Takahiro, seorang pemuda yang gemar bermain gim dan menghabiskan sebagian besar waktunya mengurung diri di kamar, suatu hari tanpa sengaja tersesat ke dalam dunia gim yang sedang ia mainkan.
Di dunia lain yang bernama Terrovia, Takahiro memulai kehidupan barunya sebagai manusia biasa yang tidak memiliki kekuatan sihir.
Berbekal pengetahuan yang ia peroleh dari dunia modern, ia membantu para petani di Desa Veria dan berjuang tanpa kenal lelah untuk memperbaiki kehidupan orang-orang yang tengah dilanda kesulitan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saiful Bachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dan Terjadi Lagi
Angin malam berembus membelah keheningan Desa Veria, membawa hawa sejuk yang biasanya menjadi pengantar tidur bagi warga yang ingin memulihkan tenaga. Namun, kenyamanan itu terasa semu.
Langit malam hanya menyuguhkan gumpalan awan gelap yang menggantung statis, tanpa kunjung menjatuhkan setetes pun air ke tanah yang sudah berbulan-bulan meranggas kekeringan.
Sekitar lima belas kilometer dari gubuk keluarga Joe, langkah kaki keempat pemuda-mudi itu semakin mendekati lokasi yang dituju Vyora. Galengan sawah yang sempit dan licin menjadi satu-satunya jalur alternatif, memaksa mereka berjalan beriringan dengan sangat hati-hati.
Bagi Uchi, medan ini adalah mimpi buruk. Kaki mungilnya berkali-kali tergelincir, membuatnya terjatuh ke atas tanah lembap.
Meski begitu, ia tak mengeluh. Gadis itu hanya menyeringai kecil sambil membersihkan debu di bajunya, menikmati pengalaman pertamanya menembus kegelapan area persawahan.
"Cate, tunggu aku!" seru Uchi.
Baru saja ia hendak menyusul, kaki kanan Uchi amblas ke dalam kubangan lumpur sawah yang baru saja diratakan. Ia kehilangan keseimbangan.
Takahiro, yang berlari di posisi paling belakang, terpaksa berhenti tepat di depan Uchi yang terduduk lemas.
Ia ingin mengulurkan tangan, namun rasa perih yang tiba-tiba menyengat luka-luka di tubuhnya membuat pemuda itu hanya bisa meringis sambil memegangi perutnya sendiri.
Menyadari Takahiro berada sangat dekat di depannya, Uchi seketika menunduk dalam-dalam. Ia bahkan tak sanggup mencuri pandang ke arah pemuda yang memiliki warna rambut serupa dengannya itu. Rasa malu yang tadi sempat mereda di meja makan kini kembali membuncah.
Uchi mencoba memberanikan diri. Sambil tetap menunduk, ia melirik ke arah kaki kanannya yang masih terbenam di dalam lumpur. Saat itulah, ia merasakan sesuatu yang dingin dan licin menyentuh kulit kakinya.
Rasa geli yang luar biasa menyambar seketika. Panik melanda otaknya. Tanpa pikir panjang, ia meraba-raba ke depan, mencari pegangan apa pun yang bisa ia raih untuk menahan tubuhnya sekaligus mengalihkan rasa geli di kakinya.
Dalam gerakan yang kelewat liar, jemari Uchi mencengkeram kain kain celana Takahiro, lalu menariknya ke bawah dengan kekuatan penuh karena rasa takut yang memuncak.
Uchi menjerit, berharap makhluk apa pun yang merayap di kakinya segera pergi.
Namun bagi Takahiro, dunia seolah berhenti berputar. Udara malam yang dingin mendadak terasa panas saat celananya melorot hingga ke mata kaki, menyisakan pemandangan yang seharusnya tak pernah terlihat di tempat terbuka. Posisi kepala Uchi yang masih menunduk berada tepat di depan bagian paling sensitif milik Takahiro.
'Sial, jangan sekarang... jangan berdiri seperti kejadian dengan Bellinda tadi,' doa Takahiro dalam hati, memohon pada tubuhnya sendiri untuk tetap tenang.
Harapan itu runtuh seketika. Hormon dan naluri tubuhnya justru mengkhianati akal sehatnya. Di bawah pendar cahaya bulan yang temaram, bagian tubuhnya itu bereaksi, berdiri tegak dengan gagah layaknya seorang panglima perang dari zaman Sengoku yang siap menyerbu medan laga.
Di sisi lain, Uchi tidak hanya merasakan anomali di kakinya. Di bagian dahinya, ia sempat merasakan sebuah benda hangat dan berdenyut menyentuh kulitnya dengan lembut. Rasanya aneh—lunak namun berisi, dan sepertinya tidak memiliki struktur tulang.
Uchi mencoba menebak dalam hati. Hewan apa ini? Katak? Belut? Satu per satu nama binatang di sawah ia urutkan di kepalanya, namun tak ada satu pun yang cocok dengan tekstur yang ia rasakan di keningnya.
Rasa penasaran akhirnya mengalahkan rasa takut dan gelinya. Jemari kanan Uchi yang tadinya meremas pinggiran celana, kini perlahan bergerak naik. Ia memutuskan untuk menyentuhnya langsung.
Takahiro menahan napas saat melihat tangan mungil Uchi bergerak mendekat. Ia ingin melarang, namun lidahnya mendadak kelu.
Pikirannya buntu. Jika ia memperingatkan Uchi, gadis itu pasti akan langsung melihatnya. Jika tidak, kejadian ini akan makin jauh dari kendali. Ia hanya bisa pasrah pada takdir.
Uchi merasakan tekstur berbulu—tidak lebat, namun cukup tebal. Otaknya gagal mencerna informasi itu. Jemarinya terus menjelajah dengan penuh selidik.
Saat ujung kelingkingnya menyentuh bagian ujung atas yang tegang, sebentuk kesadaran mulai menyelinap di benaknya. Tapi rasa penasaran yang sudah menggerogoti jiwanya memaksa jemari yang lain untuk ikut bertindak.
Ujung telunjuk Uchi menuruni batang yang keras itu hingga ke pangkalnya. Kelingkingnya kembali menari naik, berhenti tepat di tengah-tengah. Karena merasa kurang jelas, ia tak lagi sekadar meraba dengan jari kelingking. Kali ini, Uchi menggenggam seluruh objek misterius itu dengan telapak tangannya.
'Kenyal, tegang, dan keras, tapi tak bertulang... berdenyut dengan gerakan naik-turun. Tidak salah lagi... ini pasti!' batin Uchi bergulat. Sebuah gambaran mengerikan mulai terbentuk di imajinasinya.
Melihat usahanya menyembunyikan situasi ini sia-sia, Takahiro akhirnya membuka suara dengan nada yang sangat gemetar.
"Ma-maaf."
Uchi mengangkat kepalanya perlahan, membuka matanya sedikit demi sedikit. Saat pandangannya mulai fokus, penampakan "menyeramkan" yang benar-benar tidak ingin ia lihat terpampang nyata tepat di depan hidungnya.
"Kyaa~!!!"
Jeritan itu membelah malam. Di tengah kepanikan dan rasa malu yang meledak, refleks pertahanan diri Uchi bekerja. Sebuah tinju bogem mentah meluncur deras, jatuh tepat di bawah buah zakar milik Takahiro.
Dunia Takahiro mendadak gelap.
"Ugghh!"
Suaranya tertahan di kerongkongan. Rasa sakit yang luar biasa menjalar dari pusat hantaman ke seluruh saraf tubuhnya. Takahiro merasa seolah organ dalamnya baru saja diremas paksa.
Tubuhnya langsung membungkuk drastis. Kedua tangannya memegangi pangkal paha dengan gemetar hebat, berusaha meredam rasa sakit yang mustahil untuk diredam.
Hingga akhirnya, pertahanannya roboh. Takahiro jatuh berlutut di tengah galengan sawah dengan wajah yang membiru.