NovelToon NovelToon
Cinta Salah Alamat

Cinta Salah Alamat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Cintapertama / Lari Saat Hamil
Popularitas:839
Nilai: 5
Nama Author: Yourfaa

Tak hanya manusia yang bisa tersesat saat mencari alamat, tapi perasaan pun bisa tersesat hingga salah mengenali sosok yang dicintainya.

"Semoga tidak ada laki-laki sial yang terjebak perasaannya padamu.”

Kalimat tak berperasaan dari mulut Hanan tak pernah gagal membuat hati Amelia patah.

***

"Pergilah. Aku tidak ingin ada laki-laki sial yang terjebak perasaannya padaku." Amelia mengucapkannya dengan penuh ketenangan.

Hanan berlutut sembari menggenggam tangan Amelia yang memucat. Perasaan bersalah menyerbunya bertubi-tubi saat mengetahui apa yang dia lakukan di masa lalu adalah kesalahan terbesar yang tak pantas untuk dimaafkan. Namun, dengan tak tahu malunya dia masih mendatangi Amelia dan berharap bisa memperbaiki kaca yang telah hancur berkeping-keping.

Amelia tersenyum prihatin dengan tangan kanan mengelus kepala Hanan dan tangan lainnya mengelus perutnya yang membuncit.

"In another life, semoga Mas Hanan tidak salah mengenali cintamu yang sebenarnya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourfaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CSA 22

Amelia jatuh terduduk di lantai rumah sakit dengan pipi memanas. Rona merah menjalar di area kiri wajahnya yang baru saja mendapat tamparan keras dari Hanan. Tubuhnya seolah mendapat sengatan listrik bertegangan tinggi, tapi efeknya tak lantas membuat kejang, justru tubuhnya membeku dalam memproses rasa sakit yang terjadi.

“Dasar tidak tahu diri. Apa kau sadar apa yang baru saja kau katakan? Rosa itu masih kakakmu.” Hanan menunjuk kasar Amelia yang memegangi pipinya.

Gadis itu tak bergerak sedikit pun dengan bentakan Hanan. Kepalanya seolah berdenging. Meski dia terbiasa diperlakukan buruk, tapi tamparan tadi seolah memutus setengah kewarasannya. Sebenarnya dosa apa yang telah dia lakukan di masa lalu hingga harus menanggung semua penderitaan ini. Diperlakukan tidak adil dan sekarang dituduh melakukan hal-hal yang tak pernah dia lakukan.

Mengapa hidupnya begitu menyedihkan?

Tangannya perlahan turun. Dia berusaha menopang tubuhnya sendiri dengan tawa pelan yang terdengar aneh.

Benar. Dia adalah villain-nya di sini.

“Benar, apa gunanya aku menjelaskan diriku sendiri saat kalian sudah memiliki pemikiran sendiri. Aku memang penjahatnya di sini. Terima kasih untuk pendapat singkat dan tamparannya. Harusnya aku sadar sebaik apa pun manusia akan tetep memiliki sisi buruk. Senang bisa melihat dirimu yang sebenarnya.” Amelia berdiri tegak menatap sepasang netra gelap yang dulu begitu dia puja, tapi sekarang justru pria itulah yang terus menyakiti perasaannya.

“Jika memang kamu merasa aku yang melakukan semua kejahatan itu pada kakakku sendiri. Aku tidak keberatan jika dilaporkan ke polisi. Sepertinya mendekam di penjara tidak terlalu buruk dari pada menghirup udara yang sama dengan orang-orang munafik seperti kalian.”

Amelia berbalik tanpa menoleh ke belakang. Tiap langkahnya begitu berat dan menyesakkan. Meski dia tampak sangat tegar, tapi hatinya berdenyut sakit saat ini. Kepalanya terus menunduk mengusap air mata yang akhirnya menetes. Emosi yang sedari tadi dia tahan akhirnya meluap.

“Mengapa mereka begitu jahat?” Amelia menangis sepanjang lorong seperti anak kecil yang telah direbut mainannya. Beberapa pasang mata tertuju padanya, tapi tak satu pun yang mendekat dan dia juga berharap bahwa tak ada yang memperhatikannya saat ini, meski kenyataan mengkhianatinya.

Tepat saat berada di luar rumah sakit, tubuhnya didekap begitu erat. Meski terkesan tiba-tiba, tapi pelukan itu terasa sangat familier. Suara tangis yang sedari tadi coba Amelia tahan benar-benar keluar hingga gadis itu sesenggukan.

“Jangan khawatir, aku di sini, Mel.” Kanaya mengusap pelan punggung sahabatnya itu. “Ayo ikut aku dulu.”

Amelia menurut mengikuti Kanaya yang entah muncul dari mana tanpa kata.

Sebelum benar-benar pergi dari rumah sakit, Kanaya menyorot tajam pada sosok yang menatap mereka dari kejauhan—Jetro.

“Aku tidak akan membiarkan para bajingan itu menyakitimu lebih jauh, Mel. Kamu harus segera bebas dari mereka.”

Begitu mobil Kanaya menghilang dari area rumah sakit, Jetro berdecak kesal karena kehilangan momen untuk memberi pelajaran pada Amelia.

“Sayang sekali dia lolos kali ini, tapi setidaknya tamparan dari Hanan sudah cukup memuaskan.” Pria itu tertawa sinis.

Kanaya menyetir dengan santai di bawah sinar lampu jalanan dan gemerlap kota yang perlahan menghilang, sesekali memperhatikan Amelia yang masih menangis.

“Maaf, aku menghilang terlalu lama.” Kanaya benar-benar menyesal meninggalkan sahabatnya itu hingga akhirnya dia harus kembali melihatnya dengan tangis menyedihkan.

Amelia menggeleng pelan. Ini bukan salah Kanaya, tapi dia lah yang tak cukup mampu untuk membela dirinya sendiri—dia benar-benar tak berdaya.

Mobil yang ditumpangi keduanya melaju menuju area tebing yang di bawahnya tersaji pemandangan laut favorit Amelia. Kanaya berharap pemandangan ini bisa sedikit menghibur perasaan sahabatnya itu.

“Ayo, malam ini bulan purnama. Lautnya lebih cantik dari biasanya.”

Mendengar kata laut berhasil membangkitkan sedikit antusias di hati Amelia. Begitu kakinya menjejak tanah, suara malam khas laut menerpa kulit dan matanya langsung disuguhkan pemandangan bulan yang memang tampak bulat sempurna dan bersinar terang.

Amelia melangkah pelan dan menatap sedikit demi sedikit lautan yang terlihat. Benar-benar cantik seperti yang dikatakan oleh Kanaya.

Cahaya bulan yang kekuningan memantul di atas permukaan air dan menimbulkan efek kilau yang menakjubkan. Belum lagi perairan itu merupakan tempat tinggal plankton bioluminesen yang akan bereaksi saat perairan terganggu oleh terjangan ombak atau sentuhan sehingga mereka memancarkan cahaya biru terang di malam hari.

Amelia bisa melihat di setiap gulungan ombak yang berkilau biru bercampur kuning redup dari pantulan cahaya bulan.

“Cantik sekali,” gumam Amelia mencoba mengalihkan ingatannya dari kejadian menyakitkan yang terlanjur terpatri di pikirannya.

“Ke mari, biarkan akan mengobati pipimu.” Kanaya membawa kotak P3K ke samping Amelia.

Kanaya bertindak cepat dan membersihkan jejak darah di sudut bibir Amelia yang robek. Gadis itu mati-matian menahan emosi di hatinya atas perlakuan tak adil yang diterima oleh sahabatnya itu. Namun, dia berusaha tetap fokus pada kegiatannya.

“Lain kali jangan menghalangiku memukulnya. Aku tidak peduli kamu marah atau tidak. Aku akan tetap menghajarnya.” Kanaya membereskan peralatannya dan bergabung dengan Amelia menikmati pemandangan laut malam. “Aku akan mengompres pipimu di rumah nanti.”

“Terima kasih.” Suara Amelia terdengar pelan menyatu dengan semilir angin malam yang membawa hawa dingin, tapi justru menenangkan bagi mereka berdua.

“Apa bajingan itu yang melakukannya?”

Amelia menunduk, tak langsung menjawab pertanyaan sahabatnya.

“Bajingan yang menjadi suamimu itu ... dia, ‘kan, yang melakukannya?” Kanaya seolah sudah mengetahui jawabannya, tapi dia menuntut pernyataan langsung dari Amelia.

Amelia akhirnya mengangguk beberapa kali dan kembali menatap samudra luas di depannya.

“Brengsek.”

“Sudahlah, abaikan saja dia. Aku sudah lelah. Ayo pulang.” Amelia beranjak dari posisinya.

“Kamu selalu saja begitu.” Kanaya mendumel kesal. Sahabat itu terlalu lembek dengan orang-orang kurang ajar di hidupnya.

Amelia tak merespons lebih jauh karena yang dikatakan sahabatnya itu memang benar.

“Bagaimana keadaanmu, Paman juga Bibi. Kalian baik-baik saja, ‘kan?” Amelia mengalihkan pembicaraan mereka.

Kanaya tahu niat Amelia dengan jelas, tapi dia tak memaksa gadis itu lebih jauh untuk membahas hal yang sensitif untuknya.

“Baik, mansion sekarang sudah pindah. Lokasinya lebih strategis dan keamanannya juga lebih baik. Kamu pasti menyukainya.” Kanaya langsung semringah mengingat lokasi mansion baru keluarganya.

“Apa ada sesuatu yang istimewa?” Amelia mengernyit.

“Tentu saja. Kamu harus melihatnya sendiri.”

Kanaya buru-buru menyetir ke arah mansion barunya. Tak sabar menunjukkan kejutan yang dia siapkan untuk sahabatnya. Amelia jadi ikut penasaran.

Di perjalanan pulang, Amelia benar-benar merasa lebih baik setelah menenangkan diri di tempat yang sudah menjadi favoritnya sejak awal.

Keduanya menempuh perjalanan hampir setengah jam sebelum akhirnya memasuki kawasan yang lebih sepi di mana hanya ada pohon pinus tinggi yang berjejer seolah menjadi pagar alami di sisi jalan.

“Hanya perasaanku saja atau memang aku samar-samar mendengar deburan ombak?”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!