NovelToon NovelToon
Bosku Menjadi Suami Rahasiaku

Bosku Menjadi Suami Rahasiaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Fajar Rizky

Aku selalu berpikir bahwa pernikahan rahasia ini akan berjalan mudah asalkan kami tetap menjaga jarak di tempat kerja. Sebagai resepsionis, tugas utamaku adalah mengarahkan tamu, bukan menarik perhatian sang CEO. Namun, Bastian yang kutemui di rumah sebagai suami yang acuh tak acuh, perlahan-lahan menunjukkan intensitas yang berbeda di kantor. Dia mulai mengawasiku dari jauh dan membuat keputusan-keputusan sepihak yang memengaruhi pekerjaanku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Fajar Rizky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kamu masih belum bisa melupakan mantanmu?

Tentu saja itu bohong!

Aku menjerit dalam hati, tetapi sama sekali tidak berani mengutarakannya.

Aku sudah mengenal Bastian selama lebih dari tiga tahun. Selama itu, aku cukup memahami perangainya. Semakin ramah dan tenang wajahnya, itu justru pertanda bahwa dia sedang sangat marah.

"Hmm?"

Melihatku hanya diam, Bastian makin mendekatkan wajahnya. Dia menunduk, mengulang pertanyaannya dengan nada yang agak ditekan.

"Aku..." Aku menggigit bibir bawahku. Begitu menangkap kilatan berbahaya di mata Bastian, aku menelan ludah dan menjawab pasrah, "Aku menyukaimu."

Begitu kalimat itu keluar, ketegangan di wajah Bastian sedikit mengendur. Dia menegakkan kembali tubuhnya, lalu mengulurkan tangan untuk mengelus kepalaku beberapa kali dengan lembut. "Anak pintar."

Aku hanya bisa membisu.

Setelah tahu identitas asliku, Bastian memotong perjalanan liburan kami. Dia membuat kesepakatan bisnis dengan Kak Bagas, lalu kami bertiga terbang kembali ke Jakarta untuk mengunjungi keluargaku.

Di dalam pesawat, aku dan Bastian duduk berdampingan, sementara Kak Bagas duduk tepat di seberang lorong kami.

Mungkin demi mencairkan suasana dan berusaha terlihat akrab dengan Bastian, Kak Bagas mulai menceritakan banyak kisah masa kecilku. Mulai dari hal-hal sepele hingga kebiasaanku di sekolah, tanpa ada yang ditutup-tutupi.

"Pak Bastian, adikku ini sangat menggemaskan waktu kecil. Sejak kelas empat SD saja, sudah banyak anak laki-laki yang memberikan surat cinta untuknya."

"Tapi Amara ini anak yang sangat penurut. Dia sama sekali tidak pernah berpacaran sampai masuk kuliah."

Kak Bagas bercerita sambil tersenyum ramah dan bersikap sangat sopan.

"Lalu bagaimana setelah kuliah?" Bibir tipis Bastian terangkat membentuk senyum tipis. Dia menoleh ke arah Kak Bagas, sementara jari-jarinya mengetuk pelan sandaran tangan kursi.

Kak Bagas langsung bungkam.

Percakapan di antara mereka terhenti seketika.

Kak Bagas terdiam, melirik Bastian sebentar, lalu beralih menatapku. Dia berdeham canggung dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa. "Mbak, tolong tuangkan saya secangkir kopi."

Setelah memesan kopi, Kak Bagas menoleh lagi ke arah Bastian. "Pak Bastian mau minum sesuatu?"

"Tidak usah," jawab Bastian dingin. Dia sedikit memperbaiki posisi duduknya, lalu menatapku dengan binar jenaka yang menyebalkan di matanya. "Mara, jadi cinta pertamamu baru dimulai waktu kuliah?"

Aku hanya bisa terdiam.

Memang benar kata orang, jika kita berbuat salah, pembalasan/ kamanya akan datang cepat sekali.

Sejak awal, berurusan dengan Bastian selalu terasa menyita emosi. Kalau saja dulu dia tidak berulang kali menegaskan bahwa dia tidak akan pernah jatuh cinta padaku, aku juga tidak bakal bertindak senekat ini dengannya.

Melihatku tetap bungkam, Bastian menunduk dan mendaratkan kecupan ringan di keningku. "Akan kutanyakan lagi nanti malam."

Mendengar bisikan itu, tengkukku mendadak terasa merinding.

Seolah menyadari situasi mulai tidak enak, Kak Bagas menghabiskan sisa perjalanan dengan berpura-pura tidur atau memandangi hamparan awan di luar jendela.

Setibanya di bandara, Kak Bagas berjalan lebih dulu di depan, sementara aku dan Bastian menyusul di belakang.

"Bastian," panggilku sambil menarik napas dalam-dalam.

"Ya?" Bastian menghentikan langkahnya, menatapku, lalu melirik ke arah Kak Bagas yang berada beberapa meter di depan. "Kamu tidak mau pulang ke rumah keluargamu?"

Aku tertegun. Tidak menyangka Bastian bisa menebak isi kepalaku seakurat itu. Setelah menyesuakan diri, aku mengangguk dengan pelan.

"Kalau begitu, kita tidak usah ke sana." Bastian terkekeh dengan pelan. Dia menggenggam jariku dengan erat.

"Beneran?" Aku menatap Bastian dengan tidak percaya. Jarang sekali dia mau mengalah semudah ini.

"Kapan aku pernah membohongimu?" jawab Bastian santai. Dia kemudian berbalik dan memanggil, "Mas Bagas."

Mendengar namanya dipanggil, Kak Bagas menoleh. "Ada apa, Pak Bastian?"

"Saya dan Amara tidak jadi ikut ke rumah," kata Bastian tenang.

Ekspresi Kak Bagas langsung berubah bingung dan serba salah. "Tapi rasa-rasanya kurang pas, Pak. Saya sudah terlanjur memberi tahu Papa dan Mama kalau kalian berdua akan datang hari ini."

"Lain kali saja," potong Bastian tegas. "Lain kali saya sendiri yang akan datang berkunjung."

Sambil berbicara, ibu jari Bastian mengusap punggung tanganku perlahan, seolah sedang menenangnkanku.

Selama mengenalnya, Bastian selalu terlihat sebagai sosok yang dingin dan tidak tersentuh. Ini pertama kalinya aku melihat dia berusaha menenangkan seseorang dengan cara yang begitu halus.

Anehnya, aku sama sekali tidak merasa risi. Usapan lembut di tanganku itu justru terasa sangat nyaman.

Namun, sebelum Kak Bagas sempat menyusun kata-kata untuk membujuk kami kembali, sebuah suara wanita yang sangat kukenal terdengar dari arah pintu kedatangan.

"Amara..."

Itu ibuku, Ratna.

Ibuku adalah tipikal wanita Jawa yang lembut dan bersahaja. Meskipun usianya sudah mendekati lima puluh tahun, penampilannya tetap terawat dan anggun, membuat orang sering mengira usianya masih belasan tahun lebih muda.

Ibuku memanggil namaku, lalu air matanya menetes begitu saja.

Mataku seketika memerah. Perasaan bersalah yang selama tiga tahun ini kupendam mendadak membuncah.

Di samping Ibu, berdiri ayahku, Pak Hendra.

Wajah Ayah tampak kaku dan keras, persis seperti terakhir kali kami bertengkar tiga tahun lalu.

Melihatku hanya berdiri mematung, Kak Bagas berdeham pelan. "Mara, ayo."

Aku tersadar dari cengkeraman masa lalu, lalu melangkah pelan mendekati Ibu dan Ayah. "Ayah... Ibu..."

"Untuk apa kamu pulang! Bukannya dulu kamu bilang tidak mau lagi menjadi bagian dari keluarga ini? Bikin malu saja!" bentak Ayah dengan suara gemetar menahan amarah.

Aku yakin, kalau saja di sana tidak ada Bastian, Ayah mungkin sudah melayangkan tamparan ke wajahku.

"Sudah, jangan bicara seperti itu!" Ibu menegur Ayah sambil memegang lengannya, lalu berbalik memelukku erat-erat dengan tubuh gemetar. "Yang penting kamu sudah pulang, Nak. Tidak ada tempat yang lebih baik selain rumah. Lihat dirimu, kenapa bisa makin kurus begini dalam tiga tahun?"

Saat meninggalkan rumah dulu, berat badanku 54 kilo, dan sekarang justru naik jadi 58 kilo. Aku benar-benar tidak tahu dari mana Ibu menyimpulkan kalau aku kurusan.

Ketika keluarga yang sudah tiga tahun tidak saling sapa mendadak bertemu kembali, rasa canggung tetap tidak bisa dihindari.

Ibu memelukku dan mengusap air matanya sebentar sebelum akhirnya menyadari keberadaan pria di sampingku. "Lalu... ini siapa?"

"Bu, ini Pak Bastian, pemilik Group Wijaya," potong Kak Bagas cepat sebelum aku sempat bersuara.

Ibu tampaknya belum tahu soal pernikahan rahasia kami. Melihat wajah Bastian yang sangat mirip dengan almarhum Rendy, Ibu menggenggam tanganku semakin erat sambil berbisik sedih, "Kamu... kamu masih belum bisa melupakan Rendy?"

"Bu!" Kak Bagas memotong kalimat Ibuku dengan panik, lalu tersenyum canggung ke arah Bastian. "Amara dan Pak Bastian sudah menikah. Mereka baru saja mengurus dokumennya beberapa hari lalu."

Ibu tertegun sejenak. Namun, dia dengan cepat menyesuaikan diri dan memaksakan senyum ramah kepada Bastian. "Oh, jadi sudah menikah... Kalau begitu kita sudah jadi keluarga. Memanggil 'Pak Bastian' terasa terlalu kaku, Ibu panggil Nak Bastian saja, ya?"

Sebelum Bastian sempat merespons, Ayah yang berdiri di samping hanya menghela napas kasar dengan dahi berkerut. "Kalau mau bicara, lebih baik kita bicarakan di rumah. Ini tempat umum, tidak pantas dilihat orang banyak."

Karena instruksi dari Ayah, kami semua berjalan menuju area parkir tempat mobil jemputan sudah menunggu. Begitu kami masuk dan duduk di dalam mobil, Bastian memiringkan tubuhnya, berbisik tepat di telingaku dengan nada dingin...

"Amara, jadi sampai sekarang kamu masih belum bisa melupakan mantanmu?"

1
sunaryati jarum
Kalian benar - benar pintar menyembunyikan status pernikahan kalian.
sunaryati jarum
Wah minta imbalan Rian
sunaryati jarum
Bastian makin menunjukkan perilaku sebagai suami, Amara.
sunaryati jarum
Shela sepertinya yang suka sama Bastian
sunaryati jarum
Amara hilangkan bayangan mendiang kekasihmu cukup di kenang dan masukkan Bastian suamimu
sunaryati jarum
👋👋👋 untuk Amara
sunaryati jarum
Dilamar diketahui suami😃
sunaryati jarum
Siapa, Bastian punya adik?
sunaryati jarum
Berarti dirahasiakan,ya
sunaryati jarum
Istrinya CEOmu ya sahabatmu
Baru mampir, sepertinya ceritanya menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!