Menelusuri lorong kota itu setelah sekian lama meninggalkannya mengusik ingatanku.
Beberapa tempat yang tak berubah, mengingatkan sebagian kisah masa laluku yang menempaku menjadi seperti sekarang .... Laki-laki yang masih tetap menjadi dirinya sendiri.
Aku bisa selembut kapas dan berubah sekeras batu padas seiring kedewasaan hidupku yang dikelilingi kepalsuan dan intrik penumpang gelap di sekitarku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A.T. Setiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. Semakin Besar
Elsi tiba-tiba saja menghilang setelah liburan sekolahku. Kata bu Mar dia sekarang sudah tinggal di kota Bandung mengikuti bapak dan ibunya yang pindah kerja ke sana.
"Ah Aku tak punya teman lagi," keluhku.
Setelah kehilangan Erwin, Eliza, dan Bogi di sekolah, ... kini Aku malah kehilangan Elsi.
Terakhir Aku bertemu tiga teman satu mejaku itu saat ada pesta di sekolah.
Kata Ibu itu pesta perpisahan, karena kami sudah selesai bersekolah TK dan mulai besok kami tidak perlu ke sana lagi.
"Jadi Aku besok sudah tidak sekolah lagi di sini bu ?"
Perasaanku menjadi tak karu-karuan mendengar kata-kata Ibu.
"Ya tetap sekolah Pras, ... tapi pindah ke sekolah yang lebih besar .... Kan kamu sudah bertambah besar. Kursimu tidak akan muat kalau kamu tetap sekolah di situ."
Ibu seperti tahu perasaanku, menghiburku dengan bu guru, teman, dan tempat baru yang akan kutemui lagi nanti jika sudah masuk sekolah lagi.
Seusai pesta itu, Aku merasakan ada yang hilang di setiap pagiku.
Libur sekolah ternyata menyebalkan. Tak ada lagi kesenangan bersama Erwin, Eliza, dan Bogi setelah sekian lama kami selalu bersama.
Perasaan yang kurasakan sama persis ketika Aku kehilangan Tarman dulu, teman bermainku di Semarang yang sudah lama kutinggalkan dan entah bagaimana kabarnya sekarang.
***
Bapak mengatakan Aku masih harus menunggu libur sekolah usai, ketika suatu malam Aku menanyakan kapan Aku berangkat ke sekolah lagi.
"Kamu mau ke rumah Kakek sambil menunggu berangkat sekolah lagi ?" tanya Bapak ke arahku.
Aku mengangguk senang mengiyakan. Apalagi Bapak mengatakan ada Anton dan Rudi sepupuku di rumah Kakek.
"Naik kereta pak ?"
"Ya," jawab Bapak. "Kamu sudah besar Pras, kalau kamu berani Bapak tinggal di sana, besok kita berangkat," ujar Bapak Lagi.
Sepertinya Bapak ingin tahu apakah benar sekarang Aku sudah besar, seperti yang sering kudengar dari mulut Ibu dan bibi Yanti jika Aku menguping obrolan mereka.
"Kamu sudah besar Pras gak boleh ngompol .... Kamu sudah besar Pras gak boleh nakal .... Kamu sudah besar Pras gak boleh takut ...." Ibu selalu cerewet melarang ini itu kepadaku.
Semula Aku menganggap menjadi besar banyak tidak enaknya.
Banyak larangan yang harus kupatuhi. Tak boleh melakukan ini itu semauku sendiri lagi seperti yang selalu kudengar dari omelan Ibu.
Bertambah besar juga bukan tentang celana kolor atau kursi TK-ku yang terasa sesak tak muat lagi menampung badanku.
Menjadi besar seperti kata-kata Bapak, ternyata juga mengajakku untuk melakukan sesuatu yang belum pernah kulakukan.
Dan yang menyenangkan, ... jika Aku berhasil melakukan hal-hal baru yang dibolehkan Ibu dan bibi Yanti, mereka pasti akan memujiku.
"Anak cakep," kata Ibu atau bibi Yanti sambil tersenyum.
Aku masih ingat juga saat Ibu tertawa senang memujiku lalu membuatkan telur dadar dengan ukuran yang lebih besar dan tebal berisi cincangan wortel kesukaanku ketika Aku tak mengompol lagi.
Dan kali ini Aku tak sabar menunggu kereta api yang akan mengantar ke rumah Kakek besok, lalu pamer kepada Bapak kalau ternyata Aku sudah berani ditinggal sendirian di sana selama liburan sekolahku ....
***
Pagi-pagi Aku dan Bapak sudah ada di belakang deretan orang-orang yang berkerumun memanjang seperti ular di depan ruang kaca yang berlubang kecil.
Seperti Ibu, ... Bapak juga menyuruhku menghapal dan mengingat apa yang dikatakannya.
Semula Aku hanya tahu tinggal naik ke kereta api ketika pertama kali diajak Bapak ke rumah Kakek.
Kini Aku tahu untuk menaikinya harus ke Stasiun Timur dulu, bergiliran di antrian membeli karcis di loket, sambil menunggu kereta langsir.
"Kita beli karcis dulu Pras," kata Bapak sambil menghitung uang yang dikeluarkannya dari dompet.
Bapak mulai runtut menyebutkan apa yang harus dilakukan untuk sampai ke rumah Kakek dengan naik kereta api setelah kami ada di depan kerumunan.
Bapak menunjukkan satu lembar kertas seukuran gambar umbul yang sering kumainkan dengan Erwin. Hanya kertas itu lebih tebal berwarna hijau dengan gambar-gambar huruf yang baru kulihat.
"Ini namanya karcis Pras," kata Bapak yang lalu menuntunku ke arah pintu masuk.
Dua orang berseragam seperti pak Darso mencegat kami, meminta karcis yang dipegang Bapak dan membiarkan kami masuk setelah melubangi karcis dengan alat yang dipegangnya.
"Naik kereta api tidak boleh telat Pras. Kalau telat kita ditinggal," kata Bapak setelah duduk di kursi kayu panjang di dalam stasiun.
"Kalau naik kereta, karcisnya cuma satu ya pak ?" tanyaku ingin tahu.
Bapak tergelak dan menjelaskan kalau umurku masih enam tahun. Umur yang boleh tidak memakai karcis untuk naik kereta.
Aku semakin senang mendengarkan hal-hal baru yang dikatakan Bapak.
Duniaku terasa berbeda jika Bapak mengajakku pergi berdua.
Jika bersama Ibu hal-hal yang kutahu hanya sebatas rumah dan sekolah, ... Aku semakin jauh mengingat serta menghapal tempat-tempat atau kata-kata baru yang kutemui saat bepergian bersama Bapak.
***
Bapak menggendongku saat turun dari kereta yang berhenti di tengah sawah, lalu berjalan ke bangunan seperti stasiun tetapi lebih kecil dengan pohon besar yang menaunginya.
Tak ada tempat untuk duduk di situ.
Di sebelah bangunan itu ada jalan tanah memotong rel kereta. Jalan yang masih kuingat menuju kampung Kakek.
Orang-orang yang ada di tempat itu berebut bersalaman dan menyapa Bapak saat kami mendekat.
"Wah kamu semakin besar Pras ...."
Seorang laki-laki tua menghampiriku saat Aku turun dari gendongan Bapak. "Salim dulu sama pak Dhe," ujarnya ramah.
Bapak membiarkannya menggandengku, mengajak duduk di salah satu becak yang berjejer tak jauh dari tempat kami turun.
Aku tidak terlalu ingat siapa laki-laki di sampingku itu. Aku hanya ingin secepatnya duduk di atas kursi becak menunggu Bapak yang masih mengobrol dengan orang-orang yang mengerumuninya.
Kereta yang tadi kutumpangi mulai bergerak meninggalkan stasiun kecil itu saat Aku sudah duduk di atas becak dengan perasaan senang.
Kini Aku mulai menyukai liburan sekolahku. Saatnya Aku menikmati sesuatu yang lain dengan melupakan adu cepat mewarnai gambar atau menghapal lagu.
Seperti naik kereta api, ... naik becak adalah sesuatu yang sangat spesial bagiku.
Tidak seperti Eliza yang setiap hari kulihat naik becak saat pulang pergi sekolah, Aku hanya bisa naik becak di hari-hari tertentu saja.
Biasanya setelah Bapak memberikan amplop berisi uang ke Ibu, mereka akan bergegas memandikan dan mendandani Aku dan Christ.
Setelah itu barulah mereka mandi dan berdandan, lalu mengajak Aku dan Christ naik becak ke suatu lapangan luas tak jauh dari rumah dinas Bapak, yang kata Ibu namanya alun-alun.
Walaupun berdesakan dipangku Bapak, setidaknya Aku sudah pernah merasakan betapa enaknya jadi Eliza, yang setiap hari tidak perlu capai jalan kaki kepanasan pulang pergi ke sekolah.
***