NovelToon NovelToon
The Wiragata Legacy

The Wiragata Legacy

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perjodohan / Mafia
Popularitas:266
Nilai: 5
Nama Author: Mellsqueen

​Sepuluh tahun lalu, orang tua Halra Wiragata tewas mengenaskan setelah sistem mobil listrik mereka diretas secara sadis oleh Dinasti Joharo. Kini, tepat di usianya yang ke-17, takdir mempermainkan Halra dengan cara yang paling kejam: ia dipaksa menikah dengan Sano Joharo, putra bungsu dari pembunuh orang tuanya.
​Terjebak di dalam mansion siber milik Sano yang serba otomatis, paranoia Halra memuncak. Demi melindungi diri dari sang suami yang dingin dan berbahaya, Halra nekat menyewa Tazam, pengawal pribadi tampan untuk berpura-pura menjadi kekasih gelapnya demi memicu kecemburuan Sano.
​Namun, permainan api itu justru membongkar konspirasi berdarah yang jauh lebih besar. Saat topeng-topeng mulai runtuh di bawah satu atap, Halra harus menghadapi kenyataan mengerikan: Siapakah yang sebenarnya menjadi tameng terakhirnya, dan siapa musuh dalam selimut yang siap melenyapkannya dari balik server?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mellsqueen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Batas yang Terlampaui

Suasana di dalam ruang kerja itu berubah menjadi medan magnet yang berbahaya. Keheningan yang tercipta bukan karena kedamaian, melainkan karena napas yang tertahan. Sano berdiri tepat satu meter di depan mereka, matanya yang tajam bak silet seolah sedang membedah setiap inchi hubungan yang baru saja ia lihat antara Halra dan pengawal barunya.

"Aku akan mengatakannya sekali lagi, Halra," suara Sano kini sedingin es, nyaris berbisik namun setiap katanya menuntut kepatuhan mutlak. "Suruh dia keluar. Atau aku yang akan memastikan dia tidak bisa melangkah keluar dari ruangan ini dengan kedua kakinya sendiri."

Halra justru tertawa, sebuah tawa yang tidak memiliki kehangatan, hanya ejekan. Ia justru semakin menempel pada Tazam, seolah-olah pengawal itu adalah benteng satu-satunya yang ia miliki di dunia yang penuh pengkhianatan ini.

"Kau mengancam pengawalku di rumahku sendiri?" tantang Halra dengan nada suara yang bergetar karena amarah yang memuncak. "Kau tidak punya hak untuk mengatur siapa yang boleh berada di dekatku, Sano. Apalagi setelah apa yang kau lakukan di Hotel Wiragata kemarin. Kau menghancurkan privasiku, kau mempermainkan martabatku di depan kamera. Jadi, jangan harap aku akan menuruti satu pun perintahmu hari ini."

Tazam, yang sedari tadi diam, akhirnya sedikit bergeser. Gerakannya sangat halus, namun cukup untuk membuat Sano sadar bahwa pria di hadapannya ini bukanlah pengawal amatir. Tazam menatap Sano dengan tatapan yang penuh dedikasi—sebuah tatapan yang bagi Halra adalah kesetiaan, namun bagi Sano adalah tantangan terbuka dari seorang rival.

Sano tidak tahan lagi. Ia maju satu langkah dengan kecepatan yang mengejutkan, mencoba menarik tangan Halra dari lengan Tazam. Namun, dengan refleks yang luar biasa, Tazam sedikit memutar posisi tubuhnya, menghalangi tangan Sano tanpa melakukan kontak fisik yang kasar namun efektif menciptakan jarak.

"Jangan menyentuh Nyonya, Tuan," suara Tazam rendah, tenang, namun memiliki wibawa yang membuat Abinawa—asisten pribadi Sano—secara refleks meletakkan tangannya di balik jas, bersiap menarik senjata.

Sano mematung. Matanya melebar, urat-urat di lehernya menegang. Ia belum pernah melihat orang yang berani menghalanginya dengan cara seberani itu. Ia menatap tajam ke arah tangan Halra yang masih mencengkeram lengan Tazam dengan begitu erat, seolah-olah Halra sedang memohon perlindungan dari suaminya sendiri.

"Kau berani menghalangiku?" Sano menatap Tazam dengan seringai mengerikan. "Kau tahu apa konsekuensi dari tindakanmu? Di rumah ini, aku adalah hukum. Dan kau... kau hanyalah pion yang bisa kuhancurkan dalam hitungan detik."

"Tuan, cukup!" Halra berteriak, suaranya menggema di dinding ruang kerja yang megah itu. Ia kini berdiri sepenuhnya di depan Tazam, memosisikan dirinya sebagai tameng. "Jika kau ingin menghancurkan seseorang, hancurkan aku! Jangan berani-berani menyentuh Tazam. Dia adalah satu-satunya orang di rumah ini yang tidak memandangku sebagai properti politik atau pion untuk kepentingan klan Joharo!"

Sano tertegun. Kata-kata Halra menghantamnya lebih keras daripada pukulan fisik mana pun. Ia menatap istrinya—wanita yang baru beberapa hari lalu ia lihat tertidur di bahunya, wanita yang ia anggap telah ia taklukkan. Namun kini, wanita itu menatapnya dengan tatapan penuh kebencian yang mendalam.

Ruangan itu mendadak menjadi sangat panas. Sano merasakan dadanya sesak oleh gejolak emosi yang tidak bisa ia definisikan. Apakah itu cemburu? Atau rasa kehilangan kontrol yang sudah ia bangun dengan susah payah?

"Kau membelanya," gumam Sano, suaranya nyaris tidak terdengar. "Kau lebih memilih melindungi bajingan ini daripada mendengarkan suamimu sendiri?"

"Suami?" Halra membalas dengan nada yang sarat akan luka. "Kau bukan suamiku, Sano. Kau adalah monster yang mencoba meruntuhkan harga diriku setiap hari. Dan hari ini, aku pastikan kau tidak akan pernah bisa melangkah ke paviliun belakang lagi."

Halra menarik tangan Tazam, membimbing pria itu untuk berbalik. Sebelum mereka melangkah keluar, Halra berhenti sejenak, memutar kepalanya untuk menatap Sano yang masih berdiri mematung di sana dengan amarah yang tertahan.

"Abinawa," panggil Halra kepada asisten Sano. "Pastikan Tuanmu ini minum obat penenang. Dia tampak kehilangan akal sehatnya pagi ini."

Halra dan Tazam melangkah keluar dari ruang kerja dengan kepala tegak. Di belakang mereka, Sano meledak. Ia menghantam meja kerja jati miliknya dengan kepalan tangan, hingga benda-benda di atasnya terjatuh berserakan ke lantai.

"Tazam..." desis Sano, menyebut nama itu dengan nada yang penuh kebencian. Ia tahu, permainannya baru saja menjadi jauh lebih berbahaya. Ia tidak hanya melawan Halra sekarang, ia melawan sebuah simbol perlindungan baru yang muncul di dalam rumahnya sendiri.

Sementara itu, di lorong menuju paviliun, Tazam menundukkan kepalanya, memberikan hormat yang sempurna pada Halra. Namun, jauh di dalam tatapannya yang tertunduk, ada seringai tipis yang muncul—seringai yang tidak akan pernah dilihat oleh Halra. Pertunjukan ini berjalan jauh lebih baik daripada yang ia rencanakan. Ia telah berhasil menciptakan keretakan yang permanen di antara mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!