NovelToon NovelToon
PEMBERONTAK PARA DEWA LAST SEASON

PEMBERONTAK PARA DEWA LAST SEASON

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Epik Petualangan / Perperangan
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Seratus tahun telah berlalu sejak Shi Hao mengorbankan kultivasinya menggunakan Teknik Terlarang untuk menyelamatkan Alam Atas dari kehancuran Kaisar Langit. Di Alam Atas, kedamaian semu tercipta di bawah pimpinan Dewan Bersama (Raja Yan, Lei Zhen, Ao Zun).

Namun, di sebuah desa fana yang terpencil, Shi Hao hidup bahagia sebagai petani buta dan lumpuh bersama istri fananya (Gu Qing Yi yang menyembunyikan identitasnya). Kepompong fana Shi Hao perlahan-lahan menyehatkan jiwanya yang hancur, menanamkan pemahaman Dao Kemanusiaan yang belum pernah dicapai oleh Dewa mana pun.

Kedamaian itu hancur ketika Dinding Dimensi Alam Atas robek. Shen Yu, Dewa Iblis dari Semesta Sembilan Nether yang telah menaklukkan ribuan alam, akhirnya tiba bersama pasukan jenderalnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 20

Dunia Fana – Batas Cakrawala Desa Angin Lembut.

Waktu baru menunjukkan pertengahan hari, saat matahari seharusnya bersinar paling terik di atas ubun-ubun. Namun, udara di sekitar persawahan mendadak terasa sedingin es yang ditarik dari dasar samudra sedalam sepuluh ribu tombak.

Kicau burung pipit berhenti seketika. Serangga-serangga tanah menggali lebih dalam, bersembunyi dalam keheningan mutlak. Urat Nadi Bumi (Earth Ley Lines) yang mengalirkan energi kehidupan fana tiba-tiba bergetar, merintih ketakutan seolah ada tangan raksasa tak kasat mata yang sedang mencekik leher dunia ini.

Di tengah lumpur sawah, Ketua Sekte Zhao Tian yang sedang menarik bajak kayu tiba-tiba menghentikan langkahnya. Fluktuasi Jiwa Baru Lahir (Nascent Soul) di dalam Dantian-nya, yang tadinya tenang, kini bergolak liar seperti air mendidih.

Zhao Tian mendongak ke langit, dan sepasang matanya membelalak dipenuhi teror yang meremukkan kewarasannya.

"K-Ketua... Ada apa dengan matahari...?" suara Tetua Kedua bergetar hebat, menunjuk ke arah langit dengan tangan berlumuran lumpur.

Matahari tidak lagi berwarna keemasan. Sebuah bayangan ungu kehitaman, yang tidak berasal dari pergerakan bulan fana, mulai menutupi piringan surya tersebut dari segala arah. Setiap inci cahaya yang tertutup oleh bayangan itu diubah menjadi warna merah darah yang sangat pekat dan memuakkan.

Hukum alam di atas kepala mereka sedang dikoyak. Ini bukan sekadar gerhana biasa. Ini adalah Gerhana Darah Nether, sebuah fenomena pembawa kiamat di mana satu alam semesta mencoba menelan alam semesta lainnya.

"Energi Surga dan Bumi... menghilang..." gumam Zhao Tian, jatuh terduduk di atas lumpur, tak lagi peduli pada sisa harga dirinya. Air mata keputusasaan mengalir di pipinya. "Ini bukan kekuatan kultivator... Ini adalah Kehendak Langit yang sedang mati! Kiamat telah tiba!"

Para petani fana yang tidak memiliki mata spiritual hanya melihat langit mendadak gelap kemerahan dan merasa sesak napas. Mereka saling berpelukan, merapalkan doa-doa kepada dewa pelindung desa. Mereka tidak tahu bahwa "dewa-dewa" dari Sekte Pedang Awan yang ada di dekat mereka justru menangis lebih keras.

Di Atas Dahan Bambu Kuno.

Lima Penjaga Teratai langsung melompat dari persembunyian mereka, mendarat di atas atap rumbia gubuk keluarga Shi. Kelima elit Transformasi Dewa (Soul Transformation) itu langsung memuntahkan seteguk darah bahkan sebelum musuh menampakkan diri.

"Tekanan ruang ini... ini adalah kutukan tingkat Dewa Iblis!" Lu Bai menyeka darah dari sudut bibirnya, wajah tampannya sepucat kertas beras. Tangannya yang memegang kecapi bergetar tanpa bisa dikendalikan.

"Dia mengorbankan semestanya sendiri untuk memproyeksikan Gerhana Darah melintasi batas dimensi! Shen Yu benar-benar sudah gila!" teriak Hong Hua, kipasnya telah hancur hanya karena mencoba menahan riak energi yang turun dari langit merah itu.

Hei Gen, Shui Di, dan Jin Yu segera membentuk formasi lima sudut di atas atap.

"Aktifkan Formasi Teratai Penahan Surga! Kita harus melindungi gubuk Tuan Besar dan Nyonya, apa pun bayarannya! Bahkan jika kita harus membakar Inti Dao kita menjadi abu!" raung Lu Bai.

Lima pilar cahaya hijau melesat dari tubuh mereka, mencoba membentuk kubah pelindung di atas gubuk. Namun, saat cahaya merah darah dari gerhana di langit itu menyentuh kubah teratai mereka...

KREK... KRAAAK!

Hanya dalam waktu tiga tarikan napas, kubah formasi tingkat dewa itu retak seperti cangkang telur rapuh yang diinjak gajah. Perbedaan tingkat kekuatan antara Transformasi Dewa dan Dewa Iblis (Demon God) terlalu jauh, laksana jarak antara setetes air dan lautan tak bertepi.

"Kita tidak bisa menahannya!" jerit Jin Yu, sudut matanya meneteskan darah akibat tekanan balik dari formasi yang hancur.

Tepat ketika kelima penjaga setia itu bersiap meledakkan jiwa mereka untuk satu pertahanan terakhir...

Krieeet...

Pintu depan gubuk terbuka dengan suara decitan yang sangat pelan dan fana.

Suara itu menembus gemuruh badai kosmik di langit dan derak hancurnya hukum alam, menghentikan keputusasaan yang melanda.

Shi Hao melangkah keluar ke teras berlantai kayu. Pakaian raminya bergerak lembut tertiup angin mematikan yang tidak berani menyentuh kulitnya. Kain putih masih melilit mata kirinya. Tangan kanannya bertumpu pada tongkat bambu, sementara tangan kirinya memegang sesuatu yang sangat tua dan berdebu.

Sebuah Payung Kertas Minyak Tua.

Itu adalah payung yang biasa dia gunakan untuk pergi ke pasar saat musim hujan tiba, yang rangkanya terbuat dari bambu kuning biasa dan kertasnya telah memudar warnanya karena dimakan usia.

Gu Qing Yi melangkah menyusul di belakangnya. Mata Raja Dewa miliknya telah menyala memancarkan cahaya hijau keemasan yang tajam, bersiap melepaskan kekuatan aslinya untuk menyongsong serangan sang Dewa Iblis.

Namun, Shi Hao sedikit mengangkat tangan kanannya, memberi isyarat agar istrinya tidak perlu maju.

"Suamiku..." bisik Qing Yi, suaranya mengandung nada khawatir. "Ini adalah Gerhana Darah Shen Yu. Dia menggunakan pengorbanan jutaan bintang mati untuk merusak hukum alam fana ini dari jauh."

Shi Hao tidak menjawab dengan bahasa para dewa. Dia mendongak, wajahnya yang damai menengadah ke arah langit yang merah menyala seperti darah mendidih.

"Langitnya terlihat sangat kotor, Istriku," kata Shi Hao kalem, suaranya mengalir seperti gemericik air sungai di musim semi. "Sepertinya akan turun hujan lumpur merah. Jemuran bajumu di halaman belakang bisa bernoda jika terkena rintiknya."

Lu Bai dan keempat rekannya yang berada di atas atap nyaris jatuh terguling mendengar ucapan itu. Kiamat kosmik sedang turun dari langit, dan sang Kaisar Asura mengkhawatirkan jemuran baju istrinya?!

Shi Hao melangkah maju ke ujung teras.

Mata Ketiga berwarna Emas Kehidupan di dahinya tidak terbuka sepenuhnya, hanya menyisakan celah tipis sebesar benang. Namun, dari celah tipis itu, mengalir keluar Hukum Kemanusiaan (Mortal Dao) yang tak terlukiskan oleh bahasa tiga ribu dunia.

Kekuatan yang dulu digunakan untuk membantai, kini telah berevolusi menjadi kekuatan absolut untuk melindungi.

Shi Hao perlahan mengangkat payung kertas minyak tua itu ke atas kepalanya. Tangannya yang kasar meraih gagang kayu payung tersebut, lalu mendorongnya ke atas.

SRAAAK.

Suara payung kertas yang mengembang terdengar sangat jelas.

Pada detik payung fana itu terbuka penuh... Waktu di seluruh Desa Angin Lembut, dan bahkan di seluruh Benua Fana, seolah terhenti.

Sebuah kubah cahaya emas bentuk proyektil dari payung kertas minyak itu meledak dari teras gubuk keluarga Shi. Cahaya emas itu meluas dengan kecepatan yang melampaui pemahaman akal sehat, membesar hingga ribuan, jutaan Zhang ke udara, menyelimuti seluruh desa, lalu menyelimuti seluruh benua, dan akhirnya membungkus seluruh planet fana itu dari dalam.

Hukum Mortal Dao Shi Hao tidak menyerang balik Gerhana Darah itu. Tidak ada ledakan. Tidak ada benturan dahsyat yang menghancurkan langit.

Shi Hao hanya menciptakan sebuah "Atap".

Ketika cahaya merah darah mematikan dari Sembilan Nether menetes turun layaknya hujan korosif, cahaya itu hanya jatuh mengenai kubah emas payung tersebut, lalu meluncur jatuh ke sisi-sisi kehampaan tanpa bisa menembus masuk. Desa Angin Lembut tetap berada di bawah cahaya keemasan yang hangat dan damai, terlindung sepenuhnya dari kiamat.

Di tengah sawah, Zhao Tian dan para kultivator yang tadinya menangis putus asa kini ternganga lebar. Mereka merasakan kehangatan yang menyelamatkan nyawa mereka kembali mengalir. Udara yang tadinya mencekik kini berubah menjadi wangi tanah sehabis hujan.

"I-Itu... apa itu...?" Kakek Li, yang tidak mengerti sihir, hanya menunjuk ke arah gubuk A-Hao yang memancarkan cahaya redup keemasan dari balik rimbunnya hutan bambu.

Di atas atap gubuk, Lu Bai menangis dalam diam. Bukan karena sedih, tapi karena pencerahan mutlak.

"Sebuah payung kertas minyak..." isak Shui Di, menangkupkan kedua tangannya. "Bagi kita, itu adalah serangan Dewa Iblis yang mematikan. Tapi bagi Beliau, itu hanyalah gerimis sore yang mengganggu. Beliau melindungi seluruh dunia fana ini sesederhana memayungi istrinya dari rintik hujan."

Semesta Sembilan Nether – Altar Samudra Darah.

Di atas altar raksasa, Shen Yu yang sedang mengendalikan formasi pengorbanan mendadak tersentak mundur.

Dewa Iblis yang ditakuti seluruh alam baka itu memuntahkan seteguk esensi darah iblis berwarna ungu pekat. Tangannya yang memegang tongkat tengkorak naga gemetar hebat, dan mahkota tengkorak di tongkatnya itu retak panjang.

Di matanya, yang menembus dimensi menuju planet fana, dia tidak melihat sebuah planet yang terbakar oleh gerhananya. Dia hanya melihat sebuah bayangan payung kertas raksasa berwarna emas yang menangkis seluruh kutukannya dengan sangat mudah, seolah kutukan itu hanyalah debu murahan.

"Menangkis Gerhana Darah dari pengorbanan sembilan puluh sembilan dunia mati... HANYA DENGAN SEBUAH PAYUNG FANA?!" raung naga hitam Mo Yuan, suaranya bercampur antara amarah dan ketakutan yang tak terkendali.

Wajah tampan Shen Yu berubah menjadi topeng kemurkaan yang tak terbayangkan. Hawa dingin absolut meledak dari tubuhnya, membekukan ribuan mil samudra darah di bawahnya dalam sekejap mata.

"Jalan Kemanusiaan miliknya telah menembus batas kesempurnaan... Dia telah mencapai ranah di mana segala materi dan hukum alam semesta tunduk pada kesederhanaan niatnya," desis Shen Yu, mengusap darah dari bibirnya.

Tujuh Penguasa Iblis di bawah altar bersujud ketakutan, tidak ada yang berani bernapas lebih keras dari hembusan angin. Mereka baru saja melihat Tuan mereka, sang Dewa Iblis tertinggi, terluka akibat pantulan serangannya sendiri yang ditangkis oleh sebuah payung kertas.

Shen Yu mencengkeram tongkatnya, matanya berkilat memancarkan kegilaan.

"Kau boleh memiliki payung yang tak tertembus, Shi Hao..." bisik Shen Yu, suaranya mengandung racun kebencian abadi. "Tapi setiap payung harus dipegang oleh sebuah tangan. Jika aku memotong tangan itu, langit fanamu akan runtuh!"

Shen Yu mengangkat tongkatnya, menunjuk ke arah Tujuh Penguasa Iblis.

"Tinggalkan ilusi jarak jauh! Panggil Kapal Kematian Nether! Kita akan menerobos masuk ke perbatasan Alam Atas dengan tubuh asli! Kita akan menyulut Perang Dewa secara langsung, dan memaksa Asura itu keluar dari bawah payung fananya!"

Dunia Fana – Teras Gubuk.

Shi Hao masih berdiri santai, tangannya tetap memegang gagang payung kertas minyak yang terbuka. Langit di luar kubah desanya perlahan kembali cerah, gerhana darah itu telah ditarik mundur secara paksa oleh kehancuran formasinya.

Shi Hao menurunkan payungnya, lalu menutupnya dengan bunyi klik yang sederhana.

"Tuh kan, Istriku. Hujannya hanya sebentar," kata Shi Hao sambil tersenyum, menyandarkan payung itu kembali ke sudut dinding bambu.

Qing Yi berjalan maju, merangkul pinggang suaminya dari samping, menyandarkan kepalanya ke dada bidang pria itu. Dia tahu bahwa di balik senyum santai itu, suaminya baru saja menghabiskan sejumlah energi Kekacauan yang luar biasa besar untuk melindungi planet fana ini.

"Mereka tidak akan berhenti, Hao," bisik Qing Yi pelan, memastikan hanya Shi Hao yang bisa mendengarnya. "Shen Yu telah gagal dengan sihir jarak jauh. Dia pasti akan menyerang garis depan Alam Atas secara langsung."

Shi Hao mengusap rambut sehalus sutra milik Qing Yi. Mata kirinya yang terbalut kain menatap ke arah utara, tempat di mana letak Sektor Tembok Ratapan Alam Atas berada.

"Aku tahu," jawab Shi Hao kalem. "Jika ada babi hutan yang terus-menerus merusak pagar ladang, cepat atau lambat petani harus keluar rumah membawa tombak perburuan."

Shi Hao menunduk, mengecup kening istrinya dengan lembut.

"Biarkan mereka datang ke gerbang depan Alam Atas. Lei Shan, Ao Zun, dan Wuming butuh sedikit latihan pemanasan. Ketika saatnya tiba, aku akan pergi menjemput mereka, dan menyapu bersih hama itu untuk selamanya."

1
yos helmi
🤣🤣🤣🤣
yos helmi
🙏🙏🙏🙏
yos helmi
👍👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄😄
yos helmi
💪💪💪💪
yos helmi
😍😍😍😍😍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣
saniscara patriawuha.
kasian berkali kali manggg wuuuu ini....
saniscara patriawuha.
sakit banget tuhhh rasaneee...
saniscara patriawuha.
sikattttttt lagiiii mangggg shiiiiii.....
saniscara patriawuha.
mantaffffff surataffff....
Hendra Saja
makin penasaran.....apa tidak bertemu dengan sang tiran Thor....
yos helmi
👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄😄
yos helmi
😍😍😍😍
yos helmi
💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣
yos helmi
🙏🙏🙏🙏
HINATA SHOYO
mantapp jiwa kerennn cuuyyyyy
HINATA SHOYO
kerenn poolĺll lanjutttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!