Di mata tiga alam, kaum Dewa adalah simbol kesucian dan Iblis adalah perlambang petaka. Namun, kebenaran tertutup oleh kabut keserakahan. Demi mencapai keabadian mutlak, Dewa Tinggi Ling Cang berniat mengorbankan Dewi Shen Liya—pemilik Wadah Ilahi dengan energi suci termurni. Menolak menjadi tumbal, Shen Liya melarikan diri ke dunia fana dalam kondisi terluka parah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee44, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Runtuhnya Sangkar Kebohongan
Gemuruh bariton purba dari kibasan sayap membran raksasa Naga Hitam Mo Long di atas awan Kota Gusu kian meredup, menyisakan suara desingan napas api neraka ungu yang sedang melumat habis sisa-sisa zirah emas pasukan langit di udara.
Di balik Kubah Perisai Gerhana yang membentang luas mengunci perimeter kota fana, hawa dingin mematikan terus menekan atmosfer, membekukan sisa air gerimis menjadi kristal es hitam di atas ubin halaman yang hancur berantakan.
Di tengah pelataran, Panglima Gao terkapar lemas di dalam cekungan kawah batu. Seluruh sendi zirah emas surgawinya telah retak, dan bibirnya terus mengalirkan darah suci keperakan yang kotor akibat hancurnya sistem meridian tubuh setelah diseret jatuh secara paksa oleh Mo Jue dari atas langit beberapa saat lalu.
Mo Jue berdiri tegak tepat di tepi kawah, melipat kedua tangannya di balik punggung zirah hitam naga kegelapannya dengan keagungan mutlak seorang penguasa tertinggi Alam Kegelapan. Sepasang mata ungunya yang menyala mengerikan menatap datar ke bawah, mengunci pandangan pada sang panglima yang kini sudah tidak lagi memiliki jalur untuk melarikan diri.
"M-Mo Jue... kau... kau benar-benar monster kejam yang tidak memiliki belas kasihan!" teriak Panglima Gao dengan suara parau yang bergetar kaku menahan rasa sakit batin yang teramat pekat.
Ia meraba tanah, mencoba mengumpulkan sisa tenaganya meski sukmanya telah dilingkupi oleh ketakutan absolut. "Kau boleh memusnahkan seluruh pasukan emas langitku hari ini! Namun kau tidak akan pernah bisa menyembunyikan eksistensi Benih Kutukan itu selamanya! Markas pusat Tiga Sekte Besar manusia fana di bawah sana sudah tahu ciri-ciri anak blasteran dewa-iblis itu! Mereka pasti akan membalas dendam dan meratakan gubukmu jika langit runtuh hari ini!"
Mendengar ancaman pengepungan sisa markas sekte manusia dan fitnah kejam "Benih Kutukan" ditujukan kembali pada putranya, hawa pembunuh di dada Mo Jue melesat ke titik tertinggi. Sandiwara sebagai tabib rami abu-abu yang lemah telah pecah seutuhnya, dan ia tidak memiliki alasan lagi untuk menahan kebuasannya di bumi fana ini.
Di saat yang bersamaan, pintu kamar tidur utama yang dilapisi perisai transparan perlahan-lapan bergeser terbuka secara senyap.
Shen Liya melangkah keluar dengan langkah kaki yang goyah, gaun katun biru mudanya sedikit berkibar ditiup angin badai malam tiruan. Cadar sutra tipisnya telah ia lepas, memperlihatkan wajah cantiknya yang pucat pasi namun sepasang mata indahnya menatap lekat-lekat pada sosok tegap berzirah hitam suaminya.
Setiap bait pengakuan Mo Jue di pelataran halaman beberapa menit lalu masih berputar hebat di dalam relung jiwanya. Penjelasan Mo Jue tentang bagaimana makhluk tertinggi Alam Kegelapan ini diam-diam mentransfer energi dingin murni setiap malam demi menjinakkan sisa racun Jue Qing San di tubuhnya, seketika menghancurkan seluruh anggapan bodohnya tentang terminal lucidity.
Ternyata... kesegaran tubuh yang kurasakan setiap fajar... bukanlah kesegaran palsu menjelang ajal, batin Shen Liya, dadanya berdenyut perih oleh rasa haru dan cinta yang teramat masif. Semua itu terjadi karena kau... kau memeluk sukmaku dan menahan laju kematianku dari balik kegelapan malam saat aku sedang tertidur lelap tanpa pernah membiarkanku tahu beban energi yang kau korbankan.
Rasa dikhianati, rasa bersalah, dan doktrin lama tentang kejahatan ras iblis yang sejak kecil ia pelajari di aula suci surga, seketika runtuh tak bersisa di dalam hatinya. Pria berzirah hitam naga kegelapan di luar sana adalah suaminya. Dia adalah pria yang dengan cermat menyeduh obat herbal pahit untuknya, pria yang melindunginya dalam diam, dan pria yang menjadi ayah dari anaknya. Bahkan, di tengah amarah perangnya, Mo Jue masih meluangkan energinya untuk membentengi seluruh Kota Gusu demi menghormati sifat penyayangnya yang menolak melihat manusia fana mati tak bersalah.
"Ah Jue... atau aku harus memanggilmu Mo Jue?" suara Shen Liya bergetar hebat, air mata keharuan mengalir bebas di pipinya saat ia melangkah mendekati teras halaman. "Mengapa kau tidak memberitahuku sejak awal? Mengapa kau membiarkanku hidup dalam kebohongan dan ketakutan selama bertahun-tahun ini?"
Mo Jue membalikkan tubuh tegap berzirah hitamnya secara perlahan. Sepasang mata ungunya yang menyala mengerikan seketika melunak penuh kelembutan pelindung saat menatap wajah damai istrinya. Ia melangkah maju dua tindakan, memangkas jarak di antara mereka.
"Jika aku membongkar identitas asliku delapan tahun lalu, egomu sebagai seorang dewi langit pasti akan menolak untuk tinggal di dekatku, Liya," ujar Mo Jue, suaranya yang rendah terdengar teramat dalam dan sarat akan ketulusan batin yang pekat.
"Kau akan kembali melarikan diri membawa anakku ke pelosok fana yang lebih berbahaya. Aku memilih menyamar menjadi tabib rami abu-abu yang miskin murni karena aku ingin kau merasa nyaman... aku ingin kau membesarkan Gu Yu tanpa beban ketakutan akan takhta kegelapanku."
Shen Liya tidak bisa lagi menahan gejolak emosinya. Ia menghambur maju, memeluk erat tubuh tegap berzirah hitam suaminya, menenggelamkan wajah cantiknya di dada zirah Mo Jue yang dingin namun memancarkan rasa aman yang teramat pekat.
"Maafkan aku... maafkan aku karena telah mengira kau manusia lemah yang merepotkan..."
Gu Yu kecil melangkah keluar dari dalam kamar bersama Xiao Bai yang merunduk siaga di samping kakinya. Lan Shuo (Lan Xi) dan Feng Wu tetap berdiri kokoh di posisi semula di lambung kiri dan kanan teras kamar, melipat sepasang lengan zirah mereka dengan kesetiaan penuh demi memastikan tidak ada sebutir pun hawa pertempuran luar yang menembus area tempat sang Ratu berada.
Sepasang mata sehitam tinta milik Gu Yu kecil berkilat warna ungu menyala, menatap pelukan kedua orang tuanya dengan seulas senyuman kaku khas anak kecil yang bangga. "Ibu, jangan menangis lagi. Pria dingin itu... Ayah... dia adalah master tertinggi yang sesungguhnya. Serangga langit tadi bahkan tidak bisa membuat ujung jubah hitam Ayah bergeser."
Mo Jue menurunkan pandangan matanya yang ungu menyala, menepuk pucuk kepala putranya dengan elusan yang kokoh. "Kau menjaga ibumu dengan sangat baik malam ini, Yu'er."
Melihat kebersamaan keluarga kecil itu, Panglima Gao yang masih terjerembap di kawah batu mengeluarkan tawa parau yang gila. "Hahaha! Nikmati sisa waktu kalian, Mo Jue! Begitu tiga markas sekte fana di bawah sana menggerakkan seluruh pengikutnya, rahasia Wadah Ilahi ini akan mengguncang seisi jagat raya!"
Mo Jue melepaskan pelukannya dari tubuh Shen Liya secara perlahan, membimbing istrinya kembali ke balik perlindungan Lan Xi. Begitu ia membalikkan tubuhnya kembali menghadap ke arah kawah, seluruh kelembutan di wajah tampannya runtuh tak bersisa, berganti menjadi kebuasan mutlak penguasa kegelapan yang teramat kejam.
Ia melangkah maju, lalu dengan gerakan secepat kilat yang melampaui logika kecepatan dewa tertinggi, tangan kanan zirahnya mencengkeram telak leher Panglima Gao, mengangkat tubuh raksasa musuhnya tinggi-tinggi ke udara.
"Kalian mengira keserakahan fana dan hukum langit palsu kalian bisa menyentuh putraku?" desis Mo Jue rendah, sudut-sudut bibirnya terangkat membentuk guratan senyum pembunuh yang teramat mematikan di balik kegelapan malam tiruan Kota Gusu, bersiap merobek seluruh sangkar kebohongan delapan tahun ini dengan awal mula pertumpahan darah terbesar.