NovelToon NovelToon
Rahasia Perjodohan Anak SMA

Rahasia Perjodohan Anak SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Teen
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: ainuncepenis

"Apa kita berdua dijodohkan!" Celia dan Alfian sama-sama terpeki kaget ketika orang tua mereka merencanakan Perjodohan di masa muda mereka.
"Benar sekali," sahut Darius.
"Ini tidak masuk akal. Pa, kami berdua masih sekolah dan bahkan kami tidak akrab," sahut Alfian.
"Tenanglah Alfian, justru perjodohan ini akan membuat kalian akrab dan belajar untuk menuju hidup di masa depan," aahhh Darius.

Alfian dan Celia benar-benar tidak menyangka bahwa mereka akan dijodohkan, mereka sudah mencoba untuk protes, tetapi para orang tua itu menginginkan hubungan mereka diikat dalam ikatan pertunangan.
Alfian dan Celia saling bertukar cincin sebagai ikatan diantara mereka berdua jika ada hubungan spesial yang tidak akan terpisahkan oleh apapun.

Raut wajah Alfian dan Celia terlihat murung, tidak memiliki pilihan selain menuruti permintaan orang-orang dewasa.
Celia terpaksa melakukannya agar memiliki akses lebih luas untuk bisa sekolah di luar negeri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34 Kecewa

"Apa-apaan sih Alfian, silau tahu!" kesal Celia.

"Kamu yang apa-apaan tiba-tiba sudah ada sini hah?" tanya Alfian dengan kesal.

"Tutup dulu itu celananya!" Celia meras takut jika harus berhadapan dengan adik kecil Alfian.

"Sudah!" tegas Alfian.

"Bohong!" Celia terdengar tidak percaya.

"Udah di tutup belum!" ucap Celia masih tidak percaya.

"Sudah Celia!" tegas Alfian dengan mengayun suaranya.

Celia mencoba memastikan dengan membuka secara perlahan matanya, mengintip terlebih dahulu dan memastikan bahwa memang benar Alfian sudah menutupnya.

"Sudah bukan?" tanya Alfian.

Celia tidak mengatakan apapun, wajahnya mendadak memerah seperti kepiting rebus, betapa malunya Celia yang terjebak dalam hal itu.

"Kamu apa-apaan Celia, apa nggak punya kerjaan hah!" kesal Alfian.

"Kamu ngapain tiba-tiba ada di sini, ngintipin dari tadi?" tebak Alfian.

"Nggak usah kepedean, aku juga nggak tahu kalau ternyata kamu buang air kecil, lagian kamu ngapain coba buang air kecil di tempat seperti ini? Kayak nggak punya kerjaan?" tanya Celia.

"Kenapa jadi aku yang di salahkan, terserah ingin buang air kecil di mana yang menjadi pertanyaan, kenapa kamu ada di sini? Kamu ngikuti dan ngintip?" tanya Alfian masih menunggu jawaban Celia.

Celia diam, dia tampak kebingungan membuat Alfian kembali menyorot wajahnya dengan senter.

"Alfian silau tahu!" kesal Celia mencoba melindungi wajannya dengan tangannya.

"Jawab!" tegas Alfian.

"Ya aku pikir tadi kamu mau coba ... coba..."

"Coba apapan?" tanya Alfian dengan penasaran.

"Coba itu, apa namanya....."

"Apa Celia?" Alfian sudah tidak sabaran.

"Ya aku pikir kamu mau pake narkoba," jawabnya dengan tegas membuat Alfian mengerutkan dahi.

"Kamu bilang apa?" pekik Alfian.

Celia kesulitan menelan ludahnya melihat reaksi Alfian.

"Astaga...." Alfian mengusap wajahnya menggunakan kedua tangannya.

"Celia, jadi kamu berpikiran bahwa aku pemakai narkoba!" tebak Alfian.

"Memang kamu tidak memakainya?" tanya Celia.

"Celia, jadi memang penilaian kamu sama aku seburuk itu, kamu pikir aku tidak waras menggunakan barang-barang seperti itu hah! Apa di mata kamu aku orang yang tidak tahu batasan?" tanya Alfian terlihat begitu kecewa.

"Ya, maka dari itu kamu jawab saja, kamu memakainya apa tidak?" tanya Celia dengan gugup.

Alfian geleng-geleng kepala dengan mendengus kasar.

"Payah!" umpat Alfian berdesis dan kemudian berlalu dari hadapan Celia.

"Alfian kamu mau kemana? Apa maksud kamu payah! Alfian?" Celia memanggil-manggil Alfian yang di abaikan Alfian sejak tadi.

"Alfian..."

"Alfian...."

"Isss kenapa juga aku harus di tinggal sih, apa coba maksud dari perkataannya?" Celia bertanya-tanya.

"Issss, aku sebaiknya pergi saja!" Celia melihat di sekitarnya dan merasa horor yang membuatnya buru-buru meninggalkan tempat tersebut menyusul Alfian.

*******

"Alfian tunggu...."

"Alfian...."

Alfian berjalan dengan langkahnya yang sangat cepat dan Celia harus menyusul Alfian yang masih di penuhi dengan kekesalan.

"Alfian...."

"Kok tega banget sih, ninggali, aku ini cewek lo, kalau sampai kenapa-napa gimana? Katanya mau tanggung jawab sama Om Darius, di hutan belantara seperti ini tega ninggali gue," Celia tidak henti-hentinya mengoceh.

Alfian menghela nafas, menemukan batu besar dan kemudian duduk di sana.

Nafas Celia memburu menghampiri Alfian.

"Alfian capek tahu ngejar dari tadi," ucap Celia dengan nafas naik turun yang sudah berdiri di samping Alfian dengan memegang kedua lututnya.

Celia memperhatikan wajah Alfian yang masih tetap ketus, seperti wanita pms. Tetapi masih untung Alfian menunggu Celia.

"Celia kapan kamu bisa punya pikiran positif sedikit saja kepadaku hah?"

"Kamu bisa-bisanya berpikiran bahwa aku seorang pemakai," ucap Alfian membuat Celia kesulitan menelan ludahnya.

"Alfian jangan marah-marah mulu kayak wanita pms tahu, kamu tinggal bilang aja, kamu sebenarnya konsumsi barang-barang seperti atau tidak?" tanya Celia.

Alfian kembali menatapnya dengan tajam.

"Kamu masih berpikiran jika aku memakai barang-barang haram itu?" tanya Alfian.

"Ya makanya jawab di pakai apa tidak?" tanya Celia dengan menekan suaranya.

Alfian menghela nafas dan geleng-geleng kepala.

"Nggak nyangka Celia, pemikiran kamu kepadaku, tidak pernah berubah sama sekali, kamu terus seperti ini," ucap Alfian dengan nada suaranya yang penuh kekecewaan.

"Aku memang selalu menimbulkan banyak masalah di sekolah, tetapi bukan berarti Celia aku tidak tahu batasan," sahut Alfian.

"Kamu mengikutiku, mengarahkan kamera kepadaku dan untuk apa, kamu memataiku menggunakan barang-barang haram itu atau tidak, atau justru kamu ingin mencari bukti dan memperlihatkan kepada kedua orang tuaku, kamu cari-cari perhatian dan sok pahlawan untuk mereka?" tanya Alfian.

"Oke maaf...." Celia akhirnya mengalah dan meminta maaf, karena menyadari apa yang telah dia lakukanlah benar-benar salah.

"Iya Alfian, aku minta maaf atas apa yang sudah aku lakukan, kamu benar aku memang punya pikiran kalau kamu bukan hanya kecanduan vave, tetapi juga barang-barang seperti itu, kamu benar aku memata-matai kamu dan ketika mendapatkan bukti bahwa kamu memang seorang pemakai dan di saat itu aku bisa menunjukkan buktinya pada Om Darius dan akhirnya perjodohan kita di batalkan," ucap Celia.

Alfian semakin mengerutkan dahi mendengar pernyataan Celia.

"Apa! Kamu ingin perjodohan kita di batalkan?" tanya Alfian memastikan.

"Ya karena menurutku tidak ada gunanya dengan perjodohan ini, aku juga menyesal masuk SMA Bintang, jujur saja aku menerima perjodohan ini agar punya akses untuk masuk universitas luar negeri, tetapi pada kenyataan aku tertinggal banyak di sekolah, anak-anak SMA Bintang cerdas-cerdas, mereka mengikuti banyak ekstrakurikuler dan nilai mereka bisa bertambah dan sementara aku selalu tertinggal, lebih baik aku berusaha di sekolahku yang lama dan aku yakin guru-guru SMA akan melakukan berusaha yang besar agar aku bisa memasuki universitas kedokteran Luar Negeri," ucapnya dengan jujur.

"Artinya secara tidak langsung kamu sekarang menyerah, kamu tidak ingin bersaing dengan murid-murid SMA Bintang, kamu lebih suka menjadi orang pintar di tengah kebodohan murid lain dari pada menjadi yang paling terakhir di antara murid-murid yang berprestasi?" tanya Alfian

"Tetapi percuma saja melakukan usaha ini dan itu, pada kenyataannya bukan hanya murid-murid saja yang melakukan persaingan, tetapi juga orang tua para murid ikut andil untuk prestasi anak-anak mereka," ucap Celia.

"Kamu bilang apa Celia?" tanya Alfian.

"Kamu bukan hanya menuduhku memakai narkoba, tetapi kamu juga menuduh murid-murid SMA Bintang tidak jujur dalam prestasi mereka?" tebak Alfian membuat Celia terdiam.

"Kamu yakin Celia ini semua berasal dari pikiran kamu?" tanya Alfian tidak yakin.

"Celia kamu dengarkan aku. Aku tidak tahu dari mana kamu tiba-tiba punya pikiran seperti itu yang menganggap anak-anak SMA Bintang memiliki prestasi karena campur tangan orang tua dan kamu sudah pasti berpikiran seperti itu kepadaku,"

"Murid-murid SMA Bintang bersaing secara sehat dan orang tua tidak pernah ikut campur. Kalau saja Papa atau Mama ikut campur ambil alih untuk mempertahankan juaraku di kelas, sudah pasti banyaknya masalah yang aku timbulkan tidak akan di pedulikan mereka dan akan terus membelaku, aku tidak akan di ancam untuk di pindahkan ke luar negeri!" tegas Alfian membuat Celia terdiam.

"Semua murid-murid di SMA Bintang, punya cara tersendiri untuk mempertahankan prestasinya, memang kamu tidak melihat bagaimana mereka belajar mati-matian!" tegas Alfian.

"Jika kamu merasa tertinggal, seharusnya tidak perlu menuduh murid-murid SMA Bintang tidak jujur dalam juara!" tegas Alfian.

Bersambung.....

1
Alex
cie...
Japa Yipo
yang kelihatan sempurna blm tentu benar menurut orang yang jalanin🙃 ya memandang sesuatu Jang hanya satu cara saja
Emi Sudiarni
mantap kak
Emi Sudiarni
bgus, kak snang bca klw membuat novel. tentang. sma atau khidupan di kampus
Enz99
bagus
Oma Gavin
ortu egois yg ada valery gila
Herman Lim
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!