NovelToon NovelToon
Aku Bisa Membeli Semuanya Dengan Sistem Diskon

Aku Bisa Membeli Semuanya Dengan Sistem Diskon

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Notdrick

Semua benda di dunia memiliki harga.

Rumah, restoran, perusahaan, bahkan kesempatan yang tidak bisa dibeli dengan uang sekalipun.

Saat hidup Lin Liu berada di titik terendah, sebuah sistem misterius memilihnya sebagai pemilik baru. Sistem itu tidak memberinya uang, kekuatan, ataupun keberuntungan.

Yang diberikannya hanyalah... diskon.

Semakin besar target yang berhasil dicapai, semakin langka kartu diskon yang diperoleh. Dengan satu kartu, sesuatu yang mustahil dimiliki bisa berubah menjadi kesempatan yang berada dalam jangkauan.

Namun, setiap pilihan memiliki konsekuensinya.

Di balik setiap transaksi, tersembunyi rahasia yang membuat dunia tidak sesederhana yang terlihat. Kini Lin Liu harus menentukan apa yang layak dibeli... dan apa yang seharusnya tidak pernah memiliki harga.

Karena ketika segalanya bisa dibeli, batas antara keberuntungan dan keserakahan menjadi sangat tipis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Lin Liu membeku di tempat, jantungnya berdebar kencang. A-Wei berdiri di ambang pintu toko dengan tangan terselip santai di saku celana, seringai di wajahnya terlihat seperti predator yang baru menemukan mangsanya.

"A-Wei... kau ngapain di sini?" suara Lin Liu tercekat, tubuhnya secara refleks mundur selangkah.

"Aku kebetulan lewat saja, terus melihatmu masuk ke toko ini," A-Wei melangkah masuk lebih dalam, matanya melirik sekeliling toko dengan tatapan meremehkan. "Dengar-dengar kau sedang cari kerjaan ya? Baguslah, hitung-hitung mencicil utang."

Su Yan yang berdiri di belakang meja kasir langsung memasang wajah waspada, tangannya diam-diam meraih ponsel di atas meja. "Ada masalah apa ini? Kalau mau ribut, keluar dari tokoku."

A-Wei menatap Su Yan sejenak, lalu tertawa pendek. "Tenang, Nona, aku bukan mau ribut. Aku hanya mau memberi tahu pegawai barumu ini, kalau dia punya utang besar sama bosku. Lima puluh juta, loh. Barangkali Nona mau tahu, siapa tahu berubah pikiran mau mempekerjakannya."

"A-Wei, jangan begitu, aku mohon," Lin Liu berusaha memotong, wajahnya memucat.

"Utang itu bukan urusanku dan tidak ada hubungannya denganku," Su Yan menyahut tegas, tanpa gentar sedikit pun, meskipun tangannya masih menggenggam ponsel siaga. "Selama dia bekerja dengan benar di sini, aku tidak peduli utangnya berapa. Tapi kalau kau mengganggu tokoku lagi, aku telepon polisi."

A-Wei mengangkat kedua tangannya, pura-pura menyerah, meskipun seringai di wajahnya belum hilang. "Oke, oke, aku pergi. Tapi Lin Liu," dia menatap tajam ke arah Lin Liu, suaranya berubah lebih dingin, "bosku tidak sabar lagi. Batas waktumu dipercepat. Tiga hari dari sekarang, kau harus bawa minimal sepuluh juta, atau konsekuensinya bukan hanya babak belur seperti kemarin."

Lin Liu merasa dunia seakan berputar mendadak. Tiga hari. Sama persis dengan waktu yang diberikan sistem untuk misi pertamanya, hanya saja kali ini jumlahnya jauh lebih mengerikan, sepuluh juta, bukan lima ratus ribu.

A-Wei melangkah keluar toko sambil bersiul kecil, meninggalkan keheningan canggung di antara Lin Liu dan Su Yan.

"Kau benar-benar punya utang segitu?" Su Yan akhirnya bertanya, nada suaranya sedikit melunak, meskipun masih terdengar hati-hati.

"Punya orang tuaku," jawab Lin Liu pelan, menundukkan kepala. "Mereka kabur meninggalkanku dengan utangnya. Aku... aku hanya mau bekerja jujur, Kak. Aku janji tidak akan membuat masalah di toko ini."

Su Yan menatap Lin Liu lama, lalu menghela napas panjang. "Sudahlah. Mulai angkut kardus-kardus itu ke gudang belakang. Nanti siang ada pesanan yang harus diantar ke tiga rumah pelanggan."

Lin Liu bekerja sepanjang pagi tanpa henti, mengangkat kardus demi kardus meskipun tulang rusuknya masih terasa ngilu setiap kali dia membungkuk. Keringat membasahi keningnya, namun dia tidak berani mengeluh sedikit pun, takut kehilangan satu-satunya kesempatan yang ada di depan matanya.

Menjelang siang, seorang pria lain muncul dari pintu belakang toko, membawa motor bebek tua yang catnya sudah kusam. Perawakannya kurus, matanya menyipit curiga begitu melihat Lin Liu.

"Siapa ini?" tanyanya ketus kepada Su Yan.

"Kurir baru. Bantuin kau antar barang," jawab Su Yan singkat, tanpa mendongak dari catatan pesanannya.

Pria itu, mendecih pelan, jelas tidak suka dengan kehadiran Lin Liu. "Aku sudah bekerja di sini tiga tahun, terus tiba-tiba ada orang asing masuk begitu saja? Yakin ini bukan mata-mata toko sebelah?"

"Ah Long, sudahlah, jangan cari masalah," Su Yan menyahut tegas. "Lin Liu, ini barang yang harus diantar. Alamatnya sudah aku tulis di nota."

Lin Liu menerima tiga kantong plastik besar berisi belanjaan pelanggan, mengangguk cepat, lalu bergegas keluar toko dengan sepeda pinjaman dari Su Yan. Sepanjang perjalanan, pikirannya dipenuhi kekhawatiran soal batas waktu baru dari A-Wei, soal misi sistem yang belum tuntas, dan soal tatapan curiga Ah Long yang terasa mengintai dari kejauhan.

Setelah mengantarkan dua alamat pertama dengan lancar, Lin Liu tiba di alamat ketiga, sebuah rumah besar di ujung gang. Dia mengetuk pintu pagar, menunggu beberapa saat, namun tidak ada jawaban. Dia mengecek nota di tangannya sekali lagi untuk memastikan alamatnya benar.

Saat dia menoleh ke keranjang sepeda untuk mengecek belanjaan terakhir yang harus diserahkan, matanya melebar kaget.

Kantong plastik ketiga—yang berisi belanjaan paling mahal, senilai hampir dua ratus ribu rupiah—sudah tidak ada di tempatnya.

1
Elzi Lamoz
Sistem. semoga sistem ini bisa bantu Lin Liu, tapi terlalu bergantung sistem juga bakal dia jadi lemah. bukan fisik tapi hatinya.
遥依•𝙀𝙉𝙩𝙖𝙧%: Gak kok sistemnya itu lebih kek motivasi dengan imbalan hadiah kartu diskon
total 1 replies
Elzi Lamoz
bukannya bantu orang malah mencibir. laki atau cewek sih suami nya ini.
Intsomi: 🤣....
total 3 replies
Elzi Lamoz
Jangan terlalu memikirkan apa yang udah terjadi, mending isi perut dulu, walau dompet kosong.
遥依•𝙀𝙉𝙩𝙖𝙧%
Sering terjadi di Indonesia, ULTI setiap orang tua😹
Elzi Lamoz
Kasian sih, terus ada bayangan emak bapaknya berkata di keheningan. kamu harus membalas budi karena telah kami besarkan nak🥲
Elzi Lamoz
Depkolertor kah, sadis parah🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!