Mengisahkan rumah tangga Anjani dan Malik yang harus kandas dengan hadirnya sosok Dara, wanita yang merupakan sahabat baik Anjani yang menjadi pelakor dalam rumah tangganya. Hinaan kasar dari mertuanya juga membuat Anjani menyerah dan memutuskan untuk berpisah hingga takdir mempertemukannya dengan bule tampan asal Inggris Oliver Jones yang mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepedihan Seorang Anak
Di ruang IGD, suasana sangat tegang. Lampu-lampu sorot operasi yang terang benderang menerangi wajah pucat Pak Santo yang terbaring kaku. Dokter dan tim medis bekerja dengan sangat cepat, mencoba menghentikan pendarahan hebat di kepala dan mengatasi cedera tulang belakang akibat benturan keras tersebut.
Anjani berdiri di balik pintu kaca, tubuhnya bergetar hebat. Ia menempelkan telapak tangannya ke kaca, air matanya tak henti-hentinya mengalir. "Ayah... jangan tinggalkan aku, Yah..." isaknya lirih.
Oliver Jones berdiri di sampingnya. Tidak seperti biasanya yang tenang, kali ini Oliver terlihat sangat marah. Tangannya mengepal kuat hingga buku jarinya memutih, dan sorot matanya yang dingin kini membara dengan dendam yang sangat dalam. Ia telah memerintahkan seluruh jaringan detektif pribadinya untuk menyisir setiap inci kota, namun keberadaan Dara seperti lenyap ditelan bumi.
"Oliver," Anjani menoleh ke arahnya, suaranya parau karena tangis. "Dia tidak akan berhenti. Selama dia ada di luar sana, kita semua tidak akan aman. Ayahku... apa salahnya?"
Oliver menarik Anjani ke dalam pelukannya, menenggelamkan wajah wanita itu di dadanya. "Aku berjanji padamu, Anjani. Aku akan memastikan dia membayar setiap tetes darah yang tumpah malam ini. Tidak akan ada tempat bagi tikus itu untuk bersembunyi. Aku akan membawa kepalanya ke hadapanmu, tidak peduli apa pun risikonya."
Anjani tidak menjawab, ia hanya terisak di pelukan Oliver. Ia merasa dunianya sedang runtuh, dan satu-satunya hal yang ia miliki saat ini adalah dukungan dari pria yang selama ini menjadi tameng baginya. Namun, jauh di lubuk hatinya, Anjani mulai merasakan sisi lain dirinya yang terbangun—sebuah keberanian yang lahir dari duka yang mendalam.
Di luar ruangan IGD, beberapa petugas keamanan Jones Group berdiri berjaga, memantau setiap pergerakan di koridor rumah sakit dengan kewaspadaan tingkat tinggi. Mereka tahu bahwa Dara mungkin saja masih berada di sekitar sana, mengawasi mangsanya dengan senyum iblisnya.
Malam itu terasa sangat panjang. Di satu sisi, ada penderitaan yang memilukan di ruang IGD, sementara di sisi lain, ada tawa penuh kemenangan dari seorang wanita yang sudah kehilangan akal sehatnya, dan dukungan gelap dari dua orang yang dibutakan oleh dendam. Perang ini telah mencapai puncaknya, dan tidak ada jalan kembali bagi siapa pun yang terlibat di dalamnya.
****
Lampu ruang operasi masih menyala terang, memancarkan cahaya putih yang dingin dan menyakitkan mata. Anjani berdiri mematung di koridor rumah sakit, dunianya menyusut menjadi hanya sebatas pintu besi besar di depannya. Setiap detik terasa seperti berabad-abad, sementara detak jantungnya berpacu seirama dengan suara monitor yang sayup-sayup terdengar dari balik dinding.
Tak lama, pintu terbuka. Seorang dokter bedah senior keluar dengan raut wajah yang tidak bisa disembunyikan—lelah dan penuh beban. Anjani langsung menerjang, suaranya tercekat di tenggorokan. "Dok... bagaimana keadaan ayah saya?"
Dokter itu menghela napas panjang, menatap Anjani dengan pandangan yang dalam. "Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, namun benturan di kepalanya sangat hebat. Pasien mengalami gegar otak berat dengan pembengkakan pada jaringan saraf pusat. Kondisinya saat ini sangat kritis. Kami harus memantau 24 jam ke depan untuk melihat apakah ada respons neurologis. Nyawanya... nyawanya benar-benar berada di ujung tanduk."
****
Dunia Anjani seketika berputar. Langit-langit koridor seolah runtuh menimpanya. Kakinya yang tak lagi mampu menahan beban tubuhnya sendiri mulai gemetar hebat. Ia limbung, pandangannya menggelap, dan ia nyaris menghantam lantai beton yang keras itu.
Namun, sebelum tubuhnya menyentuh lantai, sepasang lengan yang kuat dengan sigap menangkapnya. Oliver Jones menahannya dengan mantap, menarik tubuh Anjani ke dalam pelukannya untuk menjaga wanita itu tetap tegak. Oliver menatap dokter dengan pandangan tajam, matanya penuh intimidasi, menuntut penjelasan lebih lanjut tanpa kata-kata.
"Jani, tenanglah," bisik Oliver, suaranya rendah namun penuh otoritas. Ia mengusap punggung Anjani, mencoba menyalurkan ketenangan yang saat ini tidak dimiliki oleh siapa pun di sana.
Anjani menangis sesenggukan di bahu Oliver. Air matanya membasahi jas mahal pria itu. "Ini salahku, Oliver. Seharusnya aku tidak membiarkan ayah berada di luar kamar. Jika terjadi sesuatu padanya... aku tidak tahu bagaimana cara untuk terus hidup."
Oliver tidak menjawab. Ia hanya mengeratkan pelukannya, rahangnya mengeras. Di balik kepeduliannya, ia sedang menyusun rencana pembalasan yang jauh lebih mematikan daripada yang pernah ia lakukan sebelumnya.
****
Sementara itu, di sebuah sudut gelap dekat ruang penyimpanan obat, Dara—yang kembali menyamar sebagai suster dengan identitas curian—sedang menyiapkan sesuatu yang mengerikan. Ia memiliki akses ke lemari obat karena penyamarannya yang sangat meyakinkan. Di tangannya, sebuah vial kecil berisi cairan bening berkilau—obat pelumpuh saraf dosis tinggi.
"Sedikit lagi, Anjani," bisik Dara pada dirinya sendiri. Masker bedah yang ia pakai membuat suaranya teredam, namun matanya yang menyipit di balik bingkai kacamata perawat menunjukkan kegilaan yang membara.
Rencana Dara kali ini lebih kejam. Ia tidak ingin Anjani mati dengan cepat. Ia ingin Anjani lumpuh, tidak bisa bicara, tidak bisa bergerak, namun tetap sadar sepenuhnya, agar Anjani bisa melihat saat ia menghancurkan sisa-sisa kebahagiaan hidupnya. Ia ingin Anjani menyaksikan kehancuran total keluarga Direja sebelum nyawanya benar-benar ditiadakan.
Dara berjalan dengan tenang menyusuri lorong bangsal. Ia tahu Anjani sedang berada di ruang tunggu dekat ICU, meratapi kondisi ayahnya. Itu adalah waktu yang paling tepat. Anjani dalam keadaan lemah, emosinya tidak stabil, dan kewaspadaannya berada pada titik nol.
Dara mengambil sebuah baki yang berisi infus dan jarum suntik. Ia berpura-pura menjadi perawat yang sedang melakukan pengecekan rutin. Langkah kakinya begitu ringan, tidak menimbulkan suara. Di balik seragam suster itu, ia menyimpan senjata yang siap ia gunakan jika rencananya gagal.
"Permisi," suara Dara terdengar datar saat ia mendekati area tunggu di mana Anjani dan Oliver berada.
****
Oliver sedang berbicara dengan salah satu kepala keamanan melalui telepon, sementara Anjani terduduk lemas di bangku tunggu. Dara mendekat dengan baki di tangannya. Ia harus terlihat seperti petugas medis yang sibuk, agar tidak ada yang menaruh curiga.
"Nyonya," panggil Dara kepada Anjani. "Saya membawa resep tambahan yang diperintahkan dokter untuk menstabilkan kondisi saraf Anda setelah syok berat tadi. Ini sangat penting untuk mencegah tekanan darah Anda melonjak dan mengganggu konsentrasi pihak keluarga di ruang ICU."
Anjani yang sudah kehilangan logika akibat duka mendalam, tidak menaruh curiga sedikit pun pada suster yang bahkan tidak ia kenali wajahnya. Ia hanya ingin segalanya cepat selesai.
"Tolong... berikan apa pun yang bisa menenangkan saya," pinta Anjani lirih.
Oliver yang sedang membelakangi mereka, menghentikan pembicaraannya sejenak. Ia merasakan sesuatu yang aneh. Instingnya sebagai seorang pemimpin korporasi yang sering dikelilingi ancaman pembunuhan, tiba-tiba bereaksi. Ia berbalik perlahan, menatap suster yang berdiri di depan Anjani.
Ada yang salah dengan postur tubuh suster itu. Cara ia memegang baki, cara ia menatap Anjani—bukan tatapan seorang perawat yang simpatik, melainkan tatapan predator yang sedang mengincar mangsanya.
"Tunggu," suara Oliver menghentikan gerakan Dara yang hendak membuka ampul cairan.