dari kebanyakan orang. Lalu dia berhenti mengejar sorotan dan membangun sistem pelatihan baru. Orang lain ingin terkenal. Dia justru memastikan pilot junior tidak mengulang kesalahan generasi sebelumnya."

Di dapur, jari Kai berhenti di gagang cangkir.

"Kamu bicara seperti pernah duduk satu kokpit dengannya," kata Vera.

"Aku pernah melihatnya di pameran dirgantara. Dari jauh sekali." Keira mengangkat tiket yang warnanya hampir hilang. "Aku bahkan tidak bisa melihat wajahnya karena dia memakai kacamata hitam. Tapi waktu dia bicara tentang tanggung jawab seorang pilot, aku langsung tahu. Ini orang yang ingin kutiru."

"Bukan yang ingin kamu nikahi?"

"Ve!"

Tawa Vera memenuhi kamar.

Keira mengambil sebuah pesawat kertas yang sudah dilaminasi. "Ini yang kubuat setelah lulus seleksi sekolah penerbangan. Aku menulis namanya di dalam sayap."

"Sangat normal. Sama sekali tidak mengkhawatirkan."

"Diam."

"Bagaimana kalau suatu hari kamu bertemu Kaizan Tanujaya dan ternyata dia menyebalkan?"

Keira terdiam sesaat. "Tidak mungkin."

"Kamu bahkan tidak tahu wajah jelasnya. Bisa saja dia mendengkur, suka meninggalkan handuk basah, atau tidak punya pekerjaan tetap."

Kai menunduk menatap kaus polos yang dipakainya. Sindiran itu terlalu tepat untuk disebut kebetulan.

"Kalaupun begitu, apa yang dia lakukan tetap mengubah hidupku," jawab Keira. "Aku memilih jadi pilot karena melihat seseorang membuktikan bahwa langit bukan milik orang tertentu saja."

Tidak ada nada menggoda. Tidak ada kekaguman kosong terhadap wajah atau kekayaan. Keira mengatakannya seperti sebuah fakta yang sudah tumbuh bersama tulangnya.

Kai membawa dua cangkir teh ke meja.

Pintu kamar terbuka. Keira keluar sambil masih memegang ponsel.

"Kamu menguping?"

"Dinding apartemenmu tipis."

"Itu bukan jawaban."

"Aku membuat teh. Itu alibiku."

Vera berseru dari layar, "Arahkan kamera ke dia!"

Keira memeluk ponsel ke dada. "Tidak."

"Keira, aku harus tahu apakah dia punya tato kriminal!"

Kai duduk santai. "Tidak punya."

"Dia mendengar aku?" tanya Vera.

"Seluruh lantai mendengarmu."

Keira mematikan panggilan sebelum Vera mengucapkan hal yang lebih memalukan. Wajahnya merah sampai telinga.

"Lupakan semua yang kamu dengar."

"Tentang pilot yang sangat hebat itu?"

"Ya."

"Sulit. Kamu memujinya hampir dua puluh menit."

Keira mengambil bantal sofa dan memukul lengannya. "Jangan mengejek idolaku."

Kai menerima pukulan kedua tanpa menghindar. "Aku tidak mengejek. Aku cuma penasaran. Kalau kamu sangat mengaguminya, kenapa tidak mencari wajahnya?"

"Tidak banyak foto jelas. Dia berhenti muncul di media beberapa tahun lalu. Lagi pula, yang penting bukan wajahnya."

"Lalu apa?"

Keira menunjuk tiga garis emas di bahu seragam yang tergantung dekat pintu kamar. "Dia membuatku percaya aku juga bisa memakai itu."

Kai memandang seragam tersebut, lalu kembali menatap Keira. "Kalau dia tiba-tiba duduk di depanmu, apa yang akan kamu katakan?"

"Terima kasih."

"Cuma itu? Setelah satu dinding penuh?"

"Mungkin aku akan minta foto." Keira berpikir sebentar. "Lalu aku akan pergi sebelum mempermalukan diri sendiri."

"Kamu tidak akan menyatakan cinta?"

Keira tertawa. "Aku mengagumi pilotnya, bukan mengklaim pria di balik seragamnya. Dia bahkan tidak mengenalku."

Jawaban itu seharusnya membuat Kai lega. Aneh, dadanya justru terasa kosong.

"Kenapa wajahmu begitu?" Keira menyipitkan mata. "Jangan bilang kamu cemburu pada idolaku."

"Aku cuma kasihan padanya."

"Kenapa?"

"Sulit hidup ketika seseorang menyimpan versi terbaikmu di satu dinding. Manusia aslinya pasti punya banyak kekurangan."

Keira menurunkan bantal. "Semua orang punya kekurangan. Itu tidak menghapus hal baik yang pernah mereka lakukan."

Kai menatapnya beberapa detik lebih lama daripada seharusnya. "Kamu selalu sebaik ini kepada orang yang belum kamu kenal?"

"Tidak. Buktinya kamu tetap tidur di ruang penyimpanan."

Tawa Kai pecah pelan. Ketegangan di dadanya melonggar, tetapi tidak benar-benar hilang.

Malam semakin larut. Setelah Keira masuk kamar untuk mengeringkan rambut, Kai berdiri sendirian di depan dinding koleksi. Kini pintunya dibiarkan terbuka.

Jarinya menyentuh tepi artikel pertama, bukan fotonya. Di pojok kertas ada bekas lipatan dan noda air yang sudah lama mengering.

Kaizan tidak pernah membayangkan seseorang menyimpan setiap versi dirinya yang ingin dia tinggalkan.

Di luar kamar ini, Keira mengenal legenda tanpa wajah. Di ruang makan, dia mengenal Kai yang menghitung biaya listrik, membuat sup, dan tidur di kasur lipat.

Untuk pertama kalinya, Kaizan takut kebenaran akan merusak sesuatu yang bahkan belum sempat mereka beri nama.

Kalau dia tahu akulah orang itu...

Kaizan menarik tangannya dari potongan koran, lalu berbalik masuk ke kamar sempitnya tanpa menyelesaikan pikiran tersebut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!