"Bayu Prasetyo kehilangan segalanya dalam satu hari.
Dipecat dari kantor karena posisinya diberikan kepada anak bos. Diputus pertunangan karena ""belum mapan."" Dan keris pusaka titipan sahabatnya tertipu terjual Rp 2 juta — padahal nilainya miliaran.
Di titik terendah hidupnya, Bayu Prasetyo menerima Mata Dewa dari kakek misterius — mata yang menembus batu, membaca nilai, dan membongkar kepalsuan. Dari judi batu ke meja lelang, dari pemuda miskin Pacitan ke puncak daftar orang terkaya — sampai ia menatap musuh terakhirnya: sindikat pemalsu pusaka yang dilindungi nama paling dihormati di Indonesia."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Bab 9: Siapa yang Tertawa Terakhir
Tukang potong mengangkat cakram, tetapi penilai Kevin menahannya.
"Garisnya salah," katanya. "Kalau tetap lewat tengah, bagian yang mungkin berwarna akan pecah."
Bayu memandang garis kapur yang ia buat. Di balik kulit batu, bidang hijau berada tepat dua milimeter di bawahnya. Retak kecil berhenti sebelum mencapai inti.
"Potong sesuai garis saya," ujarnya.
"Masih keras kepala." Penilai itu menggeleng di depan kerumunan. "Kulit jelek, beratnya tidak seimbang, bunyinya mati. Ini batu biasa. Pasti rugi."
Kevin tersenyum lebar. "Dengar ahli, Bayu. Seratus juta bukan uang kecil buat mantan pegawai."
"Karena bukan uang kecil, saya memilih sendiri."
Panitia mengonfirmasi arah potong. Mesin dinyalakan.
Air mengalir di atas batu pipih. Cakram masuk perlahan, mengeluarkan suara kasar saat menembus kulit luar. Intan berdiri dengan kedua tangan terlipat. Riani memperhatikan dari samping ayahnya. Hendra tidak berkedip.
Potongan pertama terlepas.
Warna hijau apel memenuhi bidang terbuka.
Seseorang menarik napas keras.
Tukang potong menyiram permukaannya. Hijau padat menyebar hampir ke seluruh bagian dengan warna merata. Teksturnya bening lembut seperti jeli.
"Jelly apple green," kata salah satu penilai independen. Ia mengambil lampu pemeriksaan. "Penuh."
Ia menempelkan lampu dari tiga arah, mengukur transparansi, lalu menandai bagian yang masih tertutup kulit. Penilai kedua memeriksa retak dengan kaca pembesar. Keduanya tidak menyebut harga sebelum hasil sisi belakang terbuka. Prosedur itu penting: satu jendela hijau bisa menaikkan harapan, tetapi nilai riil bergantung pada volume bersih yang dapat dipotong.
Senyum Kevin berhenti.
Penilai yang dibawanya mendekat sampai hampir menyentuh meja. "Belum tentu sisi lain bersih. Batu pipih sering menyimpan retak belakang."
"Kalau begitu buka sisi lain," kata Bayu.
Tukang potong melihatnya. "Seberapa dalam?"
Bayu menunjukkan garis yang menghindari satu-satunya retak dalam. "Buka jendela dari sini. Jangan habiskan bentuknya."
Cakram kembali berputar.
Kali ini tak ada orang yang bercanda. Bahkan Kevin menatap air keruh yang jatuh ke baki. Ketika jendela kedua terbuka, hijau di dalamnya lebih murni daripada sisi pertama. Cahaya lampu menembus tanpa pecahan hitam.
Penilai independen kedua mengukur dan mencatat. "Sebagai bahan, nilai aman di atas dua miliar rupiah. Setelah desain dan pemotongan lanjutan, potensi retail lebih tinggi."
Kevin melangkah ke meja. "Tunggu. Bisa saja batu ini sudah diketahui isinya. Dia mungkin mendapat informasi dari panitia."
Ketua sesi membuka berkas lot di depan para saksi. Batu tersebut masuk dengan nomor segel yang sama, ditimbang pagi itu, lalu diletakkan acak bersama dua puluh tujuh bahan lain. Rekaman kamera menunjukkan tidak ada peserta yang menyentuhnya sebelum pintu dibuka.
"Pilihan dilakukan setelah seluruh peserta masuk," kata ketua sesi. "Dua penilai kami tidak mengenal Pak Bayu dan tidak terlibat dalam pembelian. Kalau Pak Kevin menuduh manipulasi, silakan buat keberatan tertulis beserta dasar."
Kevin melihat puluhan ponsel yang merekam. Tuduhan tanpa bukti hanya akan mempermalukannya untuk kedua kali.
"Tidak perlu," katanya.
Riani mengangkat alis. "Jadi hasilnya sah?"
Rahang Kevin mengeras. "Sah."
Kerumunan meledak oleh suara.
Batu Rp90 juta berubah menjadi bahan bernilai lebih dari Rp2 miliar di depan puluhan pelaku industri.
Kevin menatap cek jaminan di meja. Wajahnya kaku. Penilainya mundur satu langkah, lalu mencoba pergi tanpa bicara.
Hendra tetap di tempat dan menghadangnya dengan satu kalimat. "Pak Ahli, tadi katanya pasti rugi. Panitia belum selesai mencatat pendapat Bapak."
Beberapa orang tertawa. Penilai itu mempercepat langkahnya dan menghilang di belakang kerumunan.
Riani menyesap jus. "Mas Kevin, ahli yang kamu bawa cepat sekali. Mungkin dia mau mencari batu biasa lain."
Kevin memandangnya, lalu Bayu. Ia tidak punya tempat untuk menyelamatkan harga diri. Dokumen tantangan ditandatangani di depan panitia, dua penilai, dan Haji Rachmat.
"Nomor rekening," katanya pendek.
Bayu memberikannya.
Transfer Rp200 juta dilakukan. Panitia memeriksa bukti dan mengumumkan kewajiban telah dipenuhi.
Kevin menarik napas. "Mas Bayu... kali ini lo beruntung."
Panggilan itu berubah. Dari nama tanpa hormat menjadi Mas Bayu, meskipun Kevin masih memaksa kata lo keluar sesudahnya.
Bayu menyimpan ponsel. "Keberuntungan tidak membuat penilai Anda salah dua kali pada batu yang sama."
Wajah Kevin menggelap.
Ia mengepalkan tangan, tetapi tidak bisa menyerang angka, potongan batu, atau kuitansi. Semua bukti terbaring di meja.
Intan mendekat ke sisi Bayu. "Sembilan puluh persen lagi?"
"Kali ini sembilan puluh lima."
"Sombongnya naik lima persen."
"Nilai batunya naik lebih banyak."
Riani mendengar dan tertawa. "Papa, dia yang bikin heboh di Kembang Jepun kemarin, kan?"
Haji Rachmat mengulurkan tangan. "Anak muda, kamu punya mata yang luar biasa. Saya Rachmat Permata."
Bayu menjabatnya dengan hormat. "Bayu Prasetyo, Pak Haji."
"Bahan ini mau disimpan atau dijual?"
Bayu melirik etalase benda koleksi di sisi ruangan. Sesi Keris nomor 17 berlangsung esok hari. Harga pembukaannya Rp500 juta dan persaingan bisa jauh melampaui itu. Ia membutuhkan uang yang bisa segera dipakai. Nilai di atas kertas belum cukup.
"Saya terbuka untuk penawaran tercatat."
Rachmat memeriksa hasil potong bersama dua penilai. "Potensi retail-nya memang lebih dari dua miliar, tapi perlu desain, pemotongan, sertifikasi, dan waktu. Permata Jaya menawarkan dua miliar hari ini. Perusahaan menanggung risiko lanjutan."
Harga itu sedikit di bawah potensi maksimal, tetapi memberikan kepastian pembayaran dan dokumen asal barang.
"Saya setuju," kata Bayu.
Riani segera menghubungi tim transaksi perusahaan. Kuitansi pembelian Rp90 juta, hasil penilaian, foto sebelum dan sesudah potong, serta identitas penjual disalin. Perjanjian jual beli ditandatangani, dan transfer dilakukan dari rekening PT Permata Jaya Gemstone Group.
Rp2.000.000.000 masuk ke rekening Bayu.
Staf Permata Jaya memasang label kepemilikan baru pada kotak batu dan membawa salinan dokumen ke meja perusahaan. Proses itu mengubah kemenangan di depan penonton menjadi aset nyata bagi pembeli dan uang nyata bagi Bayu. Tidak ada koper tunai, tidak ada janji lisan yang bisa dibatalkan setelah ruangan sepi.
Beberapa pemilik toko yang sebelumnya berdiri di sekitar Kevin kini mendekati Bayu. Mereka menawarkan kartu nama, meminta jadwal penilaian, dan menanyakan apakah ia bersedia memilih bahan untuk mereka. Bayu menerima kartu tanpa menjanjikan apa pun. Ia tahu perhatian sebanyak ini bisa menjadi modal sekaligus jebakan.
"Semalam mereka bertanya kamu siapa," bisik Intan. "Sekarang mereka bertanya kapan kamu tersedia."
"Besok mereka bisa bertanya kapan saya jatuh."
"Setidaknya kamu mulai mengerti industri ini."
Dengan hadiah tantangan Rp200 juta dan sisa kas setelah membeli batu, dana tunainya kini sekitar Rp2,8 miliar.
Riani menyerahkan salinan dokumen. "Mas Bayu cepat sekali naik kelas. Empat hari lalu katanya masih pegawai."
"Empat hari lalu saya memang pegawai."
"Dan sekarang?"
Bayu melihat batu yang baru ia jual, lalu Keris di balik etalase.
"Sekarang saya sedang belajar memilih apa yang tidak dilihat orang lain."
Kevin pergi tanpa pamit. Langkahnya cepat, bahunya kaku. Kekalahan itu tidak membuatnya takut. Justru membuatnya ingin membalas.
Bayu tidak memandangnya lagi.
Matanya tertuju pada Keris nomor 17.
Harga pembukaan setengah miliar. Sesi besok pagi.
Kali ini, ia memiliki uang untuk membawanya pulang.