NovelToon NovelToon
Posesif Bagas

Posesif Bagas

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Posesif
Popularitas:798
Nilai: 5
Nama Author: Safira Maulidah salsabila

Semuanya bermula dari sebuah kejadian yang sama sekali tidak pernah ia rencanakan.

Tinggal di panti asuhan membuat gadis itu terbiasa menjalani hidup sederhana,Jauh dari kata kemewahan,Namun satu hal yang selalu berhasil membuatnya tersenyum adalah kelinci kesayangannya.

Hingga suatu hari,Kelinci itu tiba-tiba kabur.

Tanpa berpikir panjang,Ayla berlari mengejarnya hingga keluar ke jalan raya,Karena terlalu fokus mengejar,ayla tak menyadari sebuah motor melaju ke arahnya.

Brak!

Dalam hitungan detik,Hidupnya seolah berubah.

Beruntung,Seseorang datang menolongnya sebelum keadaan menjadi lebih buruk,Pertemuan yang awalnya hanya sebuah ketidaksengajaan itu ternyata menjadi awal dari kisah yang jauh lebih besar.

Siapa sebenarnya lelaki yang menolongnya?

Dan apakah setelah pertemuan itu,Takdir seolah terus mempertemukan mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safira Maulidah salsabila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10

Matahari baru saja terbit,Udara pagi masih terasa sejuk.

Di halaman panti,Ayla sedang menyapu daun-daun yang jatuh di bawah pohon.

Sesekali beberapa anak panti berlari melewatinya sambil tertawa.

"Pelan-pelan!"ucap ayla sambil tersenyum.

Tiba-tiba suara mesin mobil berhenti di depan gerbang panti.

Ayla menoleh,Mobil hitam yang sangat ayla kenal berhenti di sana,Ayla menghela napas kecil.

"Pagi sekali."

Pintu mobil terbuka,Bagas keluar dengan seragam sekolahnya yang rapi,Begitu melihat Ayla sedang menyapu halaman,Bagas langsung mengerutkan sedikit kening,Bagas berjalan mendekat.

"Sayang."

Ayla berhenti menyapu.

"Bagas?."

Bagas menatap sapu di tangan ayla.

"Kamu sedang apa?."

Ayla mengangkat sedikit sapunya.

"Seperti yang kamu lihat."

Bagas menghela napas kecil.

"Kamu baru keluar dari rumah sakit."

Ayla langsung tahu ke mana arah pembicaraan ini.

"Aku cuma menyapu halaman."

Bagas tetap menatapnya.

"Kenapa kamu gak istirahat?."

Ayla menyandarkan sapu ke dinding.

"Kalau aku cuma tidur saja,Aku malah bosan."

Bagas masih terlihat tidak setuju.

"Dokter bilang jangan terlalu capek."

Ayla menyilangkan tangan di dada.

"Ini gak capek."

Bagas melirik tumpukan daun yang sudah cukup banyak.

"Kamu menyapu seluruh halaman?."

Ayla menjawab santai.

"Mungkin."

Bagas langsung mengambil sapu itu dari tangan ayla.

"Bagas!."

Bagas mulai menyapu beberapa daun yang tersisa.

"Kamu duduk saja."

Ayla menatapnya tidak percaya.

"Kamu mau menyapu?."

Bagas menjawab datar.

"Lebih baik daripada kamu yang melakukannya."

Ayla langsung tertawa kecil.

"Kalau teman-temanmu melihat ini,Mereka pasti tidak percaya."

Bagas tetap menyapu dengan santai.

"Gak masalah."

Ayla menatapnya beberapa detik lalu berkata pelan.

"Kamu gak terlambat sekolah?."

Bagas melirik jam di tangannya.

"Masih ada waktu."

Ayla menggeleng kecil.

"Kamu ini."

Beberapa anak panti yang lewat berhenti dan menatap bagas dengan heran.

"Kak bagas lagi menyapu!."

Anak-anak itu langsung tertawa kecil.

Bagas hanya menatap mereka sebentar.

"Kalian juga bisa membantu."

Anak-anak langsung kabur sambil tertawa.

Ayla menahan tawanya.

"Kasihan mereka."

Bagas akhirnya meletakkan sapu kembali di dekat dinding,Halaman sudah bersih.

Bagas menatap Ayla lagi.

"Kamu benar-benar sudah nggak demam?."

Ayla mengangguk.

"Sudah."

"Pusing?."

"Nggak."

"Lemas?."

Ayla menghela napas.

"Bagas,Kamu ini seperti dokter saja."

Bagas hanya berkata singkat.

"Memastikan saja."

Ayla tersenyum kecil.

"Aku benar-benar sudah lebih baik."

Bagas menatapnya beberapa detik, memastikan sendiri,Lalu bagas mengangguk kecil.

"Baik."

Ayla menatapnya.

"Sekarang kamu harus sekolah."

Bagas berjalan kembali ke arah mobilnya.

"Hmm."

Ayla berdiri di dekat gerbang.

"Bagas."

Bagas berhenti dan menoleh.

"Apa?."

Ayla tersenyum kecil.

"Hati-hati di jalan."

Bagas menatapnya sebentar,Lalu menjawab singkat.

"Kamu juga."

Ayla mengerutkan kening.

"Aku tidak pergi ke mana-mana."

Bagas membuka pintu mobilnya.

"Tetap saja."

Ayla tertawa kecil.

"Pergilah."

Bagas masuk ke mobil,Namun sebelum menutup pintu,Bagas berkata lagi.

"Jangan menyapu halaman lagi."

Ayla langsung menjawab cepat.

"Gak janji."

Bagas menatapnya datar.

"Ayla."

Ayla langsung mengangkat kedua tangannya menyerah.

"Iya,Iya."

Barulah bagas menutup pintu mobilnya.

Mobil itu perlahan keluar dari gerbang panti.

Sementara ayla masih berdiri di sana Menatap mobil itu menjauh lalu ayla tersenyum kecil.

"Orang itu benar-benar cerewet."

...••••••...

Di depan gerbang panti,Sebuah mobil hitam kembali berhenti,Beberapa anak panti yang sedang bermain langsung menoleh.

"Itu mobil kak bagas!."

Mobil itu memang mobil bagas,Pintu mobil terbuka dan bagas keluar dengan tas sekolah di bahunya,Bagas langsung melihat ke arah halaman panti,Namun yang bagas lihat justru membuat langkahnya langsung berhenti.

Di halaman ayla sedang mengangkat ember berisi pakaian basah lalu menjemurnya di tali jemuran,Tangannya terlihat sedikit basah dan ayla berdiri di bawah matahari sore.

Ekspresi bagas langsung berubah,Wajahnya menjadi datar, tapi tatapannya tajam,Bagas berjalan cepat ke arah ayla.

"Sayang."

Suaranya kali ini lebih dingin dari biasanya.

Bagas terlihat sedikit terkejut.

"Kamu ke sini lagi?."

Namun bagas tidak menjawab pertanyaan itu,Tatapannya langsung ke ember yang dipegang ayla.

"Kamu sedang apa?."

Ayla menjawab santai.

"Menjemur pakaian."

Bagas langsung mengambil ember itu dari tangannya dengan sedikit keras.

ayla terkejut.

"Bagas!."

Bagas menaruh ember itu ke tanah.

"Aku bilang apa pagi tadi?."

Nada suaranya rendah tapi jelas menahan marah.

Ayla mengerutkan kening.

"Bagas,ini cuma-."

"Cuma?."

Bagas memotong.

"Cuma pekerjaan ringan?."

Ayla terdiam.

Beberapa anak panti yang melihat mereka langsung berhenti bermain,Suasana tiba-tiba sedikit tegang,Bagas menatap ayla serius.

"Kamu baru keluar dari rumah sakit tiga hari lalu."

Ayla mencoba menjawab pelan.

"Aku sudah merasa lebih baik."

Bagas langsung berkata tegas.

"Merasa lebih baik bukan berarti kamu boleh memaksakan diri."

Ayla menatapnya.

"Kamu terlalu berlebihan."

Bagas langsung menghela napas keras.

"Berlebihan?."

Bagas menunjuk ember pakaian itu.

"Kamu angkat ini sendirian."

Ayla sedikit kesal.

"Ini bukan sesuatu yang berat."

Bagas menatapnya tajam.

"Kalau kamu jatuh lagi bagaimana?."

Ayla terdiam.

Bagas melanjutkan,nadanya masih dingin.

"Kalau kamu pingsan lagi?."

Ayla tidak langsung menjawab.

Bagas menatapnya beberapa detik,lalu mengambil pakaian dari ember dan mulai menggantungkannya di jemuran,Gerakannya sedikit lebih keras dari biasanya.

Ayla memperhatikannya.

"Bagas."

Bagas tidak menoleh.

"Kamu duduk."

Ayla mengerutkan kening.

"Aku bisa."

"Sayang."

Kali ini suaranya tegas.

Benar-benar seperti perintah,Ayla langsung terdiam,Beberapa detik kemudian ayla akhirnya duduk di kursi kecil dekat halaman,Anak-anak panti saling berbisik pelan.

"Kak bagas marah."

Ayla memperhatikan bagas yang sekarang menjemur pakaian sendirian,Beberapa saat kemudian ayla berkata pelan.

"Kamu marah?."

Bagas berhenti sebentar.

Namun ia tidak menoleh.

"Aku tidak marah."

Ayla menatapnya.

"Kalau tidak marah,Kenapa wajahmu seperti itu?"

Bagas akhirnya menoleh,Tatapannya masih serius.

"Aku hanya tidak suka melihat kamu memaksakan diri."

Ayla terdiam.

Bagas menambahkan pelan.

"Apalagi setelah kamu sakit seperti itu."

Suasana kembali tenang.

Ayla akhirnya tersenyum kecil.

"Jadi kamu khawatir?."

Bagas menatapnya beberapa detik,Lalu menjawab singkat.

"Hmm."

Jawaban itu begitu jujur sampai ayla tidak bisa berkata apa-apa,Alya hanya tersenyum kecil sambil menatap bagas yang masih menjemur pakaian dan untuk pertama kalinya ayla sadar satu hal,Bagas bukan hanya cerewet,tapi Kadang dia bisa sangat posesif ketika menyangkut dirinya.

Bagas masih berdiri di dekat jemuran, menyelesaikan pakaian yang tersisa,Sementara ayla duduk di kursi kecil sambil memperhatikannya.

Beberapa menit kemudian semua pakaian sudah tergantung rapi.

Bagas menepuk tangannya pelan lalu menoleh ke arah ayla.

"Kamu sudah makan?."

Ayla sedikit terkejut dengan pertanyaan itu.

"Belum."

Bagas langsung mengerutkan kening.

"Belum?."

Ayla menjawab santai.

"Aku gak selera.”

Bagas menatapnya serius.

“Seharian?.”

Ayla menunduk karena menghindari tatapan dari bagas.

Bagas menghela napas panjang.

"Obatmu sudah diminum?."

Ayla langsung menggeleng kecil.

"Lupa."

Bagas menutup matanya sebentar seperti menahan kesal.

"Sayang."

Bagas menatapnya beberapa detik,Lalu mengeluarkan ponselnya dari saku.

Ayla langsung bingung.

"Kamu mau apa?."

Bagas membuka aplikasi pesan makanan.

"Pesan makanan."

Ayla langsung berdiri sedikit.

"Gak perlu!."

Bagas tetap fokus pada ponselnya.

"Kamu belum makan."

Ayla terdiam.

Tak lama kemudian Bagas menekan layar ponselnya.

"Sudah."

Ayla mengangkat alis.

"Apa yang kamu pesan?."

"Makanan."

Ayla memutar matanya.

"Itu aku juga tahu."

Bagas memasukkan kembali ponselnya ke saku.

"Sup ayam dan nasi."

Ayla langsung sedikit tersenyum.

"Kamu benar-benar seperti dokter."

Bagas menjawab santai.

"Lebih baik begitu daripada kamu sakit lagi."

Beberapa menit kemudian ponsel Bagas bergetar.

"Sudah sampai."

Tak lama seorang kurir datang membawa kantong makanan.

Bagas mengambilnya lalu menyerahkannya ke ayla.

"Makan."

Ayla membuka kantong itu dan mencium aroma makanan hangat.

"Terima kasih."

Bagas hanya mengangguk.

Ayla mulai makan pelan.

Bagas berdiri bersandar di tiang teras sambil memperhatikan ayla makan.

Beberapa menit kemudian makanan itu habis.

Ayla menghela napas puas.

"Sudah."

Bagas langsung berkata.

"Obat."

Ayla mengerutkan wajah.

"Bagas."

Bagas menatapnya datar.

"Sayang."

Ayla akhirnya tertawa kecil.

"Iya,iya."

Ayla mengambil obat dari sakunya lalu meminumnya dengan air.

Setelah itu Ayla menatap Bagas.

"Sekarang puas?."

Bagas mengangguk kecil.

"Hmm."

Langit sudah mulai berubah menjadi gelap,Lampu-lampu di panti mulai menyala.

Bagas mengambil tas sekolahnya yang tadi ia letakkan di kursi.

"Aku harus pulang."

Ayla berdiri.

"Sekarang?."

"Hmm."

Ayla berjalan mengantarnya sampai gerbang panti,Angin malam berhembus pelan.

Ayla menatap bagas.

"Terima kasih."

Bagas mengangkat alis.

"Untuk apa lagi?."

Ayla tersenyum kecil.

"Untuk hari ini."

Bagas menatapnya beberapa detik,Lalu berkata pelan.

"Jaga diri kamu."

Ayla mengangguk.

"Kamu juga."

Bagas akhirnya masuk ke mobil.

Mesin mobil menyala.

Mobil itu perlahan keluar dari gerbang panti.

Sementara ayla berdiri di sana memperhatikan mobil itu sampai menghilang di ujung jalan.

Ayla menghela napas kecil sambil tersenyum.

"Bagas itu benar-benar terlalu peduli."

1
Citra bella Suteja
ayla teralalu lemah ngga bisa tegas ngga berani melawan,,,
Lisa
Ceritanya bagus Kak
Lisa
Aku mampir Kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!