Kelas Privat Maya: Di Balik Senyum CEO
Di sebuah sudut kota yang ramai, tersembunyi sebuah ruangan kecil yang penuh dengan tumpukan buku dan aroma kopi yang khas. Ruangan itu adalah 'Kelas Privat Maya', tempat di mana mimpi-mimpi sederhana diukir dan harapan-harapan baru tumbuh. Maya, seorang guru privat yang ceria dan penuh semangat, mendedikasikan hidupnya untuk membantu anak-anak dari latar belakang kurang mampu.
Suatu hari, seorang pria misterius datang ke kelas Maya. Pria itu tinggi, tampan, dan berpakaian rapi, jauh dari bayangan Maya tentang seorang ayah atau kakak yang biasa mengantar anak-anaknya les. Pria itu memperkenalkan dirinya sebagai CEO sebuah perusahaan besar, namun sorot matanya yang lelah dan senyumnya yang terpaksa menyiratkan beban yang berat.
Awalnya, Maya mengira pria itu ingin mendaftarkan anaknya. Namun, ia terkejut ketika pria itu berkata, "Aku ingin belajar, Maya. Ajari aku cara tersenyum lagi." Ternyata, di balik kesuksesannya yang gemilang, CEO
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizaidhan Luthfian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pasca-Koma, Amnesia Selektif, dan Bintang Kelas yang Bertingkah
Kian memang sudah bangun, tetapi efek benturan di kepalanya—ditambah obat bius sisa koma—membuat otaknya bekerja dengan cara yang sangat ajaib.
"Kian, kamu ingat ini siapa?" tanya Maya pelan dengan mata berkaca-kaca, masih memegang tangan pria itu.
Kian mengedipkan matanya tiga kali. Ia menatap Maya dengan pandangan sangat serius, lalu menatap selang infus di tangannya, lalu kembali menatap Maya.
"Tentu saja ingat," jawab Kian dengan suara berat dan penuh wibawa. "Anda adalah... Ibu Guru Maya. Dan saya adalah murid paling berprestasi yang baru saja ditembak petir demi mendapatkan nilai A plus."
Maya yang tadinya mau menangis terharu mendadak menahan napas. "Tembak petir?! Kamu tertimpa pohon dan tanah longsor, Kian!"
"Ah, sama saja. Sama-sama dramatis," sahut Kian santai. Ia lalu melirik Dika yang berdiri di ambang pintu bersama Hani. "Dan pria berkaki gips itu pasti saingan saya yang kalah ganteng, kan?"
Dika hampir saja menjatuhkan kruknya. "Mas Kian! Saya ini yang Mas selamatkan dari longsor!"
"Iya, iya, terima kasih kembali," balas Kian sambil melambaikan tangan sok elegan dari atas ranjang. "Nanti saya beri bonus voucer belanja. Tapi sekarang tolong keluar dulu, saya mau konsultasi privat dengan Bu Guru."
Hani mengelus dada, antara bersyukur Kian hidup dan pusing melihat tingkah mantan calon tunangannya yang mendadak hilang kaku berubah jadi super percaya diri dan agak ajaib.
Seminggu kemudian, Kian sudah diperbolehkan rawat jalan di rumah sewa Maya di kota sejuk itu. Namun, mode "murid posesif dan manja" Kian justru makin menjadi-jadi.
Pagi itu, Maya sedang memasak air di dapur kecilnya. Kian muncul dari kamar dengan memakai sarung kotak-kotak milik almarhum ayah Maya—yang ukurannya agak menggantung di kakinya yang jenjang—dan kaus polos lokal bertuliskan "Wisata Petik Teh".
"Bu Guru," panggil Kian sambil bersandar di pintu dapur dengan gaya sok tampan, meski sarungnya agak miring.
"Kian, kenapa kamu pakai sarung itu? Kemejamu kan ada," ujar Maya sambil menahan tawa melihat penampakan mantan CEO startup papan atas tersebut.
"Ini namanya akulturasi budaya lokal, Bu," sahut Kian dengan wajah tanpa dosa. Ia berjalan mendekat, mengambil alih sodet di tangan Maya. "Sebagai murid yang berbakti, hari ini saya yang akan memasak. Saya sudah belajar teorinya dari internet."
sepuluh menit kemudian... dapur kecil Maya hampir mengepulkan asap hitam.
"KIAN! Kenapa telur ceploknya gosong sampai bentuknya mirip arang batu bara?!" pekik Maya kaget melihat wajan.
Kian menatap wajan itu dengan kacamata baca yang bertengger miring di hidungnya. "Ini bukan gosong, Bu Maya. Ini adalah crusty caramelized egg dengan tingkat kematangan well-done plus. Sangat tinggi kandungan karbonnya."
"Itu namanya hangus, Kian Pratama!" Maya menepuk jidatnya sendiri.
"Tapi saya membuatnya dengan penuh kasih sayang dan dedikasi nilai sepuluh sempurna!" protes Kian tak mau kalah, memajukan bibirnya berpura-pura merajuk.
Sore harinya, Dika dan beberapa warga desa datang berkunjung membawa oleh-oleh hasil kebun untuk menyambut kesembuhan Kian.
"Mas Kian, ini ada pisang kepok segar dari kebun," ujar Dika ramah, meletakkan sisir pisang di meja.
Kian menatap pisang itu dengan tatapan mengintimidasi, seolah sedang meneliti laporan keuangan perusahaan saingan. Ia lalu menatap Dika.
"Terima kasih, Pak Dika. Tapi apakah pisang ini sudah melewati uji sertifikasi kelayakan untuk dikonsumsi oleh calon suami kepala sekolah?" tanya Kian serius.
Dika tertawa terkekeh-kekeh. "Mas Kian ini ada-ada saja! Sudah sembuh total rupanya humornya."
"Saya tidak bercanda," bisik Kian pada Dika sambil melirik Maya yang sedang menyiapkan teh di dapur. "Pak Dika, karena Anda sudah kalah secara terhormat, saya mau minta saran."
"Saran apa, Mas?"
Kian mendekatkan kepalanya ke Dika, berbisik pelan. "Bagaimana caranya melamar guru Bahasa SMA di depan warga desa tanpa harus terpeleset lumpur lagi? Saya tidak mau reputasi saya sebagai pimpinan Pratama Group turun jadi 'Mas Kian Masuk Angin'."
Dika langsung tertawa terbahak-bahak sampai menepuk paha gipsnya sendiri, sementara Maya dari dapur hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat dua pria yang dulu sempat bersitegang kini justru sibuk berbisik-bisik membicarakan taktik melamar yang konyol.
Suasana dingin di kota sejuk itu kini tak lagi terasa mencekam. Luka, kebencian, dan drama masa lalu telah mencair, tergantikan oleh gelak tawa dan kehangatan baru di antara mereka.