NovelToon NovelToon
Novel Mecha "GEAR TEARS"

Novel Mecha "GEAR TEARS"

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Romansa Fantasi / Kehidupan Tentara
Popularitas:354
Nilai: 5
Nama Author: KIRA

GEAR TEARS
Novel Bertema Mecha Militer

Di dunia yang telah hancur oleh kemunculan makhluk misterius bernama Cataclysm, umat manusia hanya mampu bertahan hidup di dalam kubah raksasa yang disebut Station. Untuk melindungi peradaban yang tersisa, organisasi militer The Hawk membentuk pasukan elit Grey Wings, para pilot yang mengendalikan robot tempur raksasa bernama Neo Gear.

Shin, seorang pilot muda Grey Wings Station 05, menjalani hidupnya seperti pilot lainnya hingga bertemu dengan seorang wanita misterius bernama Belial. Dengan tanduk biru, ekor panjang, dan kekuatan yang melampaui manusia biasa, Belial menyimpan rahasia yang dapat mengubah segalanya: ia adalah seorang hybrid manusia dan Cataclysm.

Di tengah meningkatnya serangan Cataclysm dan konspirasi yang tersembunyi di balik organisasi The Hawk, Shin dan Belial perlahan membangun ikatan yang seharusnya tidak pernah ada. Namun, ketika masa lalu yang telah lama dikubur mulai bangkit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KIRA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 22 "Sangkar burung"

Chapter 22

Hujan abadi terus mengguyur kompleks Birdcage, menimpa kaca-kaca jendela besar dan menciptakan irama konstan yang dingin. Sebelum melangkah masuk ke dalam bangunan, Shin sempat menghentikan langkahnya di dekat pintu kaca utama. Ia menatap ke langit kelabu yang seolah tak pernah habis menumpahkan air.

“Hujan abadi...” gumam Shin lirih dalam hati, membiarkan helaan nafasnya mengembun tipis di permukaan kaca sebelum ia akhirnya berbalik dan berjalan menyusul rekan-rekannya. Saat melangkah masuk ke area aula utama, suasana mendadak berubah hangat. Di dalam, anak-anak Birdcage sedang berlari dan bermain dengan riang gembira, seolah melupakan kelamnya dunia di luar. Sua menghentikan langkahnya, pandangannya terlempar jauh ke sebuah sudut ruangan yang tenang, tempat di mana belasan tahun lalu ia pertama kali mengenal sosok Shin. Senyum tipis mengembang di bibirnya saat kenangan indah itu kembali terlintas.

Lei tiba-tiba berdiri di samping Sua, menatap ke arah titik yang sama. Ruangan itu terasa sunyi di antara mereka, hanya dihiasi suara kipas ventilasi yang berputar samar dari langit-langit. “Teringat sesuatu?” tanya Lei pelan, berusaha menjaga suaranya agar tidak memecah keheningan di antara mereka. Sua menghela napas singkat, matanya tak sedikit pun lepas dari sudut ruangan yang kini kosong itu. “Ahh... tidak... hanya saja...” Ucapannya terhenti sejenak, di udara menggantung keraguan sebelum ia melanjutkan, “tempat itu... di sanalah pertama kali kita bertemu Shin.” Lei mengangguk perlahan, tatapannya menyipit. “Jujur saja, aku tidak tahu apa yang ada di pikirannya saat itu. Dia selalu menyimpan semuanya sendiri.”

Sua menunduk, raut wajahnya mendadak terasa berat, seakan terbebani oleh kekhawatiran yang kian menumpuk saban harinya. Namun selang beberapa detik, ia kembali mendongak dan menatap Lei dengan mantap. Suaranya terdengar tegas meski tersirat getaran samar. “Apapun yang terjadi... kita harus melindungi Shin.” Lei terdiam sesaat, memproses kesungguhan dalam kata-kata Sua, sebelum akhirnya mengangguk pelan. “Ya. Kita tak boleh membiarkan dia berjuang sendirian lagi.”

Sementara itu di Markas Highlander, derap langkah seorang Nathan, pria muda berambut merah memantul keras di sepanjang koridor yang sepi. Langkahnya terhenti di depan pintu besi berukir lambang The Hawk. Begitu pintu otomatis bergeser terbuka, ia melangkah masuk tanpa ragu sedikit pun. Tatapan matanya yang tajam dan dingin seketika membuat suasana di dalam ruangan rapat yang dipenuhi figur-figur berwibawa itu mendadak tegang. “Mentang-mentang kau pilot Silver Gear, kau pikir kau bisa mampir ke sini seenaknya, hah?!” bentak salah satu petinggi The Hawk bertubuh pendek dengan nada melengking dan penuh amarah.

Pemuda itu hanya terkekeh kecil. Ia melipat kedua tangannya di dada, memamerkan senyum congkak yang kian memancing emosi orang-orang di ruangan tersebut. “Hey... lebih ramah sedikit dong, Kakek Tua. Jangan membuat suasana jadi makin suram,” sahutnya santai, lalu melirik ke arah kursi utama. “Kasihan anak kecil ini kalau mendengar bentakanmu... Bukan begitu? Papa?” lanjutnya seraya menunjuk ke arah Kougen, pemimpin tertinggi The Hawk.

Beberapa petinggi langsung bersungut-sungut, beberapa di antaranya bahkan memukul meja. Namun Kougen, sang pemimpin, tetap tenang. Matanya yang tajam menatap lurus ke arah pemuda berambut merah itu. “Aku menyelamatkan hidupmu dari kehancuran... berarti kini tiba giliranmu untuk membalas budi, Nathan,” ucap Kougen dengan suara berat yang menggelegar tenang namun penuh penekanan. Nathan mendengus keras, memutar matanya dengan malas. “Aduh... ngerepotin banget sih, Pak Tua. Lagi pula... aku ini berbeda dengan kalian semua di sini.” Nada suara Nathan mendadak merendah, menyisakan ketegangan baru di ruangan itu. “Aku tidak pernah setuju dengan rencana Second Catastrophe atau skenario kiamat buatan pendahulu kalian itu.” “Apa katamu?!” potong petinggi bertubuh pendek tadi. “Aku cuma bicara fakta,” jawab Nathan seenaknya sambil mengibaskan tangan. “Memaksa hal itu terjadi sama saja artinya dengan mempercepat kiamat kita sendiri. Bodoh namanya.” Ruangan langsung pecah dalam kegaduhan. Suara protes dan teriakan marah bersahutan dari berbagai arah.

“Hey bocah! Mana sopan santunmu?! Dia tidak mengadopsimu untuk jadi orang yang tak tahu hormat!” teriak petinggi bertubuh pendek itu lagi, wajahnya sudah merah padam karena emosi. Kougen perlahan mengangkat sebelah tangannya. Seketika itu pula, seluruh kegaduhan menyurut, berganti dengan keheningan yang mencekat. “Biarkan dia bicara,” tegas Kougen, matanya masih terkunci pada Nathan. “Tapi ingat posisi dan tugasmu, Nathan. Jangan melompati batasanmu.”

Empat belas tahun lalu, suasana Birdcage belum sehangat sekarang. Di sebuah ruangan sederhana, Sua kecil duduk menyendiri di pojokan. Matanya menatap kosong ke arah anak-anak lain yang sedang berkejar-kejaran dan tertawa riang. Tangannya meremas kuat-kuat ujung bajunya yang agak kusam, enggan dan takut untuk mencoba berbaur. Tiba-tiba, sebuah tangan kecil terulur di hadapannya. “Namaku Shin. Kamu siapa?” Sua mendongak terkejut. Di hadapannya berdiri seorang anak lelaki dengan senyum tulus yang mengembang lebar. Mata anak itu berbinar penuh kehangatan, seolah tidak melihat kecanggokannya sama sekali. Sua sempat ragu, jemarinya makin erat meremas kain bajunya, sebelum akhirnya menjawab lirih, “Sua...”

“Su... a?” Shin mengulang nama itu perlahan, merasakannya di lidah, lalu tersenyum lebih lebar. “Wah, nama yang sangat bagus! Suara kamu juga lembut!” Pipi Sua seketika memerah mendengarnya. Ia buru-buru menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan rasa malu dan kehangatan asing yang mendadak memenuhi dadanya. Tak lama kemudian, derap langkah lain mendekat. Seorang anak lelaki berambut acak acakan menyembul dari balik punggung Shin dengan rasa ingin tahu yang besar.

“Hei, Shin! Lagi ngapain?” tanya anak itu, lalu menunjuk dirinya sendiri dengan bangga. “Namaku Lei! Aku lihat kalian dari tadi di sini.” Shin menoleh ke arah Lei, wajah serius khas anak-anaknya mendadak melunak dan berganti menjadi senyuman penuh semangat. “Lei... namamu juga keren banget!” jawab Shin riang. “Benarkah? Kalau begitu kita bertiga berteman mulai sekarang!” seru Lei. Momen sederhana di sudut ruangan dingin itu menjadi titik awal segalanya. Sejak hari itu, tawa dan langkah kaki ketiganya seolah terkunci dalam satu ikatan yang tak terpisahkan.

Namun, tidak semua anak di Birdcage bernasib sama. Di sisi lain halaman Birdcage yang ditutupi terop hujan, seorang anak kecil tengah dikerumuni oleh rombongan anak-anak lain. Sikap Cengengnya justru menjadi bahan ejekan dan dorongan kasar. “Lihat dia mulai nangis! Aneh banget, seperti cewek!” ejek seorang anak sambil mendorong bahunya hingga ia hampir tersungkur. Anak Cengeng itu hanya bisa menunduk dalam-dalam. Bibir kecilnya bergetar hebat menahan tangis yang mendesak keluar, hingga akhirnya bulir-bulir air mata menetes tak tertahankan membasahi tanah kering di bawahnya. “Cukup! Jangan ganggu dia lagi!”

Sebuah suara lantang memecah kerumunan itu. Shin tiba-tiba sudah melangkah maju dan pasang badan di depan anak berambut abu-abu tersebut. Tubuh kecilnya berdiri tegak, membusungkan dada meski ia tahu jumlah mereka jauh lebih banyak. Tatapan mata Shin memancarkan keberanian yang tak tergoyahkan. “Jangan ikut campur, Shin! Dia itu aneh!” gertak salah satu anak. “Dia tidak aneh! Kalian yang jahat!” balas Shin tanpa rasa takut sedikit pun.

Melihat ketegasan Shin dan kepalan tangannya yang siap bertarung, anak-anak nakal itu saling pandang. Merasa malas berurusan dengan Shin, mereka akhirnya bubar sambil menggerutu kesal. Setelah situasi aman, Shin berbalik. Anak berambut abu-abu itu menatap Shin dengan mata yang sembab dan basah oleh air mata. “K-kenapa... kau menolongku?” ucapnya terbata-bata, masih terisak. Shin berlutut kecil di hadapannya. Tanpa ragu, jemari kecilnya terulur mengusap lembut air mata yang tersisa di pipi anak itu. “Karena kita teman! Dan sesama teman harus saling menjaga!” ucap Shin mantap, lalu menyodorkan kepalan tangannya ke udara. “Namaku Shin. Nama kamu siapa?”

Anak itu terisak sekali lagi, namun kali ini ada ukiran senyum tipis di bibirnya. Tanpa diduga, ia memeluk Shin dengan erat sebelum melepaskannya dan membalas kepalan tangan Shin. “Sei... namaku Sei...” Anak cengeng itu adalah Sei. Sosok yang kini dikenal semua orang sebagai pribadi yang pendiam, dingin, dan amat tertutup. Namun jauh di masa kecilnya, ia hanyalah seorang anak yang amat rapuh dan cengeng—sampai Shin hadir dan menjadi orang pertama yang mengajarkannya arti sebuah persahabatan.

Di masa kini, Sei berdiri termenung sendirian di halaman Birdcage yang lengang. Angin sore berembus pelan, membawa aroma tanah basah dan sisa-sisa hujan yang membangkitkan kenangan berdebu di kepalanya. Pandangan matanya terhenti di satu titik, sudut halaman tempat dulu Shin pernah pasang badan menolongnya. Tempat itu juga yang menjadi saksi saat mereka berdua berlari menembus hujan deras, tertawa lepas tanpa memikirkan beratnya masa depan. “Berjanjilah! Suatu saat nanti, kita berdua harus jadi pilot bersama-sama!” teriak Sei kecil saat itu, suaranya bersaing dengan gemuruh hujan. Tangannya menggenggam jemari Shin erat-erat, tubuh mereka berdua basah kuyup namun mata mereka menyala penuh impian. “Ya, aku janji! Kita akan terbang di langit yang sama!” sahut Shin kecil saat itu dengan senyum lebar penuh keyakinan.

Namun, janji manis itu musnah dihantam realita. Shin mendadak diperlakukan istimewa oleh pihak The Hawk. Ia dipisahkan, ditarik ke dalam lingkaran tak tersentuh, dan secara perlahan dijauhkan dari Sei. Sekat tebal yang dibangun oleh manipulasi orang-orang dewasa membuat mereka tak lagi bisa berjalan di jalur yang sama. Hingga akhirnya, Shin pergi tanpa pamit, meninggalkan Sei yang terpaku sendirian seolah tega menghempaskan janji masa kecil yang pernah menjadi alasan Sei untuk terus bertahan.

Kini, berdiri di titik yang sama belasan tahun kemudian, dada Sei terasa sesak. Campuran amarah, kekecewaan mendalam, dan rasa rindu yang tertahan bergulat hebat di dalam batinnya. “Shin... kenapa harus jadi seperti ini?” gumam Sei lirih, tatapan matanya tak pernah lepas dari tanah basah yang kini terasa begitu asing dan dingin.

Keheningan di Birdcage pecah saat alarm internal mereka berbunyi. Tim Grey Wings 05 segera berkumpul di lobby utama setelah menerima panggilan darurat dari Komandan Ace. “Dengar semuanya,” suara Komandan Ace terdengar tegas melalui pengeras suara internal. “Pengawas radar mendeteksi sekelompok Cataclysm bertipe Quadrupedal berkelas Angel mendekati batas wilayah. Secara ancaman mereka bukan level kritis, tapi harus segera diatasi sebelum merusak struktur luar. Tim 05, kalian bergerak sekarang!”

“Siap, Komandan!” sahut Sua mewakili tim. Di bawah guyuran hujan deras dan langit malam yang tertutup awan mendung tebal, Tim Grey Wings 05 mengerahkan Gear mereka meluncur ke medan tempur. Formasi mereka terbentuk rapi dan presisi di udara, membelah tirai air hujan. Namun, di dalam kokpit Bird of Paradise, kondisi Shin jauh dari kata stabil.

Keringat dingin membasahi wajah Shin. Tubuhnya berguncang hebat di atas kursi kendali, dadanya terasa seperti dihantam beban ribuan ton. Ia meringis kesakitan, berusaha keras mempertahankan kesadarannya. “Shin! Tetap di formasimu!” panggil Sua melalui saluran komando. “Pigeon, amankan sektor kiri! Stork dan Feng Huang, ambil celah di depan!” perintah Sua lagi.

Pertempuran sengit meletus dalam sekejap. Feng Huang meluncur menembus hujan, memanfaatkan dorongan pendorongnya untuk menerjang salah satu Cataclysm Quadrupedal. Dengan benturan keras, Feng Huang berhasil mendorong Cataclysm tersebut tepat ke arah lintasan Stork. “Sekarang, Stork!” teriak pilot Zhou dari kokpit Feng Huang.

Tanpa membuang waktu, Stork meluncur turun bagai kilat. Tombak energinya menusuk menembus pelindung luar musuh, tepat menghujam core kristal di dadanya hingga hancur berkeping-keping. Musuh pertama tumbang seketika, meleleh menjadi cairan hitam. Di sisi lain, Pigeon bermanuver lincah di udara. “Rudal terkunci! Tembak!” puluhan rudal mikro meluncur meliuk-liuk membelah hujan, menghujani tubuh Cataclysm kedua. Ledakan beruntun menggelegar, merusak parah struktur luar dan melumpuhkan pergerakannya. Namun, core makhluk itu belum hancur. Cassowary melesat dari balik asap ledakan. Pisau getar berukuran raksasa di tangannya berkilat dingin. Dengan satu gerakan presisi dan mematikan, Cassowary menancapkan pisaunya, membelah core musuh hingga hancur total.

Kini tersisa dua ekor Cataclysm. Bird of Paradise melesat maju dengan kecepatan luar biasa, memotong jarak dalam hitungan detik. Dengan satu tebasan pedang energinya, Shin berhasil menghancurkan Cataclysm ketiga dengan sangat mudah. Namun, tepat setelah tebasan itu selesai, gelombang anomali dahsyat menghantam sistem unitnya. Kordinasi antara Shin dan Belial mendadak kacau balau. Resonansi batin mereka terputus secara brutal. “Aaargh!!” Shin menjerit kesakitan. Pembuluh darah di leher dan wajahnya menegang, rasa sakit yang membakar menjalar dari dalam tengkoraknya. “Shin... Shin! Hentikan! Kumohon, berhenti!!” suara Belial terdengar bergema di dalam kokpit, penuh rasa panik dan getaran ketakutan yang belum pernah terdengar sebelumnya.

Di dalam ruang kendali Gear, tubuh Shin berguncang dan gemetar hebat. Di atas dahinya, sebuah tanduk bersinar biru sebelum perlahan menyolid sebuah tanduk tumbuh memanjang dari kepalanya, terus menjulang hingga menembus batas fisik dan terlihat nyata dari luar kokpit. Aura gelap berwarna hitam kebiruan menyelimuti seluruh tubuh Bird of Paradise. Unit mekanis itu kehilangan kendali sepenuhnya, bergerak liar mengayunkan senjatanya ke sembarang arah, melupakan sasaran utama. Di dalam benak Shin, mata Belial melebar menyaksikan penderitaan pilotnya. Hatinya seolah tertusuk rasa bersalah yang teramat sangat. “Tanduk itu... apa... apa semua ini terjadi karena aku?” gumam Belial lirih dengan napas memburu.

Formasi Tim 05 seketika berantakan total. Instruksi dan teriakan Sua di saluran radio tenggelam oleh raungan mesin Bird of Paradise yang meraung bagai binatang buas, mode itu disebut Rift. Swan meluncur cepat, berusaha menggunakan pelindung dan lengan mekanisnya untuk menahan pergerakan Bird of Paradise. Namun Gear milik Shin terlalu kuat dan bergerak liar penuh dorongan anomali. “Shin! Keluar dari kokpit sekarang juga!” teriak Sua hysteris melalui komando internal, suaranya parau bercampur rasa takut yang amat sangat. “Jika kau tetap berada di dalam, kau bisa berubah jadi monster sepenuhnya!!”

Di dalam kokpit, Belial membeku. Wajahnya pucat pasi, matanya berkaca-kaca menatap sosok Shin yang mengerang dan tersiksa di kursi pilot. Belial terduduk lemas di lantai sistem, jemarinya gemetar. “Ini... semua salahku...” tangis Belial pecah, suaranya parau penuh penyesalan. “Aku yang membuatnya jadi seperti ini... aku... aku yang terus menyakitinya...” Di tengah rasa sakit yang memuncak, pandangan Shin melabu. Dunia nyata seakan menghilang, digantikan oleh pusaran ingatan masa lalu yang terdistorsi. Dalam kegelapan halusi itu, sesosok anak perempuan muncul samar di hadapannya. Anak itu berwujud seperti Cataclysm memiliki mata biru yang menyala terang di dalam gelap, dengan kuku-kuku runcing dan taring tajam. Anak *Cataclysm* yang begitu ganjil namun terasa asing sekaligus familiar.

Shin menatap sosok itu dengan pandangan kabur dan napas yang sangat lemas. “Kau... kau gadis Cataclysm waktu itu, ya?” gumam Shin sangat lirih, hampir tak terdengar. Belial mendongak, matanya yang basah menatap Shin dengan tatapan penuh rasa terkejut dan duka. Shin terbatuk kecil, matanya terpejam-buka menahan gelombang ingatan yang kian menderu. “Kau... gadis yang membawa buku cerita itu, kan?” Jarak di antara ingatan mereka berdua mendadak mengabur, menyatu dalam satu frekuensi yang sama. Sebuah bait dari buku cerita lama menggema samar di dalam benak mereka berdua: “Gagak yang tidak bisa terbang... jatuh cinta pada Elang...”

Flashback kelam menyeruak masuk tanpa bisa ditahan ke dalam kesadaran Shin. Suara-suara berbisik dari masa lalu bersahutan di telinganya, berselang-seling antara ingatan nyata dan ilusi traumatis. Bayangan Belial kecil yang menangis tersedu-sedu di balik jeruji besi, berlanjut ke bayangan tatapan dingin Sei saat persahabatan mereka runtuh di halaman Birdcage. Semua potongan kenangan pahit itu menyatu, membentuk sebuah luka menganga yang selama ini tak pernah benar-benar sembuh. Dan di tengah pusaran ingatan yang menghancurkan jiwa itu, suara tangis Belial kecil kembali terdengar jelas menggema dalam dada Shin, menyayat batinnya jauh lebih menyakitkan daripada rasa sakit fisik akibat perubahan tubuhnya.

1
Noir
Gokill
KIRA: makasihh
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!