NovelToon NovelToon
Nafas Yang Mencekik

Nafas Yang Mencekik

Status: sedang berlangsung
Genre:Enhypen / Romansa / Dark Romance
Popularitas:87
Nilai: 5
Nama Author: rerevana

Hubungan Serena dan Heeseung selalu berada di antara lembut dan mencekik.

Setiap kali badai berlalu, Heeseung datang membawa janji dan ketenangan yang membuat Serena ingin percaya lagi. Tapi di balik perhatian dan perlindungan itu, ada rasa memiliki yang terlalu kuat untuk diabaikan.

Serena terjebak antara takut kehilangan dan takut tinggal.

Cinta yang awalnya terasa aman, perlahan berubah menjadi sesuatu yang sulit untuk dilepaskan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rerevana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

borgol

Revan berdiri tepat di depan pintu. Wajahnya datar, tanpa ekspresi apa pun.

"Ada apa?" tanyanya dengan suara rendah yang membuat tengkuk Serena meremang.

Serena tersentak. Seharusnya ia yang bicara lebih dulu. Tapi lidahnya kelu. Revan tampak bersiap untuk keluar. Kunci mobil sudah ada di tangannya, dan kaos hitam yang ia pakai terlihat rapi.

Sebelum Serena sempat membuka mulut, Revan sudah mendahuluinya.

"Kamu udah makan?"

Pertanyaan sederhana itu justru membuat dada Serena semakin sesak. Ia hanya bisa menggeleng pelan.

Revan tidak menunggu jawaban lebih lanjut. Ia berbalik dan berjalan keluar kamar.

"Bentar. Aku beli makanan dulu." ucapnya singkat sebelum pintu kamar tertutup dengan bunyi klik pelan.

Keheningan langsung memenuhi ruangan. Serena menghela napas panjang yang sejak tadi ia tahan.

Dengan langkah gontai, Serena berjalan ke sofa dan duduk. Buket lily putih itu masih tergeletak di sana. Wanginya sudah tidak setajam beberapa jam lalu, justru sekarang terasa memuakkan.

Detik demi detik berlalu, hanya diiringi suara jam dinding. Tik. Tak. Tik. Tak.

Beberapa menit kemudian, terdengar suara pintu terbuka. Revan masuk membawa dua kantong plastik. Aroma ayam geprek segera memenuhi ruangan dan bercampur dengan sisa wangi lily.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Revan berjalan ke meja makan dan mengeluarkan isi kantong satu per satu.

Serena merasa heran melihat banyaknya makanan yang di beli Revan. Terlalu banyak untuk porsi dua orang. Tapi dia hanya mengeluarkan beberapa, sisanya dia simpan di dalam kulkas. Untuk siapa sisanya?.

Setelah semuanya selesai, ia baru menoleh ke arah Serena.

"Makan."

Serena langsung berdiri. Tubuhnya kaku. Ia memilih duduk di kursi seberang Revan, sengaja memberi jarak dua kursi di antara mereka.

Suasana kembali hening. Hanya terdengar suara sendok beradu dengan piring dan dengung AC.

Di tengah suapan ketiganya, Revan akhirnya membuka suara tanpa menatap Serena.

“Kamu mau ngomong apa?”

Suara Revan datar. Tidak naik. Tidak turun. Sambil fokus menikmati makanannya.

Jantung Serena berdegup kencang. Uap dari piringnya mengaburkan pandangan.

Ia menggenggam sendok erat. Mencari celah kata yang tepat, agar tidak salah bicara .

“E-itu...” Tenggorokannya kering. “Besok... ada tugas kelompok.”

Revan tidak menjawab. Ia hanya meneguk air. Gluk.

“Terus?”

“Sama beberapa teman,” lanjut Serena. Napasnya tercekat. “Dan... kating.”

Nama Jake tertahan di lidahnya. Ia telan.

Sunyi beberapa detik. Hanya suara jam yang berdetak. Tik. Tak.

Lalu Revan meletakkan gelasnya. Pelan. Duk.

Ia tidak marah. Ia tidak membanting apa pun.

Yang ia lakukan justru berdiri. Kursi nya berderit pelan.

Serena menegang. Bahunya otomatis naik.

Tapi Revan hanya berjalan memutar meja. Berhenti di belakang kursi Serena.

Jari-jarinya yang dingin menyentuh pipi Serena.

Sebuah usapan. Pelan.

Jempolnya mengusap tulang pipi sekali. Dua kali. Serena membeku. Ia tidak berani menoleh.

Di dekat telinganya, Revan berbisik. Hangat. Tapi kenapa rasa nya seperti borgol.

“Boleh.”

Satu kata. Disertai senyum yang bisa Serena rasakan dari nada suaranya.

Lalu Revan kembali ke kursinya. Duduk. Melanjutkan makan seolah tidak terjadi apa-apa.

Ia menyuapkan ayam ke mulutnya. Mengunyah. Tenang.

Tapi pipi Serena masih terasa dingin bekas sentuhan itu.

Pukul 01.17.

Apartemen itu gelap. Hanya lampu kecil di atas meja dapur yang menyala, menerangi sudut ruangan dengan cahaya kuning redup.

Serena terbangun karena haus. Dan karena perasaan gelisah.

Serena membuka pintu kamar pelan-pelan. Engselnya berderit kecil.

Lantai marmer menyambut telapak kakinya dengan dingin.

Dari ruang tamu, ada cahaya biru yang berkelip.

Revan ada di sana. Duduk di sofa. Laptop terbuka di atas pangkuannya, tapi layarnya sudah meredup. Matanya terpejam. Napasnya teratur. Rambutnya sedikit berantakan.

Ketiduran lagi.

Ia berjalan ke dapur. Menuang air ke dalam gelas. Suara air yang jatuh terasa terlalu keras di keheningan malam.

Air dingin itu mengalir di tenggorokan.

Saat hendak kembali ke kamar, langkah Serena terhenti.

Ia menoleh ke arah sofa.

"Kak," panggilnya pelan.

Tidak ada sahutan.

Serena mendekat. Wangi sabun Revan bercampur dengan aroma kertas dan kopi yang sudah dingin. Ia berdiri di depan sofa beberapa detik, merasa ragu.

Akhirnya, tangannya terulur. Menyentuh bahu Revan dengan hati-hati.

"Kak Re. Masuk kamar yuk."

Mata Revan terbuka seketika. Tidak ada tanda terkejut. Tidak ada tanda baru bangun.

Yang ada hanya senyum tipis di sudut bibirnya.

"Iya," jawabnya pelan.

Revan menutup laptopnya. Klik. Suaranya singkat. Lalu ia membereskan beberapa lembar dokumen yang berserakan di meja. Gerakannya tenang, tidak tergesa.

Mereka berjalan ke kamar berdampingan. Tidak ada yang bicara.

Sesampainya di dalam, Revan lebih dulu merebahkan diri. Ia menepuk sisi kasur di sebelahnya dua kali. Pelan.

Sebuah ajakan tanpa kata.

Serena berdiri di ambang pintu, mematung. Jantungnya berdebar tidak karuan.

Akhirnya ia melangkah. Duduk di pinggir kasur. Lalu berbaring.

Kasur berderit kecil karena beban.

Tak lama kemudian, lengan Revan melingkar di pinggangnya. Hangat. Erat, tapi tidak mengekang.

Jari-jari Revan mulai bergerak. Mengusap perut Serena, perlahan. Melalui kaos tipis yang ia kenakan. Usapan itu berulang. Menenangkan.

Tidak ada pertanyaan malam ini. Hanya ada keheningan. Dan napas Revan yang menghangatkan tengkuk Serena.

Anehnya, di tengah semua rasa takut itu, ada rasa aman yang menyusup.

Mata Serena mulai berat. Usapan di perutnya membuat kantuk datang.

Pikiran terakhirnya sebelum terlelap adalah satu kalimat yang menenangkan dirinya sendiri:

Mungkin aku yang terlalu berlebihan.

Dan ia pun tertidur.

Masih di dalam lingkaran lengan Revan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!