Dua tahun lalu, Tsania memilih mengakhiri hubungannya dengan Arsen, pria yang sangat ia cintai. Bukan karena cinta itu hilang, melainkan karena sebuah rahasia pahit yang memaksanya pergi tanpa penjelasan. Sejak saat itu, mereka menjalani hidup masing-masing, menyimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Takdir mempertemukan mereka kembali dengan cara yang paling menyiksa.
Hari pertama bekerja di perusahaan impiannya berubah menjadi mimpi buruk ketika Tsania mengetahui bahwa CEO muda yang dingin, arogan, dan disegani semua orang adalah Arsen, mantan kekasih yang pernah ia tinggalkan. Kini, Arsen adalah bosnya.
Bagi Arsen, pertemuan itu bukan kebetulan, melainkan kesempatan untuk membalas rasa sakit yang selama ini ia pendam. Ia bersikap dingin, memberi tugas-tugas sulit, dan terus menguji kesabaran Tsania. Namun, di balik tatapan tajam dan sikap tak berperasaannya, masih tersimpan cinta yang tak pernah benar-benar padam.
apakah yang akan terjadi kepada mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tsania 18
Arsen melangkah keluar dari ruangan Raihan dengan dada yang terasa sedikit lebih lapang, walau kepahitan masih menyumbat tenggorokannya. Langkah kakinya menyusuri koridor lantai delapan, tidak lagi membawa keangkuhan seorang CEO, melainkan tekad dingin seorang pria yang siap mempertaruhkan segalanya.
Baru saja ia tiba di depan pintu lift eksekutif, ponsel pribadinya bergetar hebat. Nama Danu tertera di layar.
"Ada apa, Nu?" tanya Arsen begitu menggeser tombol hijau.
"Arsen, kamu harus ke rumah sakit sekarang. Tapi bukan lewat pintu depan," suara Danu terdengar tegang dan tertahan di seberang telepon.
"Aurelia ada di RS YPK Mandiri."
Langkah Arsen terhenti seketika. Manik matanya berkilat tajam bagai belati. "Apa yang dia lakukan di sana?!"
"Dia mencoba mencari tahu keberadaan Tsania," jawab Danu cepat.
"Pak Bisma rupanya belum sepenuhnya percaya kalau Tsania sudah dipindahkan ke rumah sakit lain. Aurelia datang membawa dua pengawal keluarga Pratama. Dia sedang berada di bagian administrasi lantai dasar, menuntut staf rumah sakit membuka data seluruh pasien rawat inap!"
"Tahan wanita itu, Danu! Jangan sampai dia naik ke lantai VVIP!" bentak Arsen setengah berbisik, menahan amarahnya agar tidak menjadi tontonan staf di koridor.
"Aku sudah meminta manajemen rumah sakit mengulur waktu dengan dalih privasi pasien dan sistem komputer yang sedang error," jelas Danu.
"Tapi Aurelia mulai mengamuk dan mengancam akan mencabut dana sponsor dari keluarga Pratama untuk RS ini. Kamu harus ke sini untuk membereskannya secara langsung, Arsen. Tapi ingat, jangan lepas topengmu!"
"Sepuluh menit. Aku sampai."
Arsen mematikan sambungan telepon. Ia membatalkan niatnya kembali ke ruang kerja, lalu melangkah lebar menuju tangga darurat untuk langsung turun ke pelataran parkir basement. Kemeja hitamnya yang tergulung hingga siku kembali dirapikan. Ia menyambar kunci mobil sport miliknya, menembus kemacetan Jakarta dengan kecepatan di atas rata-rata.
Sepuluh menit kemudian, atmosfer di lobi utama RS YPK Mandiri mendadak mencekam.
Aurelia berdiri anggun dengan gaun desainer berwarna merah menyala, melipat tangan di dada dengan raut wajah penuh kesombongan. Di belakangnya, dua pria berbadan tegap bersetelan jas hitam berdiri siaga. Di hadapannya, seorang petugas administrasi wanita tampak gemetar, menunduk ketakutan.
"Kamu tahu tidak siapa saya?!" bentak Aurelia, suaranya melengking hingga memancing perhatian para pengunjung rumah sakit.
"Saya calon istri Arsen Pratama! Keluarga kami menyumbang miliaran rupiah untuk fasilitas rumah sakit ini! Buka data pasien atas nama Tsania sekarang juga, atau saya pastikan kamu dipecat hari ini!"
"Ma...maaf, Ibu... Data pasien rawat inap bersifat sangat rahasia dan..."
"Tutup mulutmu!" potong Aurelia kasar, menepuk meja resepsionis dengan tas mewahnya.
"Saya tahu perempuan murahan itu pura-pura sakit di sini! Dia cuma mau menarik simpati Arsen! Buka datanya sekarang!"
"Aurelia!"
Sebuah suara berat yang menggelegar memotong keanarkisan wanita itu. Aurelia terperanjat dan langsung berbalik. Sorot matanya yang tadinya penuh amarah mendadak melunak, berganti dengan binar kebingungan saat melihat Arsen melangkah lebar mendekatinya dengan raut wajah sangat dingin.
"Arsen?" gumam Aurelia, memaksakan senyum anggunnya kembali.
"Kamu... kenapa kamu ada di sini?"
Arsen berhenti tepat dua tapak di hadapan Aurelia. Tatapannya menusuk tajam, membuat dua pengawal pribadi di belakang Aurelia refleks mundur setengah langkah karena segan.
"Apa yang kamu lakukan di rumah sakit ini, Aurelia?" tanya Arsen dengan suara rendah namun sarat ancaman.
"Bikin keributan di depan umum? Mengancam staf rumah sakit?"
Aurelia menyilangkan tangannya kembali, mencoba menutupi kegugupannya. "Aku cuma mau memastikan, Arsen! Om Bisma bilang perempuan bernama Tsania itu dilarikan ke rumah sakit semalam. Aku cuma mau memastikan dia tidak menggunakan nama Pratama Group untuk memeras fasilitas di sini! Kenapa kamu malah marahi aku?"
Arsen memejamkan mata sejenak, mengontrol gemuruh amarah di dadanya. Ia mengingat pesan Danu. 'pasang perisaimu, jangan lepas topengmu.'
Ketika Arsen membuka matanya kembali, pandangannya berubah menjadi sangat datar dan meremehkan.
"Kamu meragukan keputusanku, Aurelia?" tanya Arsen dingin.
Aurelia tertegun. "Maksudmu?"
"Aku yang memerintahkan Danu untuk menyelesaikan urusan staf itu secara profesional," tutur Arsen, merangkai kebohongan dengan sangat rapi dan tenang.
"Dia sudah dipindahkan ke rumah sakit umum kelas tiga di luar Jakarta karena kondisinya dianggap menular dan mengganggu. Nama Pratama Group sudah dibersihkan dari seluruh penjaminannya."
Aurelia membelalakkan mata, tampak terkejut sekaligus puas mendengar penjelasan Arsen. "Benarkah? Kamu tidak bohong padaku, kan?"
"Untuk apa aku berbohong padamu dan membahayakan investasi keluarga kita?" balas Arsen sinis, melangkah mendekat dan menatap Aurelia dari atas ke bawah.
"Tindakanmu yang datang ke sini sambil menjerit-jerit seperti wanita tidak berpendidikan justru yang merusak nama baik keluarga Pratama dan keluargamu sendiri."
Wajah Aurelia memerah padam akibat sindiran telak itu. "Arsen! Aku melakukan ini karena aku peduli padamu!"
"Jika kamu peduli padaku, pulang sekarang," perintah Arsen tanpa kompromi.
"Fokus saja pada persiapan makan malam pertunangan pekan depan. Jangan campuri urusan operasional atau staf kantor lagi. Kalau Papa tahu kamu mengamuk di tempat umum seperti ini, kamu pikir dia akan senang?"
Mendengar nama Pak Bisma disebut, keangkuhan Aurelia melunak seketika. Ia tahu betapa ketatnya Pak Bisma menjaga citra publik keluarga mereka.
"Baiklah..." bisik Aurelia akhirnya, melangkah mendekati Arsen dan mencoba mengusap dada kemeja pria itu.
"Aku minta maaf kalau aku terlalu emosional. Aku cuma takut kamu berpaling lagi padanya, Arsen."
Arsen tidak menepis tangan Aurelia, walau hatinya bergejolak jijik luar biasa. Ia membiarkan wanita itu menyentuhnya sejenak demi menyempurnakan aktingnya.
"Aku tahu apa yang harus kulakukan, Aurelia," sahut Arsen datar. "Sekarang, pulanglah."
Aurelia tersenyum puas, merasa telah memenangkan pertarungan tersebut.
"Sampai ketemu nanti malam ya, sayang. Om Bisma mengundang kita makan malam bersama di rumah."
"Ya," jawab Arsen singkat.
Aurelia berbalik, melangkah anggun meninggalkan lobi rumah sakit diikuti kedua pengawalnya. Arsen memperhatikan punggung wanita itu hingga menghilang di balik pintu kaca otomatis.
Begitu Aurelia benar-benar pergi, Arsen mendesis kasar. Ia menyapu dada kemejanya yang sempat disentuh Aurelia dengan raut wajah penuh kejijikan.
Danu keluar dari balik pilar lobi, melangkah cepat mendekati Arsen. "Langkah yang sangat cerdik, Arsen. Aurelia menelan kebohongan itu bulat-bulat."
"Di mana kamar Tsania?" tanya Arsen langsung, memotong pembicaraan tanpa mau membuang waktu lagi.
"Lantai enam, ruang VVIP nomor 601," jawab Danu seraya memandu jalan menuju lift khusus staf medis.
"Kondisinya baru saja dipindahkan sepuluh menit lalu. Dia sedang tertidur pulas akibat pengaruh obat penenang dari dokter."
Pintu tegap berlapis kayu mahoni ruang VVIP 601 terbuka perlahan tanpa suara.