Rindu Prameswari memiliki segalanya rekor nasional, popularitas, dan masa depan yang cerah. Setidaknya begitulah yang dilihat orang lain. Tidak ada yang tahu bahwa setiap kali berdiri di atas balok start, Rindu merasa seperti boneka yang hidup untuk memenuhi harapan keluarganya.
Saat konflik dengan ayah dan ibu tirinya semakin memburuk, performa Rindu mulai menurun. Demi menyelamatkan kariernya, ia dikirim ke program pelatihan khusus yang dipimpin oleh seorang pelatih muda bernama Kenzo Adhyaksa.
Kenzo berbeda dari semua orang yang pernah ditemui Rindu. Ia tidak peduli dengan medali, rekor, atau nama besar keluarga Prameswari.
"Kalau tidak ada lomba, tidak ada rekor, dan tidak ada tuntutan keluarga... apa yang sebenarnya Rindu inginkan?"
Pertanyaan sederhana itu justru menjadi awal perubahan terbesar dalam hidup Rindu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Kenzo melangkah masuk ke dalam kamar pribadinya yang luas. Dengan helaan napas panjang, ia langsung menghempaskan tubuh tegapnya di atas ranjang king size miliknya, membiarkan rasa lelah yang menumpuk seharian ini terserap oleh keempukan kasur.
Satu lengannya diletakkan di atas dahi, menatap langit-langit kamar yang temaram sambil memikirkan rencana besok pagi untuk membawa Rindu ke dokter. Namun, ketenangannya tidak bertahan lama. Ponsel di saku celananya bergetar heboh menampilkan nama Gani di layar.
Kenzo menggeser tombol hijau lalu menempelkan ponsel itu ke telinganya tanpa mengubah posisi berbaring.
"Halo," sapa Kenzo, suaranya terdengar berat dan serak karena lelah.
"Woi, Zo! Lu ke mana aja sih? Baru bisa dihubungin sekarang," sembur Gani langsung dari seberang telepon tanpa basa-basi, suaranya dipenuhi rasa penasaran sekaligus khawatir. "Anak-anak di klub pada bingung tadi, lu mendadak bubarin sesi latihan terus pergi kayak orang kesetanan bawa Rindu. Rindu kenapa, Zo? Dia gak apa-apa, kan?"
Sebagai sahabat sekaligus sesama pelatih di klub, Gani tahu betul kalau Kenzo tidak pernah sekalipun meninggalkan jam latihan demi urusan sepele. Tindakan impulsif Kenzo sore tadi jelas membuat seisi klub geger.
Kenzo memijat pangkal hidungnya pelan, mengumpulkan energi untuk menjawab sahabatnya. "Rindu gak apa-apa, Gan. Dia aman sekarang, udah tidur di kamarnya."
"Syukurlah..." Gani mengembuskan napas lega di seberang sana. "Tapi serius, Zo, tadi ada apa? Lu kelihatan panik banget. Gak biasanya lu kayak gitu."
"Thanks ya, Gan. Lu emang sahabat gue yang paling pengertian," ucap Kenzo, tulus menghargai perhatian Gani yang tidak mendesaknya lebih jauh untuk bercerita malam ini. "Malam ini gue gak balik ke kost. Gue mau di rumah bokap-nyokap dulu."
Di seberang telepon, Gani terkekeh pelan mendengar keputusan Kenzo.
"Santai aja, Zo. Kayak sama siapa aja lu. Tapi tumben banget lu balik ke rumah utama? Pasti otak lu beneran lagi mumet ya sampai butuh masakan nyokap lu?" tebak Gani tepat sasaran, sudah sangat hafal dengan kebiasaan sahabatnya itu.
"Ya... gitu deh. Ada beberapa hal yang harus gue selesaiin di rumah," jawab Kenzo ringkas, sengaja tidak menceritakan detail masalah keluarga Rindu lewat telepon demi menjaga privasi gadis itu.
"Yaudah, mending sekarang lu istirahat total, bersihin pikiran lu. Urusan anak-anak di klub besok pagi biar gue yang handle dulu sampai lu dateng. Oh iya, titip salam buat Om sama Tante ya," ujar Gani, menunjukkan solideritasnya sebagai seorang sahabat sejati.
"Sip. Thanks banget, Gan. Besok gue kabarin lagi kalau gue udah otw ke klub” ucap Kenzo
"Oya, tadi masalah Tria—"
"Gak usah bahas dia, Gan," potong Kenzo cepat. Nada suaranya mendadak berubah dingin dan datar, mengunci rapat-rapat topik yang baru saja ingin dibuka oleh sahabatnya itu.
Di seberang telepon, Gani sempat terdiam satu detik, menyadari perubahan drastis dari atmosfer suara Kenzo. Nama yang baru saja ia sebut tampaknya menjadi pemicu suasana hati Kenzo yang langsung memburuk.
"Oke, oke, sori. Gue gak bermaksud," sahut Gani pelan, langsung menarik mundur ucapannya sebelum Kenzo semakin kesal. "Gue cuma mau mastiin aja. Tapi ya sudahlah, lupain. Anggap gue gak nanya."
"Gue tutup teleponnya. Thanks, Gan," ujar Kenzo pendek.
Setelah panggilan benar-benar terputus, Kenzo melempar ponselnya ke sisi ranjang dengan sedikit sentakan. Ia mengembuskan napas kasar ke langit-langit kamar. Sebutan nama itu sempat mengusik ketenangannya, namun Kenzo cepat-cepat mengenyahkannya dari kepala. Fokusnya malam ini dan esok pagi hanya satu: Rindu. Tidak ada ruang untuk masa lalu atau hal lain yang tidak penting di hidupnya sekarang.
**
Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah-celah gorden kamarnya, menghangatkan ruangan yang biasanya terasa dingin mencekam. Rindu perlahan membuka kelopak matanya. Ia mengerjap beberapa kali, menatap langit-langit kamar dengan perasaan yang asing namun sangat menenangkan.
Rindu terbangun dengan perasaan nyaman.
Biasanya, setiap pagi ia akan langsung terbangun dengan dada yang terasa sesak terhimpit beban pikiran, membuat tangan ringkihnya refleks meraba-raba nakas demi mencari inhaler miliknya. Namun pagi ini berbeda. Napasnya terasa begitu plong dan ringan.
Rindu menoleh ke samping, menatap ponselnya yang tergeletak di atas bantal. Mengingat kembali bagaimana suara bariton Kenzo menuntunnya semalam, menjaganya lewat sambungan telepon sampai ia benar-benar terlelap.
Sebuah senyuman manis yang sudah sangat lama tidak terukir, pagi ini terbit di wajah cantiknya.
"Kak Kenzo benar-benar buat tidurnya Rin nyenyak," bisik Rindu pada diri sendiri, memeluk bantalnya dengan perasaan hangat yang membuncah di dada. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Rindu merasa siap dan bersemangat menghadapi hari baru, karena ia tahu ada Kenzo yang berdiri di belakangnya untuk menjaganya.
Baru saja Rindu meletakkan bantal yang didekapnya, ponsel di sampingnya bergetar dan memunculkan sebuah notifikasi pesan masuk. Rindu langsung menyambar benda pipih itu, dan senyumnya semakin melebar begitu melihat nama sang pengirim di layar.
Kak Kenzo: "Pagi, Ratuku..."
Jantung Rindu mendadak berdesir pelan, ada semburat merah muda yang hangat kini menjalar di kedua pipinya. Julukan "Ratu" yang biasanya terdengar seperti beban berat di luar sana, entah mengapa jika diucapkan oleh Kenzo rasanya berubah menjadi sebuah panggilan yang sangat manis dan protektif.
Rindu segera mengetikkan balasan dengan jari-jari lentiknya, masih sambil senyum-senyum sendiri di atas kasur.
Rindu: "Pagi juga, Kak Ken. Tumben banget panggil Rin gitu? 🤭"
Belum sempat Rindu meletakkan kembali ponselnya, sebuah pesan balasan langsung masuk secepat kilat, seolah si pengirim memang sedang memandangi layar ponselnya sedari tadi.
Kak Kenzo: "Kan emang sebutan kamu di lintasan. Tapi mulai hari ini, itu sebutan khusus dari kakak sebagai Ratu di hati kakak. Oh iya, gimana napas kamu pagi ini? Masih sesak gak? Buruan mandi dan sarapan ya, 30 menit lagi kakak sampai di depan rumah kamu. Kita ke dokter."
Membaca perhatian yang begitu runtut dan tanpa jeda dari Kenzo membuat dada Rindu terasa semakin plong. Tanpa buang waktu, gadis itu langsung beranjak dari ranjangnya dengan langkah yang jauh lebih ringan dari biasanya, siap untuk menyambut sang pelindung yang sebentar lagi datang.
Rindu mengetik balasannya dengan senyum yang tak luntur sedikit pun dari bibirnya. Untuk pertama kalinya, ia merasa tidak takut menghadapi hari baru.
Rindu: "Pagi ini dada Rin aman Kak, gak sesak lagi. Biasanya ketika bangun tidur dada Rin sesak banget. Makasih ya Kak buat semalam..."
Di seberang sana, Kenzo yang sudah rapi dan sedang memanaskan mesin SUV hitamnya di halaman rumah orang tuanya, tersenyum lega membaca balasan itu. Beban berat yang bersarang di dadanya sejak semalam seketika menguap. Dengan cepat, jemarinya mengetik balasan.
Kak Kenzo: "Syukurlah, Sayang. Kakak lega dengarnya. Sekarang siap-siap gih, Kakak jalan dulu untuk jemput kamu ya. Jangan lupa pakai jaket yang hangat."
Membaca kata "Sayang" yang ditulis Kenzo dengan begitu natural membuat pipi Rindu mendadak terasa panas. Ia buru-buru meletakkan ponselnya dan beranjak menuju kamar mandi dengan langkah riang, mengabaikan suasana rumahnya yang biasanya selalu terasa dingin dan sepi.
Sementara itu, Kenzo berpamitan pada Papa dan Mamanya yang melepasnya dengan senyuman penuh dukungan. "Kenzo berangkat dulu ya, Pa, Ma. Mau jemput Rindu."
"Iya, hati-hati di jalan, Zo. Titip salam buat Rindu, ya. Jaga dia baik-baik," ujar Mama hangat.
Kenzo mengangguk pasti. Ia masuk ke dalam mobil, memindahkan transmisi, dan mulai melajukan kendaraannya membelah jalanan pagi yang masih sejuk. Fokusnya hari ini hanya satu membawa Rindu ke dokter terbaik untuk memastikan kesehatannya, lalu memberinya hari yang tenang tanpa tekanan dari siapa pun.
Langkah kaki Rindu yang tadinya ringan mendadak melambat saat ia menuruni anak tangga terakhir. Suasana hangat yang ia rasakan sejak bangun tidur seketika menguap, digantikan oleh hawa dingin yang teramat sangat familiar.
Rindu memutar bola matanya dengan malas, menatap ke arah meja makan. Di sana, Diana ibu tirinya sedang sibuk menuangkan kopi dan menata piring dengan senyuman yang sangat lebar. Wajah palsunya yang sok perhatian itu benar-benar membuat Rindu mual pagi-pagi begini.
"Pagi, Pa. Ini kopinya sudah siap, rotinya juga baru saja selesai dipanggang," ucap Diana dengan nada suara yang dibuat selembut mungkin, melirik sekilas ke arah Baskoro yang sedang membaca koran pagi di kursi utama.
Baskoro hanya berdeham pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari koran. Namun, perhatian palsu Diana langsung beralih begitu menyadari kehadiran Rindu di dekat tangga.
"Eh, Rindu... sudah bangun, Sayang?" sapa Diana dengan nada yang terdengar sangat manis di telinga Baskoro, namun terasa begitu sinis bagi Rindu. "Sini duduk, sarapan bareng Papa sama Mama. Mama sudah buatin roti gandum kesukaan kamu."
Rindu menahan napasnya sejenak, menolak untuk membiarkan dadanya kembali terasa sesak. Ia mencengkeram ponsel di saku jaketnya, mengingat pesan Kenzo bahwa pria itu akan tiba dalam beberapa menit lagi. Menghadapi sandiwara pagi ini, Rindu memilih untuk memasang wajah datar dan sedingin es.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Rindu melangkah melewati meja makan dengan dagu terangkat. Tatapannya lurus ke depan, mengabaikan eksistensi Diana sepenuhnya seolah wanita itu hanyalah angin lalu. Sikap dingin dan acuh tak acuh itu ia pasang sebagai perisai agar ketenangan yang baru saja ia rasakan pagi ini tidak dirusak oleh mereka.
"Rindu! Kamu tidak punya sopan santun, ya? Mama kamu bicara baik-baik, kenapa malah keluyuran begitu?" suara berat Baskoro langsung menggelegar, memecah keheningan ruang makan. Koran pagi yang dipegangnya terhempas kasar ke atas meja.
Diana buru-buru menyentuh lengan Baskoro, memasang wajah terluka yang dibuat-buat. "Sudah, Pa, tidak apa-apa... Mungkin Rindu masih kesal sama Mama soal yang semalam. Jangan dimarahi pagi-pagi gini."
Mendengar drama itu, Rindu bahkan tidak berniat untuk menoleh. Langkah kakinya tetap konstan menuju pintu depan. Baginya, rumah ini bukan lagi tempat berteduh, melainkan panggung sandiwara yang melelahkan.
Tin! Tin!
Suara klakson mobil yang sangat familiar terdengar dari luar gerbang. Rindu melirik jam di ponselnya. Tepat tiga puluh menit. Senyum tipis langsung kembali terbit di wajah Rindu. Penyelamatnya telah tiba. Tanpa memedulikan panggilaan amarah dari papanya di dalam rumah, Rindu mempercepat langkahnya, membuka pintu utama, dan menyongsong SUV hitam milik Kenzo yang sudah terparkir rapi di depan pagar.
Langkah Rindu yang tadinya cepat mendadak terhenti tepat di ambang pintu luar. Suara berat Baskoro menggema dari arah belakang, memutus jarak di antara mereka dengan nada otoriter yang sangat egois.
"Kamu mau pergi sama siapa? Kamu harus tetap pakai sopir, Rindu!" tegas Baskoro, melangkah keluar ke area teras dengan tatapan menghakimi. "Papa tidak mau kamu keluyuran tidak jelas dengan orang yang tidak Papa kenal, apalagi menjelang kejuaraan!"
Mendengar suara papanya, Rindu berhenti sejenak. Bahunya sempat menegang, namun kali ini rasa sesak itu tidak datang. Mengingat SUV hitam Kenzo yang sudah menunggunya di depan pagar memberikan Rindu keberanian yang selama ini terkubur.
Rindu membalikkan badannya perlahan. Ditatapnya pria yang berstatus sebagai ayahnya itu dengan tatapan mata yang dingin, kosong, dan tanpa emosi.
"Rindu mau ke mana itu urusan Rindu. Dan mau pergi sama siapa... juga bukan urusan Papa lagi," jawab Rindu, suaranya terdengar sangat tenang namun menghujam tajam.
Baskoro tertegun, rahangnya mengeras mendengar pembangkangan yang begitu lugas dari anak kandungnya sendiri. "Rindu! Jaga ucapan kamu! Papa ini orang tua kamu, Papa berhak tahu—"
"Orang tua?" Rindu memotong kalimat itu dengan kekehan hambar yang memilukan. "Orang tua yang peduli dengan anaknya, atau cuma peduli dengan piala yang bisa Rindu bawa pulang untuk pamer ke kolega Papa?"
Tanpa menunggu balasan atau amarah Baskoro yang siap meledak, Rindu langsung berbalik arah. Ia setengah berlari menuju gerbang, membuka selotnya cepat, dan langsung masuk ke dalam kursi penumpang depan SUV hitam Kenzo. Di dalam sana, hawa sejuk AC dan aroma maskulin yang menenangkan langsung menyambutnya, menjauhkan Rindu dari racun yang baru saja hampir merusak paginya.
Begitu pintu mobil tertutup rapat, suasana mencekam dari teras rumah langsung berganti dengan keheningan yang aman. Kenzo yang sejak tadi memperhatikan interaksi menegangkan itu dari balik kemudi segera menoleh. Wajahnya yang tegas dipenuhi kekhawatiran yang mendalam.
"Hey.. are you ok, Sayang?" tanya Kenzo lembut.
Kenzo mengulurkan tangan kirinya, membelai puncak kepala Rindu dengan gerakan perlahan dan penuh kasih sayang, berusaha menyalurkan ketenangan yang ia miliki ke dalam diri gadis itu.
Napas Rindu tampak memburu, dadanya naik turun dengan cepat akibat gejolak emosi setelah menghadapi papanya. Namun ajaibnya, kali ini ia tidak merasakan sesak yang mencekik seperti biasanya. Belaian tangan Kenzo di kepalanya seolah menjadi jangkar yang menahan asmanya agar tidak kambuh.
"Kak, jalan sekarang, please..." bisik Rindu, suaranya sedikit bergetar. Matanya menatap lurus ke depan, enggan menengok lagi ke arah spion yang menampilkan siluet papanya di depan rumah.
"Oke, Sayang," jawab Kenzo tanpa ragu.
Ia langsung menginjak pedal gas, melajukan SUV hitamnya membelah jalanan pagi, meninggalkan kediaman Prameswari sejauh mungkin. Kenzo membiarkan satu tangannya tetap menggenggam jemari Rindu yang terasa agak dingin, memastikan bahwa mulai detik ini, gadis itu aman bersamanya.
—bersambung—