Riven Daylon Chamron adalah pria yang memiliki segalanya. Terlahir sebagai putra sulung Thomas Chamron dan Hellary Chamron, ia tumbuh di tengah kemewahan, kekuasaan, dan lingkaran pergaulan elit yang membuat namanya dikenal di banyak kalangan.
Namun, ada satu hal yang tidak pernah diajarkan oleh dunia bisnis, kekuasaan, ataupun pendidikan terbaik yang pernah ia terima: cinta.
Angelina Angie, seorang gadis yang terlihat polos dan pekerja keras demi mencapai impiannya mampu meluluhkan hati Riven.
Namun, saat perasaannya semakin dalam, Riven mulai menyadari bahwa wanita yang dicintainya mungkin tidak mencintainya dengan alasan yang sama.
Angelina Angie yang tak memiliki apapun tak membawa apapun hingga akhirnya menjadi Ratu Instagram berkat Riven, ternyata memiliki kehidupan yang penuh kontroversi. Di balik senyumnya yang memikat, tersimpan ambisi, drama, intrik, serta rahasia yang tak di ketahui.
Sebuah kisah tentang cinta, pengkhianatan, ambisi, dan harga yang harus dibayar ketika seorang pewaris konglomerat jatuh hati pada wanita yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Newbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 7
Ketika Riven kembali ke area tempat dimana sahabatnya berada di ruang VIP, obrolan di meja sahabat-sahabatnya masih berlangsung meriah.
Namun baru beberapa langkah mendekat, seluruh perhatian langsung tertuju pada Riven. Atau lebih tepatnya, pada pakaian yang kini ia kenakan.
Zayn menjadi orang pertama yang menyadari itu, ia langsung mengernyitkan dahinya.
“Tunggu sebentar.”
Semua mata ikut beralih.
“Kau pergi ke toilet untuk berganti identitas? Jubah mu berganti. Apa yang baru saja kau lakukan di toilet.” Zayn menyeletuk.
Tawa langsung pecah.
Gavin menyentuh kemeja yang dikenakan Riven sedikit. “Sejak kapan kau membawa pakaian cadangan?” Tanya Gavin penasaran.
“Siapa tahu dia punya lemari pakaian tersembunyi di setiap kota,” tambah Kenzio.
“Hematlah sedikit imajinasi kalian,” balas Riven sambil duduk.
“Lalu?” Tanya Zayn.
Gavin mencondongkan tubuhnya.
“Ada apa sebenarnya? Apa kau melakukan hal tak senonoh di toilet milik Jack.”
Semua langsung tertawa.
Riven mengambil gelas air di hadapannya sebelum menjawab santai.
“Tadi ada seseorang yang menabrakku.”
“Wanita?” tanya Jack.
Riven meliriknya.
“Ya.”
“Oho…” Sahut semuanya serempak.
Seketika seluruh meja mulai tersenyum penuh arti. Riven mengabaikan mereka.
“Kopinya tumpah. Hampir seluruh bagian depan kemejaku terkena.”
“Lalu?” Tanya Gavin.
“Dia memberiku pakaian pengganti.”
“Kau menerimanya?” tanya Zayn.
Riven melirik kemejanya. Memberi kode. “Tidak mungkin aku kembali ke sini dengan kemeja penuh noda kopi. Lagi pula tidak nyaman.” Kata Riven.
“Itu masuk akal.” Kata Gavin.
“Katanya pakaian ini untuk keperluan endorsement,” lanjut Riven. “Mungkin dia seorang influencer juga.”
“Cantik?” tanya Kenzio tanpa basa-basi.
Riven terdiam sesaat. Lalu menjawab singkat. “Lumayan.”
“Lumayan?” Tanya Jack.
“Kalau Riven bilang lumayan, berarti artinya cantik sekali,” sahut Gavin.
Tawa kembali memenuhi meja.
“Di mana orangnya?” tanya Jack penasaran.
Refleks semua orang menoleh ke berbagai arah. Mereka menyapu area lantai dua dengan pandangan masing-masing. Namun sosok yang dimaksud sudah tidak terlihat lagi.
Riven menunjuk samar ke arah koridor dengan dagunya.
“Tadi ada di sana.”
“Mungkin sudah pulang.” Kata Zayn.
“Katanya besok pakaianku akan dikembalikan melalui kafe.”
Jack yang sedari tadi mendengarkan akhirnya mengangguk. “Kalau begitu biar stafku yang menerima.”
Riven mengangguk pelan. Baginya, kejadian itu hanyalah sebuah insiden kecil yang kebetulan terjadi malam ini.
Namun entah mengapa. Untuk pertama kalinya sejak duduk kembali bersama sahabat-sahabatnya, bayangan sepasang mata bening yang tadi menatapnya penuh rasa bersalah justru muncul kembali di dalam benak dan pikirannya. Dan ketika senyuman penuh kelegaan terpancar jelas di wajah gadis itu, kini terus menganggu Riven.
Obrolan mereka berlanjut hingga tanpa terasa malam semakin larut. Cafe juga sudah sepi.
Topik demi topik berganti dengan sendirinya, hingga berbagai kisah konyol yang pernah mereka alami selama bertahun-tahun bersahabat. Tawa sesekali masih pecah memenuhi ruangan.
Namun satu per satu mulai melirik jam tangan masing-masing. Besok pagi mereka harus kembali menjalani rutinitas. Kembali menjadi para pewaris perusahaan. Direktur. CEO. Atau calon pemimpin bisnis yang memikul tanggung jawab miliaran rupiah di pundaknya.
Akhirnya Jack berdiri dari kursinya sambil meregangkan tubuh.
“Baiklah. Sudah tengah malam. Aku juga harus tutup.”
“Setuju,” sahut Zayn.
“Besok aku ada rapat pukul tujuh pagi,” gerutu Kenzio.
“Kalau begitu bubar.” Kata Gavin. “Aku juga harus jadi sopir.”
“Si manja sedang belajar bekerja keras.” Lanjut Zayn menyindir Gavin.
”Sialan!” Umpat Gavin pada Zayn.
Semua mulai bangkit dari kursi masing-masing.
Saat itulah Kenzio tiba-tiba menoleh ke arah mereka.
“Ngomong-ngomong…” katanya sambil menyeringai. “Siapa tadi yang bilang mau membayar semuanya?”
Seketika seluruh kepala menoleh ke satu orang. Lalu secara serempak mereka menjawab.
“Sultan.”
Riven memejamkan mata sesaat. “Aku juga sudah janji. Tenang saja akan ku hidupi kalian para parasit.” Kata Riven.
“Hidup parasit!” sahut Gavin.
Tawa langsung pecah lagi.
Riven memang sudah berjanji sejak awal bahwa malam ini ia yang akan mentraktir seluruh tagihan. Dengan ekspresi pasrah, ia merogoh saku kemejanya.
Kosong.
Keningnya sedikit berkerut. Ia memeriksa saku celana.
Kosong.
Tangannya berhenti. Untuk pertama kalinya malam itu, ekspresinya berubah. Riven berpikir beberapa detik.
“Apakah tertinggal di toilet?”
“Kenapa? Apa yang kau cari?” Gavin menoleh.
“Ada apa?” tanya Jack.
“Ponsel dan dompetku tidak ada.”
Seketika suasana menjadi lebih serius.
Jack langsung berdiri. “Jangan-jangan tertinggal di toilet. Aku cek dulu.”
Tanpa menunggu jawaban, ia segera berjalan cepat menuju area toilet.
Sementara yang lain ikut membantu mencari. Mereka memeriksa meja. Di bawah kursi. Di sekitar sofa. Bahkan hingga area lantai yang tadi mereka tempati. Namun tidak ada hasil.
Beberapa menit kemudian Jack kembali. “Tidak ada?” Tanyanya.
Semua menggeleng.
“Di toilet juga tidak ada.” Lanjut Jack.
Kening Gavin berkerut.
“Coba hubungi nomor ponselmu.” Perintah Zayn.
“Pakai punyaku,” ujar Kenzio sambil menyodorkan ponselnya.
Gavin segera menyambarnya, dan menekan nomor milik Riven. Semua menunggu dalam diam.
Satu nada.
Dua nada.
Tiga nada.
Lalu panggilan tersambung.
“Halo?”
Suara seorang wanita terdengar dari seberang sana.
Gavin langsung melirik Riven.
“Halo. Ini ponsel milik Riven.”
“Oh.”
Terdengar nada lega dari wanita itu.
“Syukurlah. Aku memang sedang dalam perjalanan kembali ke kafe.”
“Apa?”
“Tadi ponsel dan dompetnya masih berada di dalam pakaian yang terkena kopi. Aku baru menyadarinya saat hendak membawa bajunya ke laundry.”
Gavin mengangguk pelan. “Begitu rupanya.”
“Maaf membuat kalian khawatir. Aku sedang menuju ke sana sekarang.”
“Baik. Kami tunggu.”
Panggilan pun berakhir. Semua mata langsung tertuju pada Gavin.
“Lalu?” tanya Kenzio penasaran.
Gavin memasukkan memberikan ponselnya pada Kenzio.
“Ponsel dan dompet Riven ternyata masih ada di dalam pakaian yang terkena kopi.”
“Oh.” Beberapa orang menghela napas lega.
“Gadis yang menabraknya tadi?” Tanya Kenzio.
“Ya.” Jawab Gavin
“Dia sedang menuju ke sini untuk mengembalikannya.”
Riven hanya mengangguk tipis.
Sementara Gavin membuka dompetnya sendiri. Ia mengeluarkan sebuah kartu kredit dan menyerahkannya kepada Jack.
“Kalau begitu pakai ini.”
Jack menerimanya sambil terkekeh.
“Luar biasa. Bahkan saat mentraktir pun uangnya tetap mengalir dari orang lain.” Zayn terkekeh.
“Itulah yang menbuatnya tetap kaya.” Kata Jack.
“Diam brengsek!” Umpat Riven.
Tawa kecil terdengar. Namun beberapa detik kemudian Gavin kembali bertanya.
“Perlu kuhubungi lagi? Kita bisa menjemputnya. Mungkin dia sudah dekat.”
“Tidak perlu.” Suara tenang Zayn memotong pembicaraan.
Semua langsung menoleh ke arahnya. Termasuk Riven. Zayn menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil menyilangkan kedua tangan. “Kita tunggu saja di sini.”
“Maksudmu?” tanya Jack.
Zayn menatap mereka satu per satu. “Kita tidak mengenalnya.”
Hening sejenak.
Kalimat itu langsung dipahami seluruh orang yang berada di meja tersebut.
Mereka hidup di dunia yang sama. Dunia bisnis.
Dunia yang terlihat glamor dari luar, tetapi dipenuhi persaingan, intrik, dan kepentingan di balik layar. Tidak semua senyum berarti ketulusan. Tidak semua bantuan datang tanpa tujuan.
“Terlalu berlebihan tidak?” gerutu Kenzio.
“Tidak.” Kali ini yang menjawab justru Gavin.
“Kita tunggu saja,” ulang Zayn. “Kalau dia memang berniat baik, dia akan datang ke sini. Sekarang marak hal seperti ini, jika kita kesana, kita tidak tahu siapa yang berada di belakang perempuan itu.”
“Dan kalau tidak?” tanya Kenzio.
Sudut bibir Zayn terangkat tipis.
“Setidaknya kita tidak akan berjalan langsung ke dalam masalah yang belum kita pahami.” Kata Zayn.
Ruangan kembali hening beberapa saat. Kemudian semua orang setuju. Mereka memilih tetap berada di kafe. Menunggu gadis yang membawa ponsel dan dompet milik Riven datang.
Tanpa seorang pun menyadari, bahwa beberapa menit lagi, pertemuan kedua antara Riven dan gadis tersebut akan terjadi jauh lebih menarik daripada yang mereka bayangkan.
Bersambung
act service riven bnr² bkin meleyott wkw
btw angie mau k rumah tmn yg mana yaa ??
nah kan ditnyain kmu kenapa blum ke kantor