Velica seorang artis terkenal yang iseng membaca novel bertema " Gadis seindah musim semi " yang sedang booming dengan banyak sanjungan banyak orang. Bukannya menyanjung, Velica justru mengkritik tokoh utama novel tersebut yang menurutnya terlalu menganiaya sang antagonis.
"Kasihan sekali Clarissa ini, Padahal Robert itu tunangannya, Tetapi mengapa ia harus di benci karna marah ketika tunangannya berselingkuh." Ujarnya kesal.
"Padahal Clarissa punya segalanya, Ia juga melakukan semuanya untuk Robert, Robert itu lah yang tidak tahu diri. Sudah di bantu dia malah menyukai anak dari seorang pelayan, Sih Nadia itu!"
"Jika aku menjadi Clarissa, Sudah ku buat kedua orang itu kehilangan wajahnya di muka umum, Beraninya dia yang seorang pemuda miskin memperlakukan Clarissa begini!" Velica melempar novel itu dengan kesal.
Tak lama, Novel itu terbuka sendiri...membuat Velica masuk ke dalam nya. Jika penasaran cuss langsung baca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Najmu Laila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22 - Bertemu diam-diam
...Chapter 22...
...----------------...
Pagi ini, Nadia tersenyum senang menatap Axion yang berdiri tegap menunggunya. Pemuda itu benar-benar menunggunya untuk bersekolah bersama.
"Selamat pagi, Kak Axion."Sapa Nadia tersenyum.
"Pagi, Ayo berangkat."Axion membukakan pintu mobilnya pada Nadia, Gadis itu masuk dengan hati berbunga-bunga. Rasanya seperti mendapatkan sesuatu yang lebih besar.
Sepanjang perjalanan, Gadis itu menatap Axion sesekali. Axion-nya kembali seperti sebelumnya. Tidak menghinanya, Tidak menolaknya, Hanya ada cinta untuknya.
"Kak Axion."
Axion menoleh, Ia tersenyum tipis Menatap Nadia dengan hangat.
"Ada apa, Mau bicara?" Tanya Axion, Nadia menggeleng.
"Aku merasa menang."Ucapnya tersenyum bangga.
"Menang?" Bingung Axion.
"Iya, Aku pikir kakak tidak menginginkan-ku lagi dan memilih nona Clarissa. Aku merasa sedikit tak nyaman."Ucap Nadia.
"Kau cemburu? Aku tidak menyukai Clarissa."Ucap Axion, Nadia mengangguk.
"Aku tau, Karna kakak orang yang paling mencintaiku sejak kecil."Ucap Nadia tersenyum.
"Kau benar."Ucap Axion tersenyum hangat. Nadia berdebar, Ia baru sadar. Ternyata Axion begitu tampan, Pemuda itu sangat sempurna.
Beberapa menit berlalu, Mereka sudah sampai di sekolah. Nadia turun bersama Axion, Beberapa siswa menatap hal itu sebagai berita hot lagi.
"Mereka bersama lagi?!"
"Padahal tuan muda itu tunangan nona Clarissa."
"Nona Clarissa pasti sedih bukan?"
"Tapi Nadia kan memang lebih dulu bersama tuan muda."
"Kau dengar beberapa berita ibu kota."
"Iya, Dia mendorong nona Clarissa tepat di kediamannya sendiri."
"Ternyata untuk mendapatkan tuan muda kembali."
Robert menatap Nadia yang berjalan beriringan bersama Axion dengan wajah berbeda. Gadis itu terlihat tersenyum manis.
"Nadia!"
Langkah gadis itu terhenti begitu pun Axion. Robert menatap Nadia dengan tatapan dingin yang amat tajam. Robert berdiri tepat di hadapan gadis itu.
"Robert?"
"Kapan kau akan meminta maaf pada Clarissa?" Tanya Robert, Nadia menatap Robert dengan kesal.
"Minta maaf, Aku tidak salah."Ucap Nadia, Robert masih saja tak percaya padanya.
"Sudah jelas kau mendorongnya, Dia terluka cukup parah karna mu."Ucap Robert mencengkram tangan Nadia yang di tahan oleh Robert.
"Sakit...Kau melukai-ku."Ucap Nadia mencoba melepaskan cekelan tangannya.
Buk!
Axion memukul wajah Robert dengan dingin, Hingga kini pemuda itu terhuyung sedikit ke belakang. Satu sudut bibirnya mengeluarkan darah segar.
"Jangan kasar padanya."Ucap Axion dingin, Ia menarik tangan Nadia melewati Robert yang masih menatap kesal ke Nadia.
Nadia tak menyangka bahwa Axion akan membelanya, Tetapi melihat Robert yang menatapnya tajam sungguh membuat hatinya sakit. Robert benar-benar berubah, Bukan lagi pria lembut yang ia kenal.
"Aku tidak ingin berbicara padamu lagi Robert."Ucap Nadia tanpa menoleh, Robert seperti orang lain sekarang.
Robert menghela nafasnya dalam-dalam, Ia mengusap kasar bibirnya yang pecah dan mengeluarkan darah. Ternyata Nadia hanyalah gadis plin-plan, Berbeda dengan Clarissa yang setia hanya untuknya.
"Selama ini aku salah menilai-mu, Kau bahkan lebih memilih Axion di bandingkan diriku."Gumam Robert ia melangkah-kan kaki menuju ruang kelasnya.
...----------------...
"Aku memukulnya hari ini."
Clarissa tersenyum, Sera yang berada di dekatnya merasa bingung dengan apa yang sedang anak majikannya itu pikirkan.
"Sera, Siapkan P3k untukku."Ucap Clarissa turun dari ranjangnya, Jam pulang sekolahnya memang lebih cepat beberapa menit dari Robert.
"Nona, Apa anda terluka?!" Cemas Sera, Clarissa tersenyum.
"Bukan aku, Tetapi seseorang." Ucap Clarissa, Gadis itu menggunakan sebuah dress bermotif bunga. Rambutnya terurai bebas menambah kesan keindahan seorang Clarissa.
"Anda mau kemana?" Tanya Sera, Clarissa tak menjawab. Ia turun dengan anggun menuju halaman rumahnya. Ia juga membawa sebuah penyiram tanaman ( Watering can)
"Nona Clarissa, Apa yang anda lakukan?" Kaget Silvi. Pelayan itu sedang asik memetik bunga, Kaget dengan Clarissa yang datang dan langsung menyiram bunga.
"Aku ingin menyiram tanaman."Ucap Clarissa tersenyum. Gadis itu mulai menyiram tanaman dengan gerakan lembut.
Tin! Tin!
Sebuah mobil terdengar memasuki halaman rumahnya, Clarissa tersenyum tipis. Gadis itu sengaja mengusap rambutnya dengan cara yang mempesona.
Robert baru saja turun dari mobil, Ia menatap Clarissa yang memakai dress bunga berwarna merah, Warna kesukaannya.
"Clarissa!"
Clarissa berbalik sambil berakting hampir jatuh, Robert dengan sigap menangkapnya sehingga kini ia berada di dalam pelukan Robert.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Robert menatap lurus mata indah Clarissa.
"Aku tidak apa-apa Robert, Syukurlah ada kamu."Ucap Clarissa tersenyum hangat. Dari jarak sedekat itu, Robert bisa mencium bau harum tubuh Clarissa, Sangat wangi dan candu baginya.
"Aku sengaja memakai parfum bunga mawar. Wangi kesukaanmu dulu." Batin Clarissa tersenyum.
Robert tanpa sadar menyentuh sebelah pipi Clarissa, Ia baru menyadari betapa cantiknya gadis itu, Seluruh bagian tubuh gadis itu begitu indah dan sempurna.
"Kau...sangat cantik Clarissa."Ucap Robert terpesona, Clarissa mendorong pelan dada bidang pemuda itu.
"Aku malu."Ucap Clarissa menunduk, Robert terkekeh dan menarik dagu Clarissa dengan lembut.
"Clarissa-ku yang baik dan cantik, Memang tidak bisa di bandingkan dengan siapapun." ucap Robert membelai rambut Clarissa.
"Robert, Bibirmu kenapa?" Tanya Clarissa dengan wajah khawatir, Robert tersenyum.
"Aku tidak apa-apa,"
"Sera! Ambilkan p3k!" Teriak Clarissa dengan khawatir, Robert tersenyum senang. Wajah khawatir Clarissa ini lah yang selalu Robert ingin lihat.
Sera datang membawa p3k dengan cepat, Clarissa mengajak Robert duduk pada bangku besi yang berada di halaman rumahnya, Ia mulai membersihkan luka pemuda itu, Ia juga mengobatinya.
"Clarissa benar-benar mencintaiku."Batin Robert tersenyum senang.
...----------------...
Kevian menatap aneh sahabat dekatnya itu, Axion hari ini kembali bersama Nadia. Seolah-olah melupakan kebenciannya. Hari ini bahkan Axion membela Nadia dengan terang-terangan.
"Terima kasih kak Axion."Nadia masuk ke dalam mobil, Axion tetap menunggunya meskipun hari ini ia memiliki jadwal piket.
"Axion, Kau..."
Axion berjalan menjauh dari sana, Kevian mengikutinya dengan bingung. Pasalnya ia sangat menunggu penjelasan dari Axion.
"Mulai sekarang, Jangan membahas Clarissa lagi di depan Nadia."Ucap Axion, Kevian terperangah.
"Hah! Apa maksudmu?!" Kaget Kevian heran, Bukankah Axion baik-baik saja dengan nona Clarissa?
"Ikuti saja perkataanku, Oh yaa...nanti malam. Ikut aku."Ucap Axion, Setelah itu pemuda itu ikut masuk ke dalam mobil.
"Oke."Angguk Kevian.
...----------------...
Malam tiba, Setelah selesai makan malam....Clarissa tersenyum menatap handphonenya.
"Aku ada di dalam kamarmu."
"Mommy, Daddy...aku ingin ke kamar."Ucap Clarissa tanpa mendengarkan jawaban kedua orang tuanya, Gadis itu sudah memencet tombol lift dan segera naik menuju lantai kamarnya.Amrita dan Louis hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku putrinya.
Clarissa membuka pintu kamarnya, Axion menatapnya dengan senyuman manis sambil merentangkan tangannya. Clarissa menyambutnya dengan baik.
Hug!
"Aku merindukanmu."Clarissa memeluk erat Axion, Pemuda itu terkekeh dan membalas pelukan Clarissa dengan cara yang sama.
"Aku lebih merindukanmu, Rubah kecil."Ucap Axion, Clarissa memicingkan matanya.
"Memangnya aku terlihat seperti rubah?"Ucapnya cemberut, Axion tersenyum dan menatap dalam kedua mata Clarissa.
"Iya, Kau seperti rubah...Sangat menarik dan memikat."Ucap Axion,
"Kau juga seperti rubah, Sangat indah tapi berbahaya."Jawab Clarissa.
"Oh yaa, Siapa yang membantumu naik ke sini?"Bingung Clarissa, Axion menarik tangan gadis itu menuju balkon mansion nya. Sera melambaikan tangan bersama pak Akbar.
"Oh sudah ku duga, Bahkan pelayan kepercayaan ku saja mendukungmu."Ucap Clarissa menatap Axion kesal.
"Jika mereka tidak mendukungku, Bagaimana aku bisa bertemu denganmu."Ucap Axion, Clarissa yang kesal merubah ekspresinya menjadi tersenyum.
"Ayo kita bermain?!" Ucap Clarissa tersenyum, menarik tangan Axion.
Clarissa menyuruh para pelayannya berjaga di sekitar lift dan tangga, Tidak boleh ada yang mengganggu waktu bersama mereka.
Criing!
Suara notif handphone Axion menghentikan gerak mereka, Axion menatap sebuah pesan sambil tersenyum.
"Mau menonton sesuatu yang seru?" Tanya Axion, Clarissa mengangguk senang.
"Baiklah."Jawab gadis itu.
TBC
like dan komen.