Kirana Maheswari dikenal sebagai wanita yang dingin dan sulit didekati. Sebagai sekretaris pribadi di Pradana Group, ia selalu menjaga profesionalitas dan tidak pernah memberi ruang bagi siapa pun untuk masuk ke kehidupan pribadinya.
Semua orang tahu Kirana sudah menikah.
Dan semua orang juga tahu bahwa ia sangat menjaga jarak dari pria mana pun.
Kecuali satu orang yang seolah tidak pernah mengerti arti menjaga jarak.
Aiden Pradana.
CEO muda yang tampan, kaya, cerdas, dan terkenal tidak pernah gagal mendapatkan apa yang diinginkannya.
Awalnya Aiden hanya penasaran.
Ia tidak mengerti mengapa ada seorang wanita yang sama sekali tidak terpengaruh oleh pesonanya. Saat wanita lain berlomba mencari perhatian darinya, Kirana justru selalu menghindar dan hanya berbicara seperlunya.
Semakin diabaikan, semakin besar rasa penasarannya.
Semakin Kirana menjaga jarak, semakin keras kepala Aiden mendekat.
Namun Aiden segera menyadari bahwa ketertarikannya telah berubah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Judul yang Diciptakan
Kirana menatap video di layar ponselnya dengan dada yang terasa sesak, rekaman itu hanya beberapa detik tetapi cukup untuk menghancurkan nama baiknya jika disebarkan tanpa konteks. Aiden memang menariknya untuk melindungi dari ledakan, tetapi sudut kamera membuat kejadian itu terlihat seperti pelukan mesra seorang CEO kepada istri orang.
"Jangan panik." Aiden menurunkan ponsel Kirana.
"Bagaimana saya tidak panik?" Kirana menatapnya.
"Kita punya saksi." Aiden menatap area gudang.
"Media tidak peduli saksi." Kirana menggeleng.
"Netizen lebih parah dari polisi tidur." Gavin mengusap wajah. "Mereka muncul tiba-tiba dan bikin semua orang jatuh."
"Ini bukan waktunya bercanda." Rendra menatap Gavin tajam.
"Saya tidak bercanda." Gavin mengangkat tangan. "Saya sedang takut."
Rendra menatap video itu dengan wajah mengeras. Ia tahu Aiden menyelamatkan Kirana, tetapi rasa cemburu tetap menusuk dadanya ketika melihat istrinya berada dalam pelukan pria lain. Namun untuk pertama kalinya, ia sadar tidak punya hak untuk marah setelah semua luka yang ia berikan lebih dulu.
"Video itu tidak boleh keluar." Rendra mengepalkan tangan.
"Sudah terlambat untuk berharap." Aiden menatap ponselnya.
"Apa maksudmu?" Kirana menoleh cepat.
Aiden menunjukkan layar ponselnya. Sebuah akun anonim sudah mengunggah potongan video yang sama dengan caption provokatif. Jumlah komentar bergerak cepat meskipun unggahan itu baru beberapa menit muncul.
Kirana membaca judul itu dengan wajah memucat. Kata-kata yang dipakai terlalu kotor dan menyudutkan, seolah ia adalah wanita yang sengaja mencari perlindungan pada pria kaya setelah rumah tangganya retak. Tidak ada yang tahu soal penculikan, ledakan, atau alasan Aiden menariknya malam itu.
"Ini sudah viral?" Kirana menahan napas.
"Mulai naik." Aiden memasukkan ponsel ke saku.
"Saya harus jelaskan." Kirana melangkah mundur.
"Jangan unggah apa pun sekarang." Aiden menahan suaranya.
"Kalau saya diam, mereka akan percaya." Kirana menggeleng.
"Kalau kamu bicara saat panik, mereka akan memotong kata-katamu." Aiden menatapnya tegas.
Rani memeluk ayah mereka yang masih diperiksa tim medis. Pria tua itu tampak lemah, tetapi matanya tetap menatap Kirana dengan khawatir. Ia jelas tidak paham seluruh masalah perusahaan itu, namun ia tahu satu hal, anak bungsunya sedang dihantam fitnah yang bisa membuat hidupnya semakin sulit.
"Kirana, dengarkan dia dulu." Ayahnya memegang tangan Rani.
"Ayah istirahat." Kirana menoleh.
"Ayah masih bisa marah kalau anak Ayah difitnah." Ayahnya terbatuk.
"Jangan tambah penyakit." Kirana mendekat.
"Penyakit Ayah kalah keras dari mulut orang." Ayahnya tersenyum lemah.
Kirana hampir menangis mendengar kalimat itu. Ayahnya baru saja diculik, hampir jadi korban ledakan, tetapi masih berusaha menguatkannya dengan cara yang sederhana. Di sisi lain, Aiden menghubungi tim hukum dan tim komunikasi perusahaan tanpa membuang waktu lagi.
"Siapkan pernyataan resmi." Aiden berbicara di ponsel.
"Jangan sebut nama saya." Kirana menoleh cepat.
"Kita tidak bisa menyembunyikan namamu." Aiden menatapnya.
"Saya tidak mau menjadi pusat berita." Kirana menggeleng.
"Kamu sudah dijadikan pusat berita oleh Armand." Aiden melembutkan suara. "Bedanya, sekarang kita ambil kendali."
Rendra mendekat satu langkah. Wajahnya tampak kusut karena ia tahu skandal itu tidak hanya menyeret Kirana dan Aiden, tetapi juga dirinya sebagai suami yang sudah lebih dulu mengkhianati pernikahan mereka. Jika media mulai menggali, perselingkuhannya dengan Selina bisa ikut terbuka, dan ia akan terlihat seperti pria yang kehilangan istri karena kesalahannya sendiri.
"Aku akan bicara." Rendra menatap Kirana.
"Tidak." Kirana menolak cepat.
"Aku suamimu." Rendra menahan napas.
"Jangan pakai kata itu hanya saat kamu butuh terlihat baik." Kirana menatapnya dingin.
"Aku ingin melindungimu." Rendra menunduk.
"Melindungi saya dari masalah yang ikut kamu buka?" Kirana mengangkat alis.
Rendra terdiam. Ia ingin membantah, tetapi seluruh keadaan malam itu membuat semua pembelaannya terdengar kosong. Aiden melihat mereka tanpa menyela, meskipun dadanya terasa tidak nyaman setiap kali Rendra menyebut dirinya sebagai suami Kirana.
"Rendra, kamu boleh bicara nanti." Aiden menatapnya.
"Kamu tidak berhak mengatur rumah tangga kami." Rendra menoleh tajam.
"Aku tidak mengatur rumah tanggamu." Aiden mendekat. "Aku mengatur krisis yang menyerang perusahaanku dan sekretarisku."
"Kirana bukan milik perusahaanmu." Rendra mengepalkan tangan.
"Kirana juga bukan barang milikmu." Aiden membalas dingin.
Kirana menatap dua pria itu dengan mata menyipit. Di saat namanya terancam hancur, keduanya masih hampir terseret dalam pertarungan ego yang tidak ia butuhkan. Ia melangkah di antara mereka, lalu menatap keduanya bergantian tanpa rasa takut.
"Cukup." Kirana mengangkat tangan.
"Kirana..." Rendra menahan napas.
"Saya bukan piala." Kirana menatap Rendra.
"Aku tidak pernah menganggapmu begitu." Rendra menggeleng.
"Kamu melakukannya setiap kali memakai status suami untuk menutup kesalahanmu." Kirana menahan suara.
Aiden diam. Kalimat itu bukan untuknya, tetapi ia ikut merasakan batas yang Kirana buat dengan sangat jelas. Wanita itu tidak ingin diselamatkan dengan cara yang membuatnya terlihat lemah, dan ia harus menghormati itu.
"Tuan Aiden." Kirana menoleh.
"Ya?" Aiden menatapnya.
"Buat pernyataan tentang penculikan dan ledakan." Kirana menguatkan suara.
"Dan video itu?" Aiden mengernyit.
"Katakan yang sebenarnya." Kirana menatapnya. "Tuan melindungi saya karena ada ledakan."
"Baik." Aiden mengangguk.
"Jangan tambahkan hal lain." Kirana menatapnya tegas.
"Aku paham." Aiden menyimpan ponsel.
Gavin mengangkat tangan pelan. Semua orang menoleh kepadanya, dan ia tampak ragu untuk bicara. Namun wajahnya yang tiba-tiba serius membuat Aiden langsung menyadari ada kabar baru.
"Bos, akun anonim itu mengunggah lagi." Gavin menunjukkan layar.
"Apa isinya?" Aiden mendekat.
"Foto Rendra dan Selina." Gavin menelan ludah.
Rendra langsung merebut ponsel itu dengan wajah pucat. Foto yang muncul di layar memperlihatkan dirinya bersama Selina di depan apartemen. Caption yang tertulis lebih tajam daripada sebelumnya, seolah sengaja mempertemukan dua skandal dalam satu malam.
Kirana membaca unggahan itu tanpa ekspresi. Anehnya, rasa sakit yang dulu meledak ketika melihat foto Selina kini terasa lebih jauh. Mungkin karena luka itu sudah terlalu sering terbuka, atau mungkin karena ia sudah tidak lagi terkejut pada keburukan Rendra.
"Armand sedang membakar semuanya." Aiden menatap layar.
"Dia ingin perhatian media pindah dari Proyek Meridian." Fajar menahan lengannya.
"Dan membuat kita sibuk dengan skandal pribadi." Gavin mengangguk.
"Untuk sekali ini, analisamu benar." Aiden meliriknya.
"Saya ingin bangga, tapi situasinya tidak mendukung." Gavin menghela napas.
Telepon Aiden berdering lagi. Nama Niko muncul di layar, membuat semua orang langsung menegang. Aiden mengaktifkan pengeras suara agar semua bisa mendengar.
"Niko, bicara." Aiden menatap ponselnya.
"Armand tidak membawa semua data." Niko bersuara cepat.
"Apa maksudmu?" Aiden mengernyit.
"Aku sempat menyalin satu folder." Niko berbisik.
"Di mana kamu sekarang?" Armand tidak ada di sana, tetapi nama itu membuat semua tegang.
"Ruang keamanan Pradana Group." Niko menjawab cepat.
"Kenapa baru bilang?" Gavin mengusap wajah.
"Karena aku tidak yakin kalian masih hidup." Niko menjawab datar.
"Masuk akal, tapi tetap menyebalkan." Gavin memejamkan mata.
Aiden menatap Kirana sebentar. Jika Niko memiliki salinan folder, mereka mungkin punya jalan untuk membalik keadaan sebelum Armand menghancurkan semua bukti. Namun suara Niko di telepon terdengar terlalu takut untuk ukuran pria yang sebelumnya sangat berani.
"Folder apa yang kamu salin?" Aiden bertanya cepat.
"Daftar penerima uang dari kebocoran Meridian." Niko menjawab pelan.
"Ada nama Armand?" Aiden menegakkan tubuh.
"Ada." Niko menelan napas.
"Siapa lagi?" Fajar mendekat.
Niko terdiam beberapa detik. Keheningan itu membuat semua orang di area pelabuhan ikut menahan napas. Lalu suara Niko terdengar lebih rendah, seolah ia takut dinding ruang keamanan pun bisa mendengarnya.
"Ada nama Rendra." Niko akhirnya bersuara.
Rendra langsung membeku.
"Apa?" Kirana menatap Rendra.
"Itu tidak mungkin." Rendra menggeleng cepat.
"Namamu ada di daftar penerima uang." Niko menekan suara. "Dan jumlahnya cukup besar."
Kirana menatap Rendra tanpa berkedip. Baru beberapa menit lalu ia mendengar rekaman alasan pernikahan mereka, sekarang nama pria itu muncul lagi dalam daftar uang kotor Proyek Meridian. Rendra terlihat seperti orang yang kehilangan pijakan, tetapi kali ini Kirana tidak tahu apakah itu kepanikan orang tidak bersalah atau ketakutan orang yang akhirnya tertangkap.
"Rendra." Kirana menguatkan suara.
"Aku tidak menerima uang itu." Rendra menatapnya panik.
"Berapa banyak lagi yang harus saya percaya?" Kirana bertanya pelan.
"Aku bersumpah." Rendra mendekat.
"Jangan bersumpah pakai wajah yang sama dengan semua kebohonganmu." Kirana mundur.
Sebelum Rendra sempat menjawab, suara keras terdengar dari ponsel Aiden. Niko berteriak, lalu sambungan berubah kacau. Ada suara benda jatuh, langkah terburu-buru, dan napas yang berat.
"Niko!" Aiden memanggil tajam.
"Tuan..." Niko terengah.
"Apa yang terjadi?" Aiden menggenggam ponsel.
"Dia di sini." Niko berbisik ketakutan.
"Siapa?" Aiden menegang.
"Armand." Niko menjawab lirih.
Sambungan terputus.
Beberapa detik kemudian, ponsel Aiden menerima sebuah foto dari nomor Niko. Foto itu memperlihatkan ruang keamanan Pradana Group yang gelap, sebuah meja berantakan, dan Niko terbaring di lantai dengan darah di pelipisnya.
Di layar monitor belakang Niko, satu file terbuka dengan judul yang membuat Kirana menahan napas.
KIRANA MAHESWARI — AKSES UTAMA MERIDIAN.