Sinopsis
Putri viona Isabella berangkat menuju Kerajaan Timur untuk menikahi putra mahkota sesuai perjodohan antar kerajaan. Namun, di tengah perjalanan rombongannya diserang perampok hingga seluruh pengawal tewas.
Dengan tubuh penuh luka, viona melarikan diri ke dalam hutan dan diselamatkan oleh Derek Henrick, pria misterius yang memilih hidup mengasingkan diri. Seiring waktu, cinta tumbuh di antara mereka.
Saat identitas Fiona akhirnya terungkap, ia harus memilih antara memenuhi takdirnya sebagai seorang putri atau mempertahankan cinta yang telah menyelamatkan hidupnya. Namun, Derek ternyata menyimpan rahasia besar yang dapat mengubah nasib kedua kerajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Pasar Malam dan Keputusan untuk Menghilang
Malam di Desa Hujan Emas terasa berbeda. Udara dingin pegunungan perlahan digantikan oleh hangatnya cahaya lampu-lampu minyak yang berderet di sepanjang jalan utama. Suara tawa, gelak riuh, dan bunyi lonceng kecil dari pedagang kaki lima bercampur menjadi satu, menciptakan simfoni keramaian yang meriah.
Viona sudah duduk di kamarnya selama hampir dua jam, menatap langit-langit kayu tanpa tujuan. Air matanya sudah kering, tetapi rasa hampa di dadanya masih menggantung. Neil menolak menikahinya. Seluruh perjalanan panjang melewati pegunungan, rasa sakit di lukanya, dan nyawa pengawalnya yang melayang—semua itu seolah menjadi sia-sia.
Tiba-tiba, terdengar ketukan pelan di pintu kamarnya.
"Viona?" Suara Derek terdengar dari balik pintu. "Kau masih terjaga?"
Viona bangkit dan membuka pintu. Derek berdiri di sana dengan pakaian yang sedikit berbeda—ia mengenakan jaket kain berwarna gelap dan syal tebal yang menutupi bagian bawah wajahnya. Di tangannya, ia membawa selembar kain berwarna cokelat.
"Kau sudah makan malam?" tanya Derek.
Viona menggeleng pelan. "Aku tidak lapar."
"Aku tahu." Derek menatapnya dengan tatapan yang lebih lembut dari biasanya. "Tapi tidak ada gunanya bersedih sendirian di kamar. Di desa ini ada pasar malam yang cukup ramai. Kau harus keluar. Hanya sebentar."
Viona mengerutkan kening. "Pasar malam? Derek, kita sedang dalam pelarian. Bukankah itu berbahaya?"
"Pasukan bayaran itu sudah pergi. Aku melihat mereka meninggalkan desa satu jam yang lalu." Derek mengibaskan kain cokelat di tangannya. "Dan kau akan memakai ini. Aku sudah membeli selendang tebal dari pedagang di pasar. Tutupi kepalamu, dan kau hanya akan terlihat seperti gadis desa biasa yang sedang berbelanja. Tidak ada yang akan mengenalimu."
Viona menatap selendang itu. Derek benar-benar memikirkannya. Meskipun ia selalu terlihat dingin dan tegas, pria itu selalu memperhatikan hal-hal kecil yang membuat Viona merasa aman.
"Aku tidak punya uang untuk membeli apa-apa," kata Viona ragu.
"Aku yang akan membayar. Aku masih punya beberapa koin." Derek tersenyum tipis. "Kau bisa memilih apa pun yang kau suka. Anggap saja ini sebagai ucapan terima kasih karena sudah bertahan sejauh ini."
Viona akhirnya tersenyum—untuk pertama kalinya sejak mendengar kabar tentang Neil. Ia mengambil selendang cokelat itu dan menutupkannya di kepala, menyembunyikan rambutnya yang sudah dipotong pendek.
"Baiklah. Tapi hanya sebentar."
Mereka turun dari penginapan dan berjalan menuju alun-alun desa. Suasana di sana sangat hidup. Lampu-lampu berwarna kuning bergantungan di setiap tiang, menerangi puluhan tenda pedagang yang menjual berbagai barang—mulai dari pakaian, perhiasan kayu, hingga makanan panas yang mengepulkan asap.
Viona berjalan perlahan di antara kerumunan. Aroma daging panggang dan kue madu memenuhi udara. Untuk sesaat, ia seperti melupakan semua masalahnya.
"Di sini," kata Derek, menuntun Viona ke sebuah tenda yang menjual roti isi dengan daging panggang. "Kau harus mencoba ini. Ini adalah roti khas desa ini. Rasanya sangat enak."
Derek memesan dua potong roti. Pedagang tua di balik tenda itu tersenyum ramah, mengambil roti yang masih hangat, lalu membungkusnya dengan daun pisang.
"Itu tiga koin perak," ucap pedagang itu.
Derek mengeluarkan koin-koin kecil dari sakunya dan meletakkannya di atas meja. Namun, saat ia sedang mengambil roti itu, pedagang itu berbicara dengan nada santai kepada pelanggan lain di sebelahnya.
"Kau dengar kabar dari Kerajaan Timur?" tanya pedagang itu.
"Kabar apa?"
"Tentang Putri dari Kerajaan Barat yang mau dinikahkan dengan Pangeran Neil. Katanya, rombongannya diserang di tengah jalan. Semua pengawalnya tewas." Pedagang itu menggeleng-geleng kepala. "Dan putrinya dikabarkan meninggal. Tenggelam di sungai. Pangeran Neil sendiri yang mengumumkannya di hadapan Dewan Raja."
Koin-koin di tangan Derek jatuh berderak di atas meja kayu.
Viona yang sedang mengambil bungkusan roti itu membeku. Ia menatap pedagang itu dengan mata yang kosong, tidak percaya.
"Putrinya... dinyatakan meninggal?" bisik Viona.
Pedagang itu menatap Viona, tapi karena selendang tebal menutupi wajahnya, ia tidak mengenali siapa Viona. "Iya, nona. Pangeran Neil mengadakan upacara pemakaman resmi tiga hari lalu. Katanya, jasadnya tidak ditemukan, tetapi ia sudah yakin putri itu tidak mungkin selamat. Ia bilang... 'Takdir telah memisahkan kami'."
Viona merasakan lututnya lemas. Seluruh dunia di sekelilingnya terasa berputar. Neil mengumumkan kematiannya? Padahal ia masih hidup di sini, berdiri di pasar malam ini. Mengapa Neil tidak menunggu? Mengapa ia langsung menganggap Viona sudah mati?
Tangan Derek segera meraih tangan Viona yang gemetar. Ia menarik Viona perlahan menjauh dari tenda itu, membawanya ke sudut alun-alun yang lebih sepi.
"Viona," panggil Derek pelan. "Kau... kau tidak apa-apa?"
Viona menggeleng. Air mata mulai mengalir di pipinya, meskipun ia berusaha menahannya. "Aku sudah mati, Derek. Menurut kerajaan, aku sudah mati. Neil sudah mengumumkannya."
"Jadi aku tidak punya kewajiban lagi," bisik Viona, suaranya hampir tidak terdengar. "Aku tidak harus menikah dengan Neil. Aku tidak harus kembali ke Kerajaan Barat. Aku sudah... bebas."
Bebas. Kata itu terasa asing di telinganya. Selama 17 tahun hidupnya, Viona selalu diatur oleh takdir kerajaan. Setiap langkahnya sudah ditentukan. Namun sekarang, takdir itu menuliskan akhir yang berbeda untuknya. Dan akhir itu adalah kematian—kematian di atas kertas.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Viona, menatap Derek. "Jika aku kembali, mereka akan menganggapku hantu atau penipu. Jika aku pergi ke Kerajaan Timur, Neil mungkin sudah menikah dengan orang lain. Tidak ada tempat lagi untuk Fiona Isabella."
Derek menatapnya lama. Ada pergulatan batin di matanya—ia tahu rahasia besar yang belum bisa ia ungkapkan, tetapi ia juga tahu bahwa saat ini, Viona lebih membutuhkan pelukan daripada jawaban.
"Kau bisa memilih jalanmu sendiri sekarang," kata Derek pelan. "Kau tidak harus menjadi Putri Fiona. Kau bisa menjadi siapa pun yang kau mau. Dan jika kau ingin menghilang..."
Viona memotong ucapannya. "Aku ingin menghilang. Aku tidak ingin kembali ke kehidupan yang sudah membunuhku secara resmi."
Derek menghela napas panjang. "Baik. Tapi kau tidak bisa menghilang sendirian. Kau tidak tahu cara bertahan hidup di alam liar, kau tidak punya uang, dan kau tidak punya tempat tujuan."
"Lalu?"
Derek menatap Viona tepat di matanya. "Kau bisa pergi bersamaku. Kita bisa mencari tempat baru. Di luar Kerajaan Timur, di luar Kerajaan Barat, ada daratan yang belum terjamah oleh politik. Ada desa-desa di mana orang bisa hidup tanpa nama dan tanpa takdir."
Viona menatap Derek. Pria yang sudah menyelamatkan nyawanya. Pria yang sudah menemaninya melewati badai. Pria yang membuat hatinya berdegup setiap kali ia menatapnya.
"Kau mau pergi dengan aku?" bisik Viona.
Derek tersenyum. Untuk pertama kalinya, senyuman itu terlihat sangat tulus—tidak ada kesedihan, tidak ada rahasia. Hanya kehangatan.
"Aku tidak punya apa-apa lagi untuk ditinggalkan di sini," jawab Derek. "Dan kau juga sudah mati, kan? Jadi mari kita hidup. Sebagai orang baru."
Viona merasakan air mata yang tadi mengalir kini berubah menjadi senyuman. Ia mengangguk perlahan.
"Baik. Aku akan menghilang. Dan kau... kau akan menemaniku?"
"Selama kau mau, Viona." Derek menggenggam tangannya dengan erat. "Selama kau mau."
Di tengah keramaian pasar malam, dengan lampu-lampu kuning yang berkedip di atas kepala mereka, Fiona Isabella—putri yang sudah mati secara resmi—membuat keputusan terbesar dalam hidupnya. Ia memilih untuk menghilang bersama pria yang telah menjadi rumah baginya.
Malam itu, mereka pulang ke penginapan dengan dua buah roti isi yang sudah dingin. Namun, di dalam hati Viona, ada kehangatan yang tidak bisa didinginkan oleh siapa pun.