Deskripsi ~S1~(Alan & Ulan) , ~S2~(Elang & Mentari)
Ulan Diandra Maera. Gadis berusia 25 tahun harus mengalami masa pahit karena masa lalunya yang membuat sang tunangannya harus meninggalkannya untuk selama-lamanya. Hingga dirinya di benci oleh keluarga sang tunangan dan keluarga kandungnya sendiri, hingga datang kembaran dari sang tunangan bernama Alan yang juga ia pernah cintai di masa lalu dan ternyata adalah CEO di perusahaan tempat Ulan bekerja. Alan ternyata bisa membuat hidup Ulan lebih berwarna setelah kebencian yang ia terima dari keluarganya dengan alasan yang sama sekali tidak di ketahui oleh gadis itu.
Alan Mahendra, lelaki 32 tahun yang diam-diam mencintai Ulan sejak dulu, hanya karena egonya membuat Ulan berpaling pada Althaf Mahendra, kembarannya. Alan akan membuat Ulan mencintainya dengan cara lembut maupun kasar.
Akankah Alan bisa membuat Ulan mencintainya seperti dulu?
warning : kisah ini murni dari pemikiran author. Jika ada kesamaan tokoh dan yang lainnya itu hanya sebuah kebetulan yang tidak disengaja. saling mendukung dengan memberikan like, vote, komentar dan tips. Terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syafitri wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
...Happy reading...
*****
Walau pertemuan dengan Brawijaya Grup hanya membahas investasi yang akan di lakukan Mahendra Grup untuk membantu keuangan Brawijaya Grup tetapi itu semua membuat Ulan benar-benar tidak merasa nyaman. Tatapan sang papa padanya benar-benar sangat tajam, menghunus dirinya hingga rasanya ia tak mampu untuk berpijak di bumi. Leo dulunya sangat menyayangi Ulan sebagai anak semata wayang yang akan menjadi pewaris Brawijaya Grup. Namun, Leo gelap mata dan mulai tidak perhatian pada keluarga setelah Saera datang, puncaknya setelah Althaf meninggal Leo berkesempatan untuk membenci Ulan dan menceraikan istrinya begitu saja. Adinda, mama dari Ulan hanya bisa merasakan sakit yang luar biasa hingga dirinya tega meninggalkan Ulan yang lebih merasakan sakit dari dirinya, tega meninggalkan Ulan hidup seorang diri tanpa kasih sayang keluarga. Baginya Ulan sudah membuat hidupnya hancur, padahal semua sepenuhnya bukan kesalahan Ulan. Gadis itu tetap tegar walau banyak yang membenci dirinya tetapi ia bersyukur Andra dan Siska masih sangat menyayanginya begitu pun dengan Alan, ia tahu pria itu peduli kepadanya tetapi kepedulian itu tertutup dengan sikap Alan yang sangat dingin kepadanya namun terkadang hangat.
Saat ini Ulan sedang berada di kamar mandi untuk mencuci mukanya setelah selesai melakukan pertemuan dengan Brawijaya Grup. Leo dan Saera masih berada di ruangan bersama dengan Alan sedangkan dirinya izin ke kamar mandi untuk menghilangkan rasa sakit di hatinya. Ulan melihat ke arah samping kirinya, dirinya mendapati Saera yang juga sedang membasuh mukanya, mereka sama-sama terdiam hingga Saera membuka suara terlebih dahulu.
"Kelihatannya Mas Leo mengenalmu," ucap Saera dengan datar. Dia tidak suka ada yang menatap Leo seperti itu, walaupun Leo jauh lebih tua dari dirinya seperti ayah dan anak jika mereka jalan berdua tetap saja Saera mencintai Leo dan ia rela melakukan segala cara agar Leo melihat ke arahnya dan berhasil Leo menceraikan istrinya walau Saera belum sama sekali bertemu dengan Adinda sedangkan anak Leo dan Adinda, Saera tak ambil pusing yang terpenting Leo ada selalu untuknya, menurut Saera, Leo adalah pria matang yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama, wajah Leo yang masih sangat tampan membuat Saera benar-benar terpikat. Saera mengakui jika apa yang di lakukannya adalah salah, tetapi menurutnya cinta harus di perjuangkan.
Bibir Ulan keluh, ia tak tahu harus menjawab apa perkataan Saera yang terlihat tidak suka padanya. "Hmm mungkin kami pernah bertemu saat meeting dulu," ucap Ulan dengan menahan rasa sakit yang luar biasa di hatinya. Ia tak tahu harus menjawab apa hingga keluar kata-kata itu, dirinya akan menuruti kata-kata papanya untuk tidak membuka identitas Ulan kepada mama tirinya.
"Baguslah. Saya berpikir Leo menyukai kamu, jika itu terjadi saya tidak akan membiarkan itu karena dirinya adalah hidup saya. Lelaki yang mengenalkan cinta kepada saya," ucap Saera dengan pandangan lurus ke depan menatap dirinya pada pantulan cermin dengan datar.
"Aku tidak mungkin mencintai pria yang sudah bersuami," balas Ulan dengan tajam membuat Saera menatap Ulan tidak suka, ia benar-benar terhunus dengan ucapan Ulan.
"Hmm kau benar. Tapi menurut saya cinta harus di perjuangkan walau itu terlihat sulit," ucap Saera dengan tenang.
"Ya," balas Ulan dengan singkat dengan tangan yang sudah mengepal kuat, ingin sekali ia berteriak di wajah Saera jika dirinya adalah anak dari seorang Leo dan Saera sudah membuat keluarganya hancur tak tersisa. Namun, kata itu hanya tertahan di hati yang semakin membuat hati Ulan berdenyut sakit.
"Saya permisi. Mas Leo sudah menunggu, kami berencana akan menghabiskan waktu berdua di hotel. Dan saya harap bos kamu mau melakukan investasi pada perusahaan suami saya," ucap Saera dengan tenang dan melangkah pergi meninggalkan Ulan begitu saja.
Ulan menarik nafasnya dengan dalam, emosinya seperti di mainkan oleh Saera. Ulan tahu dari mata Saera jika wanita itu benar-benar tulus mencintai papanya. Tetapi apa harus mengorbankan kebahagiaan orang lain untuk kebahagiaan diri sendiri? Ulan tak habis fikir dengan Saera. Setelah tenang Ulan keluar dari kamar mandi dan dirinya sudah di kagetkan dengan Alan yang bersandar di tembok.
"Kenapa Bapak ada di sini?" tanya Ulan dengan mengeryit bingung menatap Alan yang terlihat biasa saja.
"Hanya menunggumu. Saya takut saja kau mati di dalam," ucap Alan dengan datar.
Ulan mendengus menatap Alan dengan tajam. "kalau saya mati yang saya datangi untuk pertama kali itu Bapak," ucap Ulan dengan sinis membuat Alan menarik sudut bibirnya dengan tipis.
"Apa senyum-senyum? Bapak gak cocok muka seperti itu, muka tembok saja mau senyum-senyum tidak jelas," ucap Ulan dengan galak membuat Alan melotot dan menjitak kening Ulan sedikit keras.
"Lama-lama kamu tidak sopan kepada saya," ucap Alan dengan datar dan meninggalkan Ulan begitu saja.
"Ke ruangan saya sekarang!" ucap Alan saat melihat Ulan berjalan ke arah mejanya sendiri.
"Baiklah," balas Ulan dengan malas mengikuti langkah Alan yang sudah berada di depannya. Ulan duduk di sofa ruangan Alan. Ia juga malas melanjutkan kerja setelah bertemu dengan mama tirinya.
"Apa kau sudah berkenalan secara pribadi dengan mama tirimu?" tanya Alan dengan datar.
"Jangan sebut dia mama saya! Mama saya hanya satu," balas Ulan dengan tajam menatap Alan dengan sengit tak peduli Alan adalah atasannya.
"Kenyataannya itu adalah istri dari papamu," ucap Alan dengan santai.
"Jangan bahas mereka lagi!" teriak Ulan dengan emosi. Matanya memerah menahan tangis yang hendak meluncur begitu saja. Sakit hatinya melihat wajah bahagia Leo dengan Saera sedangkan dirinya harus memendam luka yang luar biasa.
"Baiklah. Kemarilah dan duduk di atas pangkuan ku!" ucap Alan dengan lembut. Ulan yang hatinya sedang kacau langsung berlari menghampiri Alan, ia duduk di pangkuan Alan dan menangis sejadi-jadinya di pangkuan Alan dengan wajah terbenam di dada pria itu. Alan membiarkan Ulan menumpahkan rasa sakitnya, ia hanya diam menunggu sampai nangisan Ulan reda, baginya menjadi tempat sandaran Ulan saat ini sudah cukup membahagiakan hatinya dan berarti Ulan menganggap dirinya penting dari sekedar atasan dengan sekretarisnya.