Raven Alvaro dikenal sebagai Don Mafia paling kejam yang tak pernah memberi ampun pada pengkhianat. Dengan tangan berlumuran darah, ia membangun kekuasaannya di atas ketakutan dan kesetiaan mutlak. Bagi Raven, belas kasihan hanyalah kelemahan yang dapat menghancurkan seorang pemimpin.
Segalanya berubah ketika Aurora Valentia tanpa sengaja masuk ke dalam dunia gelap yang selama ini tersembunyi. Pertemuan mereka memicu rangkaian rahasia, pengkhianatan, dan perang antar keluarga mafia yang telah lama menunggu untuk meledak.
Di tengah hujan peluru dan lautan darah, Raven harus memilih antara mempertahankan takhta yang telah ia rebut dengan nyawa banyak orang atau mempertaruhkan segalanya demi wanita yang perlahan mencairkan hati beku sang Don. Namun, di dunia mafia, cinta memiliki harga yang jauh lebih mahal daripada kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daneen_Nis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 - Pertarungan di Kota Ardent
Suara ledakan masih menggema di sekitar bank tua.
Pecahan kaca berserakan di lantai, sementara puluhan pria bersenjata mengepung bangunan dari segala arah.
Damian berdiri di depan pintu utama dengan senyum penuh ejekan.
"Raven, permainan kita berakhir hari ini."
Raven melangkah ke depan, mengangkat pistolnya tanpa sedikit pun menunjukkan rasa takut.
"Kau sudah terlalu sering mengatakan itu."
Damian tertawa kecil.
"Tapi kali ini berbeda."
Ia mengangkat tangannya.
Dalam sekejap, anak buahnya mulai melepaskan tembakan.
Dor! Dor! Dor!
Leo segera membawa Aurora dan manajer bank berlindung di balik meja beton.
"Tetap di sini!"
Aurora mengangguk, tetapi matanya tidak lepas dari Raven yang terus membalas tembakan.
Raven bergerak cepat, berpindah dari satu pilar ke pilar lainnya.
Setiap peluru yang dilepaskannya mengenai sasaran.
Satu demi satu anak buah Damian tumbang.
"Dia monster..." gumam salah seorang penyerang sebelum roboh terkena tembakan.
Namun jumlah musuh terlalu banyak.
Mereka terus berdatangan dari arah belakang gedung.
Leo memberi isyarat kepada timnya.
"Buka jalan keluar!"
Pertempuran semakin sengit.
Asap mesiu memenuhi ruangan.
Di tengah kekacauan itu, Damian berhasil masuk ke dalam bank.
Ia berjalan santai sambil memutar pisaunya.
"Sudah lama aku ingin menghabisimu sendiri."
Raven menyimpan pistolnya.
"Kalau begitu..."
"...selesaikan dengan tangan kosong."
Damian tersenyum lebar.
"Itu yang kuinginkan."
Keduanya langsung saling menyerang.
Pukulan Raven mengenai rahang Damian hingga pria itu mundur dua langkah.
Namun Damian segera membalas dengan tendangan keras ke arah perut Raven.
Brak!
Tubuh Raven terdorong ke belakang.
Meski luka lama di bahunya kembali terasa nyeri, ia tetap berdiri.
"Kau mulai melemah," ejek Damian.
Raven mengusap darah di sudut bibirnya.
"Aku belum mulai."
Ia kembali menyerang.
Pukulan demi pukulan menghujani Damian.
Pertarungan mereka menghancurkan meja, kursi, bahkan dinding bank.
Aurora hanya bisa menyaksikan dengan napas tertahan.
Ia ingin membantu, tetapi tahu kehadirannya justru bisa mengganggu Raven.
Saat Raven hampir menjatuhkan Damian, suara tembakan tiba-tiba terdengar.
Dor!
Seorang penembak dari luar gedung mengarahkan pelurunya ke Raven.
Aurora yang melihat kilatan senapan langsung berteriak,
"Raven, awas!"
Raven menoleh sesaat.
Kesempatan itu dimanfaatkan Damian untuk menghantam wajah Raven dengan keras.
Brak!
Raven terjatuh.
Damian segera mengeluarkan pistol dan mengarahkannya ke kepala Raven.
"Selamat tinggal."
Jari Damian mulai menekan pelatuk.
Dor!
Namun peluru itu tidak pernah mengenai Raven.
Leo menembak lebih dulu.
Peluru Leo mengenai bahu Damian.
"Akh!"
Damian mundur sambil memegangi lukanya.
Ia memandang Raven dengan tatapan penuh kebencian.
"Kau beruntung."
Raven bangkit perlahan.
"Bukan keberuntungan."
"Itu karena aku tidak sendirian."
Damian tertawa kecil.
"Kalau begitu, nikmati hadiah terakhir dariku."
Ia melempar sebuah granat asap ke lantai.
Bumm!
Asap hitam memenuhi seluruh ruangan.
Saat asap menghilang, Damian telah menghilang sekali lagi.
Yang tertinggal hanyalah sebuah ponsel.
Layar ponsel itu menyala dengan sendirinya.
Sebuah video mulai diputar.
Wajah Black King muncul di layar.
"Halo, Raven."
"Kalau kau sedang menonton ini..."
"...berarti kau semakin dekat dengan adikmu."
Black King tersenyum tipis.
"Luca Romano masih hidup."
"Tapi ada satu masalah."
"Orang yang selama ini kau cari..."
"...mungkin justru tidak ingin ditemukan."
Video berhenti.
Ruangan kembali sunyi.
Raven menggenggam ponsel itu erat.
Jika Luca masih hidup dan sengaja bersembunyi...
Apakah adiknya memang melarikan diri dari musuh?
Atau...
Melarikan diri darinya?