Dianggap "gadis bangkrut yang beruntung", diperlakukan seperti janda selama tiga tahun pernikahan rahasianya. Tapi begitu Renata melepas cincin dan pergi, topeng demi topeng terbuka: peretas nomor satu, putri hilang konglomerat permata, penyelamat nyawa sang Kapten. Saat semua yang menghinanya bertekuk lutut—Kapten Nathan Halim justru jatuh paling dalam, mengejar istri yang telah ia sia-siakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 13
Rekaman yang Bocor
Seminggu kemudian, Renata kembali mengenakan seragam Angkasa Air untuk pertama kalinya sejak kecelakaan AG2331.
Ia belum terbang. Pagi itu ia diminta menghadiri rapat gabungan Angkasa Air dan Prima Aeroteknik di SCBD untuk mengevaluasi insiden, perawatan pesawat, serta perubahan prosedur keselamatan kabin.
Ruang konferensi dipenuhi lebih dari tiga puluh orang. Para manajer Angkasa duduk di sisi kiri, tim teknik Prima di sisi kanan. Peserta dari luar Jakarta muncul dalam kotak-kotak video di layar utama.
Nathan duduk di kepala meja.
Cheryl berada dua kursi dari sisinya dengan tablet terbuka. Reno memilih tempat di ujung, cukup dekat untuk mengikuti rapat dan cukup jauh untuk mengamati semua orang.
Renata berdiri di depan layar kecil saat gilirannya memberikan laporan.
“Masker oksigen turun sesuai sistem. Masalah utama terjadi saat kompartemen atas terbuka akibat guncangan dan satu penutup logam terlepas,” jelasnya. “Kami sudah mengirim nomor kursi, foto kabin, dan laporan cedera kepada tim perawatan.”
Seorang teknisi bertanya, “Apakah evakuasi terlambat karena penumpang membawa barang?”
“Tidak ada evakuasi seluncur. Pesawat mendarat dan penumpang keluar lewat tangga setelah dinyatakan aman. Keterlambatan terjadi karena beberapa orang panik dan tidak mau melepaskan sabuk.”
Nathan memandang bekas luka tipis di lengan kirinya. “Rekomendasimu?”
“Pemeriksaan ulang pengunci kompartemen pada armada tipe yang sama, latihan komunikasi kru saat penurunan mendadak, dan materi keselamatan yang lebih tegas soal tetap duduk ketika tanda sabuk menyala.”
Nathan mengangguk kepada sekretaris rapat. “Masukkan semuanya.”
Nada mereka terdengar profesional, seolah tidak pernah ada cincin kawin, perjanjian setahun, atau kertas yang dirobek di antara mereka.
Renata kembali ke kursinya.
Rapat berlanjut ke laporan teknik. Seorang staf Prima menyambungkan sistem ruang konferensi dengan folder rekaman otomatis. Ia bermaksud memutar memo suara tentang hasil inspeksi mesin.
“File ketiga, Pak?” tanyanya kepada kepala tim.
“Ya, yang direkam di ruangan ini minggu lalu.”
Staf itu menekan layar.
Suara Renata memenuhi seluruh ruang konferensi.
“Selama satu tahun, aku akan menjaga pernikahan ini di depan Opa dan keluarga.”
Tangan staf tersebut membeku di atas panel.
Suara Nathan menyusul, lebih rendah dan tajam.
“Kamu sudah menjadi istriku selama tiga tahun, dan sekarang mau menipu Opa demi Vila Kenari?”
Seseorang menarik napas keras.
Lalu suara notaris terdengar jelas.
“Saya tegaskan lagi, perkawinan catatan sipil kalian masih sah. Perjanjian ini hanya mengatur gugatan cerai satu tahun dari sekarang.”
Staf akhirnya menekan tombol berhenti.
Terlambat.
Ruang konferensi menjadi begitu sunyi hingga dengung pendingin terdengar seperti suara mesin pesawat.
Renata menatap layar. Nama file itu muncul di sudut bawah: rekaman otomatis ruang pertemuan, tanggal saat perjanjian ditandatangani. Sistem telah menyimpannya ke folder yang sama dengan memo teknis karena ruang tersebut dipakai tanpa mode privat.
“Tiga tahun?” bisik seseorang.
“Kapten Nathan menikah sama Rena?”
“Sejak kapan?”
Nathan berdiri. “Matikan sambungan konferensi.”
Peserta daring mulai menghilang dari layar, tetapi beberapa sudah mengangkat ponsel. Di dalam ruangan, seorang pegawai menurunkan perangkatnya terlalu lambat ketika Reno menatap tajam.
Cheryl tampak seperti kehilangan darah dari wajah.
“Nate...”
Nathan tidak menoleh kepadanya. “Semua rekaman rapat hari ini bersifat rahasia. Tidak ada yang mengirim apa pun keluar.”
Kalimat itu baru selesai ketika ponsel pertama berbunyi.
Lalu ponsel kedua.
Dalam hitungan detik, notifikasi memenuhi ruangan.
Seseorang sudah merekam bagian audio tersebut dan mengirimkannya ke grup WhatsApp pegawai Angkasa. Dari sana, potongan tiga puluh detik berpindah ke grup keluarga, grup alumni, lalu akun gosip Instagram.
Judul pertama muncul bahkan sebelum rapat dibubarkan.
KAPTEN ANGKASA DIAM-DIAM NIKAH TIGA TAHUN DENGAN PRAMUGARI SENDIRI?
Potongan itu dipasang ulang di TikTok dengan foto Nathan dan Cheryl dari acara mitra penerbangan minggu sebelumnya. Dalam beberapa menit, komentar mengalir lebih cepat daripada bisa dibaca.
Jadi Cheryl selingkuhannya?
Kasihan istrinya disembunyikan.
Atau pramugarinya yang paksa nikah demi rumah?
Pantes minta Vila miliaran.
Potongan-potongan baru segera muncul. Ada versi dengan teks besar yang menyebut Renata pemburu harta. Ada versi lain yang memasangkan rekaman itu dengan Instagram Story cincin merah muda milik Cheryl. Warganet mulai membandingkan siapa istri sah, siapa cinta pertama, dan mengapa perempuan yang bukan istri mengenakan cincin bernilai puluhan miliar.
Beberapa akun menyalin kalimat yang sama persis setiap beberapa detik.
Pramugari bangkrut jebak pewaris Halim demi rumah.
Kalimat itu tidak tumbuh secara alami. Seseorang membayar agar cerita tentang Vila Kenari menenggelamkan pertanyaan mengenai tiga tahun pernikahan yang disembunyikan.
Renata menunduk melihat ponselnya. Jari-jarinya mulai dingin.
Tania menelepon.
“Ren, keluar sebentar. Ini sudah viral.”
Renata berdiri tanpa menunggu izin dan berjalan ke koridor. Di belakangnya, suara Nathan memerintahkan tim komunikasi menyiapkan pernyataan. Pintu ruang konferensi menutup, memisahkannya dari tatapan puluhan orang.
Di layar ponsel, jumlah penonton melonjak ribuan setiap kali halaman diperbarui.
Tania mengirim peta penyebaran. “Ada yang mendorong tagar pakai akun palsu. Bukan cuma orang kepo.”
“Targetnya siapa?”
“Kamu. Mereka mulai mengunggah tagihan keluarga Suryani, foto rumah lama, dan nama rumah perawatan.”
Jantung Renata menghantam tulang rusuk.
Jika alamat Mama Yolanda tersebar, rumah perawatan bisa didatangi wartawan atau pemburu konten. Satu keributan di depan kamar cukup untuk membuat kondisi ibunya memburuk.
Untuk sesaat, Renata ingin membiarkan semuanya terbakar. Biarkan Nathan menjelaskan kenapa ia menyembunyikan istri sah selama tiga tahun. Biarkan Cheryl merasakan bagaimana rasanya ditunjuk sebagai perempuan ketiga.
Lalu sebuah akun mengunggah foto gerbang rumah perawatan.
Renata membuka koneksi jarak jauh ke laptop JK di Puri Teratai.
Telapak tangannya mulai berkeringat. Kata sandi pertama salah karena jempolnya gemetar. Ia menarik napas, mencoba lagi, lalu masuk.
“Tata, pisahkan akun manusia dari jaringan pendorong.”
“Sudah. Ada tiga kelompok bot dan dua akun pemasaran yang memberi arahan.”
Renata tidak mencoba menghapus rekaman pernikahan. Sudah terlalu banyak salinan. Menghilangkannya dari satu akun hanya akan membuat orang mengunggah ulang dengan judul yang lebih liar.
Ia memilih sasaran yang masih bisa dikendalikan.
Jaringan bot yang mendorong tagar dihentikan dari pusat komandonya. Akun yang menyebarkan alamat rumah perawatan dikunci melalui laporan doxing serentak dan bukti pelanggaran. Dua akun pemasaran yang mengatur hujatan dipetakan, lalu akses mereka ke kumpulan akun palsu diputus.
“Video aslinya tetap naik,” kata Tania.
“Biarkan. Turunkan yang pakai alamat Mama dan fitnah soal utang.”
“Ada akun gosip besar minta konfirmasi.”
“Jangan jawab.”
Renata mengirim bukti penyebaran data pasien kepada tim hukum rumah perawatan. Ia meminta mereka menutup akses pengunjung tanpa janji dan tidak memberi keterangan tentang Yolanda kepada siapa pun.
Ia menelepon meja perawat setelahnya.
“Bu Renata?” Suara perawat terdengar tergesa. “Ada dua orang mengaku dari media minta bicara dengan keluarga pasien.”
“Jangan izinkan masuk. Nama Mama dan nomor kamarnya nggak boleh diberikan.”
“Keamanan sudah diberi tahu. Ibu Yolanda sedang tidur dan belum mendengar keributan.”
Renata menutup mata sejenak. “Kalau ada perubahan sedikit pun, telepon saya. Jangan tunggu jam kunjung.”
“Baik, Bu.”
Sambungan berakhir. Setidaknya ibunya masih aman, tetapi keselamatan itu kini bergantung pada seberapa cepat Renata menahan orang-orang yang menganggap pasien sakit sebagai bahan konten.
Jumlah komentar masih bertambah, tetapi kecepatannya mulai turun. Tagar yang tadinya melonjak karena dorongan palsu kehilangan ribuan unggahan dalam beberapa menit. Perbincangan organik tetap ada, kasar dan penuh spekulasi, namun alamat rumah perawatan menghilang dari hasil pencarian teratas.
Itu bukan kemenangan.
Hanya pagar darurat agar api tidak mencapai ibunya.
Renata menyandarkan punggung ke dinding koridor. Napasnya pendek. Keringat dingin menempel di tengkuk meski pendingin ruangan terasa menusuk.
“Ren, kamu masih dengar?”
“Iya.”
“Alamatnya sudah turun. Aku pantau terus.”
“Terima kasih.”
“Sekarang kamu harus pikirkan dirimu.”
Di balik pintu ruang konferensi, tim komunikasi Prima menampilkan pilihan pernyataan di layar.
“Kita nggak bisa menyangkal rekamannya,” kata salah satu anggota tim. “Kalau catatan sipil bocor setelah penyangkalan, krisisnya lebih besar.”
Cheryl menatap komentar yang menyebutnya perempuan ketiga. Unggahan cincinnya sudah disalin akun gosip dan ditempatkan di samping foto Renata berseragam.
“Aku nggak pernah bilang cincin itu dari Nate,” katanya. “Mereka membuat kesimpulan sendiri.”
Reno meliriknya. “Kamu juga nggak buru-buru mengoreksi.”
“Sekarang bukan waktunya menyalahkanku.”
Nathan meletakkan ponsel di meja. Ia baru melihat foto gerbang rumah perawatan yang kemudian hilang dari hasil pencarian. “Siapa yang menurunkan tagarnya?”
Kepala teknis menggeleng. “Bukan tim kita. Ada pihak lain yang memutus jaringan akun palsu.”
Nathan langsung teringat dua huruf yang sedang diburunya.
JK.
“Jangan keluarkan pernyataan sebelum Renata kembali,” katanya.
Pintu ruang konferensi terbuka.
Reno berdiri di sana. “Nathan minta kamu kembali.”
Renata memutus sambungan, mengunci layar JK, lalu memasukkan ponsel ke saku. Kakinya terasa berat saat berjalan kembali ke ruangan.
Di dalam, rapat resmi sudah berakhir. Tak ada peserta daring di layar, tetapi seluruh kursi masih terisi. Beberapa pegawai menggenggam ponsel dengan wajah bersalah. Tim komunikasi berdiri dekat Nathan. Cheryl duduk kaku, kedua tangannya mencengkeram tablet.
Nathan berdiri di kepala meja dengan wajah setegang batu.
Renata melewati ambang pintu.
Bisik-bisik berhenti.
Satu demi satu, semua kepala berputar.
Puluhan pasang mata menancap pada Renata, istri rahasia Kapten Nathan Halim selama tiga tahun.