NovelToon NovelToon
BAYI UNTUK BOS MAFIA DINGIN

BAYI UNTUK BOS MAFIA DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Mafia / Romansa Fantasi
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Yudi Chandra

Kael Lucien Raventhorne dikenal sebagai bos mafia paling berkuasa, tampan, dan dingin. Di balik reputasinya yang membuat semua orang segan, ia menyimpan luka yang tak pernah diketahui siapa pun. Sebuah kecelakaan tragis merenggut harapan terbesarnya setelah dokter memvonisnya mandul. Kehancuran itu mengubah cara pandangnya terhadap hidup. Ia berhenti memercayai cinta dan memilih menjalani kehidupan tanpa ikatan, berganti pasangan dari waktu ke waktu demi mengisi kekosongan yang terus menghantuinya.
Namun takdir mempermainkannya.
Suatu malam, takdir mempertemukannya dengan seorang gadis berusia dua puluh tahun yang polos dan cantik. Kesalahpahaman dan rangkaian kejadian di luar dugaan membuat gadis itu kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya. Kael menganggap peristiwa itu hanya akan menjadi satu bab yang terlupakan, sementara sang gadis berusaha bangkit dari kenyataan yang mengubah hidupnya.
Sebulan kemudian, gadis itu kembali hadir di hadapan Kael dengan kabar yang musta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudi Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Pintu ruang kerja menutup keras sesaat setelah Aurora pergi.

Kael berdiri membelakangi ruangan. Rahangnya mengeras, sementara kedua tangannya mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Kemarahannya masih belum mereda.

Sementara itu, Cassian hanya menundukkan kepala. Ia tak memiliki keberanian untuk bersuara ketika atasannya sedang diliputi amarah.

Tiba-tiba Kael berbalik dengan tatapan dingin yang mampu membuat siapa pun ciut.

"Wanita gila itu berani sekali datang dan mengaku mengandung anakku. Tuduhan seperti itu tidak bisa dianggap sepele."

Ruangan kembali sunyi sejenak sebelum akhirnya Cassian memberanikan diri berbicara.

"Tuan... ada sesuatu yang perlu Anda pertimbangkan."

Kael mengangkat sebelah alis.

"Aurora adalah adik Adrian. Selama bertahun-tahun, Adrian membantu mengamankan berbagai urusan perusahaan kita dan berkali-kali menyelamatkan operasi kita dari masalah hukum. Selain itu... bukankah Anda masih berutang budi kepadanya karena pernah menyelamatkan hidup Anda?"

Nama Adrian membuat ekspresi Kael berubah tipis. Tatapannya semakin tajam.

"Kau yakin dengan apa yang kau katakan, Cassian?"

"Saya hanya menyampaikan fakta, Tuan." Cassian mengangguk pelan. "Dan... bagaimana jika pengakuan Aurora memang benar? Bukankah itu justru berarti sesuatu yang selama ini dianggap mustahil ternyata benar-benar terjadi?"

Ucapan itu membuat Kael tertawa sinis.

"Kau lupa satu hal." Nada bicaranya berubah dingin. "Aku sudah dinyatakan tidak mungkin memiliki keturunan. Jadi jangan membangun harapan dari sesuatu yang mustahil."

Cassian tidak langsung membalas. Ia memilih menyusun kata-katanya dengan hati-hati.

"Semua pemeriksaan medis memang mengarah ke sana, Tuan. Tetapi dunia tidak selalu berjalan sesuai laporan laboratorium. Ada kalanya kenyataan menghadirkan sesuatu yang tak pernah kita perkirakan."

Kael terdiam. Untuk pertama kalinya sejak Aurora datang, keraguan kecil menyelinap ke dalam benaknya.

Namun hanya sesaat.

Ia kembali memasang wajah tanpa emosi, lalu berkata dengan tegas,

"Aku tidak akan mengambil keputusan hanya berdasarkan pengakuan seseorang. Cari tahu semua tentang Aurora. Periksa setiap detail kehidupannya, termasuk hasil pemeriksaan rumah sakit itu."

Cassian mengangguk hormat.

"Baik, Tuan. Saya akan memastikan seluruh informasi yang Anda butuhkan terkumpul secepat mungkin."

Tatapan Kael beralih ke jendela kaca yang memperlihatkan gemerlap kota di bawah gedungnya. Wajah Aurora terus terlintas di benaknya, bersamaan dengan surat hasil pemeriksaan yang tadi sempat berada di atas mejanya.

Entah mengapa, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, keyakinan yang selama ini ia pegang mulai terusik. Di balik ketenangan wajahnya, muncul satu pertanyaan yang tak mampu ia abaikan.

Bagaimana jika gadis itu benar?

Cassian menarik napas pelan sebelum kembali membuka suara. Ia tahu ucapan berikutnya bisa saja membuat atasannya semakin murka, tetapi ia tetap memilih menyampaikannya.

"Bagaimana kalau hasil pemeriksaan itu memang keliru, Tuan?" katanya hati-hati. "Atau mungkin... ini adalah sesuatu yang berada di luar dugaan manusia. Tidak ada yang benar-benar mustahil jika Tuhan sudah berkehendak."

Kael terdiam.

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi cukup membuat pikirannya terusik. Selama bertahun-tahun ia selalu berpegang pada hasil pemeriksaan medis. Bukan sekali dua kali ia menjalani serangkaian tes, dan semuanya memberikan kesimpulan yang sama.

Mustahil memiliki keturunan.

Selama itu pula banyak wanita pernah singgah dalam hidupnya, namun tidak pernah ada satu pun yang datang membawa kabar seperti yang disampaikan Aurora hari ini.

Karena itulah pengakuan gadis itu terasa begitu sulit diterima.

Kael mengusap wajahnya perlahan, seolah berusaha meredakan kekacauan di dalam kepalanya.

"Aku tidak tahu harus mempercayai apa lagi, Cassian," gumamnya lirih. "Untuk sementara, aku ingin mengetahui siapa sebenarnya Aurora. Cari tahu semuanya sebelum aku mengambil keputusan."

Cassian menganggukkan kepala dengan hormat.

"Saya mengerti, Tuan. Saya akan menyelidiki setiap detailnya."

Kael menghela napas panjang, lalu seakan baru mengingat sesuatu.

"Ngomong-ngomong..." katanya sambil kembali menatap asistennya. "Pastikan pengamanan acara malam ini berjalan sempurna. Jangan sampai ada celah sekecil apa pun."

"Siap, Tuan. Semua personel sudah saya tempatkan sesuai rencana."

Kael mengangguk singkat.

Malam pun tiba.

Acara yang digelar malam itu bukan sekadar jamuan makan malam biasa. Bagi orang-orang tertentu, pertemuan tersebut merupakan perayaan atas keberhasilan salah satu bisnis terbesar organisasi Kael yang baru saja mencapai targetnya.

Di balik kemewahan pesta, hanya sedikit tamu yang mengetahui tujuan sebenarnya dari pertemuan eksklusif itu.

Cassian memilih sebuah hotel berbintang sebagai lokasi acara. Seluruh ballroom disulap menjadi ruang perjamuan yang megah. Lampu kristal memancarkan cahaya hangat, rangkaian bunga menghiasi setiap sudut ruangan, sementara hidangan kelas atas tersusun rapi di atas meja-meja panjang.

Para tamu berdatangan mengenakan pakaian terbaik mereka, saling bertukar senyum dan bersulang, seolah malam itu hanyalah pesta kalangan elite.

Padahal, di balik musik yang mengalun pelan dan kemewahan yang memanjakan mata, setiap sudut ruangan dijaga oleh pengawal bersenjata yang menyamar sebagai staf hotel. Tidak ada satu pun detail keamanan yang luput dari perhatian Cassian.

Bagi Kael, kemewahan hanyalah topeng. Di dunia yang ia kuasai, kewaspadaan selalu menjadi aturan pertama.

...----------------...

Malam itu menjadi sedikit pelarian bagi Aurora. Ajakan sang kakak untuk menghadiri pesta kalangan elite setidaknya mampu mengalihkan pikirannya dari berbagai persoalan yang terus menghantuinya.

Namun, jauh di lubuk hatinya, tersimpan harapan yang terdengar begitu putus asa. Seandainya saja ia bertemu seseorang yang bersedia menerima dirinya dan menikahinya dalam waktu dekat. Bahkan jika itu hanya sebuah pernikahan kontrak hingga bayi yang dikandungnya lahir, ia rela mempertimbangkannya demi masa depan anaknya.

Ballroom hotel dipenuhi para tamu dari kalangan terpandang. Hampir semua hadir bersama pasangan masing-masing, memperlihatkan kemesraan yang tampak sempurna di mata orang lain.

Berbeda dengan mereka, Adrian hanya datang bersama adik semata wayangnya.

Aurora berjalan anggun di sisi sang kakak, mengenakan gaun sederhana namun elegan. Senyum tipis terus ia pertahankan, meski beban di dadanya terasa semakin berat setiap kali mengingat kenyataan yang sedang ia sembunyikan.

Di sisi lain ruangan, Kael menangkap sosok itu begitu memasuki ballroom.

Tatapannya berhenti cukup lama pada Aurora.

Beberapa hari terakhir, Cassian telah menyerahkan laporan lengkap mengenai kehidupan gadis tersebut. Kael membaca setiap lembar tanpa melewatkan satu detail pun.

Aurora dikenal ramah dan mudah bergaul. Ia memiliki banyak teman, termasuk rekan pria, tetapi penyelidikan itu tidak menemukan satu pun catatan yang mencoreng nama baiknya. Tidak ada skandal, tidak ada kehidupan ganda, dan tidak ada sesuatu yang menunjukkan bahwa ia gemar mempermainkan orang.

Fakta itulah yang justru membuat Kael semakin bingung.

Jika semua informasi itu benar, mengapa Aurora bersikeras mengatakan bahwa bayi yang dikandungnya adalah anaknya?

Entah karena rasa curiga, rasa penasaran, atau alasan lain yang bahkan belum mampu ia pahami sendiri, Kael terus mengamati setiap gerak-gerik gadis itu dari kejauhan.

"Ayo, Aurora," ujar Adrian dengan senyum hangat. "Kakak ingin mengenalkanmu kepada seseorang yang sangat penting."

Aurora mengangguk pelan, lalu mengikuti langkah kakaknya menembus keramaian menuju pusat ruangan.

Di sana, Kael telah berdiri menunggu dengan setelan jas hitam yang membuat wibawanya semakin mencolok. Wajahnya tetap datar, nyaris tanpa ekspresi, sementara sepasang kacamata berbingkai gelap menyamarkan sorot matanya yang tajam.

Aurora sama sekali tidak menyadari bahwa sejak tadi dirinya menjadi pusat perhatian pria itu.

Semakin dekat jarak mereka, semakin sulit Kael mengalihkan pandangan. Di balik wajahnya yang dingin, pikirannya dipenuhi pertanyaan yang belum menemukan jawaban.

Sementara itu di posisi Aurora, wanita cantik itu tiba-tiba membeku di tempat begitu pandangannya menangkap sosok Kael di ujung aula. Napasnya tercekat. Dari sekian banyak kemungkinan buruk yang memenuhi kepalanya, inilah yang paling ia takutkan. Bukan karena harus kembali berhadapan dengan pria itu, melainkan karena ia khawatir Kael akan membuka rahasia yang selama ini mati-matian ia sembunyikan di depan kakaknya.

Selama ini, Adrian mengenal adiknya sebagai gadis yang lembut, jujur, dan jauh dari masalah. Aurora tak sanggup membayangkan bagaimana hancurnya kepercayaan sang kakak jika seluruh kenyataan itu terbongkar malam ini. Belum lagi ancaman Kael saat pertemuan terakhir mereka masih terngiang jelas di telinganya. Ancaman itu membuat telapak tangannya kembali dingin.

Aurora menghentikan langkah, lalu menoleh kepada kakaknya dengan wajah yang berusaha tetap tenang.

"Kak... bos yang Kakak maksud itu... pria tinggi yang bertato itu?" tanyanya pelan, memastikan dugaan yang diam-diam ia harapkan salah.

Adrian mengangguk tanpa curiga.

"Benar. Dia Kael Lucien Raventhorne. Pemimpin perusahaan tempat Kakak bekerja."

Jawaban itu bagai palu yang menghantam dada Aurora. Jantungnya berdegup semakin keras hingga seolah memenuhi seluruh pendengarannya. Sesal langsung menyelimuti dirinya. Andai saja ia menolak datang ke pesta ini, mungkin ia tak perlu menghadapi mimpi buruk yang kini berdiri beberapa meter di hadapannya.

Ia menarik napas panjang, memaksa senyum tipis menghiasi wajahnya.

"Kakak saja yang menyapanya lebih dulu, ya. Aku... ingin ke toilet sebentar."

Tanpa menunggu jawaban, Aurora segera berbalik dan berjalan cepat menjauh dari keramaian. Musik yang mengalun meriah dan tawa para tamu terdengar semakin samar, tergantikan oleh suara detak jantungnya sendiri yang tak kunjung melambat.

Begitu pintu toilet tertutup di belakangnya, Aurora bersandar lemah pada dinding. Kedua matanya terpejam rapat, berusaha mengendalikan napas yang mulai tidak beraturan.

"Aku tidak boleh bertemu dengannya... jangan sekarang."

Rasa takut yang selama beberapa minggu terakhir berusaha ia kubur kembali menyeruak tanpa ampun. Bayangan tatapan dingin Kael dan kata-kata terakhir pria itu terus berputar di kepalanya, membuat tubuhnya semakin gemetar.

Dengan tangan yang sedikit bergetar, Aurora melepaskan sepatu hak tingginya agar lebih mudah bergerak. Setelah itu, ia meraih ponselnya dan segera mengirim pesan singkat kepada Adrian.

Kak, maaf. Aurora kurang enak badan. Aurora pulang lebih dulu, ya.

Usai mengirim pesan itu, ia menarik napas panjang sekali lagi. Satu-satunya keinginan yang memenuhi pikirannya saat itu hanyalah pergi sejauh mungkin dari hotel sebelum Kael mengetahui bahwa dirinya berada di sana.

...****************...

1
Badkill 99
cerita nyaa baagus..tpi diaalog nyaa sedikit bngt...
maap,unfollow dan unsubscribe
Badkill 99
dialog nya dikit banget,
Lisa
Halo Kak..aku mampir nih
Nur Halida
kenapa gak kamu aja kel yg gantiin brema malah gak datang juga terus aurora gimana kalo gak ada yg nikahin .. gak ngerti d3h sama jalan pikirannya si kael ini
Nur Halida
ihhhh .. masih saja gak percaya kalo itu anakmu..
Yudi Chandra: sabar ya bu🤭🤭🤭🤭 jangan emosi🤗 calm down😘
total 1 replies
Nur Halida
gimana kael ???kamu rela aurora nikah sama orang laen?? buang itu ke egoisan kamu
Yudi Chandra: hahhaha...jahat banget🤭
total 1 replies
Enz99
bagus
Yudi Chandra: makaciiiiiih🙏😘
total 1 replies
Nur Halida
dasar kael .. awas ya nanti kalo anakmu lahir dan mirip kamu entr kamu rebut dari aurora .. sok sok an gak mau ngakuin anakmu sekarang
Yudi Chandra: Hahaha....smoga dapat karma dia🤭
total 1 replies
Nur Halida
kael ini umur berapa sih??
Yudi Chandra: 35 kalo nggak salah😅
total 1 replies
Nur Halida
ku kira waktu kael nyelametin aurora di rumah sakit dia udah bisa menerima aurora dan bayi dalam kandungannya .. sampe katanya mau melindunhi aurora dari siapapun yg akan menyakiti aurora tapi ternyata kael balik lagi ke mode egois dan kek karakternya cenderung plin plan .. tumben kak author bikin karakter cowok yg plin plan kek si kael ini.. gak kayak karakter ethan, aiden atau ryuga yg tegas dari awal
Nur Halida
loh kok kael gitu lagi sikapnya??bukannya tafi katanya fia mau melindungi aurora??
Resti Guriangdani
seruuuuuuuuu
Yudi Chandra: Makaciiiiiih😘🙏
Ku harap kamu nggak bosen sama ceritanya ya😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!