NovelToon NovelToon
Si Kecil Yang Terbuang (Revisi Pelan-pelan)

Si Kecil Yang Terbuang (Revisi Pelan-pelan)

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Daneen_Nis

Si Kecil yang Terbuang

Sejak lahir, Aluna Kirana dianggap sebagai pembawa kesialan hingga keluarganya tega membuangnya di tengah hujan. Beruntung, seorang nenek berhati mulia menemukannya dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang meski hidup dalam keterbatasan.

Bertahun-tahun kemudian, Aluna tumbuh menjadi gadis yang lembut, kuat, dan penuh ketulusan. Tanpa disadari, takdir membawanya kembali bertemu dengan keluarga yang pernah membuangnya. Di saat penyesalan mulai menghantui mereka, Aluna juga dipertemukan dengan Arsen Mahardika, seorang CEO muda yang perlahan mengubah jalan hidupnya.

Ketika rahasia masa lalu terungkap, mampukah Aluna memaafkan mereka yang telah meninggalkannya? Ataukah ia akan memilih orang-orang yang mencintainya tanpa syarat?

Sebuah kisah penuh haru tentang luka, pengorbanan, keluarga, dan cinta yang membuktikan bahwa seseorang tidak ditentukan oleh masa lalunya, melainkan oleh keteguhan hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daneen_Nis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 - Pertemuan yang Tak Disengaja

Pagi itu, Aluna berangkat ke sekolah dengan perasaan yang campur aduk. Gelang emas dan kain biru bersulam huruf A masih terbayang di benaknya. Ia belum berani memakainya. Ratih menyimpan kembali benda-benda itu di tempat yang aman agar tidak jatuh ke tangan orang yang salah.

Di sepanjang perjalanan, Aluna terus memikirkan satu pertanyaan.

"Kalau benar aku berasal dari keluarga Prasetya, mengapa aku bisa berakhir di tangan Nenek Ratih?"

Pertanyaan itu belum memiliki jawaban.

Sesampainya di sekolah, Siska langsung menghampirinya.

"Luna, kamu kelihatan capek."

"Aku kurang tidur."

"Apa masih memikirkan semua kejadian itu?"

Aluna mengangguk pelan.

Siska menggenggam tangan sahabatnya.

"Kamu tidak sendirian. Apa pun yang terjadi, aku akan tetap mendukungmu."

Aluna tersenyum tulus.

"Terima kasih."

Di sudut kelas, Keisha memperhatikan mereka tanpa berkata apa-apa. Sejak mendengar percakapan ayahnya beberapa hari lalu, kebenciannya kepada Aluna mulai bercampur dengan rasa takut.

Bel sekolah berbunyi. Saat pelajaran berlangsung, kepala sekolah datang ke kelas.

"Aluna Kirana, ada tamu yang ingin bertemu."

Seluruh siswa langsung menoleh.

Aluna berdiri perlahan.

"Siapa, Pak?"

"Silakan ikut saja."

Aluna mengikuti kepala sekolah hingga ke ruang tamu sekolah.

Di sana berdiri seorang pria tua yang pernah dilihatnya di depan gerbang sekolah beberapa hari lalu. Rambutnya telah memutih, tubuhnya sedikit membungkuk, tetapi sorot matanya tampak hangat.

Pria itu tersenyum saat melihat Aluna.

"Halo."

"Maaf... apakah kita saling mengenal?"

Pria itu menggeleng.

"Belum."

"Lalu kenapa Bapak ingin bertemu saya?"

Tatapan pria tua itu jatuh pada kalung bulan sabit di leher Aluna.

"Boleh aku melihat kalungmu?"

Aluna ragu sejenak, tetapi akhirnya mengangguk.

Pria itu memperhatikan kalung tersebut dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

"Benar... tidak salah lagi."

"Apa maksud Bapak?"

Sebelum pria itu sempat menjawab, seorang pria muda yang mendampinginya berbisik,

"Tuan, kita tidak boleh terlalu lama."

Pria tua itu menghela napas.

Ia merogoh saku jasnya lalu mengeluarkan sebuah kartu nama.

"Namaku Hendra."

"Kalau suatu hari kamu membutuhkan bantuan, hubungi aku."

Aluna menerima kartu itu dengan bingung.

"Apakah Bapak mengenal orang tua saya?"

Hendra tersenyum tipis.

"Aku mengenal masa lalumu."

Jawaban itu membuat jantung Aluna berdegup kencang.

Namun, Hendra memilih pergi tanpa menjelaskan apa pun.

Aluna hanya bisa memandang mobil yang membawa pria tua itu menjauh dari sekolah.

Di tempat lain, Rangga menerima laporan dari orang kepercayaannya.

"Pak Rangga, pria bernama Hendra baru saja menemui Nona Aluna."

Rangga langsung menghubungi Arsen.

"Pak, Hendra muncul."

Arsen yang sedang rapat langsung berdiri.

"Pastikan dia tidak hilang lagi."

"Baik, Pak."

Arsen mengenal nama Hendra.

Dahulu, Hendra adalah kepala keamanan keluarga Prasetya. Ia menghilang secara misterius tidak lama setelah putri pertama keluarga itu dinyatakan hilang.

Kalau Hendra kembali sekarang, berarti ia pasti mengetahui sesuatu yang selama ini disembunyikan.

Sore harinya, Aluna memperlihatkan kartu nama Hendra kepada Ratih.

Begitu membaca nama itu, wajah Ratih langsung pucat.

"Nek?"

Ratih menggenggam kartu tersebut dengan tangan gemetar.

"Jadi... dia masih hidup."

"Nenek mengenalnya?"

Ratih mengangguk perlahan.

"Dialah orang yang mengantarkan wanita itu ke rumah Nenek delapan belas tahun yang lalu."

Aluna membelalakkan mata.

"Itu berarti Hendra tahu siapa orang tua kandung Aluna."

Ratih menatap Aluna dengan wajah penuh kecemasan.

"Iya."

"Dan kalau Hendra sudah kembali..."

Ratih menoleh ke arah pintu rumah yang mulai gelap.

"...berarti rahasia yang selama ini terkubur tidak akan bisa disembunyikan lebih lama lagi."

Di saat yang sama, sebuah mobil hitam berhenti tidak jauh dari rumah Ratih.

Dari dalam mobil, Victor memperhatikan rumah itu sambil tersenyum dingin.

"Hendra..."

"Akhirnya kau muncul juga."

Victor mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.

"Mulai malam ini."

"Habisi Hendra sebelum dia sempat membuka mulut."

Permainan yang selama delapan belas tahun ia kendalikan kini mulai terancam. Dan demi mempertahankan semua rahasianya, Victor siap mengorbankan siapa pun yang menghalangi jalannya.

1
Adinda
mungkin victor simpanan istrinya damar bapak kandungnya Keisha
ժׁׅ݊ɑׁׅ݊ꪀꫀׁׅܻ݊ꫀׁׅܻ݊݊ꪀ_݊ꪀꪱׁׅ꯱: Terima kasih sudah Like dan Komen ka🙏🙏🙏
total 1 replies
Adinda
semoga Aluna bertemu keluarga sebelah ibunya atau kakeknya
Adinda
Aku harapnya Aluna direbut oleh keluarga dari ibunya atau kakeknya yang Kaya biar ayah kandungnya Tau rasa dibenci oleh anaknya sendiri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!