NovelToon NovelToon
THE SILENT SECTOR

THE SILENT SECTOR

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:14k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Marina

Mantan agen rahasia dari sektor 7 kini kembali setelah masa tugasnya delapan tahun selesai.... Faas laki-laki pendiam yang selalu di anggap keluarganya adalah aib karena sifat pendiam nya membuat keluarga membuang Faas ke Amerika dengan dalih untuk meneruskan pendidikannya di sana, namun bertahun-tahun lamanya, menurut keluarnya ,Faas tetaplah laki-laki pendiam yang tidak bisa berbuat apa-apa,selain menghabiskan uang keluarganya, padahal di balik pendiam nya Faas , ada rahasia tersembunyi yang tidak ada satu keluarga nya yang tahu .



_
_
_
Bismillahirrahmanirrahim....
Assalamualaikum...
bertemu lagi dengan author yang suka-suka...
yuk ikuti kisahnya ... , ini kelanjutan cerita tentang Faas sebagai rekan sektor 7 shadow Midi.
semoga sukaaaaa
dan selamat membaca.... yang tidak suka tinggal skip, dan untuk yang mau mengikuti cerita ini, mohon dukungannya ya, 🥰🥰🥰🥰 terimakasih 🙏🏻

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Malam harinya, ruang makan keluarga Abrari terasa seperti medan perang yang sunyi. Husen duduk di kepala meja. Di sisi kanannya ada Diana yang selalu ingin ia pastikan berada di dekatnya, karena bagaimanapun, Husen sangat mencintai istri pertamanya itu dan menolak tinggal terpisah. Di sisi kiri ada Jihan, Gavin, dan Jenita. Sementara Faas duduk di samping mamanya.

Suasana makan malam yang semula tenang mulai memanas saat Gavin berdehem, sengaja memecah kesunyian.

"Alhamdulillah, Pa. Hari ini proyek superblok Abrari Property di Jakarta Barat resmi gol. Gavin baru saja menandatangani kontrak kerja sama senilai lima ratus miliar," ucap Gavin dengan nada sombong, sengaja mengeraskan suaranya sambil melirik Faas yang sedang mengunyah makanannya dengan tenang.

"Bagus, Gavin. Papa tidak salah menaruh kamu di posisi Direktur Utama. Kamu memang punya darah bisnis Papa," puji Husen, wajahnya tampak bangga.

"Ya jelas dong, Pa. Gavin kan dari dulu fokus, tidak seperti orang yang cuma bisa diam dan menghamburkan uang, jadi beban," sahut Jenita sambil menuangkan jus. Ia menatap Faas dengan tatapan sinis. "Eh Kak Faas, di Amerika kemarin kerja apa? Kok pulang-pulang cuma bawa satu koper kecil? Di Jakarta mau kerja apa? Mau jadi sopirnya Gavin? Kebetulan Gavin lagi butuh sopir yang tahan banting, kan lumayan daripada menganggur."

Jihan terkekeh mendengar ucapan putri manjanya. "Jenita, jangan begitu. Kakakmu itu kan sensitif, dari dulu cuma bisa diam. Mungkin di Amerika dia cuma melamun melihat patung Liberty."

Diana yang mendengar anak kandungnya dihina, meremas serbet di pangkuannya dengan wajah sedih. "Jihan, Jenita, jaga bicara kalian. Faas baru saja pulang."

"Lho, Mbak Diana, kita kan cuma bertanya," bela Jihan dengan nada yang dibuat-buat polos. "Kita kan khawatir dengan masa depan Faas. Zaman sekarang kalau cuma modal tampang dan sifat pendiam, tidak bakal bisa makan di Jakarta. Tidak seperti Gavin yang otaknya encer."

Sepanjang rentetan sindiran tajam itu, Faas tetap tenang. Tangannya yang kokoh memegang sendok dan garpu dengan anggun. Ia menyuap makanannya perlahan, sama sekali tidak terpengaruh oleh arogansi Gavin maupun kesombongan Jenita.

Bagi seorang mantan agen Sektor 7 yang terbiasa menghadapi interogasi tingkat tinggi dan ancaman pembunuhan, sindiran keluarganya malam ini tidak lebih dari sekadar gonggongan aneh.

Namun, di balik ketenangannya, sepasang mata elang Faas sempat melirik ponselnya yang diletakkan di atas paha bawah meja. Sebuah pesan masuk dari sekretaris rahasianya di Apex Core baru saja berkedip.

"Tuan Faas, Abrari Property Group baru saja mengajukan proposal investasi teknologi ke perusahaan kita (Apex Core) untuk proyek superblok mereka. Apakah Anda ingin langsung menolaknya, atau kita mainkan dulu?"

Faas menyunggingkan senyum yang sangat tipis, hampir tak kentara, di sudut bibirnya. Ia meletakkan sendoknya, meneguk air putih, lalu menatap Gavin yang masih memasang wajah sok berkuasa.

"Makanannya enak, Bu. Terima kasih," ucap Faas lembut pada Diana, mengabaikan seluruh manusia arogan di meja itu seolah mereka adalah makhluk tak kasat mata.

Gavin yang merasa diabaikan langsung mengerutkan kening, merasa tersinggung dengan ketenangan kakaknya itu. Lihat saja, Kak. Di rumah ini, kamu tetaplah sebuah aib, batin Gavin geram.

Mereka tidak pernah sadar, singa yang sesungguhnya sedang duduk diam di ujung meja, siap meruntuhkan kerajaan bisnis mereka hanya dengan satu jentikan jari.

Setelah semuanya selesai, Faas berpamitan terlebih dahulu untuk beristirahat ke kamarnya, lebih tepatnya mengerjakan pekerjaan nya yang tertunda hari ini.

*

*.

*

Keesokan harinya, Universitas swasta Pelita Bangsa elite di Jakarta selalu menjadi panggung bagi mereka yang ingin pamer kekuasaan, dan Jenita adalah ratunya kini setelah beberapa tahun lalu berhasil melengserkan putri palsu Daneswara.

Dengan tas bermerek ratusan juta dan kawalan dua temannya, Jenita berjalan di koridor kampus dengan dagu terangkat.

Langkah kaki Jenita mendadak berhenti saat matanya menangkap sosok seorang gadis di dekat loker. Gadis itu mengenakan pakaian longgar yang tertutup, jilbabnya menjuntai rapi menutupi dada. Di tangannya ada beberapa buku tebal yang dipeluk erat.

Eliza...Tiga tahun lalu, nama Eliza mungkin akan membuat orang gemetar karena kesombongannya. Namun, setelah skandal besar di mana ibu kandungnya dijebloskan ke penjara karena menukar dirinya dengan Maudi dan menyiksa Maudi, dunia Eliza runtuh. Meskipun keluarga Daneswara, ayah tirinya dan Maudi , saudara tirinya, sangat menyayangi dan memperlakukannya dengan sangat baik bak keluarga kandung sendiri, rasa bersalah mengubah Eliza total.

Ia membuang semua kesombongan masa lalunya. Kini, ia memilih jalan yang sunyi. Mengikuti jejak Maudi, saudara tirinya yang sangat ia hormati, Eliza mengubah penampilannya menjadi sangat tertutup, meski ia memilih untuk tidak mengenakan cadar seperti Maudi. Ia ingin menebus dosa masa lalu ibunya dengan menjadi manusia yang serendah hati mungkin.

Brak!...

Jenita sengaja menyenggol bahu Eliza dengan keras hingga buku-buku di pelukan gadis itu jatuh berserakan di lantai koridor.

"Eh, sorry. Sengaja," ucap Jenita dengan tawa renyah yang dibuat-buat. Teman-temannya ikut tertawa mengejek.

Eliza tersentak, namun tidak ada kemarahan di matanya. Ia hanya menghela napas pendek, lalu berlutut di lantai untuk memunguti buku-bukunya yang berserakan.

"Lagian, jalan itu pakai mata. hari gini masih ada ya, yang pakai baju kayak karung goni ke kampus? Kamu mau kuliah atau mau ikut pengajian, Eliza?" sindir Jenita kencang, sengaja memancing perhatian mahasiswa lain yang mulai berkerumun.

"Maaf, Jenita. Permisi," ucap Eliza lirih. Ia berdiri, bersiap untuk pergi menghindari keributan. Ia tidak pernah mau melaporkan hal ini pada Saka yang kini memimpin raksasa bisnis Daneswara Group, ataupun pada Maudi yang sudah hidup tenang bersama keluarga kecilnya. Eliza merasa ini adalah bagian dari takdir yang harus ia hadapi sendiri sebagai penebusan dosa.

Namun, Jenita belum selesai. Ia melangkah maju, sengaja menginjak salah satu ujung jilbab panjang Eliza hingga kepala Eliza tertarik ke belakang.

"Dengar ya, anak narapidana. Kamu pikir dengan pakai baju tertutup begini, dosa ibumu yang menyiksa Maudi Daneswara itu bisa hilang? Kamu itu cuma benalu di keluarga Daneswara! Beruntung mereka mau menampungmu, kalau tidak, kamu pasti sudah jadi gembel di jalanan!" bisik Jenita dengan penuh kebencian dan bisa yang beracun.

Kata-kata itu menghantam dada Eliza seperti hantaman godam. Air mata menggenang di pelupuk matanya, namun ia sekuat tenaga menahannya agar tidak jatuh di depan Jenita. "Iya, aku tahu siapa diriku, Jenita. Terima kasih sudah mengingatkan," jawab Eliza dengan suara bergetar namun tetap tegap, lalu menarik jilbabnya perlahan dan berjalan pergi dengan langkah cepat.

Jenita mendengus puas melihat Eliza yang tampak rapuh. "Dasar lemah," umpatnya.

1
suti markonah
lanjut thorr🙏🙏🙏
Sri Supriatin
tks upnya Thor 💪💪💪
Sri Supriatin
semakin seruuuu belum kejutan bos Faas🤭🤭🤭
Susi C
ceritanya saya suka👍👍 semngat terus buat up ya thor💪
Xin
Tidak terbayangkan apa saja yang akan terjadi nantinya, Semngat Eliza💪👍.
Sri Supriatin
Jaa di gantung 🤭 penasaran 😄😄
Sukarti Wijaya
ayyooo semangat eliza...💪💪💪
Sri Supriatin
wah palang.merah, tiwas ikut degdrgan 🤣🤣🤣
suti markonah
sabar faas mlm pertamanya tertunda~nanti ketika sudah prg tamu tinggal gempur siang dan malam🤭🤭jangan lupa nanti ketika sudah di rumah abrari jangan jadi wanita lemah ya~
Yasmin Natasya
lanjut thor,🙏 semangat up💪😍
Sri Supriatin
Selamat menempuh hidup baru, bu Diana taulah isi hati anak laki2 nya💪💪💪kejutan demi kejutan menyusul, gimana sama ibu mertua Thor 🙏🙏🙏🙏
suti markonah
lebih terkejut lagi klo hussen tahu bahwa APEX CORE perusahaan milik faas
suti markonah
selamat faas, eliza semoga samawa
Xin
Alhamdulillah , selamat buat Faaz dan Eliza.
Sukarti Wijaya
alhamdulillah ssahhh...👍
Sri Supriatin
Tks upnya thor, wah sy jadi deg deg an kaya Husein🤭🤭
Xin
Terkejut kan pak Husen?🤭
suti markonah
piye pak hussen?.mati kutu kowe..keluarga daneswara saja nerima faas dengan tangan terbuka dan nerima apa ada nya lha kowe seorang ayah yg tidak tahu menahu anak kandungnya
Sukarti Wijaya
hampir mendekati malah digantung thor🤭😄🤣
Lovita BM
bab itu ditunggu² readers faas 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!