Bagaimana jika dua orang remaja yang tidak saling dekat, namun dipaksakan berdua karena perjodohan?
Akankah mereka menerima nya? atau sebaliknya?
"Dia selalu serius ketika menyimak penjelasan dari guru saat jam pelajaran di kelas," batin seorang gadis yang bernama Lyra, sedang memandangi seorang cowo yang terlihat keren saat pelajaran, namun terlihat kesal dengan kesombongannya.
____
"Kenapa harus dia?!" teriak Lyra, tidak menyukai perjodohan yang dilakukan orang tua mereka.
Sedangkan di sisi lain, cowo itu menatapnya dingin dan tajam, sesekali menyetujui ucapan Lyra, tidak ingin perjodohan mereka berlanjut.
____
"Oh iya... yang pintar mah beda." ucap Lyra menyindir cowo dihadapannya itu.
"Makanya belajar! Bukan baca novel!" sarkas cowo itu, yang membuat Lyra ingin mencabik-cabik cowo yang dihadapannya ini.
-- Dua orang Sikap berbeda yang terpaksa bersama --
Follow akun ini(@dinda.glow), like & komen disetiap cerita yaw! di upload setiap hari Jam 09:00 WIB & 21:00 WIB
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dinda.glow, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. Makan Seblak dan Minda yang Malu karena Tingkah lakunya
Warung Seblak "Jebred Dewa" siang itu sedang ramai-ramainya.
Aroma kencur, cabai yang ditumis, dan wangi daun jeruk beradu di udara, menciptakan atmosfer yang merangsang kelenjar ludah siapa saja yang lewat.
Tap.. tap.. tap...
Minda memimpin jalan dengan langkah tegap seolah-olah sedang memasuki medan perang yang sudah sangat ia kuasai.
Di belakangnya, Lila mengekor dengan anggun, sesekali merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena angin jalanan.
"Mang Ujang! Seblak Level Mahaguru satu, pakai ceker tanpa tulang, kerupuk oren, sama makaroni! Nah, buat sahabat aku yang paling kalem se-X-5 ini, kasih Level Amatir aja, Mang. Topping-nya samain, tapi cabainya jangan galak-galak, ya!" seru Minda dengan suara lantang yang langsung memutus obrolan beberapa pelanggan lain di warung itu.
Mang Ujang, si penjual seblak yang sudah hafal dengan kelakuan Minda, hanya terkekeh sambil mengacungkan sutilnya.
"Siap, Neng Minda! Level Mahaguru berarti cabainya dua puluh biji, ya!" Lila yang mendengar angka dua puluh langsung menelan ludah dengan susah payah.
"Minda, dua puluh cabai itu nggak kebanyakan? Nanti perut kamu sakit, lho."
"Tenang, Lila. Lambung aku ini sudah dilapisi baja anti-pedas. Ini baru pemanasan setelah kita mikirin mitokondria dan sitoplasma tadi," jawab Minda sambil menepuk dadanya dengan bangga.
Mereka kemudian memilih duduk di meja panjang di pojok warung, tepat di sebelah meja sekelompok cowok berseragam SMA lain yang tampaknya sedang asyik mengobrol.
Tidak butuh waktu lama sampai dua mangkuk seblak berukuran besar mendarat di meja mereka.
Perbedaannya sangat mencolok. Seblak milik Lila berwarna jingga pucat dengan kuah yang ramah lingkungan.
Sementara seblak milik Minda berwarna merah tua pekat, hampir mendekati hitam korosif, dengan minyak cabai yang mengapung di permukaannya bagikan lava Gunung Merapi yang siap meletus.
"Selamat makan, Lila! Mari kita buktikan kenikmatan hakiki ini!" seru Minda heboh.
Tanpa ragu, ia menyendok kuah merah membara itu dan langsung memasukkannya ke dalam mulut.
Pada detik pertama, Minda masih tersenyum lebar. Detik kedua, senyumnya mulai kaku. Detik ketiga, matanya yang besar mendadak melotot sempurna.
Warna kulit wajah Minda berubah drastis dari kuning langsat menjadi merah padam dalam hitungan milidetik.
Rasa pedas dari dua puluh cabai rawit merah yang diulek kasar langsung menghantam dinding tenggorokannya tanpa ampun.
"Gimana, Minda? Enak?" tanya Lila polos, sambil mengunyah kerupuk orennya yang kenyal dengan tenang.
Minda tidak bisa menjawab. Tenggorokannya terasa seperti sedang dilewati oleh kawat berduri yang membara.
Ia mencoba menelan, namun rasa panas itu justru naik ke ubun-ubun. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, siap menetes kapan saja.
Daun telinganya memerah dan ia mulai bernapas dengan cepat melalui mulut.
"Hah... hah... Li... Lila... hah..."
"Minda? Kamu kenapa? Kok nangis?" Lila mulai panik melihat sahabatnya yang biasanya tidak bisa diam kini mendadak megap-megap seperti ikan kekurangan oksigen.
"P-pedas... Li... ini bukan Mahaguru lagi... ini Level Malaikat Maut... hah... hah..." Minda mulai mengibas-ngibaskan kedua tangannya ke arah mulut, berharap angin sepoi-sepoi bisa meredakan badai api di lidahnya.
Keringat sebesar biji jagung mulai bercucuran di dahinya, merusak penampilannya yang tadi siang masih segar.
"Minum, Minda! Minum es tehnya!" seru Lila panik sambil menunjuk ke arah gelas.
Dalam kondisi setengah buta karena air mata yang mengalir deras dan otak yang sudah lumpuh akibat sensor pedas yang berlebihan, Minda langsung mengulurkan tangannya ke atas meja.
Tangannya meraba-raba dengan cepat, mencari benda apa pun yang terasa dingin dan berisi cairan.
Begitu jemarinya menyentuh sebuah gelas besar berisi es teh manis yang penuh dengan embun dingin, Minda tidak berpikir dua kali.
Ia menyambar gelas itu, mendekatkannya ke mulut, dan langsung meminumnya dengan gaya luar biasa heboh.
Glug... glug... glug...
Setengah isi gelas langsung amblas dalam waktu kurang dari lima detik. Es batu di dalam gelas berdenting keras karena Minda meminumnya dengan sangat rakus.
"Ahhhh... segar..." desah Minda lega, sambil mengusap air matanya dengan punggung tangan.
Badai di lidahnya sedikit mereda berkat aliran teh manis dingin tersebut.
Namun, keheningan mendadak melanda warung seblak itu. Minda merasa ada sesuatu yang aneh.
Suasana di sekitarnya mendadak menjadi sangat sunyi, bahkan suara sutil Mang Ujang pun tidak terdengar lagi.
Minda mengerjapkan matanya yang masih basah, mencoba memfokuskan pandangan.
Hal pertama yang ia lihat adalah wajah Lila yang membeku dengan mulut terbuka lebar, menatapnya dengan tatapan horor yang belum pernah Minda lihat sebelumnya.
"Lila? Kenapa muka kamu kayak habis melihat hantu?" tanya Minda bingung, suaranya masih agak serak.
Lila tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menggerakkan bola matanya perlahan, memberi isyarat ke arah samping kanan Minda.
Minda pun menoleh perlahan mengikuti arah pandangan Lila.
Di sampingnya, tepat di meja sebelah, duduk seorang cowok bertubuh jangkung dengan seragam SMA tetangga.
Cowok itu sedang memegang sedotan plastik yang menggantung bebas di udara, karena gelas es teh manis yang seharusnya berada di bawah sedotan itu kini sedang digenggam erat oleh Minda.
Cowok itu menatap gelasnya yang tinggal setengah, lalu menatap wajah Minda dengan ekspresi antara bingung, terkejut, dan ingin tertawa.
Teman-teman di meja cowok itu sudah menutupi wajah mereka, menahan tawa sampai bahu mereka terguncang hebat.
Minda tersadar. Ia melihat ke mejanya sendiri. Gelas es teh manis miliknya yang asli ternyata masih berdiri tegak, utuh, belum disentuh sama sekali, berada sekitar tiga puluh sentimeter di sebelah kirinya.
Gelas yang baru saja ia minum dengan brutal adalah milik cowok asing di sebelahnya.
Seketika itu juga, rasa pedas di lidah Minda hilang total, digantikan oleh rasa malu yang meledak hingga ke seluruh tubuhnya.
Wajahnya yang tadi merah karena cabai, kini menjadi merah padam karena malu tingkat dewa.
"E-eh... ngg... maaf... demi apa pun aku nggak sengaja!" gagap Minda, suaranya naik dua oktaf karena panik.
Ia langsung meletakkan kembali gelas itu ke meja si cowok dengan gerakan super kaku.
"Tadi... tadi mata aku burem karena cabai dua puluh biji! Aku kira ini gelas aku! Sumpah, aku bukan pencuri es teh!" Cowok itu berkedip sekali, lalu melihat gelasnya lagi, dan akhirnya tertawa lepas.
"Nggak apa-apa, santai aja. Lagian kayaknya kamu memang lebih butuh es teh itu daripada aku. Kalau telat sedetik lagi, mungkin mulut kamu sudah keluar asap."
Teman-teman cowok itu langsung meledak dalam tawa yang riuh.
Beberapa pelanggan lain di warung seblak ikut tertawa melihat drama komedi gratis di siang bolong itu.
Mang Ujang bahkan berteriak dari tempat penggorengan, "Neng Minda, kalau kurang minumnya, jangan ambil punya orang! Nanti Mang Ujang bonusin es teh satu teko!" Minda rasanya ingin menghilang dari muka bumi saat itu juga.
Ia langsung menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangannya, merutuki kecerobohannya yang selalu sukses menciptakan momen memalukan.
Lila, yang awalnya ikut syok, akhirnya tidak bisa menahan diri lagi.
Untuk pertama kalinya sejak mereka kenal di kelas X-5, Lila tertawa begitu lepas, begitu keras, bahkan sampai mengeluarkan air mata.
"Hahahaha....."
Suara tawa Lila yang renyah beradu dengan kehebohan warung seblak.
"Minda... kamu benar-benar luar biasa," ujar Lila di sela-sela tawanya, sambil menyodorkan es teh manis milik Minda yang asli.
"Ini, minum punya kamu sendiri. Jangan sampai kamu minum kuah seblak orang lain lagi setelah ini."
Minda mengintip dari sela-sela jarinya, menatap Lila yang masih tertawa, lalu ikut tersenyum kecut.
Meskipun sangat memalukan, melihat Lila bisa tertawa sebahagia itu tanpa rasa canggung membuat rasa malu Minda sedikit terobati.
Persahabatan mereka di kelas X-5 memang baru seumur jagung, tetapi Minda tahu, momen seblak maut dan es teh nyasar ini akan menjadi cerita yang mereka kenang hingga bertahun-tahun ke depan.
Bersambung ~~~
Hayy ges!! bagaimana ceritanya? pasti lucu ehehe 🤭😅 Minda nya malu nih ehehe
Jangan lupa follow akunnya, like, komen dan share ceritanya ya!! 😉
Instagram: @dinndaayu_64
Wattpad: @dinda.glow
See you~~