NovelToon NovelToon
Kapten Basket Itu Suamiku

Kapten Basket Itu Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Perjodohan
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Aqilazahra

Nikah muda? ✅
Nikah online? ✅

Satu kelas sama suami sendiri yang ternyata idola sekolah? Nah, yang ini di luar prediksi BMKG!


Satu tahun lalu, sebuah ijab kabul via video call mengikat takdir Ellea dengan seorang pria di kota. Tanpa cinta, tanpa tatap muka langsung.

Kini, Ellea harus menyusul sang suami ke kota setelah kepergian neneknya. Namun, saat tiba di sana, justru pria itu kabur dari rumah dan takdir membawa mereka untuk bertemu kembali di koridor sekolah.

Pria itu bernama Albiru, pria yang paling dielu-elukan, sang kapten tim basket yang dingin dan tak tersentuh, ternyata adalah pemilik cincin yang sama dengan yang melingkar di jari Ellea.

Bagaimana cara Ellea menyembunyikan rahasia besar ini di depan teman-teman barunya? Dan mampukah sang kapten basket mengenali istrinya sendiri yang bercadar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aqilazahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mataku ternodai

Albiru memilih untuk masuk ke dalam kamarnya dengan langkah terburu-buru. Bukan pembelaan yang ia dapatkan dari sang ibu, malah rentetan kesalahan dan vonis telak yang menyudutkan dirinya. Dadanya masih kembang kempis menahan sesak, sementara egonya yang setinggi langit seolah baru saja dihempaskan ke lantai marmer rumahnya sendiri.

“Apa-apaan sih, harusnya gue yang Bunda belain, kenapa jadi malah gue yang disalahin,” gerutunya kesal.

Namun, begitu telapak tangannya mendorong pintu kamarnya, langkah Albiru seketika terkunci di ambang pintu. Sepasang matanya membelalak sempurna. Ia terkejut melihat ruangannya tampak sangat berbeda dari beberapa Minggu yang lalu. Nuansa maskulin kamarnya yang biasa didominasi warna abu-abu dan hitam kini telah lenyap, digantikan oleh jajaran barang-barang Ellea yang tertata rapi di beberapa sudut.

"Bunda?!" teriak Albiru kesal, suaranya menggema memenuhi koridor lantai dua.

Ia benar-benar tidak terima saat menyadari sprei kasur king size-nya dan gorden kamarnya telah berganti warna menjadi serba pink lembut dengan motif floral tipis. Kamar yang selama ini menjadi tempat kekuasaan absolutnya kini telah diubah total tanpa permisi. Di atas meja belajar, beberapa kitab suci dan buku-buku agama milik Ellea sudah berjejer rapi di samping laptopnya.

“Bunda, siapa yang ubah kamar Al jadi seperti ini?!” teriak Albiru lagi.

Di bawah sana, Mahira yang mendengar teriakan membahana dari putra nakalnya hanya bisa tertawa kecil sambil menggelengkan kepala. Wanita paruh baya itu dengan santai menyesap kembali teh hangatnya yang sempat mendingin.

"Rasain kamu, Al. Biar dia tahu kalau di rumah ini, Ellea juga anak Bunda yang punya hak sama," gumam Mahira penuh kemenangan, sama sekali tidak berniat naik untuk menenangkan kemarahan Albiru.

Albiru membanting tubuhnya ke atas kasur yang kini sewangi aroma vanilla, parfum khas yang biasa menguar dari pakaian Ellea.

“Ya Tuhan, kenapa jadi aku yang seperti asing di rumah ini?” keluhnya kesal.

Rasa frustrasi dan gundah bercampur aduk menjadi satu, menciptakan debaran tidak nyaman di dalam dadanya. Apalagi setiap kali mendengar suara deru mesin motor yang melintas di depan pagar rumah, Albiru refleks melirik ke arah jendela besar kamarnya. Ia bangkit, menyibak gorden pink muda itu dengan kasar, lalu mendengus kecewa saat mendapati bahwa itu hanyalah motor tukang paket atau tetangga sebelah.

Hingga jarum jam dinding terus berputar dan menunjukkan pukul empat sore, motor sport milik Andra belum juga terdengar. Langit di luar sana bahkan sudah mulai berubah warna menjadi jingga temaram.

"Keterlaluan! Jam segini belum pulang juga! Sebenarnya mereka ke toko buku atau sengaja pacaran?!" gerutu Albiru, mondar-mandir di dalam kamar seperti singa yang terkurung dalam sangkar.

Rasa tidak rela yang membakar hatinya kian menjadi-jadi. Bayangan Andra yang tersenyum manis pada Ellea di kantin tadi seolah menjadi bahan bakar yang membuat emosinya terus menyala. Albiru merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel pintarnya dengan gerakan cepat. Ia hendak menelepon Ellea untuk menyuruh gadis itu segera pulang detik ini juga.

Namun, gerakan jemarinya mendadak terhenti di atas layar yang menampilkan daftar kontak. Albiru membelalak, baru menyadari satu fakta konyol yang menampar wajahnya sendiri. Ia lupa bahwa dirinya sama sekali tidak mempunyai nomor telepon istrinya sendiri. Sejak hari pernikahan mereka satu tahun yang lalu, ia selalu mengabaikan keberadaan Ellea, janggal rasanya jika sekarang ia harus meminta nomor tersebut kepada ibunya atau Alisa.

"Sialan!" umpat Albiru jengkel, melempar ponselnya ke atas kasur empuk itu dengan kasar.

Saat kaki Albiru melangkah hendak turun ke lantai bawah untuk meluapkan kekesalannya pada sang ibu, telinganya menangkap suara deru mesin motor sport yang sangat ia kenali dari arah depan kompleks. Ia buru-buru membatalkan langkahnya, memutar tubuh dan menoleh dari balik jendela kamar yang langsung menghadap ke arah gerbang utama.

Benar saja, sebuah motor sport hitam berhenti dengan mulus di sana. Dari atas jendela, Albiru bisa melihat dengan sangat jelas bagaimana Ellea turun dari boncengan. Bukannya langsung masuk, gadis bercadar itu justru berdiri di samping motor, tampak sedang berbincang akrab dengan Andra. Ellea bahkan menerima sebuah kantong plastik berisi buku baru seraya mengangguk-anggukkan kepalanya dengan gestur yang terlihat sangat manis.

Melihat pemandangan itu, sekat di dada Albiru rasanya mau pecah. Rasa cemburu yang enggan ia akui kini bermutasi menjadi tindakan nekat. Egonya berteriak bahwa ia tidak sudi berbagi kamar, apalagi berbagi atap dengan wanita yang baru saja asyik berduaan dengan pria lain.

"Oke, kalau lo mau main-main, gue juga bisa! Angkat kaki lo dari kamar gue!" batin Albiru penuh amarah.

Dengan gerakan cepat dan setengah kalap, Albiru menghampiri tas besar milik Ellea yang masih berdiri di sudut lemari. Ia membukanya dengan kasar, lalu mulai menyambar apa saja barang-barang milik Ellea yang ada di atas meja dan di dalam lemari untuk dikemas kembali. Ia berniat memindahkan seluruh barang istrinya itu ke kamar Alisa atau ke kamar tamu di ujung koridor malam ini juga.

Albiru meraih jajaran jilbab besar dan gamis-gamis panjang milik Ellea, memasukkannya asal-asalan ke dalam koper. Namun, kepanikan dan kemarahannya mendadak membentur dinding keras saat tangannya bergerak merangsek ke bagian laci kain yang paling dalam.

Di saat jemari tangannya meraih sepotong pakaian dalam wanita berbahan renda tipis berwarna putih yang belum sempat dipindahkan Ellea, seluruh kerja sistem saraf di tubuh Albiru mendadak berhenti. Pria itu mematung seketika, matanya membelalak menatap benda kecil yang kini berada di dalam genggaman telapak tangannya sendiri.

Seketika, rona merah yang amat pekat menjalar cepat dari leher hingga ke seluruh permukaan wajah dan daun telinganya. Jantungnya berdegup kencang dengan ritme yang berantakan, bukan lagi karena marah, melainkan karena rasa syok yang luar biasa menembus dadanya.

"Astaghfirullah! Mata dan tanganku ternodai!" pekik Albiru spontan dengan suara tertahan, langsung melempar benda tipis itu kembali ke dalam laci seolah-olah baru saja menyentuh bara api yang sangat panas.

Ia melangkah mundur beberapa langkah, menutupi wajahnya yang terasa terbakar dengan kedua telapak tangan. Napasnya memburu pendek-pendek. Sebagai pria yang selama ini selalu menjaga jarak dari hal-hal berbau intim meski dikelilingi banyak wanita di sekolah, momen tidak sengaja ini sukses meruntuhkan seluruh pertahanan mental dan kewarasan seorang Albiru.

Tepat di saat Albiru masih sibuk menetralisir rasa syok dan kepanikan konyolnya di tengah kamar, suara knop pintu yang diputar dari luar terdengar berbunyi nyaring. Jantung Albiru serasa mau copot. Ia menoleh patah-patah ke arah pintu yang perlahan terbuka, menampilkan sosok Ellea yang baru saja melangkah masuk dan mengucapkan salam dengan nada yang teramat lembut.

“Assalamualaikum?”

1
Iped Suhendi
sangat bagus cerita nya.
Iped Suhendi
semangat ya nulis nya.Bagus banget cerita nya.Saya suka 😍
Aqilazahra: terima kasih Kak, sudah mampir. semoga suka ya
total 1 replies
Muharlita Muharlita
saya suka
Devan Davin
bgus skli
Aqilazahra: terima akak sudah mampir
total 1 replies
rattna
bagus
Aqilazahra: terima kasih kakak, sudah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!