NovelToon NovelToon
The Ghost Of Uchiha In One Piece

The Ghost Of Uchiha In One Piece

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Naruto / One Piece
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Bahari

Setelah rencana Mugen Tsukuyomi hancur, Madara Uchiha menemui ajalnya di Perang Dunia Ninja Keempat. Namun, bukannya pergi ke alam baka, ia justru terbangun di pesisir Grand Line yang ganas dalam wujud remajanya yang berusia 16 tahun. Kehilangan ambisi lamanya, sang "Hantu Uchiha" kini hanya ingin hidup bebas dan terlepas dari pertumpahan darah yang tak berarti.

​Berbekal sebuah Sistem misterius yang memulihkan kekuatan dewanya secara bertahap, Madara memulai perjalanan barunya. Ironisnya, sikap Madara yang arogan, dingin, dan selalu menolak membunuh musuh lemah malah memicu rentetan kesalahpahaman yang konyol. Dunia dan para pengikutnya—mulai dari Nico Robin, Boa Hancock, hingga Enel—menyanjungnya sebagai sosok penyelamat agung sekaligus penguasa mutlak yang tak tertandingi.

​Bersama Bajak Laut "Mugen", eksistensi Madara perlahan meruntuhkan alur takdir lautan. Mulai dari mempermalukan Angkatan Laut, membelah langit melawan Yonko, hingga diakui sebagai "Kaisar Kelima".

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Ujian Kekuatan Fisik dan Haki Besi

​Jalanan berbatu di pelabuhan bawah tanah Pulau Rogue terasa membeku.

​Asap panas yang mengepul dari bilah sabit hitam di bahu Madara membawa aroma besi terbakar yang menyengat. Hawa panas itu menguarkan teror yang merayap perlahan ke tengkuk semua orang yang berada di sana.

​Pemimpin mafia bermantel bulu itu menatap Madara dengan rahang mengeras. Rasa kagetnya perlahan digantikan oleh amarah yang mendidih. Dia adalah penguasa di pelabuhan ini. Tidak ada satu pun orang yang berani merendahkannya di depan anak buahnya sendiri. Apalagi oleh seorang pemuda yang datang dari kapal tua tanpa bendera.

​“Pelayan?” ulang bos mafia itu. Suaranya bergetar karena menahan marah.

​Dia melirik ke arah Robin dan Reiju, lalu kembali menatap pemuda berarmor merah di depannya.

​“Kau pikir kau siapa, Bocah Sialan? Berani-beraninya kau melempar besi panas ke arahku!” teriak sang pemimpin mafia, harga dirinya meledak menutupi insting bahayanya.

​Bos mafia itu mundur beberapa langkah dengan tergesa-gesa. Dia mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi.

​“Bunuh dia! Hancurkan tubuhnya sampai hancur berkeping-keping!”

​Belasan anak buah berjas rapi itu tidak menunggu perintah kedua. Keterkejutan mereka telah sirna. Mereka segera menaikkan laras senapan mesin primitif mereka. Senjata laras ganda yang diputar dengan tuas mekanis itu mulai berderak berat.

​Moncong senjata Gatling gun itu berputar semakin cepat.

​Robin melebarkan matanya. Pengetahuannya tentang persenjataan dunia bawah tanah membuatnya sadar akan bahaya di depan mereka.

​“Tuan, awas! Itu senapan mesin penembus baja!” teriak Robin dari arah belakang.

​Reiju juga ikut berteriak, bersiap melompat ke depan untuk menjadi tameng manusia. Dia tahu tubuh eksoskeleton biologisnya mampu menahan peluru-peluru itu, sementara tubuh pemuda itu adalah tubuh manusia murni yang bisa tertembus timah panas.

​“Mundur semuanya!” teriak Reiju kepada para kru kapal di belakangnya.

​Namun, Uchiha Madara tidak mundur satu sentimeter pun. Dia juga tidak melirik ke arah kedua wanita yang berteriak memperingatkannya.

​Mata hitamnya menatap belasan moncong senapan yang mulai menyemburkan kilatan api secara serentak.

​Suara ledakan bubuk mesiu terdengar memekakkan telinga. Ratusan peluru timah panas melesat membelah udara seperti kawanan lebah yang marah. Hujan kematian itu mengarah lurus ke titik di mana Madara berdiri. Jarak yang sangat dekat membuat penyebaran peluru itu terfokus pada satu target mutlak.

​Bagi manusia biasa di lautan ini, itu adalah eksekusi mati yang tidak bisa dihindari.

​Namun, bagi seorang dewa perang, itu hanyalah sebuah ujian kecil yang sempurna untuk mainan barunya.

​Madara menurunkan lengan kanannya yang memanggul sabit secara perlahan.

​Dia mencengkeram rantai baja yang melilit di lengan kirinya.

​Dengan satu hentakan pergelangan tangan yang sangat presisi, dia melempar sabit besi hitam itu ke udara tepat di depan tubuhnya.

​Sabit itu tidak terbang menjauh. Rantai bajanya menahan pergerakan senjata itu di udara.

​Madara mulai memutar rantai di tangannya.

​Gerakannya sangat konstan pada awalnya, lalu berubah menjadi pusaran yang sangat cepat dalam sepersekian detik. Pergelangan tangannya memutar rantai dengan kekuatan dan teknik yang melampaui batas fisik manusia normal.

​Sabit dan rantai baja itu berputar dengan kecepatan yang luar biasa. Bilah sabit membelah udara hingga menghasilkan suara dengungan melengking yang menyakitkan telinga. Putaran itu menciptakan sebuah piringan hitam transparan yang terbuat dari jalinan rantai dan gaya sentrifugal.

​Sebuah perisai putar yang absolut.

​Peluru-peluru timah panas itu menghantam perisai putar tersebut secara beruntun.

​Suara benturan logam terdengar seperti hujan es yang jatuh di atas atap seng, namun berkali-kali lipat lebih keras. Bunga api memercik ke segala arah dengan sangat terang, menerangi wajah datar Madara dari balik pusaran rantainya.

​Peluru-peluru penembus baja itu hancur menjadi serpihan timah pipih seketika saat menyentuh putaran sabit.

​Tumbukan ratusan peluru tersebut sama sekali tidak memperlambat putaran sabit Madara. Kekuatan fisik murni yang disalurkan melalui pergelangan tangannya jauh melampaui daya dorong bubuk mesiu dari senjata buatan manusia.

​Para preman mafia itu menekan pelatuk hingga jari mereka memutih. Mereka menembakkan ratusan peluru tanpa henti. Asap putih dari laras senapan mereka mengepul tebal, menutupi pandangan di jalanan berbatu tersebut.

​“Terus tembak! Jangan berhenti sampai senjatanya hancur dan tubuhnya berlubang!” teriak bos mafia itu dari balik punggung anak buahnya. Dia tersenyum ganas, yakin bahwa tidak ada manusia yang bisa menahan tembakan massal selama itu.

​Namun, harapan kejam mereka hanyalah ilusi kosong.

​Tiga detik berlalu. Lima detik berlalu. Lebih dari lima ratus peluru telah dimuntahkan ke depan, namun pemuda berarmor merah itu masih berdiri tegak di tempatnya tanpa satu goresan pun di kulitnya.

​Madara mulai merasa bosan berdiri diam sebagai target.

​Dia memutuskan untuk mengubah ritme tarian senjatanya. Haki Pengamatannya menembus asap mesiu, mengunci posisi setiap penembak di depannya.

​Madara melangkah maju menembus hujan peluru dan percikan bunga api. Setiap langkah kakinya sangat terukur dan tidak tergesa-gesa.

​Dia menarik sedikit rantai di tangannya, mengubah sudut putaran sabit secara tiba-tiba.

​Bilah sabit hitam itu menyambar ke arah barisan depan penembak dengan kecepatan kilat.

​Madara tidak menggunakan bagian tajam dari sabitnya untuk memotong leher mereka. Dia sengaja memutar pergelangan tangannya di detik terakhir. Dia menggunakan bagian punggung bilah yang tumpul dan sangat tebal.

​Brak.

​Punggung sabit menghantam laras senapan mesin milik preman terdepan.

​Senjata berat itu hancur berkeping-keping. Besi larasnya bengkok dan patah ke arah belakang, menghantam wajah pemiliknya sendiri. Preman itu terlempar ke udara dengan tulang rahang remuk dan hidung yang hancur.

​Madara terus melangkah maju. Rantai bajanya menari seperti ular hitam yang memiliki nyawa sendiri di bawah kendalinya.

​Dia mengayunkan rantainya ke arah samping. Rantai baja tebal itu menghantam dada dua orang mafia sekaligus dengan gaya sentrifugal penuh.

​Terdengar suara derak tulang rusuk yang patah secara serentak. Kedua pria berjas rapi itu memuntahkan darah dan roboh ke tanah, pingsan karena menahan rasa sakit yang mematikan.

​Sabitnya kembali berputar.

​Brak. Krak.

​Satu per satu senapan mesin Gatling primitif itu dihancurkan menjadi rongsokan besi.

​Madara menari di tengah barisan musuh. Gerakannya tidak bisa ditebak. Dia melompat menghindari tembakan nyasar, menunduk dengan sangat luwes, dan berputar dengan sangat elegan. Setiap ayunan sabit tumpulnya selalu berakhir dengan suara tulang yang remuk atau senjata logam yang hancur berkeping-keping.

​Dia tidak memenggal kepala mereka. Dia tidak membelah dada mereka.

​Dia memberikan hukuman fisik yang sangat menyiksa, membiarkan orang-orang angkuh ini hidup dengan tulang-tulang yang hancur berantakan. Ini adalah bentuk pelecehan tertinggi dalam sebuah pertarungan, membuktikan bahwa lawannya bahkan tidak pantas untuk merasakan sisi tajam dari senjatanya.

​Robin dan Reiju menatap dari kejauhan dengan mata tidak berkedip.

​'Ini bukan pertarungan,' batin Reiju takjub. Darahnya mendesir cepat melihat kehebatan sang kapten. 'Ini adalah pembantaian sepihak. Dia menari di tengah badai peluru dan mengendalikan rantai baja itu seolah itu adalah bagian dari tubuhnya sendiri.'

​Dalam waktu kurang dari dua menit, belasan preman mafia elit yang sangat ditakuti di Pulau Rogue telah terkapar di jalanan berbatu. Mereka mengerang kesakitan. Setelan jas mahal mereka sobek dan berlumuran darah. Senjata-senjata mahal yang mereka banggakan telah berubah menjadi tumpukan besi penyok di sekeliling mereka.

​Hanya tersisa satu orang yang masih berdiri dengan lutut bergetar hebat.

​Sang bos mafia bermantel bulu.

​Pria besar itu mundur perlahan. Wajahnya dipenuhi keringat dingin yang membasahi bekas luka codetnya. Cerutunya sudah lama jatuh ke tanah, terinjak oleh kakinya sendiri yang kehilangan arah.

​Dia melihat bagaimana pasukan terbaiknya dihancurkan tanpa perlawanan yang berarti oleh satu orang pemuda.

​“K-Kau... monster macam apa kau ini?” gagap sang bos mafia. Mulutnya terbuka dan tertutup seperti ikan yang kehabisan air.

​Madara menarik rantai bajanya. Sabit besi itu terbang dan kembali ke tangannya dengan patuh. Dia menggenggam gagang sabit itu erat-erat.

​“Hanya sampah yang terlalu banyak bicara,” ucap Madara datar. Hawa dingin dari suaranya membekukan mental lawannya.

​Bos mafia itu menggertakkan giginya. Rasa takut di dalam hatinya perlahan terdesak oleh insting bertahan hidup dan kemarahan hewan buas. Dia tidak bisa mundur sekarang. Jika dia lari, reputasinya di North Blue akan hancur selamanya.

​Dia melemparkan mantel bulu mahalnya ke tanah kotor.

​“Jangan meremehkanku, Bocah Sialan! Aku adalah penguasa wilayah ini karena suatu alasan!” teriak bos mafia itu, memaksakan keberanian palsu ke dalam suaranya.

​Tubuh pria besar itu mulai mengalami perubahan yang sangat tidak wajar.

​Otot-otot di tubuhnya membengkak pesat hingga merobek kemeja putih dan jas yang dia kenakan. Jahitan bajunya putus bertebaran di udara. Kulitnya yang sebelumnya berwarna terang berubah menjadi abu-abu gelap yang sangat tebal dan bertekstur kasar seperti batu.

​Wajahnya memanjang ke depan. Hidungnya menyatu dengan tulang tengkoraknya, membentuk sebuah cula tajam berwarna putih tulang yang melengkung ke atas. Cula itu terlihat sangat keras dan berbahaya.

​Telinganya mengecil. Matanya berubah menjadi merah dan memancarkan sifat buas.

​Postur tubuhnya membungkuk. Dia menumpukan kedua tangannya yang kini telah berubah menjadi kaki hewan dengan kuku-kuku tebal di atas tanah berbatu.

​Pria itu telah bertransformasi menjadi bentuk hybrid manusia dan badak.

​Itu adalah kekuatan dari Buah Iblis tipe Zoan. Uma Uma no Mi Model Badak.

​Robin yang melihat transformasi itu langsung mengenali polanya. Pengalamannya sebagai arkeolog dan buronan memberinya wawasan yang luas tentang kekuatan-kekuatan aneh di Grand Line.

​“Itu Buah Iblis tipe Zoan! Hewan badak memiliki ketahanan fisik yang nyaris tidak bisa ditembus dan daya hancur serudukan yang sangat mengerikan. Hati-hati, Tuan!” seru Robin memberikan peringatan taktis dari belakang.

​Manusia badak itu mendengus kasar. Udara panas menyembur dari lubang hidungnya yang besar.

​Dia menghentakkan kaki depannya ke tanah, meretakkan bebatuan pelabuhan di bawahnya.

​“Kulit badakku tidak bisa ditembus oleh pedang atau peluru meriam sekalipun! Aku akan menembus dada kurusmu dengan culaku dan merobek jantungmu!” raung sang bos mafia dengan suara yang kini terdengar parau dan berat seperti monster.

​Tanpa menunggu aba-aba atau membiarkan musuhnya bersiap, monster badak itu menerjang maju.

​Setiap langkah kakinya membuat bumi bergetar. Dia berlari dengan kecepatan yang sangat luar biasa untuk ukuran makhluk sebesar itu. Culanya yang runcing mengarah lurus ke dada Madara. Momentum dari lari itu terus bertambah, menelan jarak sepuluh meter dalam sekejap.

​Serudukan itu membawa kekuatan destruktif yang bisa menghancurkan tembok benteng baja sekalipun.

​Madara tidak menghindar. Dia menatap monster badak yang sedang berlari membawa kematian ke arahnya dengan pandangan dingin dan tidak tertarik.

​Dia memutar pergelangan tangannya. Kali ini, dia tidak akan bermain-main. Dia akan menggunakan bagian tajam dari sabitnya untuk mengukur seberapa tangguh kulit hewan mutasi dunia ini.

​Dia menyalurkan tenaga fisiknya secara optimal ke otot lengannya. Dia mengayunkan sabit besi hitam itu dari arah samping, menyambut serudukan cula badak tersebut dengan sebuah tebasan telak.

​Trang.

​Suara benturan logam beradu dengan benda padat terdengar sangat keras, memekakkan telinga siapa pun yang mendengarnya. Gelombang udara menyapu debu dan kerikil dari jalanan pelabuhan, menciptakan cincin angin di sekitar mereka.

​Bilah sabit Madara beradu tepat dengan sisi cula tulang dan kulit tebal di area wajah monster badak itu.

​Hantaman maut itu menghentikan laju lari sang bos mafia secara instan. Tanah di bawah kaki badak itu hancur karena menahan daya dorong yang dihentikan paksa.

​Namun, sesuatu yang sama sekali tidak terduga terjadi.

​Mata Madara menyipit tajam.

​Dia merasakan sebuah getaran aneh merambat dari bilah besi melewati gagang sabit menuju telapak tangannya. Getaran yang tidak selaras dengan daya potong.

​Krak.

​Suara retakan kecil terdengar di tengah kebisingan benturan. Suara yang sangat pelan, namun tidak bisa lolos dari telinga seorang ninja elit.

​Sabit besi hitam yang baru saja dia tempa pagi tadi dari peleburan baja teknologi Germa 66, menunjukkan sebuah garis retakan tipis di bagian tengah bilahnya.

​Kulit badak hasil mutasi Buah Iblis Zoan itu ternyata memiliki tingkat kekerasan molekul dan kelenturan yang melebihi batas kekuatan baja buatan manusia biasa.

​Senjata fisik murni memiliki batas kelelahan material. Sehebat apa pun tenaga yang mengayunkannya, sekuat apa pun otot yang menopangnya, jika material senjata itu kalah tangguh dari material target pelindung, maka senjata itulah yang akan hancur dan menyerah pada tekanan fisika.

​Bos mafia dalam wujud badak itu tertawa parau melihat senjata lawannya tertahan dan retak.

​“Sudah kubilang! Tidak ada besi murahan yang bisa memotong kulit badak suciku!” ejek bos mafia itu penuh kemenangan. Dia menarik lehernya sedikit ke belakang, bersiap untuk memberikan dorongan serudukan tahap kedua yang lebih mematikan.

​Madara tidak merespons ejekan murahan itu. Dia menahan posisi sabitnya yang menempel pada cula badak.

​Dia hanya menatap retakan kecil di senjatanya dengan pandangan menilai yang sangat objektif.

​'Baja terkuat dari dunia ini rupanya memiliki batas struktural yang sangat rendah,' batin Madara kecewa. Dia menyadari bahwa dia membutuhkan lebih dari sekadar besi tempa untuk memotong benda-benda anomali di lautan ini.

​Tepat pada momen kritis itu, waktu seolah berhenti berdetak di dalam ruang kesadaran Madara. Gerakan monster badak di depannya mematung dalam gerak super lambat.

​Suara mekanis yang familiar dan tanpa emosi berdenting nyaring di dalam kepalanya.

​Sebuah layar biru transparan muncul tepat melayang di tengah pandangannya.

​[Peringatan: Kebutuhan penetrasi pertahanan terdeteksi di tengah pertempuran.]

​[Batas kemampuan material senjata fisik murni telah tercapai.]

​[Memproses kompensasi kekuatan...]

​[Menghadiahkan: Busoshoku Haki (Haki Persenjataan) Tingkat Dasar.]

​Tulisan di layar biru itu menghilang sama cepatnya dengan kemunculannya.

​Detik berikutnya, waktu kembali berjalan normal. Namun, Madara merasakan sebuah sensasi kekuatan baru meledak dari dalam pusat jiwanya.

​Ini sangat berbeda dengan chakra.

​Chakra adalah perpaduan yang seimbang antara energi fisik sel tubuh dan energi spiritual pikiran, yang kemudian dialirkan melalui jaringan sirkuit tenketsu untuk menciptakan manipulasi elemen atau membelokkan ruang. Chakra membutuhkan wadah yang kuat.

​Sensasi baru ini murni berasal dari kehendak, niat membunuh, dan energi spiritual yang dipadatkan secara ekstrem. Energi ini tidak perlu mengalir melalui sirkuit tenketsu. Energi ini keluar menembus pori-pori kulit secara langsung, membentuk sebuah pelindung cangkang tak kasatmata yang memiliki tingkat kepadatan absolut.

​Haki Persenjataan.

​Madara langsung memahami seluruh konsep dasar, cara kerja, dan penerapan dari kekuatan baru ini dalam hitungan milidetik. Memori otaknya menyerap panduan Sistem dengan sempurna.

​Bagi seseorang yang telah mencapai puncak hierarki manipulasi chakra rumit seperti dirinya, mengendalikan jenis energi baru yang hanya mengandalkan kemauan keras murni adalah hal yang sangat mudah. Ini seperti menyuruh seorang maestro pelukis untuk sekadar menarik garis lurus.

​Tanpa perlu merapal segel, Madara menyalurkan energi spiritual baru itu dari dadanya menuju telapak tangan kanannya.

​Dari telapak tangannya yang mencengkeram gagang kayu, energi padat itu merambat menutupi gagang sabitnya.

​Energi itu terus menjalar ke depan seperti cairan yang hidup, menyelimuti seluruh bilah besi hitam yang retak tersebut.

​Warna sabit itu berubah bentuk dan wujud dalam sekejap mata.

​Bilah yang sebelumnya berwarna abu-abu gelap kusam akibat pembakaran tungku, kini berubah menjadi warna hitam legam yang sangat mengilap. Hitam yang begitu pekat dan dalam, seolah menyerap semua cahaya matahari di sekitarnya ke dalam bilah tersebut.

​Kesan kokoh dari warna hitam itu memberikan teror psikologis tersendiri.

​Retakan kecil di bilah senjata itu seketika tertutup dan terkunci mati oleh kepadatan Haki.

​Bilah sabit itu tidak lagi terbuat dari baja biasa. Bilah itu kini berlapiskan tekad, keangkuhan, dan kekuatan spiritual yang menolak untuk dipatahkan oleh hukum alam fisika mana pun di dunia ini.

​Bos mafia badak yang sedang mengerahkan seluruh tenaga dorongan tahap keduanya tiba-tiba merasakan sebuah firasat buruk yang sangat mencekik lehernya.

​Mata hewannya melihat senjata lawannya berubah menjadi hitam mengilap. Hawa yang sangat mengerikan dan mengintimidasi memancar dari bilah senjata tersebut. Hawa pembunuh yang membuat seluruh insting binatang di dalam sel Buah Iblisnya menjerit ketakutan, menuntutnya untuk berlari menjauh.

​“Apa... apa yang kau lakukan pada senjatamu?!” teriak bos mafia itu panik, keberanian palsunya runtuh seketika.

​Dia mencoba menarik tubuh besarnya mundur. Dia mencoba melepaskan culanya dari titik benturan untuk melarikan diri.

​Tetapi semuanya sudah terlambat. Monster di depannya telah selesai mengkalibrasi senjatanya.

​Madara menatap mata merah monster badak itu dengan sangat dingin dan kosong.

​“Kekuatan tanpa ketajaman sejati hanyalah beban yang menyedihkan,” ucap Madara pelan, menjadi kalimat terakhir yang akan didengar oleh pria itu.

​Madara tidak perlu menambah tenaga pada kontraksi otot lengannya. Dia tidak menggunakan ayunan kuda-kuda yang lebar.

​Dia hanya menarik sabit hitamnya ke belakang sedikit melepaskan tekanan, lalu mengayunkannya kembali dengan sebuah gerakan pergelangan tangan yang sangat santai ke arah depan.

​Syuuut.

​Bilah sabit berlapis Haki Persenjataan hitam legam itu menebas udara tanpa menghasilkan suara angin sedikit pun. Kecepatannya membelah molekul udara sebelum suara bisa tercipta.

​Sabit itu menyentuh cula tebal dan kulit leher sang monster badak.

​Kali ini, sama sekali tidak ada suara benturan logam. Tidak ada hambatan yang berarti.

​Bilah hitam mengilap itu membelah cula tulang yang diklaim terkeras dan merobek kulit badak setebal pelat baja itu semudah pisau dapur yang dipanaskan membelah balok mentega tipis.

​Sras.

​Sebuah garis tebasan diagonal yang sangat rapi dan bersih tercipta di tubuh bagian depan bos mafia tersebut, membelah dari pundak kiri tembus hingga ke pinggang kanan.

​Darah segar menyembur ke udara dalam jumlah yang masif.

​Namun, kengerian sejati dari tebasan itu tidak berhenti hanya pada tubuh sang mafia badak.

​Kekuatan kepadatan Haki Persenjataan yang disalurkan dengan ayunan sempurna oleh Madara menciptakan sebuah gelombang kejut tebasan udara yang mematikan.

​Tebasan udara berbentuk sabit hitam itu terus melesat terbang ke arah depan dengan kecepatan tinggi, membelah udara berpuluh-puluh meter jauhnya melewati tubuh sang bos mafia yang mematung.

​Gelombang tebasan itu menghantam sebuah bangunan gudang penyimpanan kargo tiga lantai yang terbuat dari susunan batu bata merah dan semen cor. Gudang itu berdiri megah sekitar dua puluh meter di belakang bos mafia tersebut.

​Zras. Brak.

​Bangunan batu bata tiga lantai yang kokoh itu terbelah secara diagonal menjadi dua bagian yang sangat presisi dari atap hingga ke lantai dasarnya.

​Bagian atas bangunan gudang itu perlahan bergeser dari porosnya dengan suara derit fondasi yang hancur, sebelum akhirnya runtuh bergemuruh menghantam tanah dengan suara ledakan keras. Awan debu tebal bercampur serpihan batu bata mengepul tinggi ke udara menutupi sinar matahari siang.

​Keheningan absolut seketika turun menyelimuti area pelabuhan bawah tanah itu bagaikan selimut kematian.

​Bahkan suara deburan ombak di dermaga dan jeritan burung camar di langit seolah membeku karena ketakutan.

​Ratusan pasang mata dari para kriminal, anggota mafia klan lain, penyelundup, dan pedagang gelap yang menonton dari kejauhan melebar maksimal. Rahang mereka jatuh nyaris menyentuh tanah. Tubuh mereka gemetar hebat, menolak untuk mempercayai kehancuran tidak masuk akal yang baru saja dipertontonkan di depan mata mereka. Membelah monster badak dan meruntuhkan gedung dengan satu ayunan ringan adalah hal yang hanya ada di dongeng monster Dunia Baru.

​Di tengah jalanan pelabuhan berbatu yang hancur.

​Bos mafia dalam wujud badak itu perlahan menyusut, kembali ke wujud aslinya sebagai manusia normal karena kesadarannya terputus. Luka sayatan yang sangat dalam dan mematikan menganga di dadanya.

​Mata pria bermuka codet itu menatap langit dengan tatapan kosong, sebelum akhirnya tubuh besarnya roboh menabrak tanah berdebu dengan suara gedebuk yang berat. Dia tidak bernapas lagi. Penguasa pelabuhan Pulau Rogue itu mati terbelah bahkan sebelum neuron di otaknya menyadari rasa sakit yang membunuhnya.

​Di depan mayat berdarah tersebut, Uchiha Madara berdiri dengan ketenangan absolut.

​Dia perlahan menurunkan tangan kanannya yang memegang sabit.

​Warna hitam legam yang mengilap di bilah senjatanya perlahan memudar dari ujung ke pangkal, kembali ke wujud warna abu-abu gelap aslinya. Sabit besi tempaan itu masih utuh tanpa retakan sedikit pun, seolah baru saja dikeluarkan dari air pendingin.

​Madara mengangkat tangan kanannya ke depan wajahnya. Dia menatap telapak tangannya sendiri.

​Dia membuka dan menutup jari-jarinya secara perlahan. Dia merasakan sisa-sisa aliran Haki Persenjataan memudar dan kembali masuk bersemayam ke dalam jiwanya.

​'Energi yang sangat praktis dan mematikan,' batin Madara memberikan penilaian yang tinggi terhadap hadiah barunya.

​'Tidak membutuhkan segel tangan rumit. Tidak memakan jumlah energi secara berlebihan karena tidak terbuang ke udara. Dan daya potong materialnya luar biasa. Ini akan sangat berguna untuk menghadapi musuh-musuh dengan daya tahan abnormal di lautan ini.'

​Madara memutar gagang sabit di tangannya satu kali dengan elegan, lalu menyampirkannya kembali di atas bahu kanannya.

​Dia menoleh ke arah belakang dengan gerakan santai.

​Nico Robin dan Vinsmoke Reiju berdiri mematung di tempat mereka sejak tadi. Meskipun mereka berdua sudah menyaksikan kengerian kekuatan Madara sebelumnya, membelah manusia mutan berlapis baja alamiah dan meruntuhkan gedung tiga lantai sekaligus dengan satu ayunan tangan sebelah tetap saja sebuah pemandangan yang membuat nalar rasional mereka kesulitan untuk menerimanya.

​Mantan kapten bajak laut gemuk yang berdiri paling belakang kini telah pingsan dengan mulut mengeluarkan busa. Pria itu tidak kuat menahan tekanan teror dari tebasan hitam tadi.

​Madara menatap lurus ke mata biru Robin yang masih sedikit terbelalak.

​“Apa yang kalian tunggu di sana?” tanya Madara dengan nada datar. Suaranya memecah keheningan mencekam di pelabuhan.

​“Jalanan dan masalahnya sudah dibersihkan. Beli logistik yang kalian butuhkan, dan jangan membuang waktuku lebih lama lagi di tempat kotor ini.”

​Mendengar perintah yang diucapkan dengan sangat biasa di tengah lautan mayat dan reruntuhan, Robin tersentak sadar dari kekagumannya. Dia segera menganggukkan kepalanya dengan cepat.

​“B-Baik, Tuan Madara. Akan kami laksanakan,” jawab Robin, mencoba menormalkan detak jantungnya.

​Gadis arkeolog itu segera melangkah maju melewati tumpukan tubuh preman mafia yang masih mengerang sekarat.

​Reiju melangkah mengikuti tepat di sebelahnya. Senyuman tipis di wajah sang Putri Racun itu kini dipenuhi oleh rasa hormat, kepatuhan, dan kekaguman yang jauh lebih dalam dari sebelumnya. Dia tahu keputusannya melompat ke kapal ini adalah keputusan terbaik seumur hidupnya.

​Para kru bajak laut yang bertugas membawa tong air segera menendang rusuk mantan kapten mereka agar bangun. Mereka berlari tergopoh-gopoh mengikuti Robin, menundukkan kepala sangat dalam, tidak berani melakukan kontak mata dengan Madara sedikit pun saat melewatinya.

​Madara melangkah pelan menuju pinggir dermaga kosong. Dia duduk bersila di atas sebuah peti kayu yang dibuang di dekat kapalnya. Sabit besinya disandarkan di sampingnya.

​Dia akan menunggu di sini sambil bermeditasi ringan sampai urusan belanja persediaan selesai.

​Sementara itu, di seluruh sudut pelabuhan Pulau Rogue, kepanikan yang teredam mulai menyebar tak terkendali. Para informan dan saksi mata berlarian menuju markas klan mereka masing-masing.

​Berita tentang seorang dewa perang berarmor merah yang membawa sabit mematikan, yang mampu menggunakan Haki Persenjataan tingkat dewa, akan segera menyebar ke seluruh penjuru North Blue.

​Hari ini, dipastikan tidak akan ada satu pun klan mafia yang berani keluar untuk menagih pajak perlindungan pelabuhan. Mereka semua bersembunyi di dalam markas bawah tanah mereka dengan pintu terkunci rapat. Mereka berdoa kepada lautan agar iblis yang sedang duduk di dermaga kayu itu segera selesai berbelanja dan pergi dari pulau mereka tanpa menoleh kembali.

​Bagi Uchiha Madara, ini hanyalah persinggahan sesaat untuk mengisi perut kapalnya. Namun bagi dunia bawah tanah North Blue, hari ini adalah catatan kelam di mana mimpi buruk yang sesungguhnya mulai menampakkan warna aslinya di dunia ini.

1
Pi Xi
aku tunggu
Pi Xi
hahahaha
Pi Xi
semangat
Pi Xi
lanjut
Pi Xi
✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!