Selama lima tahun, Arka Pradana hidup sebagai suami miskin yang dianggap gagal. Ia bekerja siang malam demi membayar utang keluarga istrinya, Hana. Namun semuanya hancur ketika Arka menemukan kenyataan pahit: Hana dan selingkuhannya diam-diam meracuninya selama bertahun-tahun.
Saat pernikahannya runtuh, sebuah liontin tua justru membangkitkan Warisan Hantala dalam tubuh Arka. Ilmu pengobatan, feng shui, tenaga dalam, dan kemampuan melihat rahasia manusia mengalir ke dalam dirinya.
Dari pelayan klub malam yang diremehkan, Arka berubah menjadi pria berbahaya yang ditakuti dunia bawah Jakarta. Di sisinya muncul Maya Santoso, wanita matang pemilik klub malam; Bianca Lestari, CEO cantik yang dingin dan penuh rahasia; serta wanita-wanita lain yang terseret oleh kekuatan dan pesonanya.
Dulu ia diinjak. Sekarang, siapa pun yang berani mengkhianati, menghina, atau menyentuh orang-orangnya harus siap berlutut di hadapannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Bab 6
Kalimat Maya tentang Bianca masih menggantung di kabin Porsche. Arka tidak langsung menjawab. Ia tahu wanita di sampingnya tidak pernah membuka pintu tanpa menyiapkan tali di baliknya.
"Tentu saja kamu boleh menolak." Suara Maya tiba-tiba menjadi lebih dingin. "Tapi kalau kamu menolak, kejadian di mobil malam itu mungkin akan sampai ke telinga Bang Jaya."
Jari Arka mengencang di setir.
Maya menatapnya dari samping. "Menurutmu dia akan percaya kalau aku yang menggoda sopir mudaku duluan? Atau dia akan lebih senang percaya kamu kurang ajar padaku?"
Ancaman itu mendarat tepat di dada Arka. Jaya Harim bukan orang yang bisa diajak berdebat dengan logika. Jika pria itu merasa harga dirinya diinjak, darah bisa tumpah sebelum penjelasan selesai keluar dari mulut.
Namun pikiran Arka sudah tidak serapuh dulu. Hana dan Bima sudah menghancurkan bertahun-tahun hidupnya. Raka menyeret Yulia ke neraka. Bima juga anak angkat Jaya. Cepat atau lambat, Arka memang akan berhadapan dengan lingkaran itu.
Kalau terus menunduk, ia akan diinjak sampai mati.
"Bu Maya ingin aku melakukan ini," ucap Arka pelan, "tapi aku juga butuh bantuan."
Maya tersenyum lagi, seolah sejak awal menunggu kalimat itu. "Nah, baru terdengar seperti laki-laki. Mau apa?"
Arka menepi di bahu jalan, lalu menoleh. "Urusan perceraianku dengan Hana masih ada proses. Aku mau selesai hari ini."
Maya mengangkat alis. "Itu saja?"
"Untuk sekarang."
Maya mengeluarkan ponsel, menelepon seseorang, lalu berbicara dengan nada malas. Ia tidak menjelaskan panjang, hanya menyebut nama Arka, nomor perkara, dan beberapa instruksi pendek. Lima menit kemudian, ponsel Arka berbunyi.
Pesan dari kantor pengadilan masuk.
Permohonan perceraian Arka Pradana dan Hana Wijaya telah disetujui untuk percepatan administrasi. Pihak terkait diminta hadir mengambil salinan putusan dan akta cerai sesuai jadwal.
Arka menatap layar itu beberapa detik.
Selama bertahun-tahun ia bekerja sampai hampir mati untuk membayar utang keluarga Hana. Satu kalimat Maya di telepon ternyata lebih kuat daripada semua keringatnya.
Inilah kuasa.
Maya menyelipkan ponsel ke tasnya. "Sekarang kamu bisa berpikir lebih jernih?"
"Aku lihat orangnya dulu."
"Bagus." Maya menyebut alamat. "Ke Menteng Heights."
Kompleks vila itu dijaga ketat. Setelah mobil melewati pos pemeriksaan, Porsche meluncur di jalan berlapis batu alam dan berhenti di depan sebuah vila putih bergaya modern. Dari halaman belakang terdengar tawa perempuan dan cipratan air.
Maya turun lebih dulu. "Ikut."
Arka mengikutinya melewati ruang tamu yang luas. Begitu pintu kaca menuju halaman belakang terbuka, pemandangan kolam renang langsung memenuhi mata.
Beberapa wanita cantik dengan pakaian renang tipis sedang bercanda di tepi kolam. Mereka jelas bukan orang biasa. Ada yang wajahnya sering muncul di iklan skincare, ada yang mungkin model majalah, ada juga yang sekadar kaya dan tahu dirinya menarik.
Di tengah kolam, satu sosok berenang sendirian.
Saat wanita itu muncul dari air, rambut hitam basahnya terlempar ke belakang dan butiran air berhamburan seperti kaca kecil di bawah matahari. Wajahnya dingin, cantik, dan tajam. Tubuhnya dibalut pakaian renang putih yang sederhana, tetapi justru membuat kulitnya terlihat bersih seperti porselen.
Bianca Lestari.
Foto di ponsel Maya sudah cantik. Aslinya jauh lebih berbahaya.
"Kak Maya!" seorang wanita berambut cokelat melambai. Matanya segera jatuh pada Arka. "Wah, bawa siapa? Mainan baru?"
"Jaga mulut, Liana," Maya tertawa. "Ini sepupuku. Namanya Arka. Aku bawa dia melihat dunia sedikit."
Liana Putri menatap Arka dari atas sampai bawah. "Sepupu? Sayang sekali. Kalau bukan keluarga, bisa aku pinjam sebentar."
Perempuan lain ikut tertawa. Salah satu yang memakai bikini motif macan bahkan sengaja berdiri lebih dekat, membuat Arka tidak tahu harus melihat ke mana.
Arka merasa seperti salah masuk sarang wanita kaya yang terlalu tahu dirinya menarik.
"Kalian jangan menakuti sepupuku," kata Maya sambil tertawa. Ia menoleh ke Bianca. "Aku ganti baju dulu."
Bianca naik dari kolam dan mengambil handuk. "Cepat. Jangan biarkan mereka membuat tamumu kabur."
Maya mengedip pada Arka. "Tunggu di sini. Jangan sampai dimakan mereka."
Setelah Maya masuk ke vila, Arka berdiri sendirian di tepi kolam. Ia sebenarnya ingin mencari alasan pergi ke ruang tamu, tetapi Liana dan beberapa perempuan lain sudah mengelilinginya seperti menemukan mainan baru.
Liana menyentuh dada kemejanya dengan ujung jari. "Sepupu Maya badannya lumayan juga. Mau turun ke kolam?"
"Aku tidak bawa pakaian renang."
"Lebih praktis lagi."
Tawa perempuan-perempuan itu pecah. Arka hanya bisa batuk kecil. Kalau dulu ia masih menjadi pelayan rendah diri, mungkin ia sudah kabur. Sekarang ia tetap tidak tahu harus menanggapi wanita-wanita seperti ini, tetapi setidaknya ia tidak terlihat terlalu menyedihkan.
"Sudah," suara Bianca memotong dari samping. Ia mengeringkan rambut dengan handuk, tubuhnya dibalut kain putih yang membuat dinginnya wajahnya semakin jelas. "Dia tamu Maya. Jangan berlebihan."
Liana mengangkat kedua tangan. "Baik, Bu Bos."
Arka menatap Bianca sebentar dengan rasa terima kasih. Wanita itu tidak membalas tatapannya. Ia hanya mengusap rambutnya lagi.
Namun gerakan Bianca tiba-tiba berhenti.
Handuk di tangannya jatuh.
Wajahnya kehilangan warna.
"Bianca?" Liana lebih dulu sadar ada yang salah.
Tubuh Bianca goyah dan jatuh ke arah kursi santai.
Arka bergerak paling cepat. Ia menyambar pergelangan tangan Bianca, merasakan denyut nadinya, lalu wajahnya langsung berubah. Warisan Hantala di dalam dadanya bereaksi, memberi gambaran aliran dingin yang mengunci tubuh wanita itu.
Ini bukan pingsan biasa.
Ia menopang bahu Bianca dengan satu tangan, lalu menekan titik di dekat dada bagian atas dengan dua jari. Tenaga hangat mengalir dari tubuhnya ke titik itu.
"Hei! Apa yang kamu lakukan?" Liana berteriak.
"Lepaskan Bianca!"
"Kamu pegang di mana? Dasar kurang ajar!"
Para perempuan di tepi kolam langsung panik dan marah. Bagi mereka, Arka hanyalah sepupu jauh Maya yang baru muncul hari itu. Bianca adalah pemilik vila, pemilik perusahaan, dan wanita yang tidak boleh disentuh sembarang orang.
Arka tidak melepas tangannya. "Kalau kalian tidak mau dia mati, diam."
Kalimat itu membuat semua orang membeku.
Liana marah sampai wajahnya merah. "Mati? Kamu malah mengutuk dia?"
"Dia bukan pingsan biasa. Kesadarannya masih ada, tapi tubuhnya terkunci. Kalau kalian mengganggu aliran napasnya sekarang, kondisinya bisa kacau." Arka menekan titik itu lebih stabil. "Dia akan seperti mayat hidup sebentar, lalu tubuhnya kehilangan kendali, dan kalau lebih buruk, napasnya berhenti pelan-pelan."
"Omong kosong!" salah satu perempuan mengeluarkan ponsel. "Aku panggil keamanan."
"Panggil siapa pun setelah dia bernapas normal." Suara Arka turun, tetapi justru lebih tajam. "Sekarang mundur."
Perempuan-perempuan itu saling menatap. Tidak ada yang benar-benar percaya. Penyakit macam apa yang membuat orang sadar tetapi tidak bisa bergerak? Di mata mereka, Arka hanya sedang mencari alasan agar tidak terlihat seperti laki-laki yang mengambil kesempatan dari tubuh Bianca.
Liana menggenggam ponselnya dengan tangan gemetar.
"Kalau kamu bohong," katanya, "aku sendiri yang akan membuat Maya menyeretmu ke depan Bang Jaya."
Arka tidak menjawab.
Ia hanya terus menyalurkan qi, sementara wajah Bianca tetap pucat dan tepi kolam dipenuhi kepanikan yang hampir meledak.