"siapa namamu?"
xavier menatap lekat bocah 5 tahun itu yang melotot marah kepadanya, bocah laki-laki dengan rambut gondrong ikal sebahu, memegang sebuah rubrik di tangannya.
mata bocah itu mengingatkan xavier pada wanita itu, wanita sialan yang pergi begitu saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tiga puluh satu
"selamat siang, benarkah ini rumah diandra ratunisa?"
"benar, anda siapa?"
Diandra memicingkan matanya, mengamati pria kaku berdasi, berdiri di ambang pintu rumahnya.
"saya theo, kuasa hukum xavier pratama" ujar pria berusia sekitar 40 tahun itu.
"ahh" seru diandra, matanya celingukan mencari seseorang.
"pak xavier tidak bisa datang hari ini buk" ujar pria itu, seakan paham diandra mencari siapa.
"oh, heheh" tawa diandra malu, "silahkan masuk!"
Diandra mempersilahkan tamunya duduk, pria itu mengangguk sopan.
"kenalkan buk, saya theodore pengacara keluarga pratama, saya kemari untuk mengurus administrasi putra anda"
Diandra mengangguk paham, "apakah saya perlu menyiapkan sesuatu?"
Pria itu mengangguk, seraya mengeluarkan dokumen dari dalam tasnya.
"apakah killian memiliki akte lahir?"
"ada " sahut diandra cepat, "tunggu saya ambilkan salinannya"
Diandra sudah di ambang pintu kamar, tiba-tiba sesuatu terlintas di benaknya.
"kenapa xavier tidak datang?"
Pria itu mendongak, wajah seriusnya terlihat semakin serius saja dengan tatapannya itu.
"ada beberapa hal yang harus tuan xavi urus, buk. Nanti sore baru bisa kemari"
Diandra mengernyitkan keningnya, ada ragu tiba-tiba menyelinap.
Ada rasa takut, kalau ini cara xavier merebut killian darinya. Diandra berusaha berbaik sangka, bukankah pria itu kemarin sudah bersumpah tidak akan membohonginya.
"pak theo.." panggil diandra, dengan membawa salinan akte lahir killian.
"maaf kalau saya sedikit lancang, andakan pengacara, saya orang awam..ijinkan saya bertanya sesuatu"
Pria itu menatap diandra serius dan mengangguk, melihat pengacara itu antusias diandra melanjutkan.
"killian adalah putra yang saya lahirkan dan besarkan sendiri, benar kalau xavier adalah ayah biologis putra saya, apakah dengan memasukkan killian ke dalam kartu keluarga pratama, saya akan kehilangan hak saya sebaga ibunya?"
Pengacara itu menggeleng cepat, "nama ibu tetap kami terakan sebagai ibu kandung, kare—"
"saya tahu..!" sergah diandra cepat, " xavier sudah mengatakannya kemarin, yang saya mau tanyakan, pengasuhan killian tetap di tangan saya kan?"
"kenapa ibu bertanya seperti itu?"
"karena, jika pemindahan putra saya dalam kartu keluarga pratama, menyebabkan pengasuhan putra saya beralih atau berpindah ke keluarga pratama, saya keberatan untuk memindahkannya ke kartu keluarga pratama"
"tidak bu diandra, pemindahan tuan muda killian hanya sebatas hukum dan data-datanya secara legal"
"baiklah.." ujar diandra mengulurkan salinan akte lahir killian.
"saya harap ucapan anda sebagai seorang pengacara bisa saya pegang dan dipercaya"
<<<<<<<<<<<<>>>>>>>>>>>>
Diandra sedang merapikan killian yang baru saja mandi sore, bocah tampan itu misuh-misuh karena diandra masih membedaki wajahnya dan mengoleskan minyak telon ke dada bocah itu.
"lian udah gede, mama" protesnya dengan bibir yang mengerucut, diandra malah tertawa gemas dan menciumi pipi gempalnya.
"assalamualaikum..."
Serentak kedua ibu dan anak itu menoleh, di ambang pintu, xavier berdiri bersandar di kusen, tangannya membawa bingkisan.
Wajah killian langsung tersenyum lebar, mata kebiruan milik bocah tampan itu, berbinar-binar.
Diandra tersenyum melepas putranya yang melarikan diri, mengejar pelukan xavier.
"heummm, bocah tampannya om xavi udah harum aja" endus xavi ke leher bocah gondrong itu, dan killian tidak mengelak malah tertawa sembari memeluk leher xavi erat.
Diandra menghampiri keduanya dengan alis yang tertaut, kenapa killian tidak protes dicium xavier.
"sore banget datangnya?" tanya diandra meraih bingkisan dari tangan xavier, "udah azan maghrib tuh!"
Xavier tak menjawab, karena pria itu sibuk melayani ocehan killian. Membuka sepatu pun hanya menggunakan kakinya masing-masing.
"rencananya tadi balik kantor langsung kemari, tapi pengacara theo menyita waktuku"
Diandra hanya mengangguk, mengikuti xavier yang duduk di sofa, setelah killian turun dari gendongannya.
"maaf pagi tadi aku tak bisa datang, di. Kerjaan banyak banget"
"nggak apa-apa" geleng diandra, "pengacara itu juga nggak lama kok"
Xavier menatap diandra lekat, sorot matanya penuh kerinduan, tiba-tiba dia menghela nafasnya dan terdengar berat.
"ahh..,aku sudah tidak sabar membawa kalian pulang ke rumah"
Tangannya meraih jemari diandra yang sibuk membuka bingkisan yang xavier bawa.
"aku sudah tak sabar menjadi papa killian, dan suamimu, di"
Diandra tersenyum, pipinya merona merah. Sesaat mereka saling tatap tanpa kata, hanya hati mungkin saling bicara.
"di..." panggil xavier memecah keheningan.
"heumm"
"aku ingin bicara denganmu, dan kuharap kamu dengarkan baik-baik dan jangan marah!"
Diandra mengernyitkan keningnya, menatap xavier penuh tanya.
"aku akan jelaskan dulu, kumohon kamu dengarkan dulu yah!"
"sepertinya sangat serius?"
Xavier mengangguk, tangannya kembali meraih jemari diandra dan meremasnya hangat.
"sebelum aku ceritakan semuanya, yang perlu kamu tahu, aku mencintaimu, di. Cukup kamu ingat itu saja"
"kenapa aku merasa deg-degan sih, kamu mau ngomong apa sebenarnya?" diandra menegakkan tubuhnya dan menghadap ke xavier sepenuhnya.
"kamu ingat di, beberapa hari kemarin, aku semingguan nggak kemari setelah menemukanmu?"
Diandra mengangguk, xavier, pria itu juga mengangguk. Beberapa kali dia menelan salivanya kesulitan, terlihat jakunnya turun naik.
Diandra merasa apa yang ingin pria ini sampaikan pasti hal yang sangat serius.
"sepulangnya aku dari sini, sore itu. Aku langsung ke rumah sakit"
Xavier kembali menarik nafasnya yang terasa berat, ia kembali menatap diandra lekat.
"geraldine mencoba bunuh diri, di"
Seketika bola mata diandra membola kaget, kedua tangannya menutup mulutnya yang terperangah.
"dia menolak keputusanku yang memutuskan pertunangan itu, dia mengiris pergelangan tangannya"
Diandra meringis ngeri, membayangkan kenekatan tunangan xavier itu.
"aku sudah mengatakan padanya, kalau aku mencintai kamu dan memiliki putra, tapi aldine tidak keberatan.."
"tidak keberatan?" alis diandra tertaut heran, "apa maksudnya itu?"
"aldine menerima killian, di. Dia tak masalah, asal aku mau menikahinya!"
Diandra kembali mengerutkan kening, hatinya berdesir tiba-tiba. Diandra sudah bisa meraba kemana arah pembicaraan ini sepertinya.
"maaf, xavi!" diandra menarik tangannya dari genggaman xavier.
"kalau kamu ingin menikahi dia, itu urusanmu dan aku tak memiliki hak untuk melarangmu. Tapi jangan harap aku akan melepaskan killian"
"sayang..." ujar xavier lembut merengkuh pundak diandra, suara diandra berubah, terkesan defensif.
"apakah kamu tak mencintai aku?"
Diandra menggeleng,"bukan aku tak mencintaimu, tapi aku tidak akan melepaskan killian, apapun yang akan kamu katakan, aku tak akan melepaskan killian"
Diandra hendak bangkit, namun tangan xavier menahannya.
"aku belum selesai bicara, di!"
"tidak ada lagi yang perlu aku dengar!"
Diandra mulai terlihat marah, "jangan bilang cinta kalau ternyata ini adalah rencanamu dari awal"
"diandra..!" panggil xavier tegas, pria itu juga ikut berdiri.
"aku belum selesai bicara, dan aku sama sekali tak punya niat seperti yang kamu ucapkan barusan"
"hhhhhh" dengus diandra kasar, senyumnya terlihat sinis.
"aku yang bodoh, mempercayai semua rayuanmu!"
"sayang"
"stop memanggilku sayang, xavi" diandra menatap nyalang mata kebiruan yang menatapnya lembut itu.
"ternyata aku perempuan bodoh tak tahu di—"
Diandra terdiam, mulutnya di bekap begitu saja oleh xavier dengan bibirnya, pria itu melumat bibirnya dan merengkuh pinggang ramping diandra ke dalam pelukan.
"hmmmpphhh.." diandra berusaha berontak, namun pelukan itu malah semakin erat.
"lep..hmpphhh...lepaskan.."
Diandra memukuli dada bidang itu, berusaha melepaskan diri, mendorong tubuh kekar yang sama sekali tak bergerak.
Diandra benar-benar hampir kehabisan nafas, kalau xavier tak segera melepaskan ciumannya.
Dada diandra turun naik menahan amarah yang membuncah, matanya menatap nyalang, namun tatapan sendu xavier menyentakkan hatinya, mata biru itu berkaca-kaca.
Bersambung...