"Kita butuh ground rules, Al," kata Akram
"Aturan apa?" Almeera bersedekap, memasang posisi bertahan.
Akram mengangkat satu jarinya. "Satu, nggak boleh ada satu orang pun di sekolah yang tahu soal ini. Temen band lo, temen geng gue, siapapun."
"Gue juga nggak sudi ngasih tahu orang-orang," potong Almeera cepat.
Akram mengangguk tipis, "Dua. Di sekolah, kita tetep musuh. Nggak ada tegur sapa manis, nggak ada perhatian. Lo urus urusan lo, gue urus urusan gue."
"Bagus,"
"Dan yang ketiga..." Akram memajukan wajahnya sedikit, "...jangan sampai jatuh cinta. Karena gue nggak mau ribet kalau nanti setelah lulus kita harus pisah."
"Tenang aja, Kram. Selera gue bukan cowok tukang perintah dan manipulatif kayak lo. Cukup lo bayangin aja muka gue jadi setan, dan lo bakal aman dari jatuh cinta."
Akram terkekeh sinis. "Oke. Deal."
"Deal."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Lunatia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
“Siapa bilang gue lagi akting, Al?”
Pertanyaan yang diucapkan dengan nada bariton rendah dan intensitas tatapan yang begitu dalam itu sukses membuat fungsi motorik Almeera lumpuh total. Otaknya yang baru saja di-upgrade dengan ilmu Fisika, mendadak kembali ke setelan pabrik.
Almeera mengerjapkan matanya tiga kali. Ia menatap Akram yang masih tersenyum miring sambil menyesap teh chamomile-nya dengan gaya santai layaknya bangsawan Inggris.
Satu detik. Dua detik.
"SINTING!"
Almeera menyambar bantal di sebelahnya dan memukulkannya ke wajah Akram dengan tenaga penuh.
"Aw! Al, tehnya tumpah!" Akram mengaduh, buru-buru menjauhkan cangkirnya sebelum kasur mereka berubah menjadi lautan chamomile. Ia tertawa pelan, menangkis pukulan brutal istrinya dengan satu tangan.
"Jangan ngomong ngawur! Jantung gue rasanya mau copot tahu nggak?!" omel Almeera dengan wajah yang sudah semerah kepiting rebus. Ia merangkak menjauh hingga punggungnya menempel di tepi ranjang. "Tidur lo sana! Dan jangan coba-coba lewatin garis tengah kasur, atau gue tendang lo ke lantai!"
Akram meletakkan cangkirnya di nakas, lalu ikut berbaring. Kasur Queen Size itu benar-benar tidak memberikan ruang kompromi. Meski Almeera sudah menempel di ujung kasur, jarak di antara mereka tidak lebih dari satu jengkal.
Akram memiringkan tubuhnya menghadap Almeera, menopang kepalanya dengan sebelah tangan.
"Garis tengah dari mana? Gulingnya aja udah diekspor Mama Ratna ke gudang," goda Akram, suaranya terdengar serak di keheningan malam. "Lagian, lo yakin mau tidur di ujung gitu? Kalau jatuh, gue nggak tanggung jawab ya."
"Biarin! Daripada gue tidur deket-deket buaya darat berkedok Ketos kayak lo!" Almeera membelakangi Akram, menarik selimut hingga menutupi lehernya.
Lampu utama dimatikan oleh Akram melalui sakelar di dekat nakas, menyisakan hanya lampu tidur remang-remang yang memancarkan cahaya kekuningan.
Suasana kamar menjadi hening. Hanya terdengar detak jarum jam dinding dan suara hembusan pendingin ruangan.
Namun, bagi Almeera, malam itu terasa seperti simulasi uji nyali. AC kamarnya terasa sangat dingin, sementara selimut tebal yang ia pakai harus ditarik-tarik karena Akram di sebelahnya juga memakainya. Belum lagi, aroma mint dan musk khas Akram menguar memenuhi ruang udara yang terbatas ini.
Setengah jam berlalu, Almeera masih terjaga. Matanya menatap tembok di depannya. Ia kedinginan.
Tiba-tiba, ia merasakan pergerakan di belakangnya. Sebuah lengan yang kokoh dan hangat tiba-tiba melingkar di pinggangnya, menarik tubuhnya yang menggigil mundur hingga punggungnya menabrak dada bidang yang keras dan hangat.
Almeera tersentak hebat. Matanya membelalak. "K-Kram... lo ngapain..."
"Tidur, Al," gumam Akram, suaranya sangat parau, khas orang yang sudah setengah terlelap. Hembusan napasnya menyapu tengkuk Almeera, mengirimkan ribuan sengatan listrik ke seluruh saraf gadis itu. "AC lo dingin banget. Lo mau beku di ujung situ?"
"T-tapi tangan lo..."
"Biarin gini aja. Anggap aja gue lagi... latihan buat besok pagi pas Oma ngecek kamar," alasan Akram, mengeratkan pelukannya, menarik Almeera semakin tenggelam dalam dekapannya.
Ego Almeera ingin memberontak, namun jujur saja, kehangatan tubuh Akram terasa luar biasa nyaman. Ia bisa mendengar detak jantung cowok itu yang berirama tenang di punggungnya. Perlahan, otot-otot Almeera yang tadinya menegang mulai rileks. Matanya perlahan memberat, dan malam itu, untuk pertama kalinya, Almeera tertidur lelap tanpa menyangkal bahwa ia sangat menyukai pelukan suaminya.
Keesokan Harinya. Pukul 07.00 WIB, Ruang Makan.
Meja makan keluarga Kusuma pagi itu terasa seperti ruang sidang paripurna.
Oma Ningrum duduk di kursi utama dengan wibawa tak tertandingi. Di sisi kanannya duduk Papa Hendra dan Mama Ratna yang sedari tadi melempar senyum penuh harap. Sementara di sisi kiri, Almeera dan Akram duduk berdampingan.
Tangan kiri Akram berada di bawah meja, dengan santai menggenggam jari-jari Almeera di atas paha gadis itu.
"Jadi, Akram," Oma Ningrum meletakkan sendoknya, menatap lurus ke arah sang Ketua OSIS. "Oma dengar dari Mama Ratna, kamu ini murid paling pintar di sekolah. Ketua OSIS pula. Apa sih yang bikin kamu klepek-klepek sama cucu Oma yang bar-bar dan tomboi ini?"
Uhuk!
Almeera yang sedang mengunyah nasi goreng langsung tersedak. Akram dengan sigap mengambilkan segelas air putih dan mengusap punggung istrinya dengan lembut.
"Pelan-pelan makannya, Sayang," tegur Akram dengan nada super lembut yang sukses membuat Almeera merinding kegelian.
Setelah memastikan Almeera aman, Akram kembali menatap Oma Ningrum. Senyum diplomatiknya mengembang sempurna.
"Justru karena dia beda, Oma," jawab Akram tenang. "Waktu Masa Orientasi Siswa kelas sepuluh, semua murid baru nunduk ketakutan pas saya lewat. Tapi Almeera? Dia berani ngelawan instruksi saya demi ngebela temannya yang lagi sakit."
Almeera menoleh menatap Akram dengan kening berkerut. Hah? Kapan gue ngebela temen sakit?! batin Almeera protes. Cerita itu seratus persen karangan bebas tingkat dewa.
"Dari situ saya tahu, dia punya hati yang besar di balik sikapnya yang galak," lanjut Akram, menatap Almeera dari samping dengan sorot mata yang penuh puji-pujian palsu. "Ditambah lagi pas saya lihat dia main drum di pensi tahun lalu. Dedikasi dan passion-nya bikin saya nggak bisa berhenti merhatiin dia. Saya sadar, saya butuh perempuan yang berani dan bebas kayak Almeera buat ngimbangin hidup saya yang terlalu kaku."
Hening.
Bahkan Papa Hendra dan Mama Ratna pun ternganga mendengar dongeng romantis yang dikarang menantu mereka itu. Sangat mulus. Sangat meyakinkan.
Oma Ningrum memandang Akram dengan mata berbinar, lalu beralih menatap Almeera. "Dengar itu, Almeera? Suami kamu itu luar biasa. Oma restui penuh pernikahan kalian kalau begini ceritanya. Jangan sering-sering dimarahin suaminya."
"I-iya, Oma. Almeera mah... sayang banget kok sama Akram," jawab Almeera sambil memamerkan senyum paling kaku sejagat raya, sementara di bawah meja, ia menginjak sepatu Akram dengan sekuat tenaga.
Akram hanya tersenyum tipis, menahan rasa sakit di kakinya tanpa mengubah ekspresi sedikit pun. Ia menunduk membisikkan sesuatu di telinga Almeera. "Satu sama. Lo juga jago akting ternyata."
Pukul 09.45 WIB, SMA Bina Bangsa.
Hari Senin pasca-UTS selalu dipenuhi euforia kebebasan. Beban sekolah rasanya terangkat dari pundak semua siswa. Namun, bagi Almeera, ketenangan itu tidak bertahan lama.
Saat ia sedang berjalan sendirian menuju loker untuk mengambil buku catatan NOISE, sebuah bayangan tinggi menghalangi jalannya.
"Gimana UTS-nya, Al? Tembus KKM?" sapa Devan, bersandar di deretan loker dengan gaya messy-cool-nya yang biasa. Ia memutar-mutar pick gitar di sela-sela jarinya.
Almeera sedikit tersentak, lalu tersenyum sopan. "Aman, Dev. Puji Tuhan, tutor gue galaknya ngalahin dosen killer."
Devan tertawa pelan. "Syukur deh. Berarti lo udah agak senggang kan sekarang? Janji es krim matcha gue yang tertunda kemarin masih berlaku lho. Gimana kalau pulang sekolah nanti?"
"Eh? Itu..." Almeera menggigit bibir bawahnya, bingung mencari alasan. Menolak ajakan teman satu band rasanya tidak enak, tapi menerima ajakannya sama saja dengan memicu Perang Dunia Ketiga dengan sang Ketos.
Devan mencondongkan tubuhnya sedikit, memangkas jarak. Matanya menatap Almeera dengan sorot menyelidik.
"Gue denger gosip menarik dari beberapa anak cowok di kelas sebelah, Al," suara Devan merendah, terdengar sedikit mendesak. "Katanya, hubungan lo sama si Ketos arogan itu cuma fake dating buat nutupin sesuatu. Bener gitu?"
Napas Almeera tertahan. Matanya membelalak kaget. Dari mana dia dengar gosip gila itu?!
"H-hah? Gosip apaan sih? Nggak jelas!" kilah Almeera cepat, membuang muka.
"Al, lo tahu kan musisi itu perasaannya peka?" Devan melangkah maju, memblokir jalan Almeera. "Lo mungkin bisa bohongin satu sekolah. Tapi dari cara lo bereaksi tiap kali dia deket, gue bisa lihat kalau lo ngerasa... tertekan. Kalau lo emang dipaksa atau diancam sama dia pakai kekuasaannya sebagai Ketos, lo bisa bilang ke gue. Gue nggak takut sama dia."
Almeera tercengang. Devan ternyata mengartikan kepanikannya selama ini sebagai bentuk 'paksaan' dari Akram. Niat Devan baik, cowok itu sedang berusaha menyelamatkannya dari sang tiran.
Namun, sebelum Almeera sempat memberikan klarifikasi, sebuah lengan kokoh melingkar dari belakang lehernya, menarik bahu Almeera hingga bersandar pada dada seseorang yang sangat familier.
Wangi mint dan musk itu menginvasi penciuman Almeera dalam sedetik.
"Pahlawan kesiangan," suara bariton Akram yang luar biasa dingin dan sarat akan ancaman menggema di koridor loker yang sepi itu.
Devan menegakkan tubuhnya, senyum ramahnya lenyap, digantikan oleh tatapan tajam yang menantang.
Akram tidak melepaskan rangkulannya pada bahu Almeera. Ia menatap Devan layaknya raja yang sedang melihat pemberontak kelas teri.
"Istri gue nggak suka matcha lagi," ucap Akram dengan nada absolut, mengabaikan fakta bahwa ia baru saja nyaris membongkar rahasia mereka jika ia salah memilih kata. Beruntung, otaknya segera meralat. "Pacar gue nggak suka matcha lagi. Dia cuma suka sama gue."
Devan mendengus sarkas. "Itu yang lo bilang ke semua orang, Kram. Tapi gue lebih percaya apa yang gue lihat. Almeera nggak kelihatan nyaman sama dominasi lo."
"Oh ya?" Akram memiringkan kepalanya.
Tanpa aba-aba, Akram menundukkan wajahnya dan mengecup pelipis Almeera di depan mata Devan. Bukan kecupan kilat, melainkan kecupan yang cukup lama dan penuh kelembutan, membuat lutut Almeera benar-benar lemas.
Almeera mematung, pipinya memanas hebat. Ia meremas ujung roknya.
Akram mengangkat wajahnya, kembali menatap Devan dengan seringai penuh kemenangan melihat raut wajah cowok Bandung itu berubah kaku.
"Seperti yang lo lihat," ucap Akram santai, tangannya kini beralih menggenggam tangan Almeera erat-erat. "Dia sangat nyaman. Berhenti ganggu cewek gue, Devan. Cari mangsa lain, karena yang ini udah sold out permanen."
Tanpa memberikan kesempatan bagi Devan untuk membalas, Akram menarik Almeera berjalan menjauh, meninggalkan anak baru itu yang kini mengepalkan tangannya di samping tubuh, menyadari bahwa ia baru saja menabuh genderang perang dengan iblis yang sesungguhnya.
ini kok baru tahu apa kakak salah tulis atau lupa .maaf ya kak cuma mengingatkan kan saja
apa nggak bisa pakai kekuasaan papanya Akram untuk ditoleransi oleh Kepsek tentang hubungan mereka 🤔🤔