NovelToon NovelToon
Istri Yang Kau Sia-Siakan

Istri Yang Kau Sia-Siakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Nikahmuda
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Alesha rela mengorbankan impian dan kebahagiannya demi rumah tangga yang ia perjuangkan sepenuh hati dan menerima hinaan dan cacian oleh keluarga suaminya.
Namun semua pengorbanannya berakhir sia-sia ketika ia mengetahui suaminya berselingkuh dan mengaku belum menikah.
Memilih pergi adalah langkah paling menyakitkan yang pernah ia ambil. Tetapi tanpa disadari, keputusan itu justru membawanya pada kehidupan baru yang lebih baik.
Alesha mulai bangkit. Ia ingin membuktikan bahwa keputusannya meninggalkan masa lalu adalah pilihan yang tepat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Selidiki Dia

"K-kamu hamil?"

Risa tersenyum lebar.

Perlahan, wanita itu menganggukkan kepalanya.

"Iya, Sayang."

Jantung Aldo seakan berhenti berdetak sesaat.

Matanya masih terpaku pada benda yang ada di tangannya.

"Hamil..."

Ia mengulang kata itu pelan, seolah masih tidak percaya.

Risa mendekat lalu menggenggam tangan Aldo.

"Aku sudah periksa ke dokter tadi pagi."

Aldo hanya bisa menatap alat tes kehamilan itu.

Kepalanya terasa kosong beberapa saat.

Ia terkejut, tidak percaya, sekaligus bahagia.

"Aku... aku akan jadi ayah?" tanyanya lirih.

Risa tersenyum sambil mengangguk.

"Iya. Kamu akan jadi ayah."

Sudut bibir Aldo perlahan terangkat.

Senyum yang bahkan sulit ia sembunyikan.

Tanpa pikir panjang, ia langsung menarik Risa ke dalam pelukannya.

"Terima kasih, Sayang."

Risa membalas pelukannya dengan erat.

"Aku juga bahagia."

Aldo memejamkan matanya sejenak.

Di dalam pelukannya, Risa tersenyum puas.

Sementara itu, Aldo masih sulit percaya.

Risa sedang mengandung anaknya.

Ini adalah hal yang paling lama ditunggu Aldo.

Selama hampir tiga tahun menikah dengan Alesha, wanita itu tak pernah memberinya seorang anak.

Lagi-lagi pikirannya tertuju pada Alesha.

Mungkin selama ini memang Alesha yang bermasalah.

Aldo perlahan melonggarkan pelukannya, lalu menatap Risa dengan penuh kasih sayang.

"Kabar ini sangat membuatku bahagia. Makasih, Sayang."

Risa mengangguk pelan.

Senyum bahagia tak pernah lepas dari wajahnya.

"Kamu harus nikahin aku, Sayang. Nanti perutku tambah besar," ucapnya sambil memegang perutnya sendiri.

Aldo terdiam.

Ucapan Risa membuat senyum di wajahnya perlahan memudar.

Menikah.

Tentu saja ia ingin menikahi Risa.

Namun menikahi Risa tidak semudah yang dibayangkannya.

Risa berasal dari keluarga terpandang.

Pernikahannya pasti tidak akan sederhana.

Belum lagi urusan keluarga, pesta, dan berbagai persiapan lainnya.

Semua itu jelas membutuhkan banyak uang.

Melihat Aldo yang tiba-tiba diam, senyum di wajah Risa perlahan memudar.

"Kamu nggak mau menikahiku?" tanyanya pelan.

Aldo langsung menggeleng.

"Bukan begitu, Sayang."

"Lalu kenapa diam?"

Aldo mengusap rambut Risa lembut.

"Aku hanya sedang memikirkan masa depan kita."

Aldo menggenggam kedua tangan Risa.

"Aku akan menikahimu."

Mata Risa langsung berbinar.

"Benarkah?"

Aldo mengangguk mantap.

"Iya."

Senyum lebar langsung terukir di wajah Risa.

Ia kembali memeluk Aldo dengan erat.

"Aku tahu kamu nggak akan meninggalkan aku."

Aldo membalas pelukannya.

Bagaimanapun, Risa sedang mengandung darah dagingnya.

Hal yang selama ini paling ia inginkan.

Anak yang tidak pernah berhasil ia dapatkan selama bertahun-tahun bersama Alesha.

Karena itu, ia tidak mungkin meninggalkan Risa.

Selain itu...

Jika ia menikahi Risa, posisinya di pabrik juga akan semakin kuat.

Bagaimanapun, pabrik tempatnya bekerja adalah milik keluarga Risa.

Cepat atau lambat, sebagian besar aset itu akan jatuh ke tangan Risa.

Jika ia menikahi Risa, masa depannya juga akan jauh lebih terjamin.

"Aku akan bicara dengan Papa dan Mama secepatnya," ucap Risa penuh semangat.

Aldo mengangguk.

"Baik."

"Aku ingin pernikahan kita segera dilaksanakan."

Aldo tersenyum tipis.

"Kalau itu maumu, aku akan berusaha mewujudkannya."

Risa tersenyum bahagia.

"Alesha..."

Alesha menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke belakang.

Lea melambaikan tangannya dari balik jendela mobil yang terbuka.

"Kamu pulangnya sama siapa?" tanya Lea.

"Aku naik ojek, Lea," jawab Alesha.

Lea langsung mengerutkan kening.

"Bareng aku saja."

Alesha menggeleng pelan.

"Tidak usah, Lea. Aku naik ojek saja," ucapnya, menolak ajakan Lea dengan halus.

Lea langsung memasang wajah cemberut.

"Kenapa sih selalu nolak?" gerutunya.

Alesha tersenyum canggung.

"Aku nggak enak, Lea."

"Nggak enak apanya?"

"Aku sudah banyak merepotkan kamu."

Lea langsung keluar dari mobil lalu menghampiri Alesha.

"Alesha."

"Iya?"

"Kamu kalau ngomong seperti itu lagi, aku marah."

Alesha terkekeh kecil.

Namun Lea tetap bersedekap.

"Aku serius."

"Lea..."

"Ayo masuk."

Alesha kembali menggeleng.

"Nggak usah. Aku bisa naik ojek."

Lea memutar bola matanya kesal.

Saat itulah kaca mobil di kursi pengemudi perlahan turun.

Kevin yang sejak tadi memperhatikan mereka akhirnya ikut bicara.

"Ikut saja."

Alesha langsung menoleh.

"Tapi, Tuan Kevin..."

"Lagian ini sudah sore, Sha."

Alesha terdiam sejenak.

Kalau terus menolak, rasanya juga tidak enak.

Akhirnya ia mengangguk pelan.

"Baiklah."

"Yes!" Lea langsung tersenyum lebar.

Alesha hanya bisa menggeleng melihat tingkah wanita itu.

Lea segera membuka pintu belakang untuknya.

"Ayo masuk."

Alesha mengucapkan terima kasih lalu melangkah mendekat.

Namun saat pintu mobil terbuka...

Langkahnya langsung terhenti.

Matanya membelalak.

Di kursi belakang sudah duduk seseorang.

Pria itu sedang menatap layar tablet di tangannya dengan ekspresi datar.

Leon.

Alesha refleks menelan ludah.

"T-Tuan Leon..."

Leon mengangkat pandangannya sekilas.

"Hmm."

Hanya satu gumaman singkat.

Entah kenapa, gumaman singkat itu justru membuat Alesha makin gugup.

Lea yang melihat ekspresi Alesha langsung menahan tawa.

"Tenang saja, Sha."

Alesha menoleh.

Lea mendekat lalu berbisik pelan,

"Kakakku memang menyeramkan, tapi dia nggak makan orang."

"Lea."

Suara dingin Leon langsung terdengar dari dalam mobil.

Lea langsung nyengir.

"Hehe."

Kevin menggeleng pelan dari kursi pengemudi.

"Sampai kapan pun kamu nggak akan berubah."

Lea hanya tertawa kecil.

Sementara itu, Alesha masih berdiri canggung di samping pintu mobil.

Leon akhirnya mengalihkan pandangannya dari tablet.

"Sampai kapan kau berdiri di situ?"

Alesha langsung tersentak.

"Duduk."

"I-iya, Tuan."

Tanpa berani membantah, ia segera masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi yang tersisa.

Alesha menarik napas pelan.

Duduk satu mobil dengan Leon saja sudah membuatnya canggung.

"Di mana alamatmu, Sha?" tanya Kevin sambil menoleh sekilas ke arah kaca spion.

"Jalan Lavender, Tuan," jawab Alesha.

Kevin mengangguk pelan.

Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil diisi oleh Lea yang terus mengajak Alesha mengobrol. Sementara itu, Alesha hanya membalas dengan suara yang masih terdengar sedikit gugup.

Kevin fokus mengemudi.

Sedangkan Leon tetap sibuk dengan tabletnya.

Begitu memasuki alamat yang disebutkan Alesha, mobil perlahan berhenti.

"Kamu tinggal di sini, Sha?" tanya Lea sambil menatap sekeliling.

Area tempat tinggal Alesha terbilang cukup padat. Rumah-rumah berdiri saling berdempetan dengan gang yang tidak terlalu lebar.

Alesha mengangguk pelan.

"Iya, Lea. Aku ngontrak di sana," jawab Alesha sambil menunjuk sebuah rumah kontrakan sederhana.

Lea menatap rumah kontrakan itu beberapa saat.

Dadanya terasa sesak tanpa alasan yang jelas.

"Makasih, sudah anterin aku," ucap Alesha tulus.

"Sama-sama. Sampai ketemu besok, Sha," balas Lea sambil tersenyum.

Alesha mengangguk pelan.

Lalu ia menoleh ke arah Leon yang sejak tadi masih fokus menatap tabletnya.

Alesha membuka pintu mobil.

"Permisi, Tuan. Terima kasih," ucapnya sopan.

Setelah itu, ia turun dari mobil lalu melambaikan tangan kecil ke arah Lea dan Kevin.

Tak lama kemudian, Kevin kembali menjalankan mobilnya.

Suasana di dalam mobil kembali hening.

"Kevin."

Suara Leon terdengar dingin tanpa mengalihkan pandangannya dari tablet.

"Hmm?"

"Kumpulkan seluruh data tentang Alesha."

Kevin menoleh sekilas.

"Kenapa?"

Leon terdiam beberapa saat.

Tatapannya mengarah ke jendela tempat Alesha baru saja menghilang.

"Gue hanya ingin memastikan sesuatu."

1
Ma Em
Leon sdh menemukan gadis teman masa kecilnya semoga benar Alesha reman masa kecil Leon dan berjodoh Alesha dgn Leon , Aldo sdh menikah dgn wanita pilihan nya apakah benar anak yg dikandung Risa adalah anaknya Aldo .
Hatnah Batulicin
peran Alesha org nya terlalu lemah dan letoy 😝😝😝
Nona Jmn: Sabar
total 1 replies
Hatnah Batulicin
terlalu bnyk KTA "hah"disetiap dialog nya
Anonim: awokawok emang lawak awokawok blok
total 1 replies
dome🌬️🌀🌀🌀
lanjut Thor bikin cerita yg bikin tensi naik🤣🤣🤣🤣🤣
ayoookkkk semangat
semangat
💪💪💪💪💪
dome🌬️🌀🌀🌀
yookkk gelud yookkk Mak, sini biar saya smackdown

😤😤😤😤😤😤😤😤😤kuweseeellleee rekkk...
dome🌬️🌀🌀🌀
haduuhhhhh... Jagan lembek laahhh kau wahai wanita. sudah dihina diremehkan ga dihargai sekarang disakiti secara verbal dan fisik apalagi yg kau harapkan dari si biyawak suamimu. gila digampar masih bisa ngarep dibela. digampar yaa neng digampar.. udah kayak ga ada harga diri lagi lu. ngapain masih ngarep laki percaya sama kamu
dome🌬️🌀🌀🌀
eehhhhhh.... Mak lampir, itu bukan tanggung jawab mantumu yaa buat nafkahi kluarga kalian. setres kan kalian. coba brobat dl sapa tau gila.
yg Suai siapa tapi yg dituntut nafkahi siapa. kan gendeng yaaa.. ga DA kewajibannya mantu atau istri menafkahi keluarga nya apa lagi menafkahi kluarga suami.😄😄😄
ibu ini lupa minum obat inii pastii makanya rada kumat 🤭
dome🌬️🌀🌀🌀
kenapaaa,, kok berasa dunia mu yg runtuh Alesha dipecat. ga ada sumber pendapatan yaa yg bisa kau ambil dari Alesha lagi. makin lah kluarga suaminya semakin merendahkan Alesha... cereeeee ajaaaaaa laahhh Gedeg udah akuuuhhh😄😄😄😄
dome🌬️🌀🌀🌀
ihhhhh.... jengkelnya. kalau sudah tau tak dihargai dirumah yg kau anggap kluarga lebih baik pisaaahhhhhj... tinggalkan kluarga yg ga bisa menghargai mu itu Alesha. sudah dinafkahi seadanya banyak dituntut ini itu ga dihargai. parahnya udah kayak babu luar negri aja.
mending sekalian beneran kerja jadi babu luar negri makan gratis tinggal gratis digaji besar. sama aja kan kayak kau tinggal dirumah kluarga suami mu, macam babu. bedanya babu luar negri digaji🤣🤣🤣🤣
lahhh ini sudah lah dihina dijelekkan dibabuin ga dihargai, dinafkahi ala kadarnya saja. boro boro mau beli berlian segunung🤣🤣🤣🤣
lanjut lahhhhhh
dome🌬️🌀🌀🌀
lanjuuutttt lah.. gaskeuunnnn🤗💪💪
dome🌬️🌀🌀🌀
haduhhhh,,,, baru awal bab dan baru paragraf pertama baca sudah membuat aku punya darah tinggi dadakan😤😤😤

Thor kira kira kalau buat cerita, LG anteng2 baca sudah dibuat darah tinggi thorrrrrrr teganya dikau pada daku. 🤣🤣🤣🤣
coba Thor masukin aku kedalam novel mau aku geprek itu mertua dan ipar laknatnyaaa... sudah ga dinafkahi kok masih mau aja punya suami modelan gitu....
astaghfirullah
astaghfirullah
astaghfirullah
sabarrrr sabarrr... orang sabar rejekinya lebaaarrrrrrrrrrrr😁
Ma Em
Semoga Alesha sukses setelah berpisah dgn Aldo , Aldo pasti menyesal karena sdh menyia nyiakan istri sebaik dan sesabar seperti Alesha , semoga Alesha jadi orang yg sukses dan semakin bersinar .
Nona Jmn: Aamin😊
total 1 replies
Ma Em
Alesha kenapa kamu mau memenuhi kebutuhan Aldo dan ibunya sedangkan kerja kerasmu tdk pernah dihargai , lawan mereka Alesha jgn cuma nangis lbh baik tinggalkan suamimu yg tdk pernah menganggap mu istri tapi kamu cuma dianggap pembantu gratisan .
Nona Jmn: Pantau terus Alesha ya, kak🙂
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!