Seorang ayah angkat yang secara terpaksa menikahi putri angkat nya. Dia melakukan hal itu karena memenuhi janjinya kepada almarhumah sahabat nya untuk melindungi nya.
Sebenarnya dia telah gagal memenuhi janjinya karena nasib malang yang menimpa Artika. Ternyata masih memiliki hubungan darah dengan nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virgo kelabu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MCT 14
Antika termenung sendiri di kamarnya. Dia memandangi langit malam melalui jendela kamarnya, berusaha melupakan apapun yang sedang ada dalam pikirannya. Ia kemudian teringat beberapa kali telinganya seolah mendengar seorang lelaki memuji dan memanggil namanya.
"Siapa dia?" Antika memukul pelan kepalanya berulang kali.
" Siapa sebenarnya pemilik suara itu? Aku merasa sangat mengenalnya, tapi otaku sama sekali nggak ingat." Antika bertumpang dagu. Semilir angin membelai lembut kulit wajahnya. Sesekali punggung tangannya mengusap sisa air mata di kedua pipinya.
"Sebenarnya gimana sih perasaan Darling ke aku? Gimana kita bisa sampai nikah? Kenapa aku nggak ingat apa-apa? Benci aku beneran benci sama diriku sendiri." Antika menghela nafas. Ia membenamkan wajahnya di kedua lengannya.
Ya Allah kalau benar Darling pacar Mamaku dulu. Apakah Mamaku akan marah sama aku? Aku nggak mau kalau sampai Mama membenciku. Walau aku nggak pernah ketemu. Seenggaknya apa alasan aku menikah dengan suamiku?
"Aargh sebel! Semakin kupikir makin sakit kepalaku. Dan kalau sakit kepala pasti suara itu datang lagi. Siapa sih sebenarnya dia?" Antika kembali memukul pelan kepalanya berulang kali.
Antika berdiri lalu memutuskan keluar dari kamarnya untuk mencari udara segar. Jam dinding menunjukkan pukul 23.00 WiB. Atika pun melangkahkan kakinya, dan terhenti ketika mendapati Aldri tengah duduk sendirian di taman. Untuk saat ini gadis itu sungguh tak ingin bertemu dengannya. Hatinya belum siap menerima sebuah kenyataan yang mungkin akan menyakiti hatinya.
Tubuhnya dengan segera berbalik dan akan kembali ke kamarnya. Akan tetapi iya kembali menoleh ke suaminya. Ia tidak tega melihat suaminya seperti itu. Akhirnya Antika menatap sedih suaminya yang saat ini seakan frustasi.
Apa ini gara-gara aku? Apa yang sedang dia pikirkan? Aku ingin sekali memeluknya. Tapi gimana kalau dia menolakku? Apa dia masih memikirkan Mama? Ah, makin dipikir makin jadi sakit di hati.
"Tika??" suara bariton Aldri yang sedikit serak mengagetkan Antika.
"Hah! Duh, ya Allah. Darling bilang-bilang, dong kalau mau nyapa." Antika memegangi dadanya lantaran jantungnya seakan mau copot.
"Sudah tengah malam kenapa belum tidur?" kedua mata mereka bertemu.
"Nggak apa-apa cuman pengen nyari angin seger aja. Sama juga dengan Darling kenapa ada di sini?" Atika menyudahi tatapannya dan memilih menunduk.
Aldri tersenyum. Setidaknya Atika sudah mau menjawab pertanyaannya.
"Maaf." hanya kata itu yang mampu terucap dari bibir Aldri.
Setelah memikirkan matang-matang perkataan ibunya, Aldri mulai menimbang keputusan apa yang harus diambilnya. Sungguh suatu kebetulan Andika malah datang dengan sendirinya. Padahal dirinya telah berpikir bagaimana cara agar gadis itu mau berbicara dengannya.
Atika memberanikan diri mendunga dan bertanya. "Maukah kamu membicarakan hal ini?"
Aldri terkejut. Antika yang ia kenal selama ini sungguh berbeda dengan Antika yang kehilangan ingatannya. Gadis ini sungguh dewasa dalam berpikir.
"Baiklah, mari kita duduk dulu. Sebenarnya ada beberapa hal yang harus kita bicarakan." Antika mengangguk.
"Tika maafkan aku yang masih belum bisa menjawab semua pertanyaanmu."
Antika terdiam tetapi tetap saja dirinya ingin mengetahui semuanya meskipun nanti akan sakit rasanya.
"Darling beneran kamu mantan Mama?" Antika bertanya tanpa melihat ke arahnya.
Berganti Aldri yang tiba-tiba terdiam. Pertanyaan ini sebenarnya mudah untuk dijelaskan seandainya Antika adalah dirinya yang dulu, tetapi sekarang berbeda. Bagaimana cara menjelaskan sejak awal.
" Nggak apa-apa, kok. Kalau Darling belum siap menjelaskan. Lagian semua juga masa lalu." Atika mencoba tersenyum. "Kalau itu mending kita masuk." Atika hendak berdiri tetapi tangan Aldri menahannya.
"Memang benar aku pernah mencintai Mamamu, tapi aku sama sekali tidak pernah menjalin hubungan dengannya." Antika sedikit terkejut dan kembali duduk.
"Sejak pertama kali bertemu dengannya aku sudah jatuh cinta. Mamamu seorang wanita yang gigih dan selalu ceria. Meskipun dia hidup sebatang kara dan kesusahan. Tapi dia tidak pernah mengeluh dan putus asa." Aldri tersenyum mengingat masa lalunya.
Antika dapat merasakan cinta tulus Aldri untuk Mamanya. Pria itu sungguh tak bisa menutupi perasaan nya.
"Tiara satu-satunya wanita yang bisa membuatku tertawa lepas tanpa peduli akan pandangan orang lain. Kami sama-sama datang dari kalangan bawah. Kami pun bersama berjuang meraih mimpi kami. Bertiga dengan Egi kami melangkah maju meraih cita-cita kami."
"Sampai saat ini telah sukses meraih mimpi. Aku berniat mengungkapkan perasaanku pada Mamamu. Tapi....."
"Kenapa?"
Aldri tersenyum dan menatap Antika. "Tapi dia sudah memiliki seseorang dalam hatinya. Papamu." lanjut Aldri.
Entah mengapa Antika merasa ada kelegaan dalam hatinya. Apakah ia egois? Sungguh tidak. Seandainya mamanya dan aldri bersama. Maka tak akan ada dirinya di dunia ini.
"Jadi.... Mama dan Papa akhirnya menikah?" Aldri kembali membisu. Apakah iya harus berterus terang atau memilih berbohong.
"Tolong katakan apa adanya. Aku juga berhak untuk tahu masa lalu ku. Apa pun yang terjadi aku harus siap menerimanya."
"Tika." Aldri menggenggam kedua tangan Antika. "Dengar apapun yang terjadi. Kamu adalah anugerah. Kamu tahu itu kan?" Aldri menatap manik mending Antika.
Antika tersenyum dan membalas genggaman tangan suaminya. " Aku tahu itu. Makanya Darling jangan bohong sama aku."
Aldri memantapkan diri mengungkapkan semuanya setelah ia yakin mendapat jawaban dari tatapan Antika.
"Sejujurnya..... pernikahan itu tidak pernah terjadi." senyum Antika pun pudar. "Tika."
"Tika maafkan kami yang sudah membohongimu dan mengatakan Papamu sudah tiada. Kami...."
"Nggak apa-apa. Darling aku ngerti kok."
"Tika."
"Tolong lanjutin."
"Bahkan sampai detik ini aku tidak tahu apa alasan Mamamu mencegahku menemui pria brengsek itu. Maafkan aku Tika. Aku tidak bermaksud...." Antika menggeleng dan tersenyum.
" Aku berusaha meyakinkan mamamu untuk meminta pertanggungjawaban atas kehamilannya. Tapi dia menolak tegas. Dia berkata semua adalah kesalahannya. Pria itu sama sekali tidak bersalah."
"Aku..... sempat begitu marah dan kecewa." Aldri menjeda ucapannya. "Aku hanya tidak ingin dia sendirian melewati semuanya.
"Saat itu aku memutuskan untuk menjadi ayah dari bayinya." Antika terkejut mendengar ucapan Aldri. Matanya membelalak. Ia sama sekali tak menyangka akan mendengar hal itu.
"Tapi lagi-lagi mamamu menolak. Dia berkata tidak ingin menghancurkan masa depanku. Masih banyak wanita yang lebih baik untukku." Antika memejamkan mata sejenak. menghela nafas entah karena legah atau sedih.
"Mama mu wanita yang kuat. Dia sungguh hebat. Setidaknya aku harus bersyukur karena dia menolak kenanganku. Kalau tidak, maka kita tidak akan bisa bersama bukan?" Antika tersenyum menyetujui pendapat itu.
"Mama mu meninggal tepat setelah kamu dilahirkan. Sejak saat itulah aku membawamu tinggal bersama dengan ibuku di Surabaya."
"Egi selalu menghubungiku. Hampir setiap hari dia minta di video call. Dia ingin melihatmu yang menggemaskan. Rasa rindu selalu menjadi alasan." Aldri tersenyum bahagia mengingat itu semua.