Walaupun lima belas tahun telah berlalu, namun nyatanya Zenion masih belum mampu melupakan malam kelam yang menghancurkan seluruh hidupnya.
Kala itu, sebuah tragedi berdarah pecah di kerajaan tempat Zen tinggal, meninggalkan luka dan trauma yang membekas seumur hidup. Di kepalanya masih teringat jelas bagaimana sang ibu dihabisi dengan brutal di tengah kobaran api kastil yang melalap habis tempat tinggal mereka.
—————————
"Jangan sakiti mereka. Aku mohon!"
Suara napas yang tersengal hebat, deru langkah kaki yang memburu, dan suasana mencekam menyelimuti samar-samar kenangan pahit yang melintas tak beraturan dalam gelapnya dunia mimpi.
"Zen... Lucy... lari dari sini! Cepat lari!"
Seruan panik seorang wanita muda terdengar jelas. Tubuhnya terbelenggu dalam cengkeraman enam pria bertubuh besar, sementara suaranya terdengar serak dan penuh keputusasaan.
"Lepaskan ibuku! Lepaskan!" teriak bocah laki-laki itu dengan suara parau.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laabki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kejayaan yang runtuh
Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui jendela tinggi ruang kerja Raja Arthur, menaburkan cahaya berwarna kuning pucat di atas tumpukan dokumen kerajaan yang memenuhi meja kayu ek. Udara sisa hujan semalam membuat udara pagi ini terasa lebih dingin menusuk kulit.
Arthur duduk bersandar di kursi kebesaran di balik meja kerjanya. Kedua tangannya sejak subuh tadi belum juga berhenti mengecek berbagai berkas yang menumpuk di hadapannya. Sesekali ia memijat pelipisnya, berusaha mengusir kantuk yang terus menyerang matanya.
Sang Raja mengalihkan perhatiannya pada Damian yang tampak jauh lebih santai. Anaknya itu sedang merebahkan tubuhnya di atas sofa panjang berbahan kulit tebal di dekat perapian, masih mengenakan seragam militer lengkapnya yang sedikit kusut setelah semalaman berpatroli mengelilingi Castlewood. Salah satu lengannya ditekuk di bawah kepala sebagai bantalan, sementara matanya menatap langit-langit ruangan yang tinggi.
"Sudah tujuh hari berlalu," ujar pria paruh baya itu akhirnya, memecah keheningan sembari menutup selembar dokumen. "Apa kau belum mendapatkan kabar dari Zen dan Amanda?"
Damian melirik ayahnya menggunakan sudut matanya. "Tidak ada. Burung pengantar terakhir yang kita kirim juga tidak kembali."
Arthur meraih dokumen lain di sudut meja.
"Thorton bukan tempat yang ramah bagi pembawa kabar, Damian. Jika seseorang mulai menyentuh hal-hal yang dianggap mengancam organisasi itu, kemungkinan besar seluruh jalur komunikasi menuju wilayah tersebut sudah diputus sejak lama." Ia membuka lembaran kertas di tangannya secara perlahan. "Semakin lama aku mengamati situasi ini, semakin jelas pola yang muncul menyerupai apa yang pernah terjadi di Thorton dahulu. Semua dimulai dari jalur dagang yang kacau, lalu para bandit mulai bergerak lebih terorganisir, para bangsawan saling menjatuhkan... dan sekarang Cassia ikut menjadi target."
Arthur terdiam sejenak. Tatapannya mendadak meredup saat melanjutkan kalimatnya dengan suara yang jauh lebih rendah. "Semua ini tidak mungkin hanya kebetulan. Aku merasa semuanya mulai bergerak sejak kematian ibumu tujuh tahun lalu... yang bahkan sampai hari ini, kita sendiri belum mengetahui siapa dalang di balik pembunuhan itu."
Mendengar kematian ibunya diungkit, mata Damian mendadak sayu. Ia terdiam, menatap kosong ke langit-langit. "Meskipun saat Thorton runtuh aku masih anak-anak, aku tetap memahami sejarahnya. Ini bukan sekadar kebetulan, Ayah..." Ia menatap Arthur lebih serius. "Kita harus segera mengambil tindakan untuk mencegah sesuatu yang lebih buruk."
Arthur menghela napas berat. Ia memejamkan mata, membiarkan ingatannya terseret kembali pada tragedi lima belas tahun lalu di Thorton.
Setiap kali mengingat nama kerajaan itu, yang terlintas di benaknya adalah sebuah kerajaan yang dahulu begitu makmur dan disegani. Thorton pernah menjadi tanah impian di mana para pedagang, bangsawan, hingga rakyat kecil berlomba mencari kehidupan di sana. Namun, tanah yang dahulu bak surga tersebut kini telah berubah menjadi negeri mati yang dihindari banyak orang. Seluruh kejayaannya runtuh tanpa sisa, berganti menjadi simbol kriminalitas paling berbahaya di benua Ergarth.
Arthur membuka matanya kembali, memandang nanar dokumen di tangannya.
"Aku masih ingat saat pertama kali bertemu Raja Medhias," katanya lirih. "Dia pria yang keras kepala... tapi bukan raja yang buruk. Kesalahan terbesarnya hanya satu." Arthur menjeda kalimatnya sejenak, menata emosi yang mendadak naik hingga menyumbat tenggorokannya. "Ia terlalu membiarkan para bangsawan mencampuri urusan istana. Setiap keputusan yang ia ambil selalu diintervensi oleh orang-orang yang hanya memikirkan kepentingan mereka sendiri. Pada akhirnya, setiap kebijakan istana mulai dipandang merugikan rakyat, hingga memicu konflik-konflik kecil yang perlahan tumbuh menjadi kekacauan besar."
Arthur mengepalkan tangannya hingga membuat dokumen di tangannya sedikit kusut. "Saat pajak melonjak dan rakyat mulai membenci istana, organisasi itu muncul. Mereka tidak datang membawa senjata, Damian. Mereka datang membawa harapan palsu bagi rakyat yang merasa ditindas, lalu menggunakan harapan itu untuk meruntuhkan Thorton dari segala sisi."
"Mereka memainkan ketakutan massa," timpal Damian datar, menolehkan wajahnya pada sang ayah. "Hingga sebagian besar bangsawan Thorton pun mulai ikut terpengaruh."
"Benar. Dan ketika perang saudara itu akhirnya pecah lima belas tahun lalu, seluruh keluarga Medhias dieksekusi secara keji di depan rakyatnya sendiri," suara Arthur mendadak merendah, terdengar sangat dingin dan tajam. "Putra mahkota digantung di alun-alun, permaisurinya dipancung, dan Medhias dipaksa menyaksikan semua kematian anggota keluarganya sebelum kepalanya sendiri ditebas. Dan pada malam harinya, aku menemukan Putri Carlacia sudah tidak bernyawa di kastil terpencil di tengah hutan."
Keheningan mencekam mendadak memenuhi seisi ruangan ketika sang Raja menutup dokumen di tangannya, hanya menyisakan hawa dingin angin pagi yang berembus samar di luar jendela tinggi.
"Dan yang paling ironis," lanjut Arthur dengan seulas senyum pahit yang terukir di wajah tuanya. "Para bangsawan pembelot yang membantu organisasi itu untuk menjatuhkan Medhias, justru ikut dieksekusi mati di hari yang sama. Begitu seluruh penguasa maupun elit Thorton runtuh, organisasi itu berhenti berpura-pura menjadi pahlawan, dan mulai bertindak semena-mena pada rakyat."
Arthur perlahan menyimpan lembar dokumen kembali ke atas meja. matanya memandang Damian dengan nanar.
"Aku tidak akan membiarkan sejarah kelam Thorton terulang di Castlewood."
Damian mengangguk, sebelum akhirnya bergerak bangun. Ia mengubah posisinya menjadi duduk di tepi sofa, menurunkan kedua kakinya yang dibungkus sepatu bot tinggi ke atas lantai marmer, lalu merapikan bagian depan seragam militernya dengan gerakan santai.
"Karena itu Cassia harus tetap hidup, Yang Mulia," sahut Damian tegas, menatap lurus pada netra sang ayah. "Dan yang terpenting, jangan pernah biarkan anak itu tahu bahwa ada orang yang ingin membunuhnya. Jika sampai ia mengendus masalah ini, anak itu pasti akan nekat untuk mencari sendiri pelakunya."
Arthur mengangguk setuju. Keduanya kini memahami garis merah yang sama. Ini bukan lagi sekadar kasus percobaan pembunuhan terhadap seorang putri kerajaan. Seseorang di luar sana sedang mencoba menanam benih kekacauan yang sama dengan apa yang pernah terjadi di masa lalu. Jika Zen dan Amanda gagal membawa jawaban dari Thorton, Castlewood mungkin akan menjadi negeri mati berikutnya.
Hening.
Dua orang paling berpengaruh di Castlewood itu kini sama-sama tenggelam dalam isi pikiran mereka masing-masing. Arthur kembali memfokuskan dirinya untuk memeriksa lembaran dokumen lain, mencoba menghilangkan keresahannya pada tumpukan tugas kerajaan. Sementara di sisi lain, Damian masih duduk terdiam tanpa sedikit pun mengalihkan pandangan matanya dari sang ayah.
Namun keheningan itu mendadak pecah oleh derap langkah kaki yang berlari tergesa di sepanjang koridor menuju ruang kerja Raja Arthur. Suara itu semakin mendekat dengan cepat, sebelum akhirnya—
"AYAH!"
BRAK!
Pintu ganda ruang kerja tersebut ditendang secara paksa hingga terbuka dengan sangat keras. Benturan kuat itu membuat daun pintu membentur sisi tembok istana, meninggalkan gema dentuman nyaring yang memantul ke seluruh sudut ruang kerja kerajaan.